[ UIC 10.4 ] Kitab Subulus Salam Syarh Bulughul Maram 184

05. KITAB PUASA 04

0610

وَعَنْ سَهْلِ بْنِ سَعْدٍ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ -، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – قَالَ: «لَا يَزَالُ النَّاسُ بِخَيْرٍ مَا عَجَّلُوا الْفِطْرَ» مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

610. Dari Sahl bin Sa’d Radhiyallahu Anhu, bahwasanya Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Manusia senantiasa berada dalam kebaikan selama mereka menyegerakan berbuka.” (Muttafaq Alaih)

[Hadits ini shahih, Al-Bukhari (1957) dan Muslim (1098)]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Biografi Perawi

Sahl bin Sa’d, beliau adalah Abu Al-Abbas Sahl bin Sa’d bin Malik Al-Anshari Al-Khazraji. Dikisahkan, bahwa semula namanya adalah Hazn [kesedihan] lalu Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam memberinya nama Sahl [kemudahan]. Ketika Rasulullah wafat, ia berumur 15 tahun. Sahl wafat di Madinah pada tahun 91 Hijriyah. Ada juga yang mengatakan pada tahun 88 Hijriyah. Beliau adalah sahabat yang terakhir wafat di Madinah.

Penjelasan Kalimat

“Dari Sahl bin Sa’d Radhiyallahu Anhu, bahwasanya Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Manusia senantiasa berada dalam kebaikan selama mereka menyegerakan berbuka.” (Muttafaq Alaih). Ahmad menambahkan:

” وَأَخَّرُوا السُّحُورَ ”

“Dan mereka mengakhirkan makan sahur.”

Abu Dawud menambahkan,

«لِأَنَّ الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى يُؤَخِّرُونَ الْإِفْطَارَ إلَى اشْتِبَاكِ النُّجُومِ»

“Karena orang-orang Yahudi dan Nashrani mengakhirkan berbuka hingga bintang gemintang bertaburan.” //Hadits ini hasan, Shahih Abi Dawud (2353).//

Kemudian ia berkata di dalam Syarh Al-Mishbah, “Lalu hal itu di dalam ajaran kita -Islam- menjadi syiar dan ciri khas ahli bid’ah.”

Tafsir Hadits

Hadits ini menunjukkan bahwa menyegerakan berbuka setelah diketahui dengan yakin bahwa matahari telah terbenam, baik dengan melihatnya sendiri atau setelah mendapat kabar dari orang yang bisa dipercaya adalah disunnahkan. Dan telah disebutkan, bahwa alasan di balik perintah untuk menyegerakan berbuka adalah agar tidak menyerupai adat orang-orang Yahudi dan orang-orang Nashrani. Al-Muhallab berkata, “Hikmah di balik perintah itu, agar waktu siang tidak mundur ke dalam waktu malam. Karena hal itu lebih baik untuk orang yang sedang berpuasa dan lebih menguatkan seseorang untuk beribadah.” Asy-Syafi’i berkata, “Menyegerakan berbuka hukumnya sunnah, sedangkan mengakhirkannya tidak makruh kecuali jika seseorang meniatkannya atau menganggap hal itu lebih utama.”

Menurut saya, ketika Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam memperbolehkan seseorang meneruskan puasanya hingga waktu sahur sebagaimana yang dijelaskan di dalam hadits Abu Said, menunjukkan bahwa hal itu tidak makruh jika diniatkan sebagai kiat untuk mendidik hawa nafsu dan mengendalikan syahwat, hanya saja ada hadits yang berbunyi sebagai berikut ini:

0611

وَلِلتِّرْمِذِيِّ مِنْ حَدِيثِ أَبِي هُرَيْرَةَ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – عَنْ النَّبِيِّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – قَالَ: «قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ: أَحَبُّ عِبَادِي إلَيَّ أَعْجَلُهُمْ فِطْرًا»

611. Dalam riwayat At-Tirmidzi dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam, beliau bersabda, “Allah Ta’ala berfirman, “Hamba-hambu-Ku yang paling Aku cintai ialah mereka yang paling menyegerakan berbuka.”

//Dhaif: Tahqiq Riyadhush Shalihin 1244, Al-Misykah 1989, Dhaif Al Jami’ 4041, Dhaif Targhib wa Tarhib 649, At Tirmidzi 700. Ebook editor//

Tafsir Hadits

Hadits ini menunjukkan bahwa menyegerakan berbuka lebih Allah cintai daripada mengakhirkannya, sekaligus menyiratkan bahwa meneruskan puasa hingga waktu sahur tidak lebih utama daripada menyegerakan berbuka. Atau yang dimaksud dengan ungkapan “… hamba-hamba-Ku..” ialah mereka yang berbuka dan tidak meneruskan puasanya hingga waktu sahur.

Sedangkan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam -yang meneruskan puasanya- maka beliau dengan jelas menerangkan bahwa dirinya berbeda dengan mereka, -sebagaimana yang akan kami jelaskan mendatang-, karena beliau adalah orang yang paling Allah cintai di antara orang-orang yang berpuasa walaupun beliau bukan orang yang paling cepat berbukanya, karena beliau telah mendapatkan izin untuk berpuasa wishal -meneruskan puasa- walaupun hal itu beliau teruskan hingga berhari-hari.

0612

وَعَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -: «تَسَحَّرُوا فَإِنَّ فِي السَّحُورِ بَرَكَةً» مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

612. Dari Anas Radhiyallahu Anhu berkata, “Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Makan sahurlah kalian, sesungguhnya di dalam sahur itu terdapat berkah.” (Muttafaq Alaih)

[Hadits ini shahih, Al-Bukhari (1923) Muslim (1095).]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

“Dari Anas Radhiyallahu Anhu berkata, “Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Makan sahurlah kalian, sesungguhnya di dalam sahur itu terdapat berkah.” Muttafaq Alaih.

(Ahmad menambahkan, dari hadits Abu Said,

«فَلَا تَدَعُوهُ وَلَوْ أَنْ يَتَجَرَّعَ أَحَدُكُمْ جَرْعَةً مِنْ مَاءٍ فَإِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى الْمُتَسَحِّرِينَ»

“Maka janganlah kalian meninggalkannya [sahur] meski hanya dengan meminum seteguk air, sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya membaca shalawat atas orang-orang yang bersahur.”)

[Hadits ini hasan, Shahih Al-Jami’ (3683).]

Tafsir Hadits

Secara nash, hadits ini mengisyaratkan bahwa bersahur hukumnya wajib. Akan tetapi, riwayat yang menyebutkan bahwa Rasulullah dan beberapa sahabat pernah meneruskan puasa tanpa bersahur membawa hukum ini kepada sunnah. Hal ini akan dijelaskan secara panjang lebar pada bab puasa wishal -meneruskan puasa tanpa berbuka atau bersahur-

Ibnu Al-Mundzir meriwayatkan ijma’ ulama atas sunnahnya hukum bersahur dan berkah yang disebutkan di dalamnya ialah karena mengikuti sunnah dan tidak menyerupai adat ahli kitab, sebagaimana yang diriwayatkan oleh Muslim di dalam hadits marfu’,

«فَصْلُ مَا بَيْنَ صِيَامِنَا وَصِيَامِ أَهْلِ الْكِتَابِ أَكْلَةُ السَّحَرِ»

“Perbedaan antara puasa kita dan puasa ahli kitab ialah makanan sahur.”

[Hadits ini shahih, Muslim (1096).]

Dan dengan makan sahur, bisa menguatkan fisik untuk beribadah, bertambahnya semangat, dan adanya sebab untuk bersedekah jika ada yang meminta-minta pada waktu sahur.

0613

وَعَنْ سَلْمَانَ بْنِ عَامِرٍ الضَّبِّيِّ عَنْ النَّبِيِّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – قَالَ: «إذَا أَفْطَرَ أَحَدُكُمْ فَلْيُفْطِرْ عَلَى تَمْرٍ، فَإِنْ لَمْ يَجِدْ فَلْيُفْطِرْ عَلَى مَاءٍ، فَإِنَّهُ طَهُورٌ» رَوَاهُ الْخَمْسَةُ، وَصَحَّحَهُ ابْنُ خُزَيْمَةَ وَابْنُ حِبَّانَ وَالْحَاكِمُ

613. Dari Salman bin ‘Amir Ad-Dhabbi Radhiyallahu Anhu dari Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Jika salah seorang dari kalian berbuka maka hendaklah ia berbuka dengan kurma, jika tidak ada maka hendaklah ia berbuka dengan air, karena sesungguhnya air itu dapat membersihkan [menyucikan].” (HR. Al-Khamsah, Ibnu Khuzaimah, Ibnu Hibban dan Al-Hakim menshahihkannya)

[Hadits ini dhaif, At-Tirmidzi (658) Al-Albani berkata, “-Hadits ini- dhaif, dan yang shahih ialah bahwa hal itu adalah dari hadits perbuatan -hadits fi’li- Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam.”]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Biografi Perawi

Ibnu Abdil Barr berkata, “Di kalangan para sahabat tidak ada seorang pun dari kabilah Ad-Dhabbi, kecuali Salman bin Amir ini.”

Penjelasan Kalimat

Hadits di atas telah diriwayatkan dari Imran bin Hashin, tetapi hadits tersebut dhaif. Juga diriwayatkan dari Anas oleh At-Tirmidzi dan Al-Hakim menshahihkannya.

[Dhaif: At-Tirmidzi (694).]

At-Tirmidzi, An-Nasa’i dan yang lainnya juga meriwayatkannya dari perbuatan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam,

«كَانَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – يُفْطِرُ عَلَى رُطَبَاتٍ قَبْلَ أَنْ يُصَلِّيَ فَإِنْ لَمْ يَكُنْ فَعَلَى تَمَرَاتٍ فَإِنْ لَمْ يَكُنْ حَسَا حَسَوَاتٍ مِنْ مَاءٍ»

“Bahwasanya Rasulullah berbuka dengan ruthab [buah kurma segar] sebelum menunaikan shalat, jika tidak maka dengan tamr [kurma kering] danjika tidak maka beliau meminum beberapa teguk air.”

[Shahih: At-Tirmidzi (696).]

Ada juga riwayat yang menyebutkan, bahwa kurma yang digunakan sebagai pembuka puasa sebanyak tiga biji, dan masih ada riwayat-riwayat lain yang semakna dalam hal tersebut.

Tafsir Hadits

Hadits ini menunjukkan bahwa berbuka dengan hal-hal di atas [ruthab, tamar dan air] hukumnya sunnah. Ibnu Al-Qayyim berkata, “Hal ini menunjukkan ketulusan kasih sayang Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam kepada umatnya. Karena memakan sesuatu yang manis pada saat perut sedang kosong lebih cepat untuk dicerna dan segera memberikan kekuatan, khususnya kekuatan pikiran, karena ia akan menjadi kuat dengannya. Sedangkan air, maka sesungguhnya pada saat berpuasa hepar -hati- mengalami sedikit kekeringan, jika ia telah dibasahi dengan air, maka makanan yang akan dimakan setelahnya akan menyempurnakan kekuatannya. Di samping itu, disebutkan kurma kering dan air memiliki khasiat khusus yang berpengaruh pada kesehatan jantung yang tidak diketahui, kecuali oleh para dokter spesialis jantung.

 

والله أعلمُ بالـصـواب

Download Sumber

 

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *