[ UIC 10.4 ] Kitab Subulus Salam Syarh Bulughul Maram 182

05. KITAB PUASA 02

0604

وَعَنْ ابْنِ عُمَرَ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا – قَالَ: سَمِعْت رَسُولَ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – يَقُولُ: «إذَا رَأَيْتُمُوهُ فَصُومُوا، وَإِذَا رَأَيْتُمُوهُ فَأَفْطِرُوا، فَإِنْ غُمَّ عَلَيْكُمْ فَاقْدُرُوا لَهُ» مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ – وَلِمُسْلِمٍ «فَإِنْ أُغْمِيَ عَلَيْكُمْ فَاقْدُرُوا لَهُ ثَلَاثِينَ»

604. Dari Ibnu Umar berkata, “Saya telah mendengar Rasulullah SAW bersabda, “Jika kalian telah melihatnya [hilal] maka berpuasalah, dan jika kalian telah melihatnya [hilal] maka berbukalah [berhari rayalah], jika kalian terhalangi oleh awan maka perkirakanlah.” Muttafaq alaih

[Shahih: Al Bukhari 1900 dan Muslim 1080]

Dan di dalam riwayat Muslim: “Jika kalian terhalah oleh awan maka genapkanlah tiga puluh hari.”

[Shahih: Muslim 1080]

Dan di dalam riwayat Al Bukhari: “Maka sempurnakanlah hitungannya (bulan Sya’ban) tiga puluh hari.”

[Shahih: Al Bukhari 1907]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Tafsir Hadits

Hadits ini menunjukkan wajibnya berpuasa bulan Ramadhan karena melihat hilal bulan Ramadhan, dan wajibnya berbuka [berhari raya] pada awal bulan Syawal dengan melihat hilal pula. Dzahir hadits ini mengisyaratkan, agar semua kaum Muslimin melihatnya, akan tetapi para ulama telah berijma’ bahwa hal tersebut tidak wajib, namun cukup dengan adanya kesaksian yang diakui oleh syariat dari satu atau dua orang yang adil, karena adanya perbedaan pendapat dalam jumlah tersebut.

Makna dari sabda beliau “Jika kalian telah melihatnya [hilal] …….”, yakni jika salah seorang dari kalian melihat hilal, maka dianggap sebagai ru’yah dalam suatu negara dan berlaku untuk semua penduduk negara tersebut. Ada juga yang berpendapat sebaliknya, bahwa hal itu tidak berlaku untuk semua, karena sabda beliau, “Jika kalian telah melihatnya….” ditujukan kepada orang-orang tertentu saat itu. Dalam masalah ini ada beberapa berpendapat yang masing-masing tidak didukung oleh dalil yang kuat, namun pendapat yang paling bagus ialah ru’yah suatu negeri berlaku untuk negeri tersebut beserta daerah-daerah yang berbatasan dengannya dan memiliki sifat-sifat yang sama.

Dari sabda beliau: ‘… karena melihatnya….’ disimpulkan bahwa jika seseorang melihat ru’yah sendirian, maka ia harus melaksanakan konsekuensinya, baik untuk berpuasa (awal Ramadhan) maupun berbuka (hari raya), demikianlah pendapat para imam dari Aal, juga pendapat imam empat mazhab khususnya dalam masalah keharusan orang tersebut untuk berpuasa, namun dalam masalah berbuka (berhari raya) mereka berbeda pendapat. Asy-Syafi’i berpendapat bahwa orang tersebut harus berbuka (berhari raya) namun ia harus merahasiakannya, sedangkan kebanyakan dari mereka mengatakan bahwa orang tersebut harus terus berpuasa sebagai bentuk kehati-hatian, demikian yang dijelaskan di dalam Asy-Syarh. Namun perlu diingat, telah disebutkan dalam awal bab shalat Idul Fitri dan Idul Adha, bahwa tidak ada seorang pun yang mengatakan agar seseorang meninggalkan keyakinannya untuk mengikuti kebanyakan orang, kecuali Muhammad bin al Hasan Asy Syaibani, sedangkan jumhur ulama dalam masalah ini mengatakan bahwa orang tersebut harus mengikuti keyakinannya. Sehingga terlihat di sini, pendapat jumhur yang saling bertentangan sendiri.

Sebab perbedaan pendapat dalam masalah ini, adalah ucapan Ibnu Abbas kepada Kuraib, “Bahwasanya ia tidak berpuasa ketika melihat hilal saat berada di Syam, namun ia berpuasa bersama puasanya orang-orang Madinah, sehingga ia berpuasa pada hari ke 31 dalam hitungan orang-orang Syam atau pada hari ke 30 menurut hitungan orang-orang Madinah.” Dan Ibnu Abbas berkata, “Sesungguhnya hal itu dari sunnah.” Dan kami telah menyebutkan hadits yang menguatkan hal tersebut, walaupun itu baru kemungkinan karena adanya kemungkinan cara pandang yang lain. Yang benar adalah, hendaklah orang tersebut berbuat berdasarkan keyakinannya baik untuk berpuasa maupun untuk berbuka, dan sebaliknya ia merahasiakannya untuk menjaga orang lain dari prasangka buruk kepadanya.

Di dalam riwayat Muslim dari Ibnu Umar “Jika kalian terhalang oleh awan, maka genapkanlah tiga puluh hari.” Dan di dalam riwayat Al Bukhari dari Ibnu Umar, “Maka sempurnakanlah hitungannya tiga puluh hari.” Maknanya berbukalah (berhari rayalah) kalian pada hari ke 30, dan sempurnakanlah hitungan bulan (Ramadhan) hingga 30 hari, inilah penafsiran yang paling benar dari berbagai tafsiran yang disebutkan oleh Asy Syarh –Ibnu Hajar-, namun tafsiran-tafsiran keluar dari tujuan hadits ini.

Ibnu Baththal berkata, “Hadits ini menolak mereka yang berpegang kepada –teori- para ahli perbintangan, karena dasar hukum dalam masalah ini ialah cukup dengan ru’yah hilal, yang mana kita dilarang untuk mempersulit diri.”

Al Baji, ketika membatah mereka yang berpendapat bahwa ahli hisab, ahli perbintangan dan yang lainnya diperbolehkan untuk berpuasa maupun berbuka berdasarkan ilmu perbintangan –astronomi- ia berkata, “Ijma’ ulama salaf mematahkan pendapat mereka ini.”

Ibnu Barirah berkata, “Itu adalah mazhab yang batil, syariat Islam telah melarang berkutat dalam ilmu perbintangan, karena ilmu ini hanyalah dugaan dan perkiraan yang tidak ada kepastian padanya.”

Kemudian Ibnu Hajar berkata, “Dan jawaban untuk mereka itu sangatlah jelas, yaitu apa yang telah diriwayatkan oleh Al Bukhari dari Ibnu Umar , bahwasanya Nabi SAW bersabda:

«إنَّا أُمَّةٌ أُمِّيَّةٌ لَا نَكْتُبُ وَلَا نَحْسُبُ الشَّهْرَ هَكَذَا وَهَكَذَا يَعْنِي تِسْعًا وَعِشْرِينَ مَرَّةً وَثَلَاثِينَ مَرَّةً»

“Sesungguhnya kami adalah kaum yang buta huruf, kami tidak menulis dan tidak menghitung, [hitungan] bulan ialah seperti ini dan seperti ini. yakni terkadang 29 hari dan terkadang 30 hari.”[1]

_____________________

0605

وَلَهُ فِي حَدِيثِ أَبِي هُرَيْرَةَ «فَأَكْمِلُوا عِدَّةَ شَعْبَانَ ثَلَاثِينَ»

605. Darinya (Al Bukhari) di dalam hadits Abu Hurairah RA, “Maka sempurnakanlah hitungan bulan Sya’ban tiga puluh hari.”

[Shahih: Al Bukhari 1909]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Tafsir Hadits

Hadits ini menegaskan bahwa perintah puasa dikaitkan dengan ru’yah hilal, dan jika terhalang oleh awan maka hendaknya hitungan bulan Sya’ban digenapkan menjadi tiga puluh hari. Hadits-hadits semacam ini menjelaskan, bahwa tidak [diperintahkan] untuk puasa maupun berbuka [berhari raya] kecuali dengan melihat hilal atau menyempurnakan hitungan bulan [30 hari].

0606

وَعَنْ ابْنِ عُمَرَ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا – قَالَ: «تَرَاءَى النَّاسُ الْهِلَالَ، فَأَخْبَرْت النَّبِيَّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – أَنِّي رَأَيْتُهُ، فَصَامَ، وَأَمَرَ النَّاسَ بِصِيَامِهِ» . رَوَاهُ أَبُو دَاوُد، وَصَحَّحَهُ الْحَاكِمُ وَابْنُ حِبَّانَ.

606. Dari Ibnu Umar, “orang-orang saling melihat hilal, kemudian aku memberitahu Nabi SAW bahwa aku telah melihatnya, maka beliau berpuasa dan memerintahkan orang-orang untuk berpuasa.” (HR. Abu Daud dan dishahihkan Ibnu Hibban dan Al Hakim).

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Tafsir Hadits

Hadits ini menunjukkan sahnya kesaksian satu orang yang melihat hilal untuk memulai berpuasa. Ini merupakan mazhab dari segolongan ahli ilmu. Mereka mensyaratkan agar saksi tersebut adalah orang yang adil.

Sedangkan ulama yang lain mengharuskan adanya dua orang saksi dalam masalah ini. hal ini berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh An Nasa’i dari Abdurrahman bin Zaid bin Al-Khaththab bahwasanya ia berkata, “Aku sengaja duduk bersama shahabat-shahabat Rasulullah SAW dan bertanya kepada mereka, lalu mereka berkata kepadaku,

«أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – قَالَ: صُومُوا لِرُؤْيَتِهِ وَأَفْطِرُوا لِرُؤْيَتِهِ فَإِنْ غُمَّ عَلَيْكُمْ فَأَكْمِلُوا عِدَّةَ شَعْبَانَ ثَلَاثِينَ يَوْمًا إلَّا أَنْ يَشْهَدَ شَاهِدَانِ»

“bahwasanya Rasulullah SAW bersabda: “Berpuasalah kalian karena melihatnya [hilal] dan berbukalah kalian karena melihatnya [hilal], jika kalian terhalang oleh awan, maka sempurnakanlah hitungan bulan Sya’ban tiga puluh hari, kecuali jika ada dua orang saksi.”[1]

Hadits ini secara tidak langsung menunjukkan bahwa kesaksian satu orang tidak cukup.

Bantahan atas argumen ini, bahwa hal itu hanya satu pemahaman, sedangkan yang sudah tersurat adalah apa yang telah disebutkan di dalam hadits Ibnu Umar di atas. kemudian hadits Arab Badui –pada nomor setelah ini- lebih kuat dari hadits di atas.

Jika demikian, maka kesaksian seorang wanita dan hamba sahaya juga diterima.

Dalam masalah melihat hilal sebagai awal untuk berpuasa dan berbuka hukumnya sama, yakni cukup dengan adanya satu orang saksi. Sedangkan hadits Ibnu Abbas dan Ibnu Umar yang menjelaskan:

«أَنَّهُ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – أَجَازَ خَبَرَ وَاحِدٍ عَلَى هِلَالِ رَمَضَانَ وَكَانَ لَا يُجِيزُ شَهَادَةَ الْإِفْطَارِ إلَّا بِشَهَادَةِ رَجُلَيْنِ»

“bahwasanya Rasulullah SAW memberlakukan kesaksian satu orang atas hilal bulan Ramadhan dan tidak menerima kesaksian untuk berhari raya kecuali dengan kesaksian dua orang.”

Didha’ifkan oleh Ad Daruquthni, ia berkata: Hafsh bin Umar Al Abli meriwayatkannya sendirian dan ia adalah perawi yang lemah.”[2]

Di antara hadits yang menunjukkan diterimanya kesaksian satu orang –dalam melihat hilal- untuk memulai puasa di beliau Ramadhan ialah hadits berikut ini:

____________________

[1] Shahih: An Nasa’i 2115

[2] Sunan Ad Daruquthni 2/156

 

والله أعلمُ بالـصـواب

Download Sumber

 

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *