[ UIC 10.4 ] Kitab Subulus Salam Syarh Bulughul Maram 181

05. KITAB PUASA 01
ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Secara bahasa puasa bermakna menahan. Kata menahan di sini mencakup makna secara umum, baik menahan diri dari perkataan maupun perbuatan [muamalah] terhadap manusia, hewan dan yang lainnya. Abu Ubaid berkata, “Setiap orang yang menahan diri dari perkataan, makanan atau perjalanan, maka ia dalam orang yang berpuasa.”

Secara istilah puasa adalah menahan diri dari makan, minum, bersetubuh dan lain sebagainya, yang telah disebutkan oleh syariat, pada siang hari sesuai dengan tata cara yang telah disyariatkan. Selain itu, puasa juga bermakna menahan diri dari perkataan keji, sia-sia dan perkataan-perkataan yang diharamkan atau makruh berdasarkan hadits-hadits yang melarang hal tersebut selama berpuasa. Hal ini berlaku pada waktu yang telah ditetapkan dengan syarat-syarat tertentu yang akan dijelaskan oleh hadits-hadits berikut ini.

0602

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -: «لَا تَقَدَّمُوا رَمَضَانَ بِصَوْمِ يَوْمٍ وَلَا يَوْمَيْنِ، إلَّا رَجُلٌ كَانَ يَصُومُ صَوْمًا فَلْيَصُمْهُ» مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ.

602. Dari Abu Hurairah RA berkata, Rasulullah SAW bersabda, “Janganlah kalian mendahului Ramadhan dengan puasa sehari atau dua hari, kecuali seseorang yang telah terbiasa melakukan puasa, maka hendaklah ia berpuasa.” (Muttafaq alaih)

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

Dari Abu Hurairah RA berkata, Rasulullah SAW bersabda, “Janganlah kalian mendahului Ramadhan (menunjukkan bahwa kata Ramadhan digunakan untuk nama bulan Ramadhan.

Di dalam hadits Abu Hurairah RA yang diriwayatkan oleh Ahmad dan yang lainnya secara marfu’ disebutkan:

«لَا تَقُولُوا: جَاءَ رَمَضَانُ فَإِنَّ رَمَضَانَ اسْمٌ مِنْ أَسْمَاءِ اللَّهِ وَلَكِنْ قُولُوا: جَاءَ شَهْرُ رَمَضَانَ»

“Janganlah kalian mengatakan, Ramadhan telah datang, karena Ramadhan adalah salah satu nama dari nama-nama Allah, akan tetapi katakanlah, Bulan Ramadhan telah tiba.” [1]

Hadits ini adalah hadits dhaif yang tidak bisa membantah apa yang telah dijelaskan di dalam hadits shahih)

dengan puasa sehari atau dua hari, kecuali seseorang yang telah terbiasa melakukan puasa, maka hendaklah ia berpuasa.”

Tafsir Hadits

Hadits ini menunjukkan haramnya berpuasa sehari atau dua hari sebelum masuknya bulan Ramadhan. Setelah meriwayatkan hadits ini, At Tirmidzi berkata, “Para ahli ilmu mengamalkan hadits ini, mereka memakruhkan mendahului puasa bulan Ramadhan sebelum masuknya bulan Ramadhan karena makna Ramadhan.” Ungkapan beliau –karena makna Ramadhan- ialah batasan larangan tersebut. Maksudnya, puasa yang dilarang adalah puasa yang sengaja dilakukan, sebagai antisipasi sekiranya telah masuk bulan Ramadhan. Beda halnya jika puasa tersebut ialah puasa mutlak seperti puasa sunnah secara umum, puasa nadzar dan sebagainya.

Menurut saya, jika demikian halnya, berarti diperbolehkan mendahului Ramadhan dengan puasa apa saja, yang tentunya hal ini bertentangan dengan zhahir hadits tersebut, karena hadits tersebut melarang puasa apa saja kecuali seseorang yang telah terbiasa melakukan suatu puasa yang bertepatan dengan akhir bulan Sya’ban, seandainya Rasulullah SAW ingin mengatakan bahwa yang beliau maksud dengan puasa di atas ialah puasa yang dikaitkan dengan Ramadhan, tentulah beliau akan mengatakan, ‘… kecuali seseorang yang melakukan puasa sunnah.’ Atau yang semisal dengannya. Semua itu karena syariat telah mengaitkan masuknya kewajiban puasa bulan Ramadhan dengan ru’yah hilal, maka orang yang mendahului puasa Ramadhan ia telah melanggar larangan dan perintah yang ada di dalam berbagai nash.

Hadits ini sekaligus membatalkan amaliah golongan batiniyah yang terbiasa mendahului puasa Ramadhan dengan puasa sehari atau dua hari sebelum mereka melihat hilat bulan Ramadhan. Mereka mempunyai penafsiran lain terhadap hadits berikut:

«صُومُوا لِرُؤْيَتِهِ»

“Berpuasalah kalian karena melihat hilal.”[2]

Mereka mengatakan bahwa makna huruf ‘lam’ di dalam hadits tersebut adalah berpuasalah kalian untuk menyambutnya. Karena huruf ‘lam’ di dalam hadits ini tidak berarti ‘menyambut’ sebagaimana yang mereka katakan, walaupun terkadang huruf ‘lam’ memang digunakan untuk makna tersebut. Maka, sebagian ulama mengatakan, bahwa larangan mendahului bulan Ramadhan dengan puasa mulai pertengahan bulan Sya’ban, yaitu pada tanggal enam belas, berdasarkan hadits Abu Hurairah RA yang diriwayatkan secara marfu’:

«إذَا انْتَصَفَ شَعْبَانُ فَلَا تَصُومُوا»

“Jika bulan Sya’ban telah mencapai pertengahannya, maka janganlah kalian berpuasa.”[3]

Diriwayatkan oleh Ashabus Sunan, juga yang lainnya.

Ada yang mengatakan, bahwa berpuasa setelah pertengahan Sya’ban hukumnya makruh dan berpuasa satu atau dua hari sebelum masuknya bulan Ramadhan hukumnya haram.

Ada juga yang berpendapat bahwa berpuasa dari pertengahan bukan Sya’ban hingga satu atau dua hari sebelum Ramadhan pada dasarnya diperbolehkan, sedangkan hadits Abu Hurairah RA di atas adalah hadits dhaif. Ahmad dan Ibnu Ma’in mengatakan bahwa hadits tersebut adalah mungkar, sedangkan haramnya berpuasa pada satu atau dua hari sebelum memasuki bulan Ramadhan berdasarkan hadits bab ini. dan ini adalah pendapat yang bagus.

________________________

[1] [Syaikh Al-Albani mencantumkan hadits ini dalam Adh-Dhaifah 6768, dan berkata: Hadits Batil. Ebook editor]

[2] Shahih: Al Bukhari 1909, Muslim 1081

[3] Shahih: Shahih Al Jami 397. Ebook editor

 0603

وَعَنْ عَمَّارِ بْنِ يَاسِرٍ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – قَالَ: «مَنْ صَامَ الْيَوْمَ الَّذِي يُشَكُّ فِيهِ فَقَدْ عَصَى أَبَا الْقَاسِمِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -» . ذَكَرَهُ الْبُخَارِيُّ تَعْلِيقًا، وَوَصَلَهُ الْخَمْسَةُ، وَصَحَّحَهُ ابْنُ خُزَيْمَةَ وَابْنُ حِبَّانَ

603. Dari Ammar bin Yasir RA berkata, Barangsiapa berpuasa pada hari yang diragukan maka ia telah bermaksiat kepada Abu Al Qasim –Nabi SAW- (Al Bukhari meriwayatkan secara mu’alaq, al khamsah meriwayatkannya secara maushul, sedangkan Ibnu Khuzaimah dan Ibnu Hibban menshahihkan)

[Shahih: Abu Daud 2334]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

Dari Ammar bin Yasir RA berkata, Barangsiapa berpuasa pada hari yang diragukan maka ia telah bermaksiat kepada Abu Al Qasim –Nabi SAW- (Al Bukhari meriwayatkan secara mu’alaq, al khamsah meriwayatkannya secara maushul, (Sampai kepada Ammar, lalu Ibnu Hajar menambahkan Al Hakim di dalam Fathul Bari dan menjelaskan mereka meriwayatkannya secara maushul melalui jalur Amr bin Qais dari Abu Ishaq dengan lafazh, Saat itu kami berada di sisi Ammar bin Yasir lalu dihidangkan kepadanya kambing panggang, lalu ia berkata, ‘makanlah’. Kemudian beberapa orang menjauhkan diri seraya berucap, ‘sesungguhnya aku sedang berpuasa’. Lalu Ammar bin Yasir berkata, ‘Barangsiapa …….dst) sedangkan Ibnu Khuzaimah dan Ibnu Hibban menshahihkan)

Ibnu Abdil Barr berkata, “Ia orang yang bisa dipercaya, dan mereka tidak memperselisihkan hal tersebut.” Hadits tersebut adalah hadits mauquf jika dilihat dari sisi lafazhnya, namun hukumnya marfu’, dan maknanya juga bisa disimpulkan dari berbagai hadits yang melarang menyambut bulan Ramadhan dengan puasa maupun hadits-hadits yang memerintahkan untuk berpuasa berdasarkan adanya ru’yah hilal.

Ketahuilah, jika yang dimaksud dengan hari yang meragukan –yaum as-syak- ialah hari ketigapuluh dari bulan sya’ban, jika pada malam harinya tidak terlihat hilal dikarenakan awan yang menutupi pandangan atau karena adanya halangan yang lain, sehingga hari tersebut bisa jadi merupakan permulaan bulan Ramadhan atau bagian dari bulan Sya’ban. Hadits nomor ini beserta hadits-hadits serupa menjelaskan haramnya berpuasa pada hari tersebut, dan inilah pendapat Asy-Syafi’i. namun, para shahabat berselisih pendapat dalam masalah tersebut, ada sebagian yang berpendapat bahwa berpuasa pada hari tersebut hukumnya mubah, dan ada sebagian lain yang mengharamkannya dan menganggap perbuatan tersebut sebagai bentuk kemaksiatan kepada Nabi SAW, dan dalil-dalil yang ada menguatkan pendapat kedua ini.

Sedangkan hadits yang diriwayatkan oleh Asy-Syafi’i dari Fatimah binti Al Husain yang menjelaskan bahwa Ali RA berkata, “Berpuasa sehari pada bulan Sya’ban lebih aku sukai daripada tidak berpuasa sehari dari bulan Ramadhan.” Ini adalah atsar munqathi, apalagi ungkapan ini tidak berkenaan secara khusus dengan hari yang meragukan, karena saat itu ada seseorang yang bersaksi di hadapannya, bahwa hilal telah terlihat, maka ia berpuasa dan memerintahkan orang-orang untuk berpuasa, seraya berkata, “Berpuasa sehari pada bulan…..”

Kemudian di antara hadits yang menegaskan hukum ini ialah hadits Ibnu Abbas:

«فَإِنْ حَالَ بَيْنَكُمْ وَبَيْنَهُ سَحَابٌ فَأَكْمِلُوا الْعِدَّةَ ثَلَاثِينَ وَلَا تَسْتَقْبِلُوا الشَّهْرَ اسْتِقْبَالًا»

“Jika kalian terhalangi oleh awan untuk melihat hilal, maka sempurnakanlah bilangan –bulan Sya’ban- menjadi tiga puluh hari, dan janganlah kalian mendahului bulan –Ramadhan-.” (HR. Ahmad, Ashabus Sunan, Ibnu Khuzaimah dan Abu Ya’la)[1]

Ath Thayalisi meriwayatkan dengan lafazh:

«وَلَا تَسْتَقْبِلُوا رَمَضَانَ بِيَوْمٍ مِنْ شَعْبَانَ»

“Dan janganlah kalian mendahului bulan Ramadhan dengan satu hari dari bulan Sya’ban.” [2]

Hadits tersebut juga diriwayatkan oleh Ad Daruquthni dan dishahihkan oleh Ibnu Khuzaimah di dalam shahih Ibnu Khuzaimah.

Abu Daud meriwayatkan dari Aisyah RA:

«كَانَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – يَتَحَفَّظُ مِنْ شَعْبَانَ مَا لَا يَتَحَفَّظُ مِنْ غَيْرِهِ يَصُومُ لِرُؤْيَةِ الْهِلَالِ أَيْ هِلَالِ رَمَضَانَ فَإِنْ غُمَّ عَلَيْهِ عَدَّ ثَلَاثِينَ يَوْمًا ثُمَّ صَامَ»

“Rasulullah SAW sangat perhatian pada [beberapa hari] di bulan Sya’ban [untuk menyambut kedatangan Ramadhan] yang tidak pernah beliau lakukan pada bulan yang lain, beliau berpuasa berdasarkan ru’yah hilal bulan Ramadhan, dan jika (ru’yah) terhalangi oleh awan maka beliau menggenapkan hitungan –bulan Sya’ban- tiga puluh hari, lalu beliau berpuasa [Ramadhan].[3]

Abu Daud juga meriwayatkan dari Khuzaifah secara marfu’:

«لَا تَقَدَّمُوا الشَّهْرَ حَتَّى تَرَوْا الْهِلَالَ أَوْ تُكْمِلُوا الْعِدَّةَ ثُمَّ صُومُوا حَتَّى تَرَوْا الْهِلَالَ أَوْ تُكْمِلُوا الْعِدَّةَ»

“janganlah kalian mendahului bulan –Ramadhan- hingga kalian melihat hilal atau kalian menggenapkan bilangan [bulan Sya’ban] tiga puluh [hari], kemudian berpuasalah hingga kalian melihat hilal lagi atau kalian menggenapkan hitungan tiga puluh.”[4]

Dan dalam masalah ini, masih terdapat banyak hadits yang menjelaskan larangan berpuasa pada hari yang meragukan, di antaranya hadits berikut ini:

_____________________

[1] shahih: Abu Daud 2327

[2] Musnad Ath-Thayalisi 2793

[3] shahih: Abu Daud 2325

[4] shahih: Abu Daud 2326

 

والله أعلمُ بالـصـواب

Download Sumber

 

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *