[ UIC 10.4 ] Kitab Subulus Salam Syarh Bulughul Maram 174

04.02. BAB SEDEKAH 01

0583

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ النَّبِيِّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – قَالَ: «سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمْ اللَّهُ فِي ظِلِّهِ يَوْمَ لَا ظِلَّ إلَّا ظِلُّهُ – فَذَكَرَ الْحَدِيثَ – وَفِيهِ: وَرَجُلٌ تَصَدَّقَ بِصَدَقَةٍ فَأَخْفَاهَا حَتَّى لَا تَعْلَمَ شِمَالُهُ مَا تُنْفِقُ يَمِينُهُ» مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

583. Dari Abu Hurairah RA, ia berkata, Nabi SAW bersabda, “Ada tujuh –golongan- yang akan dinaungi Allah di bawah naungan-Nya pada hari yang tidak ada naungan selain naungan-Nya, -lalu ia menyebutkan hadits, dan di dalamnya disebutkan- “… Dan seorang laki-laki yang bersedekah dengan sesuatu lalu ia merahasiakannya sehingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang telah diinfaqkan oleh tangan kanannya.” (Muttafaq alaih)

[Shahih: Al Bukhari 1423 dan Muslim 1031]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

“Ada tujuh –golongan- yang akan dinaungi Allah di bawah naungan-Nya pada hari yang tidak ada naungan selain naungan-Nya, -lalu ia menyebutkan hadits, (menyebutkan tujuh golongan tersebut yaitu, pemimpin yang adil, seorang pemuda yang tumbuh dalam beribadah kepada Allah Azza wa Jalla, seorang laki-laki yang hatinya selalu terpaut dengan masjid, dua orang laki-laki yang saling mencintai karena Allah, mereka bertemu karena Allah dan berpisah karena Allah, seorang laki-laki yang dipanggil oleh seorang wanita yang memiliki kedudukan dan kecantikan, lalu ia menjawab, ‘sesungguhnya aku takut kepada Allah’, seorang laki-laki yang mengingat Allah saat ia sendirian lalu mengalirlah air matanya) dan di dalamnya disebutkan- “… Dan seorang laki-laki yang bersedekah dengan sesuatu lalu ia merahasiakannya sehingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang telah diinfaqkan oleh tangan kanannya.”

Maksud naungan di sini ada yang mengatakan penjagaan dan perlindungan. Ada yang mengatakan bahwa maksudnya ialah naungan ‘Arsy dan maka ini didukung oleh hadits yang diriwayatkan oleh Said bin Manshur dari Salman:

«سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمْ اللَّهُ فِي ظِلِّ عَرْشِهِ»

“Ada tujuh golongan yang akan dinaungi Allah di bawah naungan Arsy-Nya.” [Sanadnya Hasan sebagaimana disebutkan oleh Al Hafidz di dalam Al Fath 2/121; lihat Al-Irwa 887. Ebook editor]

Dan inilah pendapat yang ditegaskan oleh Al Qurthubi.

Tafsir Hadits

Hadits ini menjelaskan keutamaan merahasiakan sedekah dari pada melakukannya secara terang-terangan, kecuali jika orang tersebut tahu bahwa ketika ia melakukannya secara terang-terangan maka perbuatan tersebut akan menjadi motivasi orang lain untuk mengikutinya, atau ia boleh melakukannya jika mampu menjaga rahasianya dari godaan-godaan riya. Allah Ta’ala berfirman:

{إِنْ تُبْدُوا الصَّدَقَاتِ فَنِعِمَّا هِيَ}

“Jika kamu menampakkan sedekah(mu), maka itu adalah baik sekali.” (QS. Al-Baqarah [2]: 271)

Sedekah yang dimaksud dalam hadits di atas mencakup sedekah wajib maupun sunnah, maka hendaklah pembaca tidak salah menduga bahwa sedekah ini khusus untuk sedekah sunnah saja dikarenakan Ibnu Hajar meletakkan –pembahasan ini- di dalam bab sedekah sunnah.

Dan hendaklah Anda ketahui bahwa sabda Rasulullah SAW.”… seorang laki-laki yang bersedekah…”, tidak mengkhususkan laki-laki saja, karena wanita pun mempunyai hak yang sama dalam hal tersebut, kecuali dalam bab menjadi imam. Disamping itu angka tujuh dalam hadits ini tidak membatasi jumlah mereka yang mendapati perlindungan, karena masih ada golongan-golongan lain yang mendapatkan perlindungan juga. Penulis di dalam Al-Fath menyebutkan golongan tersebut hingga mencapai jumlah 28 golongan, sedangkan As Suyuthi menambahkannya hingga mencapai 70 golongan, dalam hal ini beliau telah menulis buku secara khusus, tetapi beliau ringkas di dalam catatan yang dinamakan ‘Buzugh Al Hilal fi Al Khisal Al Muqtadhiyat li Azh Zhilal.’

0584

وَعَنْ عُقْبَةَ بْنِ عَامِرٍ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – قَالَ: سَمِعْت رَسُولَ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – يَقُولُ: «كُلُّ امْرِئٍ فِي ظِلِّ صَدَقَتِهِ حَتَّى يُفْصَلَ بَيْنَ النَّاسِ» رَوَاهُ ابْنُ حِبَّانَ وَالْحَاكِمُ

584. Dari Uqbah bin Amir berkata, ‘saya telah mendengar Rasulullah SAW bersabda, “Setiap orang berada di bawah naungan sedekahnya hingga ia diputuskan (amal perbuatannya) antara manusia.” (HR. Ibnu Hibban dan Al Hakim)

[Shahih: Shahih Al Jami’ 4510]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

“Setiap orang berada di bawah naungan sedekahnya (pada Hari Kiamat, dan sedekah di sini meliputi sedekah yang wajib dan sunnah) hingga ia diputuskan (amal perbuatannya) antara manusia.”

Tafsir Hadits

Hadits ini menganjurkan banyak bersedekah, sedangkan naungan yang disebutkan di dalam hadits bisa bermakna bahwa barang-barang yaitu telah ia sedekahkan akan datang dan memayunginya dari panas matahari, atau bisa juga berarti bahwa ia berada di dalam penjagaan dan perlindungannya.

Di antara faedah sedekah sunnah adalah menggenapi –menyempurnakan- kekurangan yang mungkin terjadi pada sedekah wajib, jika ternyata di akhirat nanti ditemukan adanya kekurangan. Sebagaimana yang diriwayatkan oleh Al Hakim di dalam Al Kuna dari hadits Ibnu Umar berikut:

«وَانْظُرُوا فِي زَكَاةِ عَبْدِي فَإِنْ كَانَ ضَيَّعَ مِنْهَا شَيْئًا فَانْظُرُوا هَلْ تَجِدُونَ لِعَبْدِي نَافِلَةً مِنْ صَدَقَةٍ لِتُتِمُّوا بِهَا مَا نَقَصَ مِنْ الزَّكَاةِ»

“Dan lihatlah zakat hamba-Ku, jika ia telah melalaikan sesuatu darinya maka lihatlah apakah kalian mendapatkan sedekah sunnah dari hamba-Ku untuk kalian sempurnakan dengannya zakat yang terlalaikan.” [Dhaif: Dhaif Al Jami 2136]

Kekurangan tersebut diambil dari kewajiban-kewajiban yang telah diperintahkan, lalu disempurnakan dengan sedekah sunnah dengan rahmat Allah dan keadilan-Nya.

0585

وَعَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – عَنْ النَّبِيِّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – قَالَ: «أَيُّمَا مُسْلِمٍ كَسَا مُسْلِمًا ثَوْبًا عَلَى عُرْيٍ كَسَاهُ اللَّهُ مِنْ خُضْرِ الْجَنَّةِ، وَأَيُّمَا مُسْلِمٍ أَطْعَمَ مُسْلِمًا عَلَى جُوعٍ أَطْعَمَهُ اللَّهُ مِنْ ثِمَارِ الْجَنَّةِ، وَأَيُّمَا مُسْلِمٍ سَقَى مُسْلِمًا عَلَى ظَمَأٍ سَقَاهُ اللَّهُ مِنْ الرَّحِيقِ الْمَخْتُومِ» رَوَاهُ أَبُو دَاوُد وَفِي إسْنَادِهِ لِينٌ

585. Dari Abu Sa’id Al Khudri RA dari Nabi SAW bersabda, “Siapa pun orang Muslim yang memberikan pakaian kepada orang Muslim yang sedang tidak mempunyai pakaian maka Allah akan memberinya pakaian kepadanya dari hijaunya surga, dan siapa pun orang Muslim yang memberi makanan kepada orang Muslim yang sedang kelaparan maka Allah akan memberinya makanan dari buah-buahan surga, dan siapa pun seorang muslim memberi minuman orang muslim yang sedang kehausan maka Allah akan memberinya minum dari minuman yang murni dan tersegel.” (HR. Abu Daud dan di dalam sanadnya ada kelemahan)

[Dhaif: Abu Daud 1682]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

“Siapa pun orang Muslim yang memberikan pakaian kepada orang Muslim yang sedang tidak mempunyai pakaian maka Allah akan memberinya pakaian kepadanya dari hijaunya surga, (dari pakaiannya yang berwarna hijau) dan siapa pun orang Muslim yang memberi makanan kepada orang Muslim yang sedang kelaparan maka Allah akan memberinya makanan dari buah-buahan surga, dan siapa pun seorang muslim memberi minuman orang muslim yang sedang kehausan maka Allah akan memberinya minum dari minuman yang murni (yaitu minuman yang murni dan tidak ada campuran sama sekali) dan tersegel.” (yaitu yang cawan-cawannya disegel, yang menunjukkan bahwa minuman tersebut sangat berharga) (HR. Abu Daud dan di dalam sanadnya ada kelemahan) (Ibnu Hajar tidak menjelaskan sebab kelemahannya, namun di dalam Mukhtashar As Sunan karya Al Mundziri disebutkan bahwa di dalam sanadnya terdapat Abu Khalid Yazid bin Abdurrahman yang dikenal dengan sebutan Ad Dalani. Orang ini telah dipuji oleh beberapa orang, namun ada beberapa orang yang mengomentarinya)

Tafsir Hadits

Hadits ini menganjurkan untuk melakukan segala bentuk kebajikan, serta memberi kepada setiap orang atas apa yang ia butuhkan, yang pahala masing-masing perbuatan itu sesuai dengan jenis perbuatannya.

0586

وَعَنْ حَكِيمِ بْنِ حِزَامٍ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – عَنْ النَّبِيِّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – قَالَ: «الْيَدُ الْعُلْيَا خَيْرٌ مِنْ الْيَدِ السُّفْلَى، وَابْدَأْ بِمَنْ تَعُولُ، وَخَيْرُ الصَّدَقَةِ مَا كَانَ عَنْ ظَهْرِ غِنًى، وَمَنْ يَسْتَعْفِفْ يُعِفَّهُ اللَّهُ، وَمَنْ يَسْتَغْنِ يُغْنِهِ اللَّهُ» مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ، وَاللَّفْظُ لِلْبُخَارِيِّ

586. Dari Hakim bin Hizam RA dari Nabi SAW bersabda, “Tangan yang di atas lebih baik dari pada tangan yang di bawah, dan mulailah dari orang-orang yang engkau tanggung, dan sebaik-baik sedekah adalah dari kelebihan harta. Barangsiapa menjaga martabatnya maka Allah akan menjaga martabatnya dan barangsiapa yang merasa cukup maka Allah akan mencukupinya.” (Muttafaq alaih dengan lafazh Al Bukhari)

[Shahih: Al Bukhari 1427 dan Muslim 1034]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

Barangsiapa menjaga martabatnya (dengan tidak mau meminta-minta) maka Allah akan menjaga martabatnya dan barangsiapa yang merasa cukup (dengan apa yang ia miliki walaupun sedikit) maka Allah akan mencukupinya.” (dengan memasukkan rasa qana’ah di dalam hatinya)

Kebanyakan ulama menafsirkan lafazh ‘tangan yang di atas’ ialah orang yang memberi, sedangkan ‘tangan yang di bawah’ orang yang menerima pemberian.

Ada yang berpendapat bahwa ‘tangan yang di atas’ ialah tangan orang yang menjaga martabatnya –tidak mau meminta-minta-. Ada yang mengatakan bahwa maksudnya ialah orang yang mengambil pemberian tanpa memintanya. Ada juga yang mengatakan bahwa tangan yang di atas maksudnya orang yang memberi, sedangkan tangan yang di bawah maksudnya orang yang tidak mau memberi. Ada juga dari pengikut tasawuf yang mengatakan bahwa tangan yang mengambil lebih baik secara mutlak daripada tangan yang memberi. Dalam hal ini Ibnu Qutaibah berkomentar, “Saya tidak melihat mereka kecuali sebagai orang-orang yang mengagung-agungkan pengemis, mereka berargumen untuk suatu yang hina, sungguh enak apa yang mereka katakan.”

Telah disebutkan tafsir dari Nabi SAW bahwa tangan yang di atas ialah tangan yang memberi dan tidak mengambil, demikianlah yang diriwayatkan oleh Ishaq di dalam musnadnya dari Hakim bin Hizam, ia bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah tangan yang di atas itu?’ lalu ia sebutkan hadits ini.

Tafsir Hadits

Hadits ini menunjukkan bahwa dalam bersedekah hendaklah diutamakan diri sendiri lalu orang-orang yang berada di dalam tanggungannya sesuai dengan prioritasnya.

Ukuran sedekah yang baik ialah jika seseorang mengeluarkan sedekah dan setelah mengeluarkan sedekah tersebut masih tersisa harta yang cukup untuk menutupi keperluannya. Karena seseorang yang menyedekahkan seluruh hartanya, biasanya akan menyesal dan berpikir ulang sekiranya tidak menyedekahkan seluruh hartanya saat ia terhimpit dengan kebutuhannya.

Berkaitan dengan seseorang yang menyedekahkan dengan seluruh hartanya, para ulama berbeda pendapat, Al Qadhi Iyadh berkata, “Para ulama dan para imam di berbagai penjuru negeri memperbolehkannya.” At Thabari berkata, “walaupun hal itu diperbolehkan, namun yang lebih dianjurkan agar tidak melakukannya, atau cukup sepertiga dari seluruh hartanya.”

Namun, alangkah baiknya jika dikatakan bahwa seseorang yang menyedekahkan seluruh hartanya, lalu ia bersabar atas kekurangan dan ia tidak memiliki tanggungan, atau ia memiliki tanggungan, namun mereka semua bersabar atas hal tersebut, maka tidak ada yang memperdebatkan atas keutamaan tindakan tersebut. Hal ini berdasarkan firman Allah SWT:

{وَيُؤْثِرُونَ عَلَى أَنْفُسِهِمْ}

“Dan mereka mengutamakan (orang-orang muhajirin) atas diri mereka sendiri.”(QS. Al-Hasyr [59]: 9)

Dan firman-Nya:

{وَيُطْعِمُونَ الطَّعَامَ عَلَى حُبِّهِ}

“Dan mereka memberikan makanan yang disukainya.” (QS. Al Insan [76]: 8)

Akan tetapi perbuatan tersebut dianggap makruh untuk dilakukan oleh seseorang yang tidak mampu melakukan syarat-syarat tersebut.

 

والله أعلمُ بالـصـواب

Download Sumber

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *