[ UIC 10.4 ] Kitab Subulus Salam Syarh Bulughul Maram 187

05. KITAB PUASA 07

0619

«وَعَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ: أَوَّلُ مَا كُرِهَتْ الْحِجَامَةُ لِلصَّائِمِ: أَنَّ جَعْفَرَ بْنَ أَبِي طَالِبٍ احْتَجَمَ وَهُوَ صَائِمٌ، فَمَرَّ بِهِ النَّبِيُّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – فَقَالَ: أَفْطَرَ هَذَانِ ثُمَّ رَخَّصَ النَّبِيُّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – بَعْدُ فِي الْحِجَامَةِ لِلصَّائِمِ، وَكَانَ أَنَسٌ يَحْتَجِمُ وَهُوَ صَائِمٌ» . رَوَاهُ الدَّارَقُطْنِيُّ وَقَوَّاهُ

619. Dari Anas bin Malik Radhiyallahu Anhu berkata, “Awal-awal dimakruhkannya berbekam untuk orang yang sedang berpuasa ialah ketika Ja’far bin Abu Thalib berbekam padahal ia sedang berpuasa, lalu Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam melewatinya dan bersabda, “Kedua orang ini telah berbuka -batal puasanya-.” Setelah itu Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam mengizinkan -sebagai rukhsah- berbekam bagi orang yang sedang berpuasa, dan Anas berbekam padahal ia sedang berpuasa.” (HR. Ad-Daraquthni dan ia menguatkannya)

[Hadits ini dhaif mungkar, Ad-Daraquthni (2/182), lihat. Nashbu Ar-Rayah (2/480).]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Tafsir Hadits

Ad-Daraquthni berkata, “Perawi-perawi hadits ini tsiqah dan tidak diketahui adanya Illah (cacat) pada mereka.” Dan telah dijelaskan di atas bahwa hadits ini adalah salah satu dalil dinasakhnya hadits Syaddad.

0620

وَعَنْ عَائِشَةَ – رَضِيَ اللَّهُ تَعَالَى عَنْهَا -، «أَنَّ النَّبِيَّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – اكْتَحَلَ فِي رَمَضَانَ، وَهُوَ صَائِمٌ» . رَوَاهُ ابْنُ مَاجَهْ بِإِسْنَادٍ ضَعِيفٍ. وَقَالَ التِّرْمِذِيُّ: لَا يَصِحُّ فِي هَذَا الْبَابِ شَيْءٌ

620. Dari Asiyah Radhiyallahu Anha, “Bahwasanya Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bercelak mata -bersipat- pada bulan Ramadhan, padahal beliau sedang berpuasa.” (HR. Ibnu Majah dengan sanad dhaif, At-Tirmidzi berkata, “Tidak ada yang shahih di dalam masalah ini.”)

[Shahih: Ibni Majah (1702)}

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Tafsir Hadits

Setelah berkomentar di atas, At-Tirmidzi berkata, “Para ulama berbeda pendapat dalam masalah bercelak mata bagi orang yang sedang berpuasa, di antara mereka ada yang memakruhkanya yaitu Sufyan, Ibnu Al-Mubarak, Ahmad dan Ishaq.

Dan ada sebagian lain yang membolehkannya -sebagai rukhsah-yaitu Asy-Syafi’i.

Ibnu Syubrumah dan Ibnu Abi Laila berpendapat lain, keduanya mengatakan bahwa bercelak mata membatalkan puasa berdasarkan sabda Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam,

«الْفِطْرُ مِمَّا دَخَلَ وَلَيْسَ مِمَّا خَرَجَ»

“Yang membatalkan puasa ialah sesuatu yang masuk [ke tubuh] dan bukan sesuatu yang keluar.” [HR. Al-Bukhari secara mu’allaq, namun Ibnu Abi Syaibah meriwayatkannya secara maushul (2/308).] //Syaikh Al-Albani berkata: Isnadnya shahih, para perawinya tsiqat dan termasuk perawi Ash-Shahihain, Al-Irwa: 933. Ebook editor//

Dengan begitu, jika orang tersebut bisa merasakan rasanya maka celak mata itu telah masuk. Kemudian pendapat ini dibantah, bahwasanya tidak bisa diterima kalau celak tersebut telah masuk, karena mata bukanlah rongga untuk masuknya sesuatu, akan tetapi yang dirasakan oleh orang tersebut ialah kandungan celak yang ia pakai, karena kadang-kadang seseorang memijit kakinya dengan tanaman Khandhal -pahit rasanya- lalu orang tersebut merasakan pahitnya [tanaman itu] di mulutnya dan puasanya tidak batal.

Kemudian hadits, “Yang membatalkan puasa ialah sesuatu yang masuk…” telah diriwayatkan oleh Al-Bukhari sebagai hadits Muallaq dari Ibnu Abbas namun Ibnu Abi Syaibah meriwayatkannya secara maushul, sedangkan apa yang diriwayatkan oleh Abu Dawud dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bahwasanya beliau bersabda dalam masalah itsmid -bahan untuk bercelak-,

” لِيَتَّقِهِ الصَّائِمُ ”

“Hendaklah orang yang berpuasa menghindarinya.” [Dhaif: Abi Dawud (2377).]

Maka Abu Dawud telah mengomentarinya, “Yahya Ibnu Ma’in telah berkata kepadaku, “Hadits ini mungkar.”

0621

وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -: «مَنْ نَسِيَ وَهُوَ صَائِمٌ، فَأَكَلَ أَوْ شَرِبَ، فَلْيُتِمَّ صَوْمَهُ، فَإِنَّمَا أَطْعَمَهُ اللَّهُ وَسَقَاهُ» مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ – وَلِلْحَاكِمِ «مَنْ أَفْطَرَ فِي رَمَضَانَ نَاسِيًا فَلَا قَضَاءَ وَلَا كَفَّارَةَ» وَهُوَ صَحِيحٌ

621. Dari Abu Hurairah berkata, “Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Barangsiapa yang lupa padahal ia sedang berpuasa, lalu ia makan atau minum, maka hendaklah ia meneruskan puasanya, sesungguhnya Allah telah memberinya makan dan minum.” (Muttafaq Alaih)

[shahih, Al-Bukhari (1933) Muslim (1155).]

Dalam riwayat Al-Hakim, “Barangsiapa berbuka (di siang hari) pada bulan Ramadhan karena lupa, maka tidak wajib baginya qadha’ maupun kafarat.” (Hadits ini shahih)

[hasan, Shahih Al-Jami’ (6070).]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

“Dari Abu Hurairah berkata, “Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Barangsiapa yang lupa padahal ia sedang berpuasa, lalu ia makan atau minum, maka hendaklah ia meneruskan puasanya, sesungguhnya Allah telah memberinya makan dan minum

(dalam riwayat At-Tirmidzi,

” فَإِنَّمَا هُوَ رِزْقٌ سَاقَهُ اللَّهُ إلَيْهِ ”

“Sesungguhnya ia adalah rezeki yang Allah kirimkan kepadanya.” [Shahih At-Tirmidzi (721)]

(Muttafaq Alaih) Dalam riwayat Al-Hakim (dari Abu Hurairah), “Barangsiapa berbuka (di siang hari) pada bulan Ramadhan karena lupa, maka tidak wajib baginya qadha’ maupun kafarat.” Hadits ini shahih.” Lafazh berbuka di dalam hadits ini bersifat umum termasuk jima’, namun kemudian dikhususkan untuk berbuka karena makan atau minum, karena itulah yang biasa terjadi karena lupa, demikian yang dikatakan oleh Ibnu Daqiq Al-‘Id.

Tafsir Hadits

Hadits ini menunjukkan bahwa seseorang yang lupa lalu ia makan, minum atau berjima’ saat ia berpuasa maka puasanya tidak batal, berdasarkan ungkapan beliau, “…maka hendaklah ia meneruskan puasanya…” yang berarti ia masih berpuasa, demikianlah pendapat jumhur ulama, Zaid bin Ali, Al-Baqir, Ahmad bin Isa, Imam Yahya dan dua golongan.

Sedangkan ulama yang lain berpendapat bahwa puasanya batal, karena menahan diri dari segala yang membatalkan merupakan rukun puasa, maka hukumnya seperti orang yang lupa melakukan salah satu rukun dari rukun-rukun shalat, orang tersebut harus mengulangi shalatnya walaupun hal itu terjadi karena lupa, sedangkan sabda beliau, “…maka hendaklah orang tersebut meneruskan puasanya…” yakni hendaklah orang tersebut meneruskan usahanya dalam menahan diri dari segala yang membatalkan.

Pendapat ini dibantah, bahwasanya sabda beliau, “… maka tidak wajib baginya qadha’ maupun kafarat.” Jelas menyebutkan bahwa puasanya sah dan tidak wajib diqadha’.

Ad-Daraquthni juga telah meriwayatkan tidak wajibnya qadha’ ini dari Abu Rafi’, Said Al-Maqbari, Al-Walid bin Abdurrahman dan ‘Atha’ bin Yasar yang semuanya dari Abu Hurairah.

Beberapa orang sahabat juga memfatwakan hal tersebut di antaranya, Ali, Zaid bin Tsabit, Abu Hurairah dan Ibnu Umar, sebagaimana yang dilansir oleh Ibnu Al-Mundzir dan Ibnu Hazm.

Tidak wajibnya qadha’ didukung oleh beberapa hadits yang masing-masing saling menguatkan sehingga ia menjadi argumen yang kuat. Sedangkan analogi puasa kepada shalat adalah analogi yang batal, karena analogi tersebut bertentangan dengan nash yang ada, berdasarkan kenyataan bahwa dasarnya masih diperselisihkan.

Ahmad meriwayatkan dari seorang pelayan wanita yang bekerja pada sebagian sahabiyah,

«أَنَّهَا كَانَتْ عِنْدَ النَّبِيِّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – فَأُتِيَ بِقَصْعَةٍ مِنْ ثَرِيدٍ فَأَكَلَتْ مِنْهَا ثُمَّ تَذَكَّرَتْ أَنَّهَا كَانَتْ صَائِمَةً فَقَالَ لَهَا ذُو الْيَدَيْنِ الْآنَ بَعْدَ مَا شَبِعْت فَقَالَ لَهَا النَّبِيُّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -: أَتَمِّي صَوْمَك فَإِنَّمَا هُوَ رِزْقٌ سَاقَهُ اللَّهُ إلَيْك»

bahwasanya ia sedang berada bersama Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, kemudian dihadiahkan kepadanya satu nampan besar berisi tsarid -makanan- maka pembantu wanita tersebut makan, lalu ia baru sadar bahwa dirinya sedang berpuasa, kemudian Dzul Yadain berkata, “Sekarang kamu sudah kenyang?” Maka Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam berkata kepada wanita tersebut, “Teruskan puasamu, sesungguhnya itu adalah rezeki yang Allah kirimkan kepadamu.” //Syaikh Al-Albani berkata: Isnadnya dhaif; Al-Irwa’: 938, ebook editor//

Abdurrazzaq meriwayatkan bahwa seseorang mendatangi Abu Hurairah, lalu ia berkata, “Aku tadi berpuasa namun aku telah makan?” Beliau menjawab, “Tidak apa-apa.” Lalu orang itu meneruskan kisahnya, “Lalu aku bertamu kepada seseorang dan aku lupa hingga makan serta minum?” Beliau berkata, “Tidak apa-apa, Allah telah memberimu makan dan minum.” Orang tersebut meneruskan kisahnya, “Lalu aku bertamu kepada orang lain kemudian aku lupa kemudian aku makan.” Abu Hurairah berkata, “Kamu adalah orang yang tidak terbiasa berpuasa.”

 

والله أعلمُ بالـصـواب

Download Sumber

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *