[ UIC 10.4 ] Kitab Subulus Salam Syarh Bulughul Maram 183

05. KITAB PUASA 03

0607

وَعَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا – «أَنَّ أَعْرَابِيًّا جَاءَ إلَى النَّبِيِّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – فَقَالَ: إنِّي رَأَيْت الْهِلَالَ، فَقَالَ: أَتَشْهَدُ أَنْ لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ؟ قَالَ: نَعَمْ. قَالَ: أَتَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ؟ قَالَ: نَعَمْ. قَالَ: فَأَذِّنْ فِي النَّاسِ يَا بِلَالُ: أَنْ يَصُومُوا غَدًا» رَوَاهُ الْخَمْسَةُ. وَصَحَّحَهُ ابْنُ خُزَيْمَةَ وَابْنُ حِبَّانَ، وَرَجَّحَ النَّسَائِيّ إرْسَالَهُ.

607. Dari Ibnu Abbas bahwasanya seorang Arab Badui datang kepada Nabi SAW seraya berkata: “sesungguhnya aku telah melihat hilal.” Maka Rasulullah SAW bertanya, “Apakah engkau bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah?” Ia menjawab “Ya”, lalu beliau bertanya lagi, “Apakah kamu bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah?” Ia menjawab, “Ya”. Kemudian beliau bersabda, “Wahai Bilal, serulah orang-orang untuk berpuasa esok hari.” (HR. Imam yang lima, Ibnu Khuzaimah dan Ibnu Hibban menshahihkannya, sedangkan An Nasa’i menganggapnya hadits mursal).

[Dhaif: Abu Daud 2340]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Tafsir Hadits

Kandungan hadits ini seperti hadits sebelumnya, yakni menunjukkan sahnya kesaksian satu orang dalam masalah melihat hilal untuk memulai puasa di bulan Ramadhan, sekaligus menjadi dalil bahwa pada dasarnya setiap orang Muslim adalah adil, karena dalam kisah di atas Rasulullah SAW tidak menanyakan sesuatu kecuali kesaksiannya terhadap dua kalimat syahadat.

Hadits ini juga menunjukkan bahwa masalah hilal masuk dalam masalah pemberitaan, dan tidak masuk ke dalam masalah kesaksian –seperti kesaksian dalam peradilan-, dan bahwasanya dalam masalah keimanan cukuplah dengan pengakuan dua kalimat syahadat, dan tidak perlu adanya ikrar berlepas diri dari semua agama yang lain.

0608

وَعَنْ حَفْصَةَ أُمِّ الْمُؤْمِنِينَ أَنَّ النَّبِيَّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – قَالَ: «مَنْ لَمْ يُبَيِّتْ الصِّيَامَ قَبْلَ الْفَجْرِ فَلَا صِيَامَ لَهُ» رَوَاهُ الْخَمْسَةُ، وَمَالَ التِّرْمِذِيُّ وَالنَّسَائِيُّ إلَى تَرْجِيحِ وَقْفِهِ، وَصَحَّحَهُ مَرْفُوعًا ابْنُ خُزَيْمَةَ وَابْنُ حِبَّانَ – وَلِلدَّارَقُطْنِيِّ «لَا صِيَامَ لِمَنْ لَمْ يَفْرِضْهُ مِنْ اللَّيْلِ»

608. Dari Hafsah Ummul Mukminin RA, bahwasanya Nabi SAW bersabda: “Barangsiapa tidak meniatkan puasa pada malam hari sebelum datang fajar, maka tiada puasa baginya.” (HR. Imam yang lima, At Tirmidzi dan An Nasa’i cenderung menganggapnya mauquf, Ibnu Khuzaimah dan Ibnu Hibban menganggapnya marfu’)

[Shahih: Abu Daud 2454]

Dan di dalam riwayat Ad Daruquthni: “Tiada puasa bagi orang yang tidak meniatkannya dari malam hari.”

[Shahih: Ibnu Majah 1700, Shahih Al Jami’ 7516. Ebook editor]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

Dari Hafsah Ummul Mukminin RA, bahwasanya Nabi SAW bersabda: “Barangsiapa tidak meniatkan puasa pada malam hari sebelum datang fajar, maka tiada puasa baginya.” (HR. Imam yang lima, At Tirmidzi dan An Nasa’i cenderung menganggapnya mauquf (pada Hafshah), Ibnu Khuzaimah dan Ibnu Hibban menganggapnya marfu’). Dan di dalam riwayat Ad Daruquthni (Dari Hafshah juga): “Tiada puasa bagi orang yang tidak meniatkannya dari malam hari.”

Tafsir Hadits

Status hadits ini diperselisihkan ulama, apakah ia hadits marfu’ atau mauquf. Kemudian Abu Muhammad bin Hazm berkata, “Perselisihan tersebut justru akan menambah kekuatan hadits itu sendiri, karena mereka yang telah meriwayatkan secara marfu’, secara tidak langsung telah meriwayatkannya secara mauquf. Kemudian Ath Thabari telah meriwayatkan dari jalur lain lalu ia berkomentar, para perawinya tsiqah.

Hadits ini menunjukkan bahwa puasa tidak sah, kecuali jika diniatkan sejak malam hari. Yaitu dengan cara berniat pada malam hari untuk puasa hari esok. Dianggap sebagai waktu malam, terhitung sejak terbenamnya matahari hingga terbit fajar. Hal ini disebabkan, karena puasa adalah suatu pekerjaan –amal ibadah- dan setiap pekerjaan harus memiliki niat, sedangkan antara waktu siang hari dan malam hari tidak terpisahkan dengan pemisah yang jelas, oleh karenanya permulaan puasa tidak akan jelas, kecuali dengan adanya niat pada malam hari.

Niat harus dilakukan pada setiap malam, demikian pendapat yang masyhur dari mazhab Ahmad. Ada riwayat lain dari Ahmad, bahwa apabila seseorang meniatkan puasa dari permulaan bulan, maka niat itu sudah mencukupi. Pendapat kedua ini didukung oleh Ibnu Aqil dengan berdasarkan sabda Rasulullah SAW :

«لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى»

“Dan bagi setiap orang sesuai dengan apa yang ia niatkan.” //Shahih: Al Bukhari 1 dan Muslim 1907//

Jadi, orang tersebut telah meniatkan puasa sepanjang bulan. Ramadhan dianggap satu kesatuan ibadah, bahkan berbukanya seseorang pada malam hari pun dianggap sebagai ibadah. Karena dengan begitu ia akan menjadi kuat untuk melaksanakan puasa pada siang hari. Beliau menjelaskan berbagai argumen yang menunjukkan kekuatan pendapat tersebut. Hadits tersebut bersifat umum, meliputi puasa wajib, puasa sunnah, puasa qadha, dan puasa nadzar. Baik yang ditentukan waktunya maupun tidak. Namun dalam hal ini ada beberapa pendapat dan penjelasannya.

Sedangkan bagi mereka yang tidak mewajibkan niat puasa di malam hari, mereka berargumen dengan hadits Al Bukhari:

«أَنَّهُ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – بَعَثَ رَجُلًا يُنَادِي فِي النَّاسِ يَوْمَ عَاشُورَاءَ إنَّ مَنْ أَكَلَ فَلْيُتِمَّ أَوْ فَلْيَصُمْ وَمَنْ لَمْ يَأْكُلْ فَلَا يَأْكُلْ»

“Bahwasanya Nabi SAW mengutus seseorang untuk menyeru pada hari Asyura: “Barangsiapa yang telah makan, hendaklah ia menyempurnakan puasanya, atau hendaklah ia berpuasa, dan barangsiapa yang belum makan, hendaklah ia tidak makan.”//Shahih: Al Bukhari 1924//

Mereka mengatakan bahwa pada saat itu puasa tersebut [Asyura] hukumnya wajib, kemudian dinasakh –diganti- dengan kewajiban puasa bulan Ramadhan, dan nasakh hukum tersebut tidak secara otomatis menghapus semua hukumnya, lalu puasa bulan Ramadhan diqiyaskan kepada puasa Asyura dan juga kepada puasa-puasa sejenis seperti puasa nadzar yang telah ditentukan harinya, puasa sunnah pada hari-hari tertentu, sehingga keumuman hadits, “maka tidak puasa baginya…” dibatasi oleh qiyas ini, juga oleh hadits Aisyah RA yang akan datang, yang mana hadits tersebut menjelaskan bahwa Rasulullah SAW melakukan puasa sunnah tanpa berniat pada malam hari.

Bantahan atas pendapat di atas, bahwa puasa Asyura tidak sama dengan puasa Ramadhan sehingga berlaku hukum qiyas pada keduanya, lalu beliau Saw memerintahkan kepada orang-orang yang terlanjur makan maupun yang belum makan untuk menahan diri dan tidak makan, dengan begitu jelas bahwa hal ini adalah perintah khusus, dan khusus untuk puasa Asyura sah tanpa meniatkannya di malam hari karena adanya uzur, lalu hal-hal ytg serupa dianalogikan kepadanya, seperti orang yang ketiduran hingga datang subuh, yang mana imsak –menahan diri dari yang membatalkan- yang disertai hukum wajib yang telah tiba saat itu tidak secara otomatis menjadi orang tersebut berpuasa, sedangkan hadits Aisyah RA yang berbunyi:

0609

وَعَنْ عَائِشَةَ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا – قَالَتْ: «دَخَلَ عَلَيَّ النَّبِيُّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – ذَاتَ يَوْمٍ. فَقَالَ: هَلْ عِنْدَكُمْ شَيْءٌ؟ قُلْنَا: لَا. قَالَ: فَإِنِّي إذًا صَائِمٌ ثُمَّ أَتَانَا يَوْمًا آخَرَ، فَقُلْنَا: أُهْدِيَ لَنَا حَيْسٌ، فَقَالَ: أَرِينِيهِ، فَلَقَدْ أَصْبَحْت صَائِمًا فَأَكَلَ» . رَوَاهُ مُسْلِمٌ

609. Dari Aisyah Radhiyallahu Anha berkata, “Suatu hari Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam mendatangiku, lalu beliau bertanya, “Apakah ada sesuatu pada kalian?” Kami menjawab, “Tidak.” Maka beliau bersabda, “Jika demikian, maka aku berpuasa.” Kemudian beliau mendatangi kami pada hari yang lain, lalu kami katakan kepadanya, “Telah dihadiahkan kepada kami hais -jenis makanan yang terbuat dari kurma, tepung dan samin-.” Lalu beliau bersabda, “Tunjukkanlah [bawakanlah] kepadaku, sesungguhnya pagi ini aku sedang berpuasa.” Lalu beliau makan.” (HR. Muslim)

[Shahih: Muslim 1154]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Tafsir hadits

Jawaban atas hadits ini adalah, hadits ini bersifat umum tidak menjelaskan apakah beliau telah meniatkan puasa pada malam hari atau tidak. Kemudian hadits ini dipahami bahwa beliau telah meniatkannya pada malam hari, karena kemungkinan seperti ini akan menjelaskan sifat umum sesuatu atau yang sejenisnya, hal ini berdasarkan kenyataan bahwa ada sebagian riwayat hadits yang menyebutkan

إنِّي كُنْت أَصْبَحْت صَائِمًا,

“Sesungguhnya aku tadi dalam keadaan berpuasa.”

Kesimpulannya, bahwa hukum asli dalam masalah ini ialah: pertama, hadits yang memerintahkan untuk meniatkan puasa pada malam hari bersifat umum; kedua, tidak ada perbedaan antara puasa wajib, sunnah, qadha’ dan nadzar, ditambah lagi tidak ada dalil kuat yang membantah kedua argumen ini, maka hukum yang berlaku harus mengacu kepada kedua argumen yang telah disebutkan.

 

والله أعلمُ بالـصـواب

Download Sumber

 

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *