[ UIC 10.4 ] Kitab Subulus Salam Syarh Bulughul Maram 175

04.02. BAB SEDEKAH 02

0587

وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – قَالَ: «قِيلَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ: أَيُّ الصَّدَقَةِ أَفْضَلُ؟ قَالَ: جُهْدُ الْمُقِلِّ، وَابْدَأْ بِمَنْ تَعُولُ» أَخْرَجَهُ أَحْمَدُ وَأَبُو دَاوُد وَصَحَّحَهُ ابْنُ حِبَّانَ وَالْحَاكِمُ

587. Dari Abu Hurairah RA, ia berkata, ‘Ada yang bertanya kepada Rasulullah SAW, ‘Wahai Rasulullah, sedekah apakah yang paling utama?’ Beliau menjawab, “Usaha –sedekah- seseorang yang kekurangan, dan mulailah dari orang yang kamu tanggung.” (HR. Ahmad, Abu Daud dan dishahihkan oleh Ibnu Khuzaimah, Ibnu Hibban dan Al Hakim)

[shahih: Abu Daud 1677]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Hadits ini semakna dengan hadits:

«سَبَقَ دِرْهَمٌ مِائَةَ أَلْفِ دِرْهَمٍ، رَجُلٌ لَهُ دِرْهَمَانِ أَخَذَ أَحَدَهُمَا فَتَصَدَّقَ بِهِ وَرَجُلٌ لَهُ مَالٌ كَثِيرٌ فَأَخَذَ مِنْ عَرْضِهِ مِائَةَ أَلْفِ دِرْهَمٍ فَتَصَدَّقَ بِهَا»

“Satu dirham bisa lebih baik daripada seratus ribu dirham, seseorang memiliki dua dirham lalu ia menyedekahkan dengan salah satu dari keduanya, dan orang lain memiliki harta yang berlimpah lalu ia mengambil seratus ribu dirham dari harta tersebut lalu menyedekahkannya.” Dikeluarkan An Nasa’i dari Abu Dzar, Ibnu Hibban dan Al Hakim dari Abu Hurairah RA. [Hasan: Shahih Al Jami’ 3606]

Tafsir Hadits

Benang merah yang mengkompromikan hadits ini dengan hadits nomor sebelumnya ialah keterangan Al Baihaqi yang mengatakan, “kompromi antara sabda Rasulullah SAW, ‘… dan sebaik-baik sedekah adalah dari kelebihan harta…’ dan sabda beliau, ‘Usaha –sedekah- seseorang yang kekurangan…’ bahwa hal tersebut tergantung kepada sikap masing-masing individu untuk bersabar, tabah dan mencukupkan diri dengan kondisi seadanya.” Lalu beliau menyebutkan beberapa hadits yang menguatkan penjelasan ini.

0588

وَعَنْهُ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – قَالَ: «قَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -: تَصَدَّقُوا فَقَالَ رَجُلٌ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، عِنْدِي دِينَارٌ قَالَ: تَصَدَّقْ بِهِ عَلَى نَفْسِك قَالَ: عِنْدِي آخَرُ، قَالَ: تَصَدَّقْ بِهِ عَلَى وَلَدِك قَالَ: عِنْدِي آخَرُ، قَالَ: تَصَدَّقْ بِهِ عَلَى زَوْجَتِك قَالَ: عِنْدِي آخَرُ، قَالَ: تَصَدَّقْ بِهِ عَلَى خَادِمِك قَالَ: عِنْدِي آخَرُ، قَالَ: أَنْتَ أَبْصَرُ بِهِ» رَوَاهُ أَبُو دَاوُد وَالنَّسَائِيُّ وَصَحَّحَهُ ابْنُ حِبَّانَ وَالْحَاكِمُ.

588. Dan darinya ia berkata, ‘Rasulullah SAW bersabda, “Bersedekahlah kalian.” lalu ada seseorang yang berkata, ‘Wahai Rasulullah, saya memiliki satu dinar?’ beliau bersabda, ‘Bersedekahlah untuk dirimi sendiri.’ Orang itu berkata lagi, ‘Saya memiliki yang lainnya.” Beliau bersabda, “Bersedekahlah untuk anakmu.” Orang itu berkata lagi, “Saya memiliki yang lainnya.” Beliau bersabda, “Bersedekahlah untuk pembantumu.” Orang itu berkata lagi, “Saya memiliki yang lainnya.” Beliau bersabda, “Engkau lebih tahu.” (HR. Abu Daud dan An Nasa’i, Ibnu Hibban dan Al Hakim menshahihkannya)

[Hasan: Abu Daud 1691]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Tafsir Hadits

Hadits ini tidak menyebutkan istri, tetapi dalam Shahih Muslim ia disebutkan sebelum penyebutan anak.

Sehingga dapat dipahami bahwa kebutuhan pribadi juga termasuk sedekah. Dan ini harus lebih diprioritaskan, setelah itu baru sedekah kepada istri, anak, dan pembantu jika ada. Atau kepada siapa pun yang membantunya. Setelah itu, baru kepada orang-orang yang dikehendaki.

Di dalam bab nafkah dijelaskan tentang urutan prioritas pihak-pihak yang nafkah kebutuhannya harus ditanggung oleh seseorang.

0589

وَعَنْ عَائِشَةَ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا – قَالَتْ: قَالَ النَّبِيُّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -: «إذَا أَنْفَقَتْ الْمَرْأَةُ مِنْ طَعَامِ بَيْتِهَا، غَيْرَ مُفْسِدَةٍ، كَانَ لَهَا أَجْرُهَا بِمَا أَنْفَقَتْ وَلِزَوْجِهَا أَجْرُهُ بِمَا اكْتَسَبَ، وَلِلْخَازِنِ مِثْلُ ذَلِكَ، لَا يَنْقُصُ بَعْضُهُمْ مِنْ أَجْرِ بَعْضٍ شَيْئًا» مُتَّفَقٌ عَلَيْه

589. Dari Aisyah RA, ia berkata: “Rasulullah SAW bersabda, “Jika seorang wanita menginfakkan sebagian dari makanan keluarganya dengan tanpa menimbulkan kerusakan, maka ia akan mendapatkan pahala infaknya sedangkan suaminya akan mendapatkan pahala jerih payahnya, dan untuk orang yang menyimpannya mendapatkan pahala serupa itu, dan masing-masing tidak akan mengurangi pahala orang lainnya.” (Muttafaq alaih)

[shahih: Al Bukhari 1425 dan Muslim 1024]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

“Jika seorang wanita menginfakkan sebagian dari makanan keluarganya dengan tanpa menimbulkan kerusakan, (tidak berlebih-lebihan dalam berinfak)

Tafsir Hadits

Hadits ini adalah dalil yang menunjukkan bahwa seorang wanita boleh bersedekah dengan sesuatu yang diambil dari rumah suaminya. Yang dimaksud dengan sedekah di sini adalah sedekah berupa makanan yang mana ia memiliki keleluasaan membuatnya untuk suaminya atau siapa pun yang berkepentingan dengan makanan tersebut, dengan syarat hal tersebut tidak menimbulkan masalah dan tidak mengurangi hak mereka.

Ibnu Al Arabi berkata, “Para ulama berbeda pendapat dalam masalah ini, di antara mereka ada yang mengatakan bahwa yang diperbolehkan jika sedekah tersebut sedikit dan tidak berpengaruh dengan jumlah yang diambil tersebut. Ada juga yang mengatakan bahwa yang diperbolehkan jika sedekah tersebut atas izin suaminya, walaupun izin tersebut bersifat umum, pendapat inilah yang dipilih oleh Al Bukhari. Pendapat ini didukung oleh hadits yang diriwayatkan At Tirmidzi dari Abu Umamah RA, ia berkata, Rasulullah SAW bersabda:

«لَا تُنْفِقُ الْمَرْأَةُ مِنْ بَيْتِ زَوْجِهَا إلَّا بِإِذْنِهِ قِيلَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ وَلَا الطَّعَامُ قَالَ: ذَلِكَ أَفْضَلُ أَمْوَالِنَا»

“Seorang wanita tidak diperbolehkan menginfakkan sesuatu dari rumah suaminya kecuali atas izinnya.” Lalu ada yang berkata, ‘Wahai Rasulullah, tidak juga makanan?’ Rasulullah SAW menjawab, ‘Itu adalah harta kita yang paling utama.’ [Hasan: At Tirmidzi 670]

Namun hadits ini disanggah oleh hadits yang diriwayatkan Al Bukhari dari Abu Hurairah RA:

«إذَا أَنْفَقَتْ الْمَرْأَةُ مِنْ كَسْبِ زَوْجِهَا مِنْ غَيْرِ أَمْرِهِ فَلَهَا نِصْفُ أَجْرِهِ»

“Jika seorang wanita menginfakkan sesuatu dari hasil jerih payah suaminya tanpa perintah darinya, maka wanita tersebut akan mendapatkan setengah pahala.” [Shahih: Al Bukhari 5160]

Mungkin akan ada yang mengatakan dalam rangka mengkompromikan kedua hadits tersebut, bahwa jika wanita tersebut menginfakkan atas izin suaminya maka ia akan mendapatkan pahalanya dengan sempurna, dan jika tanpa izin suaminya maka ia akan mendapatkan setengah pahala. Larangan berinfat tersebut berlaku jika ia melihat bahwa suaminya ialah seseorang yang kikir dan bakhil, maka ia tidak diperbolehkan menginfakkan sesuatu tanpa izin dari suaminya, namun sebaliknya jika ia melihat suaminya ialah seseorang yang baik hati maka ia diperbolehkan berinfak walaupun ia akan mendapatkan hanya setengah pahala.

Ada juga ulama yang mengatakan bahwa yang dimaksud dari infak seorang istri atau seorang hamba sahaya maupun seorang pembantu ialah infak mereka terhadap keluarga pemilik harta dan untuk kemaslahatan mereka (keluarga pemilik harta), hanya saja pendapat ini terlihat jauh dari lafazh hadits itu sendiri.

Ada juga yang membedakan antara seorang istri dan seorang pembantu, bahwa seorang istri mempunyai hak atas harta suaminya, dan ia memiliki hak di dalam rumahnya, maka ia berhak untuk bersedekah. Hal ini berbeda dengan pembantu yang tidak memiliki hak atas harta tuannya, maka ia harus mendapat izin tuannya untuk bersedekah. Pendapat ini dibantah bahwa seorang istri tidak memiliki hak atas harta kecuali terbatas pada hal-hal tertentu saja, jika ia bersedekah dari harta tertentu tersebut ia akan mendapatkan pahalanya sempurna.

Kemudian zhahir lafazh hadits tersebut mengisyaratkan bahwa mereka mendapatkan pahala dalam jumlah yang sama, namun bisa jadi yang dimaksud ‘sama’ di sini keduanya sama-sama mendapatkan pahala walaupun pihak yang telah bersusah payah bekerja untuk mendapatkan harta tersebut mendapatkan bagian yang lebih besar, hanya saja hadits Abu Hurairah RA dengan jelas menyebutkan ‘…. dan baginya setengah pahala…’ sehingga kelihatannya masing-masing mendapatkan bagian yang sama.

 

والله أعلمُ بالـصـواب

Download Sumber

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *