[ UIC 10.4 ] Kitab Subulus Salam Syarh Bulughul Maram 186

05. KITAB PUASA 06

0617

وَعَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ – رَضِيَ اللَّهُ تَعَالَى عَنْهُمَا -، «أَنَّ النَّبِيَّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – احْتَجَمَ وَهُوَ مُحْرِمٌ، وَاحْتَجَمَ وَهُوَ صَائِمٌ» . رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ

617. Dari Ibnu Abbas Radhiyallahu Anhu, “Bahwasanya Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam berbekam padahal beliau sedang berihram, dan beliau juga berbekam padahal beliau sedang berpuasa.” (HR. Al-Bukhari)

[shahih, Al-Bukhari (1938).]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Tafsir Hadits

Nampaknya, kedua kejadian tersebut terjadi pada saat yang berbeda. Bahwa beliau berbekam pada saat sedang berihram dan juga berbekam pada saat sedang berpuasa. Namun, hal tersebut tidak pernah terjadi pada saat yang bersamaan, karena beliau tidak pernah berpuasa pada saat sedang berihram, jika yang dimaksud ialah ihram pada haji wada’, karena hal itu terjadi bukan pada bulan Ramadhan. Beliau juga tidak pernah melakukan ihram dalam perjalanannya di bulan Ramadhan pada tahun Fathu Makkah (penaklukan kota Mekah), tidak juga pada setiap umrah yang beliau laksanakan. Walaupun mungkin saja beliau melakukan puasa sunnah, namun hal tersebut tidak ada yang mengetahuinya.

Hadits ini memiliki banyak riwayat, Ahmad berkata, “Bahwasanya sahabat-sahabat Ibnu Abbas tidak menyebutkan kata-kata puasa.” Abu Hatim berkata, “Syuraik melakukan kesalahan dalam masalah ini, sebenarnya beliau Shallallahu Alaihi wa Sallam berbekam dan memberikan upah untuk pembekamnya, dan Syuraik adalah orang yang menyampaikan hadits berdasarkan hafalannya, lalu hafalannya telah menjadi lemah.” Berdasarkan hal ini maka hadits tersebut berkenaan dengan berbekam saja.

Menurut saya, bisa jadi kedua kejadian tersebut masing-masing tidak saling berhubungan, yakni pada suatu saat beliau Shallallahu Alaihi wa Sallam berbekam ketika sedang berihram dan pada saat yang lain beliau berbekam ketika sedang berpuasa, alasannya bahwa tidak pernah terjadi ihram dan puasa pada satu saat ketika itu, sedangkan tuduhan bahwa Syuraik telah melakukan kesalahan lalu membalokkan hadits ke dalam masalah lain kelihatannya jauh dari kebenaran. Dan mengamalkan riwayatnya yang shahih dengan disertai takwilannya itu lebih baik.

Para ulama berbeda pendapat dalam masalah orang berbekam pada saat ia sedang berpuasa. Kebanyakan ulama mengatakan bahwa hal itu tidak membatalkan puasa, mereka mengatakan bahwa hadits ini menasakh -mengganti- hadits Syaddad bin Aus berikut ini.

0618

وَعَنْ شَدَّادِ بْنِ أَوْسٍ «أَنَّ النَّبِيَّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – أَتَى عَلَى رَجُلٍ بِالْبَقِيعِ وَهُوَ يَحْتَجِمُ فِي رَمَضَانَ. فَقَالَ: أَفْطَرَ الْحَاجِمُ وَالْمَحْجُومُ» . رَوَاهُ الْخَمْسَةُ إلَّا التِّرْمِذِيَّ، وَصَحَّحَهُ أَحْمَدُ وَابْنُ خُزَيْمَةَ وَابْنُ حِبَّانَ

618. Dari Syaddad bin Aus, bahwasanya Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam mendatangi seseorang di Baqi’, pada saat orang tersebut sedang berbekam pada bulan Ramadhan seraya bersabda, “Orang yang membekam dan dibekam batal puasanya.” (HR. Al-Khamsah kecuali At-Tirmidzi; Ahmad, Ibnu Khuzaimah dan Ibnu Hibban menshahihkannya)

[Shahih Abi Dawud (2368).]

ــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Tafsir Hadits

Hadits ini telah disahihkan oleh Al-Bukhari dan yang lainnya. Para imam telah meriwayatkannya dari enam belas orang sahabat Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam, di dalam Al-Jami’ Ash-Shaghir, Al-Hafidz As-Suyuthi berkata, “Hadits ini mutawatir.”

Hadits ini menunjukkan bahwa berbekam itu membatalkan puasa, baik bagi orang yang membekam maupun yang dibekam. Ini adalah pendapat sebagian ulama, di antaranya, Ahmad bin Hambal dan para pengikutnya berdasarkan hadits Syaddad ini.

Sedangkan ulama yang lain berpendapat, bahwa berbekam membatalkan puasa bagi orang yang dibekam dan tidak membatalkan puasa bagi orang yang membekam, berdasarkan separuh awal dari teks hadits ini. Saya tidak tahu apa alasan mereka sehingga mereka mengamalkan separuh hadits dan meninggalkan separuh yang lainnya.

Sedangkan mereka yang berpendapat bahwa berbekam sama sekali tidak membatalkan puasa mengatakan bahwa hadits Syaddad telah dinasakh -diganti- dengan hadits Ibnu Abbas Radhiyallahu Anhu yang lebih akhir, karena Ibnu Abbas Radhiyallahu Anhu menemani Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam pada tahun beliau melaksanakan haji, yaitu pada tahun sepuluh. Sedangkan Syaddad menemaninya pada tahun Fathu Makkah, demikian yang diriwayatkan dari Asy-Syafi’i, ia berkata, “Namun menghindari berbekam karena kehati-hatian lebih saya sukai.”

Kejadian nasakh ini diperkuat oleh hadits Anas mengenai kisah Ja’far bin Abu Thalib yang akan datang, yang mana Al-Hazimi juga meriwayatkan hadits serupa melalui Abu Said.

Abu Muhammad bin Hazm berkata, “Sesungguhnya hadits yang berbunyi, “Orang yang membekam dan dibekam batal puasanya,” adalah hadits yang kuat tanpa keraguan lagi, namun demikian kami mendapatkan bahwa hadits yang berbunyi, “Bahwasanya Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam melarang berbekam bagi orang yang sedang berpuasa, juga melarang puasa wishal, namun beliau tidak mengharamkannya karena membiarkan hal tersebut pada sahabat-sahabatnya,” sanadnya juga shahih.

Ibnu Abi Syaibah telah meriwayatkan hadits yang memperkuat hadits Abu Said,

«أَنَّهُ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – رَخَّصَ فِي الْحِجَامَةِ لِلصَّائِمِ»

“Bahwasanya Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam memberikan keringanan untuk berbekam bagi orang yang sedang berpuasa.”

Tentunya, adanya keringanan tersebut telah didahului sesuatu yang berat -yaitu keharaman berbekam-, sehingga hal ini menunjukkan bahwa nasakh ini berlaku untuk orang yang membekam maupun orang yang dibekam.

Ada juga yang berpendapat bahwa kondisi ini menunjukkan bahwa hukumnya ialah makruh, hal ini berdasarkan hadits Anas yang akan datang.

Ada juga yang mengatakan bahwa hadits tersebut beliau sampaikan untuk kondisi khusus, bahwa saat itu Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam melewati dua orang yang sedang menggunjing saudaranya.

Al-Wahhazhi telah meriwayatkan Yazid bin Rabi’ah dari Abu Al-Ats’as Ash-Shan’ani bahwasanya beliau berkata, “Sesungguhnya Rasulullah mengucapkan, “Orang yang membekam dan dibekam batal puasanya.” Karena keduanya sedang menggunjing saudaranya.”

Ibnu Khuzaimah mengomentari takwil ini, “Sesungguhnya hal ini adalah sesuatu yang mengherankan, karena orang yang menyampaikan hadits di atas tidak berpendapat bahwa menggunjing akan membatalkan puasa.”

Ahmad berkata, “Siapakah orang yang bebas sama sekali dari menggunjing? Jika menggunjing membatalkan puasa maka kami tidak pernah bisa melakukan puasa.”

Asy-Syafi’i memaknai hadits di atas, bahwa barang siapa yang menggunjing maka pahala puasanya akan hilang, sebagaimana:

«قَوْلِهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – لِلْمُتَكَلِّمِ وَالْخَطِيبُ يَخْطُبُ لَا جُمُعَةَ لَهُ»

sabda Rasulullah berkenaan dengan orang yang bercakap-cakap pada saat khatib sedang berkhutbah, “Maka tiada Jumat baginya.” [Dhaif: Abi Dawud (1051).]

Namun beliau tidak memerintahkan orang tersebut untuk mengulangi shalat, maka hal ini menunjukkan bahwa yang beliau maksud ialah hilangnya pahala yang telah dijanjikan, dengan demikian maka tidak tepat kiranya apa yang dikatakan oleh Ibnu Khuzaimah bahwa pendapat ini adalah hal yang mengherankan.

Al-Baghawi berkata, “Yang dimaksud “…telah berbuka…” dalam hadits tersebut ialah bahwa mereka berdua bisa jadi berbuka karena apa yang mereka lakukan, yakni pembekam bisa saja berbuka ketika tanpa sengaja darah yang ia sedot masuk ke dalam saluran makanannya, sedangkan orang yang dibekam mungkin saja akan merasa lemah karena keluarnya darah sehingga akhirnya ia terpaksa harus berbuka.

Ibnu Taimiyah membantah pemahaman ini, seraya berkata, “Sesungguhnya sabda beliau “Orang yang membekam dan dibekam batal puasanya,” merupakan penegasan bahwa puasa mereka telah batal, maka tidak boleh menganggap bahwa puasa mereka masih sah. Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam memberitahukan bahwa keduanya telah berbuka, apalagi sabda beliau ini diungkapkan dengan ungkapan yang mutlak tanpa diikuti oleh embel-embel yang mengesankan bahwa beliau menghendaki maksud lain dari ungkapannya. Seandainya dalam ungkapan ini Rasulullah ingin menyampaikan bahwa mereka hampir-hampir saja berbuka, maka ungkapan ini tidaklah menjadi keterangan sebuah hukum, akan tetapi menjadi teka-teki hukum -yang membingungkan-.

Menurut saya, inilah yang dimaksud oleh hadits di atas tanpa keraguan lagi.

 

والله أعلمُ بالـصـواب

Download Sumber

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *