[ UIC 10.4 ] Kitab Subulus Salam Syarh Bulughul Maram 188

05. KITAB PUASA 08

0622

وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ – رَضِيَ اللَّهُ تَعَالَى عَنْهُ – قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -: «مَنْ ذَرَعَهُ الْقَيْءُ فَلَا قَضَاءَ عَلَيْهِ، وَمَنْ اسْتَقَاءَ فَعَلَيْهِ الْقَضَاءُ» رَوَاهُ الْخَمْسَةُ، وَأَعَلَّهُ أَحْمَدُ، وَقَوَّاهُ الدَّارَقُطْنِيُّ

622. Dari Abu Hurairah berkata, “Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Barangsiapa muntah tanpa disegaja maka tidak wajib qadha’ atas [puasa]nya, sedangkan orang yang berusaha muntah dengan sengaja maka ia wajib mengqadha’nya.” (HR. Al-Khamsah, Ahmad mencacatnya sedangkan Ad-Daraquthni menguatkannya)

[Shahih: At-Tirmidzi (720)]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

“Dari Abu Hurairah berkata, “Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Barangsiapa muntah tanpa disegaja maka tidak wajib qadha’ atas [puasa]nya, sedangkan orang yang berusaha muntah dengan sengaja maka ia wajib mengqadha’nya.” HR. Al-Khamsah, Ahmad mencacatnya (bahwa perawinya keliru) sedangkan Ad-Daraquthni menguatkannya. (Al-Bukhari berkata, “Aku tidak menganggapnya hadits yang mahfudz -terjaga-.” Hadits ini telah diriwayatkan melalui beberapa jalur, namun tidak ada jalur yang sanadnya shahih, lalu Ahmad menganggapnya mungkar, seraya berkata, “Hadits tersebut tidak dianggap sama sekali.” Al-Khaththabi berkata, “Maksudnya, bahwa hadits tersebut tidak mahfudz.” Lalu ia berkata, “Ada yang mengatakan bahwa hadits tersebut shahih memenuhi syarat-syarat Al-Bukhari-Muslim.”)

Tafsir hadits

Hadits ini menunjukkan bahwa muntah tanpa disengaja tidak membatalkan puasa berdasarkan sabda beliau, “… maka tidak wajib qadha’ atas [puasa]nya…” karena ketiadaan qadha’ merupakan isyarat bahwa ibadah tersebut sah. Sedangkan orang yang berusaha untuk muntah maka puasanya batal, dan zhahir hadits ini mengisyaratkan bahwa ia wajib mengqadha’ walaupun tidak berhasil muntah berdasarkan perintah beliau untuk mengqadha’nya.

Ibnu Al-Mundzir meriwayatkan adanya ijma’ yang mengatakan bahwa kesengajaan untuk muntah membatalkan puasa. Tetapi komentar saya, bahwa diriwayatkan dari Ibnu Abbas Radhiyallahu Anhu, Malik, Rabi’ah dan Al-Hadi mereka berpendapat bahwa muntah tidak serta merta membatalkan puasa kecuali jika ada sesuatu yang kembali masuk ke dalam tubuh – rongga tenggorokan-, dasar pendapat mereka ialah hadits dengan sanad dhaif yang diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dan Al-Baihaqi,

«ثَلَاثٌ لَا يُفْطِرْنَ: الْقَيْءُ وَالْحِجَامَةُ وَالِاحْتِلَامُ»

“Tiga perkara tidak membatalkan -puasa-: muntah, berbekam dan bermimpi -basah-.” [Dhaif: At-Tirmidzi (719)}

Bantahan atas pendapat ini; jika hadits ini dipahami bahwa orang tersebut muntah karena terpaksa tanpa sengaja -maka puasanya tidak batal-, sebagai usaha untuk mengompromikan antara kedua hadits tersebut sekaligus menjelaskan hadits yang bersifat umum dengan hadits yang bersifat khusus, Di samping hadits yang umum ini tidak shahih sedangkan hadits yang khusus lebih kuat dari sisi sanad, maka mengamalkan hadits ini lebih utama walaupun bertentangan dengan kaidah “Al-Bara’ah Al-Ashliyah” -asal segala sesuatu bebas dari tanggungan-.

0623

وَعَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ – رَضِيَ اللَّهُ تَعَالَى عَنْهُمَا -، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – «خَرَجَ عَامَ الْفَتْحِ إلَى مَكَّةَ، فِي رَمَضَانَ، فَصَامَ حَتَّى بَلَغَ كُرَاعَ الْغَمِيمِ، فَصَامَ النَّاسُ، ثُمَّ دَعَا بِقَدَحٍ مِنْ مَاءٍ فَرَفَعَهُ، حَتَّى نَظَرَ النَّاسُ إلَيْهِ، فَشَرِبَ، ثُمَّ قِيلَ لَهُ بَعْدَ ذَلِكَ: إنَّ بَعْضَ النَّاسِ قَدْ صَامَ. فَقَالَ: أُولَئِكَ الْعُصَاةُ، أُولَئِكَ الْعُصَاةُ»

وَفِي لَفْظٍ «فَقِيلَ لَهُ: إنَّ النَّاسَ قَدْ شَقَّ عَلَيْهِمْ الصِّيَامُ وَإِنَّمَا يَنْتَظِرُونَ فِيمَا فَعَلْت. فَدَعَا بِقَدَحٍ مِنْ مَاءٍ بَعْدَ الْعَصْرِ. فَشَرِبَ» . رَوَاهُ مُسْلِمٌ

623. Dan Jabir bin Abdullah Radhiyallahu Anhu, “Bahwasanya Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam keluar pada tahun Fathu Makkah menuju ke Mekah, pada bulan Ramadhan, maka beliau berpuasa hingga tiba di Kura’ Al-Ghamim, orang-orang pun ikut berpuasa, lalu beliau meminta satu cawan air seraya mengangkatnya, hingga orang-orang melihat ke arahnya, lalu beliau meminumnya, kemudian ada yang berkata kepadanya, “Sesungguhnya sebagian orang telah berpuasa.” Maka beliau bersabda, “Mereka orang-orang yang berbuat maksiat, mereka orang-orang yang berbuat maksiat.”

Di dalam lafazh yang lain, “Sesungguhnya orang-orang telah merasa berat untuk berpuasa dan mereka sedang menunggu apa yang akan engkau lakukan,” maka beliau meminta secawan air setelah Ashar, seraya meminumnya.” (HR. Muslim)

[shahih, Muslim (1114).]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

“Dari Jabir bin Abdullah Radhiyallahu Anhu, “Bahwasanya Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam keluar pada tahun Fathu Makkah menuju ke Mekah, pada bulan Ramadhan (tahun kedelapan dari hijrah, Ibnu Ishaq dan yang lainnya berkata, “Beliau keluar pada hari kesepuluh), maka beliau berpuasa hingga tiba di Kura’ Al-Ghamim (nama lembah di hadapan daerah ‘Asafan), lalu orang-orang berpuasa, lalu beliau meminta satu cawan air seraya mengangkatnya, hingga orang-orang melihat ke arahnya, lalu beliau meminumnya (agar orang-orang mengetahui bahwa beliau telah berbuka), kemudian ada yang berkata kepadanya, “Sesungguhnya sebagian orang telah berpuasa.” Maka beliau bersabda, “Mereka orang-orang yang berbuat maksiat, mereka orang-orang yang berbuat maksiat.” Di dalam lafadz yang lain, “Sesungguhnya orang-orang telah merasa berat untuk berpuasa dan mereka sedang menunggu apa yang akan engkau lakukan,” maka beliau meminta secawan air setelah ashar, seraya meminumnya.”

Tafsir Hadits

Hadits ini menjelaskan bahwa seorang musafir boleh berpuasa dan boleh tidak, boleh juga berbuka -memutuskan puasa yang telah ia mulai- walaupun ia telah berpuasa pada sebagian besar dari siang harinya.

Namun Dawud dan Al-Imamiyah berbeda pendapat, menurut mereka seorang musafir tidak boleh berpuasa, berdasarkan firman Allah,

{فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ}

“Maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain.” (QS. Al-Baqarah: 184); juga berdasarkan sabda beliau, “Mereka orang-orang yang berbuat maksiat,…” dan juga sabdanya,

«لَيْسَ مِنْ الْبِرِّ الصِّيَامُ فِي السَّفَرِ»

“Bukan merupakan kebajikan, berpuasa pada saat bepergian -musafir-.”[shahih, Al-Bukhari (1946) Muslim (1115).]

Kemudian jumhur ulama menjawab pendapat mereka, bahwa seorang musafir diperbolehkan untuk berpuasa, hal ini berdasarkan kepada kenyataan bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam telah melakukannya, sedangkan ayat di atas tidak menunjukkan larangan untuk berpuasa, dan sabda beliau, “Mereka orang-orang yang berbuat maksiat,..” karena mereka tidak menurut perintah Rasulullah untuk berbuka padahal perintah itu jelas ditujukan kepada mereka. Memang, dalam hadits di atas tidak ada kata-kata perintah, namun perbuatan Rasulullah menunjukkan adanya perintah tersebut. Sedangkan hadits, “Bukan merupakan kebajikan, berpuasa pada saat bepergian -musafir-,” ditujukan kepada mereka yang keberatan untuk berpuasa namun mereka memaksakan diri. Memang benar, hadits ini merupakan dalil haramnya berpuasa bagi musafir yang keberatan untuk berpuasa, dan ditambah lagi saat itu Rasulullah berbuka karena ada yang berkata, “Sesungguhnya orang-orang telah merasa berat untuk berpuasa…” maka orang yang memaksakan diri setelah adanya perintah itu, disebut orang yang berbuat maksiat.

Hukum diperbolehkannya untuk berbuka puasa walaupun ia telah berpuasa pada sebagian besar siang tersebut, merupakan pendapat jumhur ulama, hal ini oleh Asy-Syafi’i dikaitkan dengan keshahihan hadits di atas. Hukum ini berlaku bagi mereka yang telah meniatkan puasa dalam satu perjalanan, namun jika orang tersebut telah memulai berpuasa saat ia sedang mukim -belum berangkat- lalu ia berangkat pada hari tersebut, maka jumhur ulama berpendapat bahwa orang tersebut tidak boleh berbuka. Sedangkan Ahmad, Ishaq dan yang lainnya memperbolehkannya, dan kelihatannya pendapat inilah yang lebih kuat, karena saat itu orang tersebut telah menjadi musafir.

Manakah yang lebih utama? Menurut Al-Hadawiyah, Abu Hanifah dan Asy-Syafi’i bahwa berpuasa lebih utama bagi seorang musafir jika tidak ada kesulitan maupun bahaya baginya, namun jika puasa tersebut akan membahayakannya maka berbuka lebih baik baginya. Sedangkan menurut Ahmad, Ishaq dan yang lainnya, bahwa bagaimanapun kondisinya, berbuka itu lebih utama, mereka berargumentasi dengan argumen-argumen yang melarang puasa seraya mengatakan, “Walaupun hadits-hadits tersebut secara zhahir melarang puasa, akan tetapi hadits Hamzah bin Amr -nomor berikut- serta hadits yang berbunyi,

«وَمَنْ أَحَبَّ أَنْ يَصُومَ فَلَا جُنَاحَ عَلَيْهِ»

“Barangsiapa ingin berpuasa, maka tidak ada dosa baginya,” //Shahih: Muslim 1121, ebook editor//

menunjukkan bahwa berpuasa hukumnya mubah, tidak haram dan tidak juga lebih utama.

Kemudian mereka yang mengatakan bahwa berpuasa lebih utama berargumen, bahwa itulah yang sering dilakukan oleh Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dalam berbagai perjalanannya. Namun, tetap saja diperlukan adanya bukti bahwa memang itulah yang sering dilakukan oleh Rasulullah dalam perjalanannya. Mereka mengatakan bahwa hadits-hadits yang melarang berpuasa ditujukan kepada mereka yang keberatan untuk berpuasa selama dalam perjalanan.

Golongan yang lain berpendapat bahwa berpuasa maupun tidak derajatnya sama saja, berdasarkan kesetaraan hadits-hadits bab ini, dan inilah yang disebutkan di dalam hadits Anas,

«سَافَرْنَا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – فَلَمْ يَعِبْ الصَّائِمُ عَلَى الْمُفْطِرِ وَلَا الْمُفْطِرُ عَلَى الصَّائِمِ»

“Kami telah melakukan perjalanan bersama Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, maka orang yang berpuasa tidak mencela orang-orang yang berbuka dan orang-orang yang berbuka tidak mencela orang-orang yang berpuasa.” [shahih, Al-Bukhari (1947), dan Muslim (1118).]

Zhahir hadits ini mengisyaratkan kesetaraan antara keduanya.

 

والله أعلمُ بالـصـواب

Download Sumber

 

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *