[ UIC 10.4 ] Kitab Subulus Salam Syarh Bulughul Maram 176

04.02. BAB SEDEKAH 03

0590

وَعَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – قَالَ: «جَاءَتْ زَيْنَبُ امْرَأَةُ ابْنِ مَسْعُودٍ، فَقَالَتْ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، إنَّك أَمَرْت الْيَوْمَ بِالصَّدَقَةِ، وَكَانَ عِنْدِي حُلِيٌّ لِي، فَأَرَدْت أَنْ أَتَصَدَّقَ بِهِ، فَزَعَمَ ابْنُ مَسْعُودٍ أَنَّهُ وَوَلَدُهُ أَحَقُّ مَنْ أَتَصَدَّقُ بِهِ عَلَيْهِمْ، فَقَالَ النَّبِيُّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -: صَدَقَ ابْنُ مَسْعُودٍ، زَوْجُك وَوَلَدُك أَحَقُّ مَنْ تَصَدَّقْت بِهِ عَلَيْهِمْ» رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ

590. Dari Abu Sa’id Al Khudri berkata, “Zainab istri Ibnu Mas’ud datang seraya berkata, ‘Wahai Rasulullah, sesungguhnya pada hari ini engkau memerintahkan untuk bersedekah, dan saya memiliki perhiasan milik saya sendiri, saya ingin bersedekah dengannya, lalu Ibnu Mas’ud mengklaim bahwa ia dan anaknya adalah orang yang paling berhak untuk menerima sedekahku ini?’ maka Nabi SAW bersabda, ‘Ibnu Mas’ud benar, suami dan anakmu adalah orang yang paling berhak untuk menerima sedekahmu’.” HR. Al Bukhari

[Shahih: Al Bukhari 1462]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Tafsir Hadits

Hadits ini menjelaskan bahwa sedekah untuk orang-orang terdekat lebih utama dan lebih mulia.

Hadits ini secara kasat mata berbicara dalam bab sedekah wajib, walaupun mungkin juga berbicara dalam bab sedekah sunnah. Namun indikasi bahwa hadits ini berbicara dalam bab sedekah wajib lebih kuat, dan dikuatkan juga oleh hadits yang diriwayatkan Al Bukhari dari Zainab istri Ibnu Mas’ud, bahwasanya ia berkata,

يَا رَسُولَ اللَّهِ أَيُجْزِي عَنَّا أَنْ نَجْعَلَ الصَّدَقَةَ فِي زَوْجٍ فَقِيرٍ وَأَبْنَاءِ أَخٍ أَيْتَامٍ فِي حُجُورِنَا؟ فَقَالَ لَهَا رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -: لَك أَجْرُ الصَّدَقَةِ وَأَجْرُ الصِّلَةِ

“Wahai Rasulullah bagaimana hukumnya jika saya berikan sedekahku kepada suamiku yang fakir dan anak yatim anak saudara yang berada dalam tanggunganku?” maka Rasulullah SAW bersabda, “Engkau akan mendapatkan pahala sedekah dan pahala silaturahmi.” [Shahih: Al Bukhari 1462 dan Muslim 1000]

Muslim juga meriwayatkan hadits tersebut. Hadits ini jelas membahas bab sedekah wajib berdasarkan ungkapan istri Ibnu Mas’ud ‘bagaimana hukumnya –apakah sah….’, juga berdasarkan sabda Rasulullah SAW ‘pahala sedekah dan pahala silaturahim.’ Lafazh sedekah yang digunakan dalam hadits tersebut secara detonasi berarti sedekah wajib, demikian yang ditegaskan Al Maziri.

Dengan begitu hal ini menjadi dalil diperbolehkannya membayar zakat mal (zakat harta) kepada suami, dan inilah pendapat jumhur ulama yang ditentang Abu Hanifah, namun ia tidak memiliki dalil untuk menentang hadits di atas.

Sedangkan argumen yang mengatakan bahwa sedekah tersebut akan kembali kpd sang istri melalui jalur nafkah wajib –dari suami- sehingga seakan-akan harta tersebut tidak pernah keluar dari tangannya –istri-, jika argumen itu benar maka seharusnya ia tidak boleh juga memberikan sedekah sunnah kepada suaminya, padahal telah menjadi kesepakatan para ulama bahwa ia boleh memberikan sedekah sunnah kepada suaminya.

Sedangkan untuk seorang suami, maka para ulama telah bersepakat bahwa ia tidak diperbolehkan membayarkan sedekah wajib –zakat- kepada istrinya, mereka berkata, ‘karena nafkah istri hukumnya wajib atas suami, maka seorang istri tidak perlu mendapatkan zakat dari suaminya.” Demikian yang diketahui Ibnu Hajar di dalam Al Fath.

Dalam masalah ini saya memilih untuk tawaqquf –tidak berkomentar- karena walaupun seorang istri telah dicukupkan dengan mendapatkan nafkah dari suaminya, tapi kecukupan tersebut tidak otomatis menjadikannya kaya, sehingga ia tidak boleh menerima zakat.

Lafazh hadits … dan anakmu… mengisyaratkan bahwa ia boleh dibayarkan kepada anak. Namun Ibnu Al Mundzir mengklaim adanya ijma ulama bahwa zakat tidak boleh dibayarkan kepada anak. Menurutnya, hadits ini berlaku selain sedekah wajib, dan hendaklah pembayaran zakat tersebut diberikan kepada suaminya, yaitu orang yang memberikan nafkah kepada anak-anak tersebut. Atau bisa jadi anak-anak tersebut adalah anak-anak suaminya dari istri yang lain, sebagaimana yang disebutkan di dalam hadits zainab di atas, … dan anak-anak yatim yang berada dalam tanggunganku.

0591

وَعَنْ ابْنِ عُمَرَ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا – قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -: «لَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَسْأَلُ النَّاسَ حَتَّى يَأْتِيَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَلَيْسَ فِي وَجْهِهِ مُزْعَةُ لَحْمٍ» مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

591. Dari Ibnu Umar Ra berkata, Rasulullah SAW bersabda, “Seorang laki-laki yang selalu meminta-minta kepada manusia, pada Hari Kiamat nanti ia akan datang dan tidak ada secuil dagingpun pada wajahnya.” (Muttafaq alaih)

[Shahih: Al Bukhari 1474 dan Muslim 1040]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

“Seorang laki-laki (dan wanita) yang selalu meminta-minta (harta benda) kepada manusia, pada Hari Kiamat nanti ia akan datang dan tidak ada secuil dagingpun pada wajahnya.”

Tafsir Hadits

Hadits ini menjelaskan betapa buruknya perbuatan meminta-minta yang satu permintaan akan menghilangkan secuil daging dari wajahnya sehingga semakin lama tidak akan tersisa apa pun, berdasarkan sabda beliau … yang selalu …., sedangkan lafazh … manusia …. di sini bersifat umum termasuk juga para pemerintah, sebagaimana yang akan dijelaskan berikut ini.

Hadits ini bersifat umum, namun kemudian dipersempit pemahaman maknanya oleh Al Bukhari, yaitu khusus yang meminta-minta untuk memperkaya diri, maksudnya orang yang meminta-minta padahal ia telah berkecukupan, oleh karena itu Al Bukhari menuliskan, “Bab orang yang meminta-minta untuk memperkaya diri.” Bukan orang yang meminta-minta untuk menutupi kebutuhan hidup, karena untuk orang seperti ini diperbolehkan untuk meminta. Sedangkan ukuran kecukupan yang menghalangi seseorang untuk meminta-minta akan dijelaskan pada kesempatan mendatang.

Al Khaththabi berkata ‘Makna sabda beliau … dan tidak ada secuil dagingpun pada wajahnya… bisa jadi maksudnya orang tersebut akan datang pada Hari Kiamat dalam keadaan tidak mempunyai harga diri sama sekali, atau orang tersebut akan disiksa di neraka jahanam sehingga daging wajahnya akan berjatuhan sebagai hukuman atas perbuatannya yang telah menghinakan wajahnya dengan meminta-minta, dan ia akan dibangkitkan dalam kondisi wajahnya berupa tulang, sehingga kondisi tersebut akan menjadi ciri khas yang ia dikenal dengannya. Kemungkinan bahwa ia akan datang pada Hari Kiamat tanpa harga diri sama sekali, didukung hadits yang diriwayatkan oleh At Thabrani dan Al Bazzar dari Mas’ud bin Amr:

«لَا يَزَالُ الْعَبْدُ يَسْأَلُ وَهُوَ غَنِيٌّ حَتَّى يُخْلَقَ وَجْهُهُ فَلَا يَكُونُ لَهُ عِنْدَ اللَّهِ وَجْهٌ»

“Seorang hamba yang selalu meminta-minta padahal ia kaya hingga wajahnya rusak, dan ia tidak memiliki wajah di hadapan Allah.” [Dhaif: Dhaif Targhib wa Tarhib 488. Ebook editor]

Dan masih banyak pendapat-pendapat lain dalam masalah ini.

 

والله أعلمُ بالـصـواب

Download Sumber

 

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *