[ UIC 10.4 ] Kitab Subulus Salam Syarh Bulughul Maram 178

04.03. BAB PEMBAGIAN ZAKAT 01

Pembahasan ini meliputi aturan-aturan dalam pembagian zakat kepada orang-orang yang berhak sesuai dengan ketentuan Allah.

0595

عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -: «لَا تَحِلُّ الصَّدَقَةُ لِغَنِيٍّ إلَّا لِخَمْسَةٍ: لِعَامِلٍ عَلَيْهَا، أَوْ رَجُلٍ اشْتَرَاهَا بِمَالِهِ، أَوْ غَارِمٍ، أَوْ غَازٍ فِي سَبِيلِ اللَّهِ، أَوْ مِسْكِينٍ تَصَدَّقَ عَلَيْهِ مِنْهَا، فَأَهْدَى مِنْهَا لِغَنِيٍّ» رَوَاهُ أَحْمَدُ وَأَبُو دَاوُد وَابْنُ مَاجَهْ، وَصَحَّحَهُ الْحَاكِمُ، وَأُعِلَّ بِالْإِرْسَالِ

595. Dari Abu Sa’id Al Khudri RA, ia berkata, Rasulullah SAW bersabda, “Zakat itu tidak halal bagi orang kaya kecuali untuk lima golongan: untuk amil, seseorang yang membelinya dengan hartanya, orang yang berhutang, tentara di jalan Allah, atau seorang miskin yang telah menerimanya lalu ia menghadiahkannya kepada orang kaya.” HR. Ahmad, Abu Daud dan Ibnu Majah, Al Hakim menshahihkannya, namun hadits ini dikomentari bahwa ia mursal.

[Shahih: Abu Daud 1636]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Zhahir hadits ini mengisyaratkan bahwa yang mursal ialah semua lafazh yang diriwayatkan oleh para perawi di atas. di dalam Asy Syarh dijelaskan bahwa yang dikomentari sebagai hadits mursal ialah riwayat Al Hakim yang dihukumi sebagai hadits shahih saja.

Tafsir Hadits

Para ulama berbeda pendapat ketika memahami definisi atau batasan kaya, sebagaimana lafazh ‘orang kaya’ yang tersebut dalam hadits, sebab mereka adalah golongan yang haram hukumnya untuk menerima sedekah. Namun, semua argumen yang mendasari pendapat mereka tidak ada yang bisa memuaskan. Masalah ini tidak cukup hanya dijelaskan dengan pendekatan bahasa saja, sebab makna kata ‘kaya’ dari sisi bahasa bersifat relatif dan tidak jelas batasannya.

Ada beberapa hadits yang menjelaskan makna kaya, yang mengharamkan meminta-minta bagi seseorang, di antaranya hadits Abu Said yang diriwayatkan oleh An Nasa’i:

«مَنْ سَأَلَ وَلَهُ أُوقِيَّةٌ فَقَدْ أَلْحَفَ»

“Seseorang yang meminta-minta padahal ia memiliki satu uqiyah maka ia telah merengek-rengek.” [Hasan Shahih: An Nasa’i 2594]

Dan di dalam riwayat Abu Daud disebutkan:

«مَنْ سَأَلَ مِنْكُمْ وَلَهُ أُوقِيَّةٌ أَوْ عَدْلُهَا فَقَدْ سَأَلَ إلْحَافًا»

“Barangsiapa di antara kalian ada yang meminta-minta padahal ia memiliki satu Uqiyah atau sesuatu setara itu, maka ia telah meminta-minta dengan merengek-rengek.” [Hasan: Abu Daud 1628]

Abu Daud juga meriwayatkan:

«مَنْ سَأَلَ وَلَهُ مَا يُغْنِيهِ فَإِنَّمَا يَسْتَكْثِرُ مِنْ النَّارِ قَالُوا: وَمَا يُغْنِيهِ؟ قَالَ: قَدْرُ مَا يُعَشِّيهِ وَيُغَدِّيهِ»

“Barangsiapa meminta-minta padahal ia memiliki sesuatu yang bisa mencukupinya, maka ia telah memperkaya diri dengan neraka.” Mereka bertanya, “Apakah yang mencukupinya?” beliau menjawab, “Sekedar apa yang mencukupinya dari pagi hingga sore hari.” Dishahihkan oleh Ibnu Hibban. [Shahih: Abu Daud 1629]

Inilah batasan kaya yang mengharamkan meminta-minta bagi seseorang.

Sedangkan batasan kaya yang mengharamkan seseorang untuk tidak mengeluarkan zakat ialah jika seseorang telah wajib padanya untuk mengeluarkan zakat, yaitu saat seseorang telah memiliki dua ratus dirham berdasarkan sabda Rasulullah SAW:

«أُمِرْت أَنْ آخُذَهَا مِنْ أَغْنِيَائِكُمْ وَأَرُدَّهَا فِي فُقَرَائِكُمْ»

“Aku perintahkan untuk mengambilnya dari orang-orang kaya di antara kalian dan mengembalikannya kepada orang-orang fakir di antara kalian.” [Tidak ditemukan hadits dengan lafazh ini]

Dalam hadits ini beliau membandingkan antara orang kaya yaitu orang yang wajib mengeluarkan zakat dan orang fakir yaitu orang yang berhak untuk menerima zakat, inilah ungkapan yang paling dekat dalam masalah ini, dan kami telah menjelaskannya di dalam satu makalah dalam jawaban sebuah pertanyaan.

Hadits nomor ini menjelaskan halalnya zakat untuk seorang amil –petugas zakat- walaupun ia termasuk orang kaya. Karena ia dalam posisi mengambil gaji dan bukan mengambil jatah zakat sebagai orang fakir. Begitu pula ia halal jika seseorang membelinya dari orang yang memang berhak untuk menerimanya, karena ketika orang tersebut menjualnya harta tersebut bukan sebagai harta zakat lagi, tetapi harta tersebut adalah hak miliknya. Begitu pula seseorang yang memiliki hutang walaupun ia adalah orang kaya. Juga seorang pejuang, diperbolehkan baginya untuk mempersiapkan diri dengan harta zakat walaupun ia termasuk orang kaya, karena ia termasuk orang yang berjuang di jalan Allah.

Asy Syarih –penyarah- berkata, “Termasuk mereka juga seseorang yang bekerja untuk kpg –kemaslahatan- kaum Muslimin seperti di bidang pengadilan, pemberian fatwa dan pengajaran, walaupun termasuk orang kaya.”

Abu Ubaid memasukkan orang-orang yang bekerja di dalam kemaslahatan umum ke dalam golongan amil, dalam masalah ini Al Bukhari mengisyaratkan hal tersebut dalam perkataan, “Bab rezeki hakim dan para amil atas zakat” yang ia maksud dengan rz di sini ialah harta dari baitul mal yang dibagikan oleh penguasa untuk orang-orang yang bekerja dalam kemaslahatan kaum Muslimin, seperti pengadilan, pemberian fatwa dan pengajaran, yang berarti hal itu ialah pengambilan bagian dari zakat seimbang dengan masa bekerjanya dalam kemaslahatan kaum Muslimin, walaupun mereka termasuk orang kaya. Ath Thabari berkata, “jumhur ulama berpendapat bahwa seorang hakim diperbolehkan untuk mengambil gaji dari pekerjaannya karena kesibukannya dalam pengadilan menghalanginya untuk bekerja bagi kepentingan pribadinya.”

Namun ada segolongan orang salaf yang memakruhkan hal tersebut, akan tetapi tidak mengharamkannya. Dan ada segolongan orang lain yang mengatakan, “Mengambil harta dari profesi hakim, jika proses pengambilannya dengan cara yang halal maka para ulama telah berijma bahwa hukumnya ialah mubah, dan barangsiapa meninggalkannya atau tidak mengambilnya maka itu adalah sifat wara, namun jika ada keraguan dalam proses tersebut maka sebaiknya ditinggalkan atau tidak diambil. Dan hukumnya menjadi haram jika harta tersebut diambil untuk baitul mal dari proses yang haram, dan masih tersisa perbedaan pendapat di antara ulama jika sebagian besar harta tersebut dari harta yang haram.

Sedangkan mengambil harta dari kedua pihak yang sedang berperkara di pengadilan maka masih diperselisihkan oleh para ulama. Mereka yang memperbolehkannya mensyaratkan berbagai macam syarat, dalam masalah ini akan diperjelas di dalam bab Al Qadha –Pengadilan-, oleh karena Asy Syarih menyinggung masalah tersebut maka kami pun membahasnya secara singkat.

 0596

وَعَنْ عُبَيْدِ اللَّهِ بْنِ عَدِيِّ بْنِ الْخِيَارِ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – «أَنَّ رَجُلَيْنِ حَدَّثَاهُ أَنَّهُمَا أَتَيَا رَسُولَ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – يَسْأَلَانِهِ مِنْ الصَّدَقَةِ. فَقَلَّبَ فِيهِمَا النَّظَرَ، فَرَآهُمَا جَلْدَيْنِ، فَقَالَ: إنْ شِئْتُمَا أَعْطَيْتُكُمَا، وَلَا حَظَّ فِيهَا لِغَنِيٍّ، وَلَا لِقَوِيٍّ مُكْتَسِبٍ» رَوَاهُ أَحْمَدُ وَقَوَّاهُ أَبُو دَاوُد وَالنَّسَائِيُّ

596. Dari Ubaidillah bin Adi bin Al Khiyar bahwasanya dua orang bercerita kepada kami bahwa mereka mendatangi Rasulullah SAW meminta zakat darinya. Maka Rasulullah SAW mengamati keduanya, beliau melihat kedua masih kuat, maka beliau bersabda, “Jika kalian mau aku akan memberi kalian, namun tidak ada bagian apa pun darinya bagi orang kaya, dan tidak pula bagi orang kuat yang mampu bekerja.” (HR. Ahmad dan beliau menguatkannya, Abu Daud dan An Nasa’i)

[Shahih: Abu Daud 1633]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Biografi Perawi

Ubaidillah bin Adi bin Al Khiyar, lahir pada masa Rasulullah SAW, termasuk salah seorang tabi’in, beliau meriwayatkan hadits dari Umar, Utsman dan yang lainnya.

Penjelasan Kalimat

Maka Rasulullah SAW mengamati keduanya, (dijelaskan dalam hadits lain, “Beliau memandangi kami dari atas hingga ke bawah) beliau melihat kedua masih kuat, maka beliau bersabda, “Jika kalian mau aku akan memberi kalian, namun tidak ada bagian apa pun darinya bagi orang kaya, dan tidak pula bagi orang kuat yang mampu bekerja.”

Imam Ahmad berkata, “Alangkah bagusnya hadits ini.” dan ungkapan beliau, “Jika kalian mau…” maknanya, “Mengambil sedekah adalah kehinaan, namun jika kalian rela dengan kehinaan tersebut maka aku akan memberi kalian, atau bahwa hukumnya ialah haram bagi orang yang kuat, jika kalian menghendaki barang haram maka aku akan memberi kalian.” beliau mengatakannya untuk menjelaskan kehinaanya.

Tafsir Hadits

Hadits ini merupakan salah satu dalil atas haramnya zakat untuk orang kaya, sekaligus memperkuat makna ayat Al Qur’an dalam masalah ini, walaupun Muslim ada perbedaan pendapat dalam menjelaskan batasan orang kaya, begitu pula menjelaskan keharamannya atas orang kuat yang mampu mencari nafkah, karena pekerjaannya akan menjadikannya seperti orang kaya, sedangkan orang yang memperbolehkan bagi orang kuat untuk mengambil zakat maka mereka mentakwil hadits tersebut dengan beberapa takwilan yang tidak bisa diterima.

 

والله أعلمُ بالـصـواب

Download Sumber

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *