[ UIC 10.4 ] Kitab Subulus Salam Syarh Bulughul Maram 179

04.03. BAB PEMBAGIAN ZAKAT 02

0597

وَعَنْ قَبِيصَةَ بْنِ مُخَارِقٍ الْهِلَالِيِّ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -: «إنَّ الْمَسْأَلَةَ لَا تَحِلُّ إلَّا لِأَحَدِ ثَلَاثَةٍ: رَجُلٍ تَحَمَّلَ حَمَالَةً، فَحَلَّتْ لَهُ الْمَسْأَلَةُ حَتَّى يُصِيبَهَا، ثُمَّ يُمْسِكُ وَرَجُلٍ أَصَابَتْهُ جَائِحَةٌ اجْتَاحَتْ مَالَهُ، فَحَلَّتْ لَهُ الْمَسْأَلَةُ حَتَّى يُصِيبَ قِوَامًا مِنْ عَيْشٍ، وَرَجُلٍ أَصَابَتْهُ فَاقَةٌ حَتَّى يَقُومَ ثَلَاثَةٌ مِنْ ذَوِي الْحِجَا مِنْ قَوْمِهِ، لَقَدْ أَصَابَتْ فُلَانًا فَاقَةٌ، فَحَلَّتْ لَهُ الْمَسْأَلَةُ حَتَّى يُصِيبَ قِوَامًا مِنْ عَيْشٍ، فَمَا سِوَاهُنَّ مِنْ الْمَسْأَلَةِ يَا قَبِيصَةُ سُحْتٌ يَأْكُلُهُ صَاحِبُهُ سُحْتًا» رَوَاهُ مُسْلِمٌ وَأَبُو دَاوُد وَابْنُ خُزَيْمَةَ وَابْنُ حِبَّانَ.

597. Dari Qabishah bin Mukhariq Al Hilali RA berkata, Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya meminta-minta tidak halal kecuali untuk salah satu dari tiga golongan: seseorang yang menanggung tanggungan orang lain, maka diperbolehkan baginya untuk meminta-minta sampai ia menunaikan tanggungan tersebut, lalu ia berhenti dari meminta-minta; seseorang yang tertimpa musibah yang menghancurkan harta bendanya maka diperbolehkan baginya untuk meminta-minta sampai ia mendapatkan kecukupan untuk penghidupannya; seseorang yang terlilit kebutuhan, hingga tiga orang bijak di antara mereka bersaksi, ‘si fulan telah terlilit kebutuhan, maka diperbolehkan baginya untuk meminta-minta sampai ia bisa mencukupi kehidupannya, meminta-minta selain dari mereka itu, wahai Qabishah, maka ia adalah barang haram yang dimakan dengan haram.” (HR. Muslim, Abu Daud, Ibnu Khuzaimah dan Ibnu Hibban)

[Shahih: Muslim 1044]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Biografi Perawi

Qabishah bin Mukhariq Al Hilali, beliau mendatangi Rasulullah SAW bersama orang-orang dari penduduk Bashrah, putera beliau yang bernama Quthn dan beberapa orang yang lain meriwayatkan darinya.

Penjelasan Kalimat

“Sesungguhnya meminta-minta tidak halal kecuali untuk salah satu dari tiga golongan: seseorang yang menanggung tanggungan (harta yang seharusnya dtanggung oleh) orang lain, maka diperbolehkan baginya untuk meminta-minta sampai ia menunaikan tanggungan tersebut, lalu ia berhenti dari meminta-minta; seseorang yang tertimpa musibah (bencana) yang menghancurkan harta bendanya maka diperbolehkan baginya untuk meminta-minta sampai ia mendapatkan kecukupan (memenuhi kebutuhannya dan menutupi kekurangannya) untuk penghidupannya; seseorang yang terlilit kebutuhan, hingga tiga orang bijak di antara mereka (karena mereka lebih memahami kondisi orang tersebut, lalu mereka mengatakan) bersaksi, ‘si fulan telah terlilit kebutuhan, maka diperbolehkan baginya untuk meminta-minta sampai ia bisa mencukupi kehidupannya, meminta-minta selain dari mereka itu, wahai Qabishah, maka ia adalah barang haram yang dimakan dengan haram.” (karena ia akan menghilangkan berkah)

Tafsir Hadits

Hadits ini dalil atas haramnya meminta-minta kecuali untuk tiga golongan:

1. Seseorang yang menanggung tanggungan orang lain, baik tanggungan tersebut berupa hutang, diyat atau uang damai yang digunakan untuk mendamaikan antara dua pihak yang bertikai, maka diperbolehkan bagi orang tersebut untuk meminta-minta, dan zhahir ini mengisyaratkan bahwa hal itu diperbolehkan baginya walaupun ia termasuk orang kaya. Karena orang tersebut tidak wajib menanggung tanggungan tersebut dengan harta bendanya sendiri, dengan begitu ia adalah salah satu dari lima golongan kaya yang boleh menerima sedekah, sebagaimana yang telah dijelaskan di dalam hadits Abu Said.

2. Seseorang yang harta bendanya tertimpa bencana alam, baik dari langit maupun bumi berupa suhu dingin, tenggelam dan yang sejenisnya sehingga tidak tersisa dari hartanya sesuatu yang bisa menutupi kebutuhannya, maka diperbolehkan baginya untuk meminta-minta sampai ia mencukupi kehidupannya dan menutupi kebutuhannya.

3. Seseorang yang terlilit kebutuhan, namun tidak diperbolehkan bagi orang ini untuk meminta-minta kecuali dengan syarat ada tiga orang saksi bijak dari penduduk daerahnya karena merekalah yang lebih memahami kondisi orang tersebut, dan bukan sembarang orang yang dikenal bodoh dan lalai, dalam masalah ini, Asy-Syafi’iyah berpendapat bahwa saksi tersebut harus tiga orang, keterangan saksi yang kurang dari tiga orang tidak diterima. Sedangkan beberapa golongan yang lain menerima saksi dua orang, berdasarkan qiyas terhadap semua jenis persaksian, lalu mereka membawa hadits ini kepada makna anjuran. Lalu masalah ini diberlakukan pada mereka yang biasa dikenal sebagai orang kaya lalu tertimpa kemiskinan, sedangkan orang yang memang dari awalnya adalah orang yang kekurangan maka ia tidak memerlukan saksi dan perkataannya langsung diterima.

Ibnu Abu Laila berpendapat bahwa meminta-minta hukumnya haram dan menghilangkan sifat –‘adaalah- objektif pada seseorang. Namun yang terlihat dari hadits ini bahwa meminta-minta hukumnya haram, kecuali untuk tiga golongan tersebut di atas, atau jika orang yang dimintai darinya ialah penguasa.

0598

وَعَنْ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ بْنِ رَبِيعَةَ بْنِ الْحَارِثِ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -: «إنَّ الصَّدَقَةَ لَا تَنْبَغِي لِآلِ مُحَمَّدٍ إنَّمَا هِيَ أَوْسَاخُ النَّاسِ» وَفِي رِوَايَةٍ «وَإِنَّهَا لَا تَحِلُّ لِمُحَمَّدٍ وَلَا لِآلِ مُحَمَّدٍ» رَوَاهُ مُسْلِمٌ.

598. Dari Abdul Muthalib bin Rabi’ah bin Al Harits berkata, Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya zakat itu tidak layak untuk keluarga Muhammad, sesungguhnya zakat itu ialah kotoran –sampah- manusia.” Dan dalam satu riwayat disebutkan, “Dan sesungguhnya ia tidak halal untuk Muhammad dan untuk keluarga Muhammad.” (HR. Muslim)

[Shahih: Muslim 1072]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Biografi Perawi

Abdul Muthalib bin Rabi’ah bin Al Harits bin Abdul Muthalib bin Hasyim, tinggal di Madinah lalu pindah ke Damaskus, wafat di sana pada tahun 62 H, saat itu ia mendatangi Rasulullah SAW dan meminta untuk diangkat sebagai petugas zakat, lalu Rasulullah SAW menyampaikan hadits ini.

Di dalam Kutub As Sittah, perawi ini tidak meriwayatkan kecuali satu hadits ini.

Penjelasan Kalimat

zakat itu ialah kotoran –sampah- manusia (sebagai alasan atas haramnya sedekah tersebut)

Tafsir Hadits

Hadits ini menunjukkan haramnya zakat atas Nabi SAW dan keluarganya.

Para ulama sepakat atas haramnya zakat untuk Nabi SAW ini, sedangkan haramnya zakat untuk keluarga beliau masih diperselisihkan. Abu Thalib dan Ibnu Qudamah mengklaim bahwa hal ini sudah menjadi ijma. Diriwayatkan dari Abu Hanifah, ia berpendapat bahwa hukumnya adalah mubah. Dan ada juga yang berpendapat bahwa hukumnya mubah jika mereka tidak mendapatkan seperlima dari seperlima.

Hanya saja, banyak hadits yang menerangkan keharamannya zakat ini untuk mereka sebagaimana tersebut dalam hadits di atas. sedangkan bagi yang tidak mengharamkannya mereka telah menakwil hadits-hadits tersebut dengan takwil yang tidak bisa diterima. Karena satu hadits wajib ditakwilkan jika ada dalil yang menunjukkan perlunya takwil pada hadits tersebut.

Keterangan yang menunjukkan bahwa sedekah adalah kotoran, mengisyaratkan bahwa yang diharamkan ialah sedekah wajib bukan sedekah sunnah, karena dengan zakat tersebut seseorang akan menjadi suci. Sebagaimana yang dijelaskan dalam firman Allah SWT:

{خُذْ مِنْ أَمْوَالِهِمْ صَدَقَةً تُطَهِّرُهُمْ وَتُزَكِّيهِمْ بِهَا}

“ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka.” (QS. At-Taubah [9]: 103]; hanya saja ayat ini diturunkan dalam masalah sedekah sunnah, sebagaimana yang diketahui dalam buku-buku tafsir.

Juga ada beberapa golongan yang mengharamkan sedekah sunnah atas keluarga Nabi SAW, dan kami telah memilih pendapat tersebut sebagaimana tersebut dalam Khawaasyi Dhau An Nahar, berdasarkan keumuman dalil-dalil tersebut di atas.

Di dalam hadits tersebut menghindarkan keluarga beliau agar tidak menjadi tempat menerima kotoran, dan beliau telah memuliakan keluarganya dari kedudukan yang rendah ini. inilah alasan yang telah disebutkan di dalam nash. begitu juga telah diriwayatkan oleh Abu Nu’aim secara marfu’ adanya alasan lain: “Bahwasanya bagi mereka seperlima dari seperlima –harta ghanimah- yang mencukupi mereka dan memberi harta pada mereka.”

Alasan di dalam hadits nomor ini dan juga hadits Abu Nu’aim adalah alasan yang tersebut di dalam nash yang jelas, sehingga jika mereka tidak mendapatkan bagian seperlima maka tidak serta merta menjadikan sedekah halal untuk mereka. Logikanya, jika seseorang terhalangi dari harta dan haknya, maka hal tersebut tidak otomatis menghalalkan harta yang haram atas orang tersebut. Dan masalah ini telah kami jelaskan di dalam makalah tersendiri.

Kemudian siapakah yang dimaksud dengan keluarga Muhammad? Ada perbedaan pendapat dalam masalah ini, namun yang paling kuat dari pendapat-pendapat tersebut ialah apa yang telah disampaikan oleh perawi yaitu Zaid bin Arqam yang menjelaskan bahwa mereka adalah keturunan Ali, keturunan Al Abbas, keluarga Ja’far dan keluarga Uqail. Lalu kami tambahkanm keluarga Al Harits bin Abdul Muthalib, berdasarkan hadits nomor ini. inilah tafsir dari perawi hadits sehingga lebih diprioritaskan atas tafsir orang lain, sehingga tafsir dari perawi ini ialah referensi yang jelas atas hadits di atas. karena lafazh Aal –keluarga- mengandung beberapa maksud, sedangkan penjelasan perawi merupakan keterangan atas maksud yang terkandung, dan mereka yang telah disebutkan oleh Zaid bin Arqam juga telah disebutkan dalam Shahih Muslim.

Sedangkan penjelasan yang disebutkan beberapa orang bahwa yang dimaksud dengan keluarga Muhammad ialah Bani Hasyim, sehingga keturunan Abu Lahab dan semisalnya yang masuk Islam termasuk dalam keluarga Muhammad, maka penjelasan tafsir ini bertentangan dengan tafsiran perawi hadits.

Termasuk mereka yang haram menerima zakat ialah Bani Al Muthalib bin Abdi Manaf, sebagaimana mereka juga mendapatkan bagian dari seperlima, hal ini disebutkan di dalam hadits berikut ini.

 

والله أعلمُ بالـصـواب

Download Sumber

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *