[ UIC 10.4 ] Kitab Subulus Salam Syarh Bulughul Maram 177

04.02. BAB SEDEKAH 04

0592

وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -: «مَنْ يَسْأَلُ النَّاسَ أَمْوَالَهُمْ تَكَثُّرًا، فَإِنَّمَا يَسْأَلُ جَمْرًا، فَلْيَسْتَقِلَّ أَوْ لِيَسْتَكْثِرْ» رَوَاهُ مُسْلِمٌ

592. Dan dari Abu Hurairah RA berkata, Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa meminta harta benda dari manusia untuk memperkaya diri maka sesungguhnya ia telah meminta bara api. Oleh karenanya, silahkan ia meminta sedikit atau banyak.” HR. Muslim

[Shahih: Muslim 1041]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

Ibnu al Arabi berkata, ‘Sabda beliau … sesungguhnya ia telah meminta bara api…., maksudnya orang tersebut akan disiksa dengan api neraka. Dan bisa jadi maksudnya ialah apa yang mereka minta benar-benar akan menjadi bara api, sehingga mereka akan disetrika dengannya sebagaimana halnya orang-orang yang tidak membayar zakat, sedangkan sabda beliau … maka merasalah kekuarangan dan (mintalah) untuk memperkaya diri… adalah bentuk ungkapan perintah yang bermakna ancaman, sebagaimana firman Allah SWT:

{اعْمَلُوا مَا شِئْتُمْ}

“Perbuatlah apa yang kamu kehendaki.” (QS. Fushilat [41]: 40)

Tafsir Hadits

Hadits ini mengisyaratkan bahwa pekerjaan meminta-minta hukumnya haram.

0593

وَعَنْ الزُّبَيْرِ بْنِ الْعَوَّامِ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – عَنْ النَّبِيِّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – قَالَ: «لَأَنْ يَأْخُذَ أَحَدُكُمْ حَبْلَهُ، فَيَأْتِيَ بِحُزْمَةٍ مِنْ الْحَطَبِ عَلَى ظَهْرِهِ، فَيَبِيعَهَا، فَيَكُفَّ بِهَا وَجْهَهُ، خَيْرٌ لَهُ مِنْ أَنْ يَسْأَلَ النَّاسَ أَعْطَوْهُ أَوْ مَنَعُوهُ» رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ.

593. Dari Az Zubair bin al Awwam RA, dari Nabi SAW bersabda, “Sekiranya seseorang dari kalian mengambil talinya –pengikat- untuk membawa seikat kayu bakar di atas punggungnya, lalu ia menjualnya, sehingga Allah menjaga wajahnya dengannya, maka itu lebih baik baginya daripada meminta-minta kepada manusia, entah mereka akan memberinya atau tidak.” HR. Al Bukhari

[shahih: Al Bukhari 1471]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

“Sekiranya seseorang dari kalian mengambil talinya –pengikat- untuk membawa seikat kayu bakar di atas punggungnya, lalu ia menjualnya, sehingga Allah menjaga wajahnya dengannya, (dengan uang hasil penjualannya) maka itu lebih baik baginya daripada meminta-minta kepada manusia, entah mereka akan memberinya atau tidak.”

Tafsir Hadits

Hadits ini semakna dengan hadits sebelumnya yang mengisyaratkan betapa buruknya meminta-minta walaupun orang tersebut dalam keadaan memerlukan, lalu hadits ini menganjurkan seseorang untuk bekerja dalam rangka mencari rezeki walaupun hal itu memaksanya untuk bersusah payah, karena seorang peminta-minta akan menyematkan kehinaan pada wajahnya saat ia meminta-minta dan saat ia ditolak tidak diberi apa pun, dan perilaku tersebut juga akan menyulitkan kepada orang yang diminta saat ia harus memberi semua orang pengemis.

Adapun jika ada seseorang yang mampu bekerja namun ia meminta-minta, dalam hal ini Asy-Syafi’i memiliki dua pendapat. Pendapat yang pertama dan yang lebih kuat menyatakan bahwa hukumnya haram berdasarkan zhahir hadits ini, sedangkan pendapat yang kedua menyatakan hukumnya ialah makruh, dengan tiga syarat:

1. orang tersebut tidak menghinakan dirinya

2. tidak memaksa

3. tidak menyakitkan orang yang diminta

Jika salah satu dari tiga syarat ini tidak terpenuhi, maka hukumnya haram menurut kesepakatan para ulama.

0594

وَعَنْ سَمُرَةَ بْنِ جُنْدُبٍ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -: «الْمَسْأَلَةُ كَدٌّ يَكُدُّ بِهَا الرَّجُلُ وَجْهَهُ، إلَّا أَنْ يَسْأَلَ الرَّجُلُ سُلْطَانًا، أَوْ فِي أَمْرٍ لَا بُدَّ مِنْهُ» رَوَاهُ التِّرْمِذِيُّ وَصَحَّحَهُ

594. Dari Samurah bin Jundub RA, Rasulullah SAW bersabda, “meminta-minta ialah cakaran yang mencakar wajah seseorang –yang meminta-, kecuali jika ia meminta dari seorang pemimpin –pemerintah- atau dalam sesuatu yang mengharuskannya untuk meminta-minta.” HR. At Tirmidzi dan ia menshahihkannya.

[Shahih: At Tirmidzi 671]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Tafsir Hadits

Jika seseorang meminta-minta harta kepada orang-orang, hal itu akan menjadi cakaran –di wajahnya-. Namun, jika ia meminta kepada pemerintah bukan suatu kehinaan, karena ia meminta haknya dari baitul mal. Dalam hal ini, seorang pemimpin –pemerintah- tidak bisa menolak kepada orang yang meminta, karena ia hanya seseorang yang dipercaya untuk memegang amanah. Hal ini diibaratkan seperti seseorang yang meminta kembali hartanya dari orang yang ia titipi. Secara zhahir, hadits ini mengisyaratkan bahwa jika seseorang meminta harta kepada pemimpin –pemerintah- diperbolehkan walaupun tujuannya untuk memperkaya diri, karena kondisi ini disamakan dengan kondisi seseorang yang meminta-minta dalam hal yang mengharuskannya untuk meminta.

Sedangkan hal yang mengharuskannya untuk meminta, telah dijelaskan di dalam hadits Qabishah:

«لَا يَحِلُّ السُّؤَالُ إلَّا لِثَلَاثَةٍ ذِي فَقْرٍ مُدْقِعٍ أَوْ دَمٍ مُوجِعٍ أَوْ غُرْمٍ مُفْظِعٍ»

“Tidak dihalalkan meminta kecuali untuk tiga hal, kefakiran yang menghimpit, darah yang menyakitkan (diyat) atau hutang yang memalukan.” [Dhaif: Abu Daud 1641 dari Anas]

Sabda beliau, atau dalam sesuatu yang mengharuskannya untuk meminta-minta, yakni, suatu yang tidak mungkin ia dapatkan, padahal ia sangat membutuhkannya kecuali dengan cara meminta.

 

والله أعلمُ بالـصـواب

Download Sumber

 

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *