[ UIC 10.4 ] Kitab Subulus Salam Syarh Bulughul Maram 180

04.03. BAB PEMBAGIAN ZAKAT 03

0599

وَعَنْ جُبَيْرِ بْنِ مُطْعِمٍ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – قَالَ: مَشَيْت أَنَا وَعُثْمَانُ بْنُ عَفَّانَ إلَى النَّبِيِّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – فَقُلْنَا: يَا رَسُولَ اللَّهِ، أَعْطَيْت بَنِي الْمُطَّلِبِ مِنْ خُمُسِ خَيْبَرَ وَتَرَكْتنَا، وَنَحْنُ وَهُمْ بِمَنْزِلَةٍ وَاحِدَةٍ، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -: «إنَّمَا بَنُو الْمُطَّلِبِ وَبَنُو هَاشِمٍ شَيْءٌ وَاحِدٌ» رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ

599. Dari Zubair bin Muth’im berkata, ‘Saya berjalan bersama Utsman bin Affan menuju kepada Nabi SAW lalu kami berkata kepada beliau, “Wahai Rasulullah, engkau telah memberi Bani Al Muthalib seperlima dari –harta rampasan- Khaibar dan engkau membiarkan kami –tidak memberi kami-, padahal kami dan mereka pada posisi yang sama?’ maka Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya Bani Al Muthalib dan Bani Hasyim adalah satu.” (HR. Al Bukhari)

[Shahih: Al Bukhari 4229]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Biografi Perawi

Zubair bin Muth’im bin Naufal bin Abdul Manaf Al Qurasyi, masuk Islam sebelum Fathu Makkah. Ia tinggal di Madinah. Wafat pada tahun 54 H, atau sebelumnya.

Penjelasan Kalimat

“Sesungguhnya Bani Al Muthalib dan Bani Hasyim adalah satu.” (Yang dimaksud Bani Hasyim ialah keluarga Ja’far, keluarga Ali, keluarga Uqail, keluarga Al Abbas dan keluarga Al Harits, beliau tidak menyertakan keluarga Abu Lahab dalam golongan tersebut, karena pada masa Rasulullah SAW tidak ada seorang pun dari mereka yang masuk Islam, namun ada yang mengatakan bahwa pada masa itu ada dua orang anak Abu Lahab yang telah masuk Islam yaitu Utbah dan Mu’tab, dan keduanya berperang bersama Rasulullah SAW pada perang Hunain)

Tafsir Hadits

Hadits ini menunjukkan bahwa Bani Al Muthalib ikut serta mendapatkan bagian dari hak kerabat Rasulullah SAW, juga diharamkan zakat atas mereka, posisi ini tidak diikuti golongan yang lain walaupun mereka dari nasab yang sama. Kemudian Rasulullah SAW menjelaskan alasan tersebut, yaitu karena mereka teguh dan setia, sebagaimana yang disebutkan di dalam hadits lain:

«بِأَنَّهُمْ لَمْ يُفَارِقُونَا فِي جَاهِلِيَّةٍ وَلَا إسْلَامٍ»

“Bahwasanya mereka tidak pernah meninggalkan kami baik pada masa jahiliyah maupun pada masa Islam.” [Shahih: An Nasa’i 4148]

Sehingga mereka seakan-akan merupakan satu kesatuan dalam hukum, inilah dalil yang tegas dalam masalah ini, demikianlah pendapat Asy-Syafi’i.

Namun, pendapat ini bertentangan dengan pendapat jumhur ulama yang mengatakan bahwa Rasulullah SAW memberi mereka hanya karena kebaikan hati dan bukan karena mereka berhak atas hal tersebut. Hanya saja pendapat ini bertentangan dengan zhahir hadits yang ada, sebagaimana sabda beliau… adalah satu. Hal ini merupakan dalil yang menunjukkan bahwa mereka berhak untuk mendapatkan bagian tersebut sekaligus haram atas mereka untuk menerima zakat.

Ketahuilah, bahwa Bani Al Muthalib ialah anak keturunan Al Muthalib bin Abdul Manaf. Jubair bin Al Muth’im adalah satu dari keturunan Naufal bin abdul Manaf. Utsman adalah satu dari anak keturunan Abdu Syams bin abdul Manaf. Maka, bani Al Muthalib, bani Abdu Syams dan bani Naufal mereka adalah sepupu sederajat. Oleh karena itu Utsman dan Jubair bin Al Muth’im mengatakan kepada Rasulullah SAW bahwa mereka adalah sederajat, dan tidak mengatakan bahwa mereka dari seorang atau paman.

Ketahuilah bahwa Abdi Manaf memiliki 4 orang anak, Hasyim, al Muthalib, Naufal dan Abdu Syams, kemudian di antara anak-anak Hasyim ialah Abdul Muthalib, Shaifi, abu Shaifi dan Asad. Lalu di antara anak-anak Abdul Muthalib ialah Abdullah, Abu Thalib, Hamzah, Al Abbas, Abu Lahab, Al Harits, Abdul Uzza, Hajl, Muqawwam, Al Ghaidaq, Dhirar dan Zubair.

 0600

وَعَنْ أَبِي رَافِعٍ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – «أَنَّ النَّبِيَّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – بَعَثَ رَجُلًا عَلَى الصَّدَقَةِ مِنْ بَنِي مَخْزُومٍ، فَقَالَ لِأَبِي رَافِعٍ: اصْحَبْنِي، فَإِنَّك تُصِيبُ مِنْهَا، فَقَالَ: لَا، حَتَّى آتِيَ النَّبِيَّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -، فَأَسْأَلَهُ. فَأَتَاهُ فَسَأَلَهُ، فَقَالَ: مَوْلَى الْقَوْمِ مِنْ أَنْفُسِهِمْ، وَإِنَّهَا لَا تَحِلُّ لَنَا الصَّدَقَةُ» رَوَاهُ أَحْمَدُ وَالثَّلَاثَةُ وَابْنُ خُزَيْمَةَ وَابْنُ حِبَّانَ

600. Dari Abu Rafi RA, “Bahwasanya Nabi SAW mengutus seseorang dari Bani Makhzum untuk mengambil zakat, maka orang tersebut berkata kepada Abu Rafi’, ‘Temanilah aku, karena sesungguhnya engkau akan mendapatkan bagian darinya’. Maka ia menjawab, ‘Biarkan aku mendatangi Rasulullah SAW’, maka ia mendatanginya lalu bertanya tentang hal tersebut, maka Rasulullah SAW bersabda, “Maula –budak yang telah dibebaskan- milik suatu kaum adalah bagian dari mereka, dan sesungguhnya tidak halal bagi kami –untuk mengambil- zakat. (HR. Ahmad, Imam yang tiga, Ibnu Khuzaimah dan Ibnu Hibban)

[Shahih: At Tirmidzi 657]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Biografi Perawi

Abu Rafi’ adalah maula Rasulullah SAW. nama aslinya Ibrahim, dan ada juga yang mengatakan Hurmuz. Diceritakan bahwa ia adalah milik Al Abbas, lalu dihadiahkan kepada Rasulullah SAW dan saat Al Abbas masuk Islam, Abu Rafi’ menyampaikan kabar gembira tersebut kepada Rasulullah SAW maka beliau memerdekakannya. Ia wafat pada masa pemerintahan Ali, sebagaimana yang disebutkan oleh Ibnu Abdil Barr.

Penjelasan Kalimat

Dari Abu Rafi RA, “Bahwasanya Nabi SAW mengutus seseorang (untuk mengambilnya) dari Bani Makhzum (seseorang yang bernama Al Arqam) untuk mengambil zakat, maka orang tersebut berkata kepada Abu Rafi’, ‘Temanilah aku, karena sesungguhnya engkau akan mendapatkan bagian darinya’. Maka ia menjawab, ‘Biarkan aku mendatangi Rasulullah SAW’, maka ia mendatanginya lalu bertanya tentang hal tersebut, maka Rasulullah SAW bersabda, “Maula –budak yang telah dibebaskan- milik suatu kaum adalah bagian dari mereka, dan sesungguhnya tidak halal bagi kami –untuk mengambil- zakat.

Tafsir Hadits

Hadits ini merupakan dalil yang menjelaskan bahwa hukum bagi para maula –budak- dari keluarga Muhammad SAW seperti hukum tuan mereka dalam masalah haramnya zakat untuk mereka. Di dalam At Tamhid Ibnu Abdil Barr berkata, “Tidak ada perbedaan pendapat di kalangan kaum Muslimin atas haramnya zakat untuk Nabi SAW juga untuk Bani Hasyim dan para maula mereka.

Ada sebagian orang yang berpendapat bahwa zakat tidak haram untuk para budak mereka, karena mereka bukan berasal dari nasab yang sama dan mereka tidak memiliki hak bagian dari jatah seperlima –ghanimah-. Kemudian argumen ini dibantah bahwa argumen-argumen seperti ini tidak bisa mematahkan nash yang jelas, maka ia harus ditolak karena bertentangan dengan nash yang ada.

Ibnu Abdil Barr berkata, “pendapat ini bertentangan dengan nash yang kuat, kemudian nash ini menjelaskan haramnya pemberian para budak [maula], apalagi untuk keluarga Muhammad SAW. karena dari kisah di atas jelas bahwa orang yang diperintahkan mengambil zakat tersebut menawarkan kepada Abu Rafi’ untuk membantunya dalam melaksanakan tugas yang dibebankan oleh Nabi SAW kepadanya. Dengan demikian, Abu Rafi’ berhak untuk mendapatkan pemberian, dan orang tersebut tidak bermaksud memberikan upah kepada Abu Rafi’ atas pekerjaannya. Karena, jika yang diberikan adalah upah, maka ia halal bagi Abu Rafi’. Sebab hal itu menjadi salah satu dari lima golongan yang diperbolehkan untuk menerima zakat, dimana petugas tersebut telah berhak memiliki upahnya lalu ia memberikan sebagian dari hak miliknya kepada Abu Rafi’, dan ia halal baginya. Gambaran ini sebagaimana yang dijelaskan dalam sabda beliau: “… atau seseorang –miskin- yang telah menerimanya lalu ia menghadiahkan sebagian darinya.”

0601

وَعَنْ سَالِمِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ عَنْ أَبِيهِ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا – «أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – كَانَ يُعْطِي عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ الْعَطَاءَ، فَيَقُولُ: أَعْطِهِ أَفْقَرَ مِنِّي، فَيَقُولُ،: خُذْهُ فَتَمَوَّلْهُ، أَوْ تَصَدَّقْ بِهِ، وَمَا جَاءَك مِنْ هَذَا الْمَالِ، وَأَنْتَ غَيْرُ مُشْرِفٍ وَلَا سَائِلٍ فَخُذْهُ، وَمَا لَا فَلَا تُتْبِعْهُ نَفْسَك» رَوَاهُ مُسْلِمٌ.

601. Dari Salim bin Abdullah bin Umar, dari ayahnya bahwasanya Rasulullah SAW memberikan satu pemberian kepada Umar, lalu Umar berkata, “Berikanlah kepada orang yang lebih fakir dariku.” Maka Rasulullah SAW bersabda, “Ambillah untuk kamu miliki atau kamu sedekahkan, jika kamu mendapatkan harta semacam ini sedangkan kamu tidak mengharapkannya dan tidak pula memintanya maka ambillah, jika tidak maka janganlah kamu turuti hawa nafsumu.” (HR. Muslim)

[Muslim 1045]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

Dari Salim bin Abdullah bin Umar, dari ayahnya bahwasanya Rasulullah SAW memberikan satu pemberian kepada Umar, lalu Umar berkata, “Berikanlah kepada orang yang lebih fakir dariku.” Maka Rasulullah SAW bersabda, “Ambillah untuk kamu miliki atau kamu sedekahkan, jika kamu mendapatkan harta semacam ini sedangkan kamu tidak mengharapkannya (Tidak mempunyai keinginan untuk memiliki harta tersebut di dalam hati) dan tidak pula memintanya maka ambillah, jika tidak maka janganlah kamu turuti hawa nafsumu.”(janganlah engkau memintanya)

Tafsir Hadits

Hadits ini menjelaskan bahwa seorang pekerja hendaklah mengambil pemberian atas pekerjaan tersebut dan tidak menolaknya, karena hadits ini berbicara pada masalah pemberian atas suatu pekerjaan –bukan upah-, sebagaimana yang dijelaskan dalam riwayat Muslim.

Kebanyakan ulama mengatakan bahwa perintah di dalam hadits ini ‘maka ambillah’ maknanya ialah anjuran –sunnah-, dan ada yang mengatakan bahwa maknanya ialah wajib. Kemudian ada juga yang mengatakan bahwa perintah ini bermakna sunnah secara umum, maka bagi siapa saja yang diberikan kepadanya suatu pemberian hendaknya ia menerimanya, dengan dua syarat di atas.

Hal di atas berkenaan dengan pemberian dari harta yang halal, sedangkan apabila pemberian tersebut berasal dari seorang penguasa yang hartanya bercampur antara yang halal dan yang haram, maka Ibnu Al Mundzir berkata, “Diperbolehkan mengambil pemberian tersebut, dan ia termasuk di dalam rukhsah –keringanan-, dalil atas hal tersebut ialah firman Allah SWT: “Mereka itu adalah orang-orang yang suka mendengar berita bohong, banyak memakan yang haram.”(QS. Al-Maidah [5]: 42), Rasulullah SAW juga pernah menggadaikan baju besinya kepada seorang Yahudi, padahal beliau jelas mengetahui hal tersebut, beliau juga mengambil jizyah dari mereka padahal Rasulullah SAW mengetahui hal tersebut, yakni kebanyakan harta mereka berasal dari hasil jual-beli babi dan berbagai transaksi.

Di dalam Al Jami Al Kafi disebutkan, “Pemberian seorang penguasa yang aniaya tidak ditolak, karena jika orang tersebut mengetahui bahwa harta tersebut milik seseorang maka wajib atas orang tersebut untuk menerimanya lalu mengembalikannya kepada yang berhak, namun jika harta tersebut bercampur maka ia adalah harta dari perbuatan zhalim dan hendaklah ia menafkahkannya pada yang berhak, dan jika harta tersebut dari hasil kezhalimannya maka dengan menerimanya ia telah mengurangi kebatilannya, dan mengurangi apa-apa yang akan membantunya untuk berbuat maksiat.”

Ini adalah perkataan yang bagus yang berjalan seiring dengan kaidah-kaidah syariah, namun dalam masalah ini diisyaratkan agar orang yang akan mereka tersebut bisa menjaga dirinya untuk tidak mencintai orang yang telah memberikan harta kepadanya yang mana biasanya pemberian tersebut akan menarik seseorang untuk mencintai orang yang telah berbuat baik kepadanya, dan hendaklah ia tidak membuat opini pada orang lain seakan-akan penguasa tersebut benar dan baik, karena ia telah menerima pemberiannya.

Dan kami telah menjelaskannya dengan panjang lebar di dalam Khawasyi Dhau’ An Nahar di dalam bab jual beli.

 

والله أعلمُ بالـصـواب

Download Sumber

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *