[ UIC 10.4 ] Kitab Subulus Salam Syarh Bulughul Maram 18

01.06. BAB HAL-HAL YANG MEMBATALKAN WUDHU 01

0061

61 – عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ: «كَانَ أَصْحَابُ رَسُولِ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – عَلَى عَهْدِهِ – يَنْتَظِرُونَ الْعِشَاءَ حَتَّى تَخْفِقَ رُءُوسُهُمْ، ثُمَّ يُصَلُّونَ وَلَا يَتَوَضَّئُونَ» أَخْرَجَهُ أَبُو دَاوُد وَصَحَّحَهُ الدَّارَقُطْنِيُّ، وَأَصْلُهُ فِي مُسْلِمٍ

61. Dari Anas bin Malik ia berkata, ‘Para shahabat Rasulullah SAW pada masa beliau, menuggu shalat Isya hingga kepala mereka mengangguk-angguk, kemudian mereka shalat dan tidak berwudhu lagi.” (HR. Abu Daud dan dishahihkan Ad Daruquthni, dan asalnya terdapat dalam Shahih Muslim)

[Shahih: Muslim 376, Abu Daud 200 dan Ad Daruquthni 1/130]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

Para shahabat Rasulullah SAW pada masa beliau, menuggu shalat Isya hingga kepala mereka mengangguk-angguk, (sama dengan dharaba – yadhribu, artinya miring, lantaran tertidur) kemudian mereka shalat dan tidak berwudhu lagi.”

Tafsir Hadits

Hadits serupa dikuatkan pula oleh At Tirmidzi dan di dalamnya tidak lafazh:

[يُوقِظُونَ لِلصَّلَاةِ]

“Mereka dibangunkan untuk shalat”

dan di dalamnya:

«حَتَّى إنِّي لَأَسْمَعُ لِأَحَدِهِمْ غَطِيطًا، ثُمَّ يَقُومُونَ فَيُصَلُّونَ وَلَا يَتَوَضَّئُونَ»

“Hingga aku benar-benar mendengar suara dengkur salah seorang dari mereka, kemudian mereka bangun lalu shalat dan tidak berwudhu.” [Shahih: At Tirmidzi 78]

Sekelompok ulama menamainya dengan istilah tidurnya orang duduk. Takwil ini dibantah, bahwa dalam satu riwayat dari Anas:

[يَضَعُونَ جُنُوبَهُمْ]

“Mereka meletakkan lambung mereka”,[1] diriwayatkan oleh Yahya Al Qaththan.

Ibnu Daqiq Al Id menamainya dengan istilah tidur ringan. Ini juga dapat dibantah bahwa pendapat ini tidak sesuai karena disebutkan suara dengkur dan membangunkan, dimana keduanya tidak terdapat kecuali pada orang yang tidur nyenyak. Jika hal ini telah Anda ketahui, maka hadits-hadits tersebut mencakup kepala yang mengangguk-angguk, suara dengkur, membangunkan, dan meletakkan lambung, semuanya disebutkan bahwa mereka tidak berwudhu dari hal tersebut.

Para ulama berbeda pendapat dalam hal tersebut terbagi 8 kelompok.

pertama; bahwa tidur membatalkan wudhu secara mutlak dalam kondisi apa pun, berdasarkan hadits Shafwan bin Assal yang terdahulu pada bab mengusap khuf yang menyebutkan secara mutlak. Pada hadits tersebut disebutkan, ‘kencing, berak dan tidur.’ Mereka berkata, ‘Beliau menjadikan tidur secara mutlak, seperti buang air besar dan buang air kecil dalam membatalkan wudhu.

Sedangkan hadits Anas, dengan redaksi bagaimanapun diriwayatkan, tidak terdapat keterangan bahwa Rasulullah SAW membiarkan mereka atas hal itu, dan beliau tidak melihat mereka. Dengan demikian, maka hal itu adalah perbuatan shahabat yang tidak diketahui bagaimana ia terjadi, sedang yang dapat dijadikan hujjah hanyalah perbuatan, ucapan atau yang dibiarkan oleh beliau SAW.

kedua; bahwa tidak tidak membatalkan wudhu secara mutlak, berdasarkan hadits yang telah lalu dari Anas dan cerita tidurnya para shahabat atas fardhu yang terjadi pada mereka. Seandainya tidur membatalkan wudhu, niscaya Allah tidak membiarkan mereka atas hal itu, dan Allah akan menurunkan wahyu kepada Rasulullah SAW berkenaan dengannya, sebagaimana Dia mewahyukan kepada beliau mengenai najisnya sandal beliau. Dan yang lebih utama adalah sahnya shalat orang yang berada di belakangnya, akan tetapi datang kepada mereka hadits Shafwan bin Assal.

ketiga; bahwa tidur membatalkan semuanya, hanya saja dimaafkan tidur dengan dua kali anggukan meskipun berturut-turut, dan beberapa anggukan secara terpisah, ini adalah mazhab Al Hadawiyah.

al Khafaqah (mengangguk) adalah miringnya kepala karena kantuk, dan batasan satu anggukan, yaitu kepala tidak tegak hingga bangun. Barangsiapa yang tidak miring kepalanya, dimaafkan baginya sekitar satu anggukan, yaitu hanya sekedar condongnya kepala hingga dagu sampai ke dada. Hal ini diqiyaskan atas tidur satu kali anggukan. Mereka memahami hadits Anas atas kantuk yang tidak menghilangkan kesadaran, pendapat ini tidak diragukan kejauhannya.

keempat; bahwa tidur tidak membatalkan wudhu dengan sendirinya tetapi hanyalah penyebab batalnya wudhu, maka jika tidur dengan duduk dalam posisi tenang maka tidak membatalkan dan jika tidak, dapat membatalkan. Ini adalah mazhab Asy-Syafi’i. Ia berdalil dengan hadits Ali RA:

«الْعَيْنُ وِكَاءُ السَّهِ فَمَنْ نَامَ فَلْيَتَوَضَّأْ»

“Mata adalah pengikat dubur, maka barangsiapa yang tidur hendaklah ia berwudhu.”

Hadits ini dihasankan oleh At Tirmidzi, akan tetapi pada sanadnya terdapat perawi yang tidak dapat dijadikan hujjah, yaitu Baqiyah bin Al Walid, ia meriwayatkannya secara an’anah (dengan ungkapan ‘an), ia menjadikan hadits Anas bagi tidur dalam posisi tegak, untuk memadukan dua hadits tersebut, dan membatasi hadits Shafwan dengan hadits Ali RA ini. ia berkata , ‘Makna hadits Ali RA bahwa tidur adalah penyebab keluarnya sesuatu tanpa terasa, maka dengan itu, tidur membatalkan wudhu tidak dengan sendirinya.’

Kelima; jika tertidur dapat posisi orang yang sedang shalat, ruku, sujud ataupun berdiri maka wudhunya tidak batal, baik dalam shalat maupun di luar shalat. Maka jika tidur dalam keadaan berbaring atau di atas tengkuknya, wudhunya batal, berdasarkan hadits:

«إذَا نَامَ الْعَبْدُ فِي سُجُودِهِ بَاهَى اللَّهُ بِهِ الْمَلَائِكَةَ يَقُولُ: عَبْدِي رُوحُهُ عِنْدِي، وَجَسَدُهُ سَاجِدٌ بَيْنَ يَدَيْ»

“Apabila seorang hamba tidur dalam sujudnya, Allah membanggakannya di hadapan para malaikat, Dia berkata, “Hamba-Ku, ruhnya di sisi-Ku, dan tubuhnya sujud di hadapan-Ku”[2]

Diriwayatkan oleh Al Baihaqi dan yang lainnya, tetapi ada yang mendha’ifkannya. Mereka berkata, “Ia menamakan sujud sedang ia tidur, sementara tidak ada sujud tanpa bersuci.” Dapat dijawab, bahwa ia menamakannya sujud dilihat dari awal atau keadaannya.

Keenam; bahwa batal, kecuali tidurnya orang yang sedang ruku’ atau sujud, berdasarkan hadits yang telah lalu, meskipun khusus dengan sujud tetapi diqiyaskan atas ruku’ sebagaimana diqiyaskan yang sebelumnya semua bai’ah (keadaan) orang yang sedang shalat.

Ketujuh; tidur tidak membatalkan wudhu jika terjadi saat mengerjakan shalat, baik dalam kondisi bagaimanapun, dan membatalkan jika di luar shalat. Hujjahnya adalah hadits yang telah disebutkan karena merupakan hujjah bagi tiga pendapat.

Kedelapan; tidur yang nyenyak membatalkan wudhu dan jika sedikit tidak membatalkan. Mereka berkata, “Karena tidur tidak membatalkan wudhu dengan sendirinya, akan tetapi penyebab batalnya wudhu. Yang banyak dapat menyebabkan batal berbeda dengan yang sedikit, mereka memaknai hadits Anas dengan tidur yang sedikit. Tetapi mereka tidak menyebutkan kadar sedikit dan banyak hingga ucapan mereka dapat diketahui dengan jelas, dan apakah termasuk di antara pendapat-pendapat tersebut atau tidak?

Inilah pendapat-pendapat para ulama tentang tidur, pandangan mereka berbeda-beda disebabkan berbeda-beda hadits yang telah kami sebutkan. Dan dalam bab ini terdapat hadits-hadits yang tidak lepas dari cacat, maka kami meninggalkannya.

Yang lebih dekat adalah pendapat bahwa tidur membatalkan wudhu, berdasarkan hadits Shafwan, dan telah Anda ketahui bahwa dishahihkan oleh Ibnu Khuzaimah, At Tirmidzi dan Al Khaththabi, akan tetapi lafazh tidur yang terdapat dalam hadits tersebut mutlak, dan dalil menyamakannya lemah, maka tidak boleh mengatakan, ‘disamakan dengan air seni dan tinja, karena keduanya membatalkan wudhu dalam kondisi bagaimanapun’, dikarenakan hadits tersebut mutlak maka diriwayatkan hadits Anas mengenai tidurnya para shahabat dan bahwa mereka tidak berwudhu meskipun mereka mendengkur, diambil bahwa mereka meletakkan lambung-lambung mereka, dan mereka dibangunkan, ini menunjukkan besarnya kadar tidur mereka (lelap). Mereka itu tidak bodoh tentang hal-hal yang membatalkan wudhu, terlebih karena Anas menceritakannya dari para shahabat secara mutlak, dan sudah maklum bahwa di antara mereka itu terdapat para ulama yang mengetahui urusan agama khususnya shalat yang merupakan rukun Islam yang paling agung, terlebih di antara mereka menunggu shalat bersama Rasulullah SAW, dan mereka adalah para shahabat pilihan.

Jika demikian, maka kemutlakan hadits Shafwan dibatasi dengan tidur nyenyak yang tidak mengingat apa-apa lagi. Apa yang disebutkan Anas yaitu berdengkur, meletakkan lambung, dibangunkan dapat ditakwilkan dengan tidur tidak nyenyak, karena terkadang orang yang baru mulai tidur mendengkur sebelum nyenyak, dan meletakkan lambung tidak selamanya berarti nyenyak, karena Rasulullah SAW pernah meletakkan lambungnya setelah shalat sunnah dua rakaat fajar dan beliau tidak tidur, dan sesungguhnya beliau pernah berdiri shalat fajar setelah meletakkan lambungnya, meskipun boleh jadi dkit, ‘bahwa sesungguhnya di antara kekhususan beliau SAW bahwa tidurnya tidak dapat membatalkan wudhu’, yang penting diketahui bahwa dia tidak selamanya tidur dengan meletakkan lambungnya, dan dibangunkan boleh jadi bagi orang yang di awal tidurnya lalu dibangunkan agar tidurnya tidak nyenyak.

Selanjutnya bahwa pingsan, gila dan mabuk dengan penyebab apa pun digolongkan dengan tidur, karena sama-sama hilangnya akal. Disebutkan dalam Asy Syarh bahwa mereka telah sepakat bahwa hal-hal tersebut membatalkan wudhu, jika hal ini benar berarti ini adalah dalil ijma.

_____________

[1] [Syaikh Al-Albani mengatakan dalam Tamamul Minnah 1/100, “diriwayatkannya oleh Abu Daud dalam Marasil Imam Ahmad hal 318, dan isnadnya shahih menurut syarat Al Bukhari dan Muslim.” Juga tercantum dalam Musnad Al Bazzar 7077, dan Musnad Abu Ya’la 3199, Syaikh Husain Salim Asad mengatakan, ‘Isnadnya shahih’. Ebook editor]

[2] [Dhaif: Dalam Silsilah Adh-Dhaifah 953, dengan lafazh: وجسده في طاعتي (dan tubuhnya dalam ketaatan kepada-Ku –ebook editor)

0062

62 – وَعَنْ عَائِشَةَ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا – قَالَتْ: «جَاءَتْ فَاطِمَةُ بِنْتُ أَبِي حُبَيْشٍ إلَى النَّبِيِّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -، فَقَالَتْ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، إنِّي امْرَأَةٌ أُسْتَحَاضُ فَلَا أَطْهُرُ، أَفَأَدَعُ الصَّلَاةَ؟ قَالَ: لَا إنَّمَا ذَلِكِ عِرْقٌ، وَلَيْسَ بِحَيْضٍ: فَإِذَا أَقْبَلَتْ حَيْضَتُك فَدَعِي الصَّلَاةَ، وَإِذَا أَدْبَرَتْ فَاغْسِلِي عَنْك الدَّمَ ثُمَّ صَلِّي» – وَلِلْبُخَارِيِّ ” ثُمَّ تَوَضَّئِي لِكُلِّ صَلَاةٍ ” وَأَشَارَ مُسْلِمٌ إلَى أَنَّهُ حَذَفَهَا عَمْدًا

62. Dari Aisyah RA ia berkata, ‘Fathimah binti Abu Hubaisy datang kepada Nabi SAW lalu berkata, “Wahai Rasululla, aku adalah perempuan yang istihadhah maka aku tidak suci, apakah aku meninggalkan shalat?” Beliau menjawab, “Jangan, itu hanyalah peluh, bukan haidh. Maka jika haidhmu datang, tinggalkanlah shalat, dan jika telah berlalu maka cucilah darahmu kemudian shalatlah.” (Muttafaq alaih) dan menurut Al Bukhari, “Kemudian berwudhulah untuk setiap shalat.” Muslim mengisyaratkan bahwa ia menggugurkannya dengan sengaja.

[Shahih: Al Bukhari 228 dan Muslim 333]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

Fathimah binti Abu Hubaisy datang (Fatimah dari Quraisy Asadiyah, yaitu istri Abdullah bin Jahsy) kepada Nabi SAW lalu berkata, “Wahai Rasulullah, aku adalah perempuan yang istihadhah (istihadhah yaitu keluarnya darah dari kemaluan perempuan bukan pada waktunya) maka aku tidak suci, apakah aku meninggalkan shalat?” Beliau menjawab, “Jangan, itu hanyalah peluh, (Dalam Fathul Bari sesungguhnya ini yang disebut adzil (keringat panas. Dan disebut adzir (kotoran) sebagaimana dalam Al Qamus) bukan haidh. (karena haidh itu keluar dari bagian rahim perempuan, ini adalah pemberitahuan berbedanya kedua tempat keluar itu, dan jawaban atas perkataan, ‘aku tidak suci’, karena ia berkeyakinan bahwa sucinya orang yang haidh tidak dapat diketahui kecuali dengan berhentinya darah, maka ia menamainya tidak suci lantaran keluarnya secara terus-menerus, dan ia telah mengetahui bahwa perempuan haidh tidak boleh shalat, ia mengira bahwa hukum tersebut berlaku bersama keluarnya darah, maka Nabi SAW menerangkan kepadanya bahwa di rahim bukan haidh, dia dalam keadaan suci dan wajib melaksanakan shalat) Maka jika haidhmu datang, (maksud iqbal adalah mulainya darah haidh) tinggalkanlah shalat, (mencakup larangan shalat bagi perempuan haidh, dan haramnya serta rusaknya shalatnya, ini adalah kesepakatan para ulama) dan jika telah berlalu (yaitu mulai berhenti) maka cucilah darahmu (yakni mandilah, dipahami dari dalil lainnya) kemudian shalatlah.”

Tafsir Hadits

Hadits tersebut adalah dalil terjadinya istihadhah. Darah istihadhah memiliki hukum yang berbeda dengan hukum haidh. Dan telah diterangkan oleh beliau SAW dengan sempurna, karena beliau telah memberikan fatwa kepada fatimah bahwa ia tidak boleh meninggalkan shalat meski darah tetap mengalir. Ia juga harus menunggu datangnya waktu haidh lalu meninggalkan shalat padanya, dan jika telah berlalu maka ia mencuci darah tersebut lalu mandi. Sebagaimana yang diriwayatkan dalam beberapa jalur Al Bukhari, ‘Dan mandilah” dan pada sebagiannya – sebagaimana riwayat penulis, hanya disebutkan mencuci darah.

Walhasil, bahwa beliau telah menyebutkan dua hal tersebut dalam beberapa hadits shahih, yaitu mencuci darah dan mandi. Hanya saja, sebagian perawi hanya menyebutkan salah satunya dan yang lainnya menyebutkan yang kedua. Kemudian beliau menyuruhnya shalat setelah itu.

Sekarang, pembicaraannya adalah bagaimana mengetahui datang dan berlalunya masa haidh sementara darah terus keluar, karena syariat telah mengaitkan istihadhah dengan hukum datang dan berlalunya haidh, dan hal itu mengindikasikan bahwa hal tersebut dapat dibedakan dengan suatu tanda.

Dalam hal ini para ulama terbagi dua pendapat:

pertama; bahwa hal itu dapat dibedakan dengan merujuk kepada kebiasaannya. Mulainya adalah keluarnya darah pada hari pertama menurut kebiasaannya, dan selesainya dengan berlalunya hari-hari sesuai dengan kebiasaannya. Merujuk kepada hari-hari kebiasaan diriwayatkan dalam hadits Fatimah dalam salah satu riwayat dengan lafazh: “Tinggalkanlah shalat sebanyak hari yang engkau biasa haidh padanya.” Dan akan datang pada bab haidh penegasan pembicaraan masalah itu.

kedua; kerujuk kepada sifat darah, sebagaimana yang akan datang pada hadits Aisyah RA pada kisah Fathimah binti Hubaisy dengan lafazh: “Sesungguhnya darah haidh itu dalam hitam yang dikenal, jika yang demikian itu maka janganlah engkau shalat, dan jika yang lain maka berwudhu dan shalatlah.”, dan akan disebutkan pada bab haidh- Insya Allah- maka mulainya haidh ketika adanya sifat tersebut, dan berakhirnya dengan hilangnya sifat tersebut. Juga akan disebutkan bagaimana mengembalikan kepada kebiasaan perempuan, akan disebutkan penegasan semua itu, termasuk perbedaan para ulama, dan bahwa semuanya berpendapat dengan mengamalkan salah satu di antara tanda-tanda tersebut.

‘Dan bagi Al Bukhari’, artinya dari hadits Aisyah RA ini ada tambahan, ‘Kemudian wudhulah untuk setiap shalat.’ Dan Muslim telah mengisyaratkan bahwa ia telah menggugurkannya dengan sengaja, karena ia berkata dalam Shahih-nya setelah menyebutkan hadits tersebut, “Dan dalam hadits Hammad ada yang tidak kami sebutkan.”

Al Baihaqi berkata, yaitu sabdanya ‘berwudhulah’, karena ini adalah tambahan yang tidak kuat, dan bahwa sebagian perawi meriwayatkannya secara sendirian tanpa yang lainnya, dari para perawi yang meriwayatkan hadits tersebut. Akan tetapi, telah ditetapkan oleh penulis dalam Al Fath bahwa ia ditegaskan dari beberapa jalan yang menafikan bahwa Muslim meriwayatkannya sendirian.

Perlu diketahui bahwa penulis menyebutkan hadits istihadhah dalam bab hal-hal yang membatalkan wudhu, dan sebenarnya tidak sesuai dengan bab ini kecuali tambahan tadi bukan asal hadits, karena termasuk hukum istihadhah dan haidh, dan akan diulanginya nanti pada babnya. Tambahan inilah yang menjadi hujjah bahwa darah istihadhah termasuk hadats yang membatalkan wudhu. Oleh karenanya, maka syariat memerintahkan berwudhu darinya untuk setiap shalat, hanya saja wudhu menghilangkan hukumnya karena shalat, maka jika ia telah selesai shalat maka wudhunya pun batal, dan inilah pendapat jumhur bahwa ia berwudhu untuk setiap shalat.

Al Hadawiyah dan Al Hanafiyah berpendapat bahwa ia berwudhu untuk setiap waktu shalat, dan wudhu tersebut berkaitan dengan waktu, kemudian ia shalat fardhu pada waktu itu dan shalat-shalat sunnah yang dikehendakinya. Ia diperbolehkan menjamak dua shalat fardhu bagi yang membolehkannya, yaitu lantaran udzur.

Al Malikiyah berpendapat bahwa disunnahkan wudhu dan tidak wajib melainkan untuk hadats lainnya, dan hal tersebut akan ditegaskan pada hadits Hamnah binti Jahsy dalam bab haidh –Insya Allah-. Juga akan disebutkan hukum-hukum yang diperbolehkan bagi perempuan yang sedang istihadhah dan yang membedakannya dengan haidh, karena memang tempatnya untuk mengomentarinya. Dalam Asy Syarh hal ini disebutkan, adapun di sini tidak disebutkan haditsnya karena dianggap bahwa istihadhah membatalkan wudhu.

0063

63 – وَعَنْ «عَلِيِّ بْنِ أَبِي طَالِبٍ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – قَالَ: كُنْت رَجُلًا مَذَّاءً فَأَمَرْت الْمِقْدَادَ أَنْ يَسْأَلَ النَّبِيَّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -، فَسَأَلَهُ: فَقَالَ: فِيهِ الْوُضُوءُ» مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ، وَاللَّفْظُ لِلْبُخَارِيِّ.

63. Dari Ali bin Abu Thalib RA ia berkata, ‘Aku adalah orang yang banyak mengeluarkan madzi, maka aku meminta Miqdad agar bertanya kepada Nabi SAW, lalu ia pun bertanya kepadanya. Maka beliau SAW menjawab, “Ia harus berwudhu.” (Muttafaq alaih, dan lafazh ini milik Al Bukhari)

[Shahih: Al Bukhari 132, Muslim 303]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

Aku adalah orang yang banyak mengeluarkan madzi, (yaitu air berwarna putih, lengket dan halus yang keluar ketika bercumbu dengan istri atau ketika mengingatnya atau ingin berjima) maka aku meminta Miqdad (yaitu Ibnu Al Aswad Al Kindi) agar bertanya kepada Nabi SAW, (yaitu apa yang wajib dilakukan bagi orang yang keluar madzi) lalu ia pun bertanya kepadanya. Maka beliau SAW menjawab, “Ia harus berwudhu.”

Tafsir Hadits

Hadits ini Muttafaq alaih dan dalam sebagian lafazh menurut Al Bukhari setelah ini:

[فَاسْتَحْيَيْت أَنْ أَسْأَلَ رَسُولَ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -] وَفِي لَفْظٍ [لِمَكَانِ ابْنَتِهِ مِنِّي]

“Tetapi aku malu bertanya kepada Rasulullah SAW.” Dalam lafazh lainnya: “Lantaran kedudukan putrinya bagiku” [Al Bukhari 269]

Dan dalam lafazh Muslim:

[لِمَكَانِ فَاطِمَةَ]

“lantaran kedudukan Fathimah”

[Dalam lafazh Muslim : لِمَكَانِ ابْنَتِهِ bukan yang dicantumkan pensyarah]

Sedangkan menurut Abu Daud, An Nasa’i dan Ibnu Khuzaimah adalah dengan lafazh:

كُنْت رَجُلًا مَذَّاءً فَجَعَلْت أَغْتَسِلُ مِنْهُ فِي الشِّتَاءِ حَتَّى تَشَقَّقَ ظَهْرِي

“Aku adalah orang yang banyak mengeluarkan madzi lalu aku mandi darinya pada musim dingin hingga punggungku remuk.” [Shahih: Abu Daud 206]

Dalam lafazh Al Bukhari ia menambahkan:

«تَوَضَّأْ وَاغْسِلْ ذَكَرَك»

“Berwudhu dan cucilah kemaluanmu.” [Shahih Al Bukhari 269]

Dan dalam Shahih Muslim:

«اغْسِلْ ذَكَرَك وَتَوَضَّأْ»

“Cucilah kemaluanmu dan berwudhulah.”

[saya tidak mendapatinya dalam Shahih Muslim]

Terjadi perbedaan pendapat mengenai orang yang bertanya, apakah Miqdad –sebagaimana dalam riwayat tadi- ataukah Ammar –sebagaimana dalam riwayat lainnya-. Dan dalam satu riwayat bahwa yang bertanya adalah Ali RA. Ibnu Hibban memadukan antara hal itu, bahwa Ali RA menyuruh Miqdad untuk bertanya kepada Rasulullah SAW, kemudian dia sendiri yang bertanya, tetapi ia mengikutinya bahwa ucapan, ‘Maka aku malu bertanya lantaran kedudukan putrinya bagiku’, menunjukkan bahwa bukan dia yang bertanya langsung, maka menisbatkan pertanyaan kepadanya pada rw yang mengatakan bahwa Ali yang bertanya adalah majaz, karena dia yang menyuruh bertanya.

Hadits tersebut adalah dalil bahwa madzi itu membatalkan wudhu. Oleh karenanya disebutkan oleh penulis dalam bab ini. dan dalil tidak mewajibkan mandi adalah ijma.

Riwayat, ‘Berwudhu dan cucilah kemaluanmu’ tidak menunjukkan bahwa yang didahulukan adalah berwudhu, karena waw tidak menunjukkan berurutan, dan lafazh Muslim menjelaskan maksud tersebut.

Disebutkannya lafazh ‘dzakar’ secara mutlak, secara zhahir dipahami bahwa harus mencuci dzakar secara keseluruhannya, tetapi tidak demikian, karena yang wajib adalah mencuci tempat keluarnya madzi, itu hanyalah memutlakkan nama keseluruhan tetapi yang dimaksud adalah sebagiannya, dan qarinahnya tidak diketahui dari kaidah syariat.

Sebagian berpendapat bahwa harus mencuci secara keseluruhan, berdasarkan lafazh hadits tersebut, dan didukung oleh riwayat Abu Daud:

«يَغْسِلُ ذَكَرَهُ وَأُنْثَيَيْهِ وَيَتَوَضَّأُ»

“Ia mencuci kemaluannya dan kedua buah pelirnya lalu berwudhu.” [Shahih: Abu Daud 208]

Menurutnya juga:

«فَتَغْسِلُ مِنْ ذَلِكَ فَرْجَك وَأُنْثَيَيْك وَتَوَضَّأْ لِلصَّلَاةِ»

“Engkau mencuci kemaluanmu dan kedua buah pelirmu lalu berwudhu untuk shalat.” [Shahih: Abu Daud 211]

Akan tetapi tambahan mencuci kedua buah pelir telah dicela, dan telah kami jelaskan dalam catatan kaki Dhau’ An Nahar. Karena itu adalah riwayat Urwah dari Ali RA, sementara ia tidak mendengar dari Ali, akan tetapi diriwayatkan oleh Abu Awanah dalam shahihnya dari jalan Ubaidah dari Ali RA dengan tambahan. Penulis berkata dalam At Talkhis, ‘Pada sanadnya tidak ada celaan.’ Maka meskipun shahih tidak ada alasan berpendapat dengannya. Ada yang mengatakan, “Hikmahnya adalah bahwa jika mencuci semuanya ia akan menyusut, lalu tidak jadi keluar madzi.” Hadits tersebut dijadikan dalil atas najisnya madzi.

0064

64 – وَعَنْ عَائِشَةَ: «أَنَّ النَّبِيَّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – قَبَّلَ بَعْضَ نِسَائِهِ، ثُمَّ خَرَجَ إلَى الصَّلَاةِ وَلَمْ يَتَوَضَّأْ» ، أَخْرَجَهُ أَحْمَدُ وَضَعَّفَهُ الْبُخَارِيُّ

64. Dari Aisyah RA, “Bahwa Nabi SAW mencium salah seorang istrinya kemudian keluar shalat dan tidak berwudhu.” (HR. Ahmad dan didha’ifkan oleh Al Bukhari)

[Shahih: Abu Daud 208]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Tafsir Hadits

Hadits di atas juga diriwayatkan oleh Abu Daud, At Tirmidzi, An Nasa’i dan Ibnu Majah.

At Tirmidzi berkata, “Saya mendengar Muhammad bin Ismail mendha’ifkan hadits ini.” dan Abu Daud mengeluarkannya dari jalan Ibrahim At Taimi dari Aisyah RA, sementara ia tidak mendengar sesuatu darinya maka hadits tersebut adalah mursal. An Nasa’i berkata, “Dalam bab ini tidak ada hadits yang lebih baik darinya, akan tetapi hadits tersebut mursal.” Penulis berkata, “Diriwayatkan sepuluh jalur dari Aisyah RA, disebutkan oleh Al Baihaqi dalam Al Khilafiyat lalu ia mendha’ifkannya.” Ibnu Hazm berkata, “Tidak ada sedikit pun yang shahih dalam bab ini, meskipun shahih, maka hal itu berlaku untuk sentuhan yang terjadi sebelum turunya perintah wudhu.”

Jika hal ini telah Anda ketahui, maka hadits tersebut adalah dalil bahwa menyentuh dan mencium perempuan tidak membatalkan wudhu, dan inilah hukum dasarnya. Hadits tersebut menetapkan hukum asalnya, dan inilah yang dipegang oleh Ahlul Bait semuanya, dan dari kalangan shahabat adalah Ali RA.

Asy-Syafi’iyah berpendapat bahwa menyentuh perempuan yang haram dinikahi membatalkan wudhu, berdasarkan firman Allah SWT:

{أَوْ لامَسْتُمُ النِّسَاءَ}

“…. atau menyentuh perempuan…” (QS. Al-Maidah [5]: 6), maka wajib berwudhu lantaran menyentuh perempuan. Mereka berkata, ‘Kata al lams hakikatnya menyentuh dengan tangan, makna ini dikuatkan oleh bacaan ‘aw lamastumunnisaa’, ayat ini dengan jelas menunjukkan bahwa hanya dengan sentuhan laki-laki tanpa sentuhan perempuan. Ini menegaskan bahwa lafazh tersebut tetap pada makna sebenarnya. Bacaan ‘au lamastum’, demikian pula karena pada dasarnya kedua bacaan itu sama maknanya.”

Pendapat tersebut dapat dijawab dengan memalingkan makna sebenarnya, yaitu dengan adanya indikasi (qarinah), sehingga dapat dipahami secara majaz, yaitu bahwa makna al mulasamah di sini adalah jima’, demikian pula al-lamas. Qarinahnya adalah hadits Aisyah RA yang telah disebutkan. Meskipun terdapat cela sebagaimana yang telah Anda dengar, akan tetapi masing-masing jalannya menguatkan satu dengan lainnya.

Hadits Aisyah RA dalam Al Bukhari bahwa ia pernah tidur terlentang pada kiblat (tempat shalat) Rasulullah SAW. maka jika berdiri shalat, beliau merabanya lalu memegang kedua kakinya, yaitu ketika beliau sujud, dan jika beliau berdiri Aisyah RA membentangkan keduanya. Ini menguatkan hadits tersebut dan menguatkan tetapnya pada makna asal, serta menunjukkan bahwa bukan menyentuh (biasa) seperti itu yang membatalkan wudhu.

Adapun alasan penulis dalam Fathul Bari tentang hadits Aisyah RA ini bahwa sangat boleh jadi hal itu beliau lakukan dengan kain penghalang, atau hukumnya khusus baginya, maka hal itu sangat jauh dan bertentangan dengan zhahir hadits.

Ali RA menafsirkan Al mulasamah dengan jima, dan juga ditafsirkan oleh Ibnu Abbas, dialah yang didoakan agar diajarkan ta’wil oleh Allah. Abdun bin Humaid meriwayatkan darinya bahwa dia menafsirkan mulasamah setelah meletakkan kedua jari pada telinganya, ‘Ketahuilah, yaitu bersetubuh’. Dan diriwayatkan darinya oleh Ath Thastisy bahwa ia di atasnya oleh Nafi bin al Azraq tentang ‘mulasamah’, maka ia menafsirkan dengan jima.

Di samping itu, susunan ayat dan uslubnya menunjukkan bahwa yang dimaksud dengan mulasamah adalah jima. Karena Allah SWT menyebutkan bahwa di antara yang membolehkan tayamum adalah kembali dari buang air besar, untuk menegaskan atas hadat kecil, dan menyebutkan al mulasamah untuk menegaskan atas hadats besar. Hal tersebut sepadan dengan firman Allah SWT mengenai perintah mencuci dengan air:

{وَإِنْ كُنْتُمْ جُنُبًا فَاطَّهَّرُوا}

“Dan jika kamu junub maka mandilah…” (QS. Al-Maidah [5]: 6)

Seandainya mulasamah dipahami dengan sentuhan yang membatalkan wudhu, niscaya akan hilang penegasan bahwa tanah dapat menggantikan air dalam menghilangkan hadats besar, dan bertentangan dengan awal ayat, dan Al Hanafiyah memiliki keterangan rinci yang tidak dapat dijadikan sebagai dalil.

 

والله أعلمُ بالـصـواب

Download Sumber

 

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *