[ UIC 10.4 ] Kitab Subulus Salam Syarh Bulughul Maram 185

05. KITAB PUASA 05

0614

وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ – رَضِيَ اللَّهُ تَعَالَى عَنْهُ – قَالَ: «نَهَى رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – عَنْ الْوِصَالِ، فَقَالَ رَجُلٌ مِنْ الْمُسْلِمِينَ: فَإِنَّك تُوَاصِلُ يَا رَسُولَ اللَّهِ؟ فَقَالَ: وَأَيُّكُمْ مِثْلِي؟ إنِّي أَبِيتُ يُطْعِمُنِي رَبِّي وَيَسْقِينِي فَلَمَّا أَبَوْا أَنْ يَنْتَهُوا عَنْ الْوِصَالِ وَاصَلَ بِهِمْ يَوْمًا، ثُمَّ يَوْمًا ثُمَّ رَأَوْا الْهِلَالَ، فَقَالَ: لَوْ تَأَخَّرَ الْهِلَالُ لَزِدْتُكُمْ كَالْمُنَكِّلِ، لَهُمْ حِينَ أَبَوْا أَنْ يَنْتَهُوا» . مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

614. Dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu berkata, “Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam melarang puasa wishal (puasa beberapa hari tanpa berbuka), maka salah seorang dari kaum muslimin berkata kepadanya, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya dirimu melakukan puasa wishal?” Maka beliau bersabda, “Siapakah di antara kalian yang seperti aku? Sesungguhnya aku bermalam dalam keadaan diberi makan dan minum oleh Tuhanku.” Dan ketika mereka enggan untuk meninggalkan puasa wishal, maka beliau berpuasa wishal sehari lalu ditambahkan sehari lagi, kemudian mereka melihat hilal, lalu beliau bersabda, “Seandainya hilal terlambat muncul pasti akan aku tambahkan -puasa wishal atas kalian-” sebagai pelajaran bagi mereka yang tidak mau berhenti saat dilarang.” (Muttafaq Alaih)

[shahih: Al-Bukhari (1965), dan Muslim (1103).}

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

“Dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu berkata, “Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam melarang puasa wishal (meninggalkan berbuka pada siang atau malam bulan Ramadhan dengan sengaja), maka salah seorang dari kaum muslimin (Ibnu Hajar berkata, “Aku tidak menemukan namanya.”) berkata kepadanya, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya dirimu melakukan puasa wishal?” Maka beliau bersabda, “Siapakah di antara kalian yang seperti aku? Sesungguhnya aku bermalam dalam keadaan diberi makan dan minum oleh Tuhanku.” Dan ketika mereka enggan untuk meninggalkan puasa wishal, maka beliau berpuasa wishal sehari lalu ditambahkan sehari lagi, kemudian mereka melihat hilal, lalu beliau bersabda, “Seandainya hilal terlambat muncul pasti akan aku tambahkan -puasa wishal atas kalian- sebagai pelajaran bagi mereka yang tidak mau berhenti saat dilarang.” Muttafaq Alaih (Hadits ini diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah, Ibnu Umar, Aisyah dan Anas, lalu Muslim secara sendiri meriwayatkannya dari Abu Said)

[Kenyataannya Al-Bukhari juga meriwayatkannya (1957).]

Tafsir Hadits

Hadits ini menunjukkan haramnya puasa wishal, karena pada dasarnya sebuah larangan menunjukkan keharaman. Namun, kemudian puasa wishal diperbolehkan hingga waktu sahur berdasarkan hadits Abu Said,

«فَأَيُّكُمْ أَرَادَ أَنْ يُوَاصِلَ فَلْيُوَاصِلْ إلَى السَّحَرِ»

“Maka barangsiapa dari kalian ingin wishal, hendaklah ia melakukannya hingga waktu sahur.” //Shahih: Shahih Al Jami’ 7477. Ebook editor //

Hadits ini sekaligus mengisyaratkan, bahwa menahan diri dari makan dan minum pada sebagian waktu malam juga dinamakan wishal. Hal ini membantah pendapat yang mengatakan, “Malam hari bukan saatnya untuk berpuasa, maka tidak sah meniatkan puasa pada malam hari.”

Hadits ini menunjukkan bahwa puasa wishal merupakan kekhususan Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam. Para ulama berbeda pendapat tentang wishal yang dilakukan oleh selain Nabi.

Pendapat pertama mengatakan bahwa hukum puasa wishal haram secara mutlak. Pendapat ini merujuk kepada hadits di atas yang menunjukkan larangan [wishal], karena hukum asal sebuah larangan ialah pengharaman, dan inilah pendapat kebanyakan ulama.

Pendapat kedua mengatakan bahwa puasa wishal hukumnya haram bagi orang yang merasa keberatan untuk melakukanya, dan diperbolehkan bagi orang yang tidak merasa keberatan. Hal ini merujuk kepada kenyataan yang menunjukkan bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam melakukannya bersama para sahabat. Jika larangan tersebut bermakna haram, tentu Rasulullah tidak akan membiarkannya. Sehingga, kenyataan ini menjadi isyarat bahwa hukum puasa wishal adalah makruh sebagai bentuk kasih sayang dan keringanan bagi mereka.

Di samping itu, Abu Dawud meriwayatkan dari salah seorang sahabat,

«نَهَى رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – عَنْ الْحِجَامَةِ وَالْمُوَاصَلَةِ وَلَمْ يُحَرِّمْهُمَا إبْقَاءً عَلَى أَصْحَابِهِ»

“Rasulullah melarang berbekam dan wishal, namun beliau tidak mengharamkannya,” dan para sahabat pun melakukannya.”

[Shahih Abi Dawud (2374)]

Di dalam Al-Ausath, Al-Bazzar dan At-Thabrani meriwayatkan dari Samurah,

«نَهَى النَّبِيُّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – عَنْ الْوِصَالِ وَلَيْسَ بِالْعَزِيمَةِ»

“Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam melarang wishal namun tidak serius -haram-.” [Dhaif, lihat Al-Majma’ (3/1581).]

Hal ini juga didukung beberapa riwayat dari sahabat yang melakukan wishal, Ibnu Abi Syaibah meriwayatkan dengan sanad shahih, “Bahwasanya Ibnu Az-Zubair melakukan wishal selama lima belas hari.”

Hal ini juga diriwayatkan dari beberapa orang sahabat yang lain. Maka seandainya mereka memahami larangan tersebut bermakna haram, tentulah mereka tidak akan melakukannya.

Hal ini juga diperkuat oleh hadits marfu’ yang diriwayatkan oleh Ibnu As-Sakan,

«إنَّ اللَّهَ لَمْ يَكْتُبْ الصِّيَامَ بِاللَّيْلِ فَمَنْ شَاءَ فَلْيَتَّبِعْنِي وَلَا أَجْرَ لَهُ»

“Sesungguhnya Allah tidak mewajibkan berpuasa pada malam hari, maka barangsiapa berkenan ia boleh mengikutiku, namun tiada pahala baginya.”

Sedangkan alasan yang mengatakan bahwa perbuatan itu adalah kebiasaan orang-orang Nashrani, maka kondisi ini tidak secara otomatis mengharamkannya, sebagaimana larangan mengakhirkan berbuka dengan alasan hal itu adat kebiasaan orang-orang ahli kitab, itu tidak menjadikannya haram.

Namun, jumhur ulama mengatakan bahwa ketika Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam melakukan wishal bersama para sahabat, beliau bermaksud untuk memberikan peringatan keras kepada mereka, yang mungkin saja hal itu diperbolehkan untuk lebih menegaskan larangan tersebut, karena jika mereka telah mencobanya -melakukan wishal- mereka akan segera memahami hikmah di balik larangan tersebut, dan cara itu akan lebih mudah diterima karena mereka akan segera merasakan kebosanan dalam beribadah dan akan melalaikan berbagai macam ibadah yang lebih utama dari wishal tersebut.

Dan menurut saya yang lebih logis ialah pendapat yang membedakan -antara yang merasa keberatan dan yang tidak merasa keberatan-.

Sabda beliau, “Siapakah di antara kamu yang seperti aku?” merupakan pertanyaan bernada menyindir, maksudnya, siapakah di antara kalian yang memiliki sifat seperti diriku? mempunyai kedudukan di sisi Allah seperti diriku?

Para ulama berbeda pendapat dalam memahami maksud sabda beliau, “… sesungguhnya aku bermalam dalam keadaan diberi makan dan minum….” Ada yang memahami hadits ini, bahwa beliau mendapatkan makan dan minum dari sisi Allah. Namun, hal ini dibantah, jika demikian, maka beliau tidak termasuk mereka yang melakukan wishal. Namun bantahan ini dijawab, makanan tersebut adalah makanan dari surga sebagai penghormatan. Hal ini tidak bertentangan dengan hukum taklif, dan makanan tersebut tidak memiliki implikasi hukum seperti makanan dunia.

Ibnu Al-Qayyim berkata, “Maksudnya, segala yang Allah berikan berupa pengetahuan dan segala yang Allah alirkan ke dalam hati berupa kenikmatan munajat, kesenangan hati dengan kedekatannya dengan Allah, kenyamanan dengan kecintaan dan kerinduan pada-Nya dan sebagainya, semua itu merupakan santapan hati, hidangan nurani dan penyejuk mata. Kepuasan jiwa, hati dan ruh dengan semua itu merupakan nutrisi paling agung, paling utama dan paling berdaya guna. Nutrisi ini menjadikan seorang kuat hingga terkadang tidak memerlukan lagi asupan jasmani untuk beberapa waktu, sebagaimana yang dikatakan di dalam satu syair,

لَهَا أَحَادِيثُ مِنْ ذِكْرَاك تَشْغَلُهَا … عَنْ الشَّرَابِ وَتُلْهِيهَا عَنْ الزَّادِ

لَهَا بِوَجْهِك نُورٌ يُسْتَضَاءُ لَهُ … وَمِنْ حَدِيثِك فِي أَعْقَابِهَا حَادِي

Dia memiliki cerita-cerita tentangmu

Yang melupakannya untuk minum dan makan

Karena wajahmu, ia memiliki cahaya yang menerangi

Dan dari kisah-kisah tentangmu di belakangnya ada pengikut

Siapapun yang memiliki sedikit ma’rifah dan kerinduan ia akan memahami betapa jasadnya tidak lagi memerlukan santapan hewani terlalu banyak karena ia telah memiliki santapan hati dan rohani. Apalagi orang yang sedang merasa gembira lagi senang yang telah berhasil mendapatkan apa yang ia idam-idamkan, yang mana ia merasa nyaman berada di dekatnya dan mendapatkan keridhaannya.

Beliau menjelaskan makna ini dan memilihnya sebagai penjelasan sabda beliau “… Sesungguhnya aku bermalam dalam keadaan diberi makan dan minum…”

Sedangkan wishal hingga saat sahur, maka Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam telah mengizinkannya, sebagaimana yang disebutkan di dalam Shahih Al-Bukhari dari hadits Abu Said,

” أَنَّهُ سَمِعَ النَّبِيَّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – يَقُولُ: «لَا تُوَاصِلُوا فَأَيُّكُمْ أَرَادَ أَنْ يُوَاصِلَ فَلْيُوَاصِلْ إلَى السَّحَرِ»

“Bahwasanya ia telah mendengarkan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Janganlah kalian melakukan wishal, barangsiapa di antara kalian ingin melakukan wishal, hendaklah ia melakukannya hingga waktu sahur.”

Sedangkan hadits marfu’ dari Umar di dalam Ash-Shahihain -Shahih Al-Bukhari dan Shahih Muslim-,

«إذَا أَقْبَلَ اللَّيْلُ مِنْ هَاهُنَا وَأَدْبَرَ النَّهَارُ مِنْ هَاهُنَا وَغَرَبَتْ الشَّمْسُ فَقَدْ أَفْطَرَ الصَّائِمُ»

“Jika malam telah datang dari sebelah sini, siang telah berlalu dari sebelah sini dan matahari telah terbenam, maka orang-orang yang berpuasa telah berbuka.” [shahih, Al-Bukhari (1954), dan Muslim (1101).]

Hadits ini tidak menghalangi seseorang dari wishal, karena yang dimaksud dengan sabda beliau, “…telah berbuka.” Yakni, mereka telah memasuki saat untuk berbuka, bukan berarti mereka telah berbuka secara otomatis, karena jika mereka berbuka dalam arti sesungguhnya maka tidak ada artinya ketika Rasulullah memerintahkan untuk menyegerakan berbuka, atau ketika beliau melarang puasa wishal, dan tidak ada artinya izin beliau untuk melakukan wishal hingga waktu sahur.

0615

وَعَنْهُ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -: «مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ وَالْجَهْلَ، فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِي أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ» رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ وَأَبُو دَاوُد، وَاللَّفْظُ لَهُ

615. Darinya [Abu Hurairah] berkata, “Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Barangsiapa tidak meninggalkan perkataan bohong, melakukan kebohongan dan perbuatan bodoh, maka Allah tidak memiliki keperluan [tidak akan menerima] apa yang dilakukan seseorang dari menahan makan dan minum [puasanya].” (HR. Al-Bukhari dan Abu Dawud, dengan lafazh Abu Dawud)

[shahih, Al-Bukhari (1903).]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Tafsir Hadits

Hadits ini menunjukkan haranmya berbuat bohong, melakukan kebohongan, dan melakukan perbuatan bodoh bagi orang yang sedang berpuasa. Meskipun hal-hal tersebut juga diharamkan atas orang-orang yang tidak sedang berpuasa, akan tetapi tingkat keharamannya atas orang-orang yang sedang berpuasa lebih berat. Seperti haramnya berbuat zina bagi orang tua renta, maupun haramnya bersikap sombong bagi orang miskin.

Maksud sabda beliau, “… maka Allah tidak memiliki keperluan…” untuk menjelaskan betapa besar kesalahan orang yang melakukannya, seakan-akan orang yang berpuasa tersebut tidak berpuasa. Bukan untuk menjelaskan bahwa Allah memerlukan sesuatu dari hamba, karena Allah Ta’ala tidak memerlukan siapa pun, Mahasuci Allah Yang Mahakaya, demikian penjelasan Ibnu Al-Batthal.

Ada yang mengatakan, bahwa ungkapan tersebut merupakan isyarat puasanya tidak diterima, sebagaimana yang dikatakan orang yang sedang marah ketika ia menolak pemberian, “Aku tidak memerlukannya sama sekali.”

Ada juga yang memahaminya bahwa pahala puasa orang tersebut tidak sebanding dengan hukuman atas dosa yang dilakukannya.

Dan telah dijelaskan di dalam hadits lain,

«فَإِنْ شَاتَمَهُ أَحَدٌ أَوْ سَابَّهُ فَلْيَقُلْ: إنِّي صَائِمٌ»

“Jika ia dicaci maki atau dicerca hendaklah menjawab, “Sesungguhnya aku sedang berpuasa.” [shahih, Al-Bukhari (1894) Muslim (1151).]

Maka janganlah engkau memulai mencaci maki orang atau menjawabnya dengan caci maki yang serupa.

 

والله أعلمُ بالـصـواب

Download Sumber

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *