[ UIC 10.4 ] Kitab Subulus Salam Syarh Bulughul Maram 173

04.01. BAB ZAKAT FITRAH 02

0580

وَلِابْنِ عَدِيٍّ وَالدَّارَقُطْنِيّ بِإِسْنَادٍ ضَعِيفٍ «أَغْنُوهُمْ عَنْ الطَّوَافِ فِي هَذَا الْيَوْمِ»

580. Bagi Ibnu Adi dan Ad Daruquthni dengan sanad dhaif, “Cukupkanlah mereka daripada berkeliling pada hari ini.”

[Dhaif: Al Irwa 844. Ebook editor]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

Bagi Ibnu Adi dan Ad Daruquthni (dari Ibnu Umar) dengan sanad dhaif, (karena di dalam sanadnya terdapat Muhammad bin Umar Al Waqidi) “Cukupkanlah mereka (orang-orang fakir) daripada berkeliling (di gang-gang dan pasar-pasar untuk meminta rezeki) pada hari ini.” (Hari Idul Fithri)

Tafsir Hadits

Dan cara untuk mencukupkan mereka ialah dengan cara memberikan zakat pada permulaan hari tersebut.

0581

وَعَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – قَالَ: «كُنَّا نُعْطِيهَا فِي زَمَنِ النَّبِيِّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – صَاعًا مِنْ طَعَامٍ، أَوْ صَاعًا مِنْ تَمْرٍ، أَوْ صَاعًا مِنْ شَعِيرٍ، أَوْ صَاعًا مِنْ زَبِيبٍ» . مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ. وَفِي رِوَايَةٍ: أَوْ صَاعًا مِنْ أَقِطٍ

وَلِأَبِي دَاوُد: لَا أُخْرِجُ أَبَدًا إلَّا صَاعًا

581. Dari Abu Said RA berkata, ‘Pada masa Rasulullah SAW kami membayarkannya berupa satu sha dari makanan, atau satu sha dari kurma, atau satu sha dari jewawut atau satu sha dari kismis.’ (Muttafaq alaih)

Dalam riwayat lain disebutkan, ‘Atau satu sha dari yogurt padat.’ Abu Said berkata, ‘sedangkan aku tetap mengeluarkannya sebagaimana aku mengeluarkannya pada masa Rasulullah SAW.’

[Shahih: Al Bukhari 1056 dan Muslim 985]

Dalam riwayat Abu Daud, ‘Aku tidak pernah mengeluarkannya kecuali satu sha.’

[dhaif: Abu Daud 1618]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

Pada masa Rasulullah SAW kami membayarkannya (yaitu zakat fitrah).

Tafsir Hadits

Tidak ada perbedaan pendapat di antara ulama bahwa zakat fitrah berupa satu sha’ dari bahan-bahan makanan yang disebutkan di atas.

Perbedaan pendapat terjadi apabila bahan makanan tersebut berupa gandum. Ibnu Khuzaimah meriwayatkan dari Sufyan dari Ibnu Umar bahwasanya pada masa Muawiyah orang-orang mengganti setengah sha gandum dari satu sha jewawut. Alasannya; ada nash yang menegaskan dalam masalah gandum bahwa ia harus dibayarkan satu sha’, kemudian penafsiran lafazh Abu Said ‘makanan’ dengan gandum adalah tidak benar, sebagaimana yang telah dijabarkan oleh Ibnu Hajar di dalam Fath Al Bari.

Ibnu Al Mundzir berkata, ‘Dalam masalah gandum kami tidak mendapatkan riwayat yang mantap yang bisa digunakan sebagai dasar hukum dari Nabi SAW. pada masa itu di Madinah hanya terdapat sedikit gandum, dan ketika gandum menjadi banyak di masa para shahabat mereka berpendapat bahwa setengah sha dari gandum bisa menggantikan satu sha jewawut. Mereka itu –para shahabat- adalah para imam, yang tentunya tidak boleh meninggalkan pendapat mereka kecuali dengan pendapat yang sederajat. Jelas bahwa hal ini bertentangan dengan hadits Abu Said, sebagaimana yang tersirat dalam lafazhnya: ‘sedangkan aku tetap mengeluarkannya (satu sha) sebagaimana aku mengeluarkannya pada masa Rasulullah SAW.’ Dalam riwayat Abu Daud, ‘Aku tidak pernah mengeluarkannya kecuali satu sha.’ (dari jenis makanan apa pun)

Ibnu Khuzaimah dan Al Hakim meriwayatkan:

“Saat disebut zakat Ramadhan Abu Said berkata, “Aku tidak mengeluarkannya kecuali seperti apa yang aku keluarkan pada masa Rasulullah SAW, yaitu satu sha kurma atau satu sha gandum atau satu sha jewawut atau satu sha yogurt padat.” Lalu ada seseorang dari kaumnya yang bertanya, ‘atau dua mud gandum?’ Beliau menjawab, “Tidak, itu adalah perbuatan Muawiyah, aku tidak bisa menerimanya dan aku tidak akan melakukannya.”

Akan tetapi Ibnu Khuzaimah berkata, “Penyebutan gandum di dalam riwayat Abu Said tidak diingat, dan saya tidak tahu dari siapakah riwayat keraguan ini.” An Nawawi berkata, “orang-orang yang berpendapat dua mud gandum berpegang dengan perbuatan Muawiyah, yang tentunya ia perlu perhatian karena ia adalah perbuatan seorang shahabat. Yang mana hal itu bertentangan dengan Abu Said dan beberapa shahabat yang lainnya, yang mana mereka itu lebih lama bersahabat dengan Rasulullah SAW dan lebih kenal dengan karakter Rasulullah SAW. disamping itu, Muawiyah dengan jelas menegaskan bahwa itu adalah pendapat pribadinya yang sama sekali tidak berdasarkan atas apa yang ia dengar dari Rasulullah SAW sebagaimana yang diriwayatkan oleh Al Baihaqi di dalam Sunannya dari Abu Said:

“Bahwasanya Muawiyah datang dalam rangka melaksanakan ibadah haji atau umrah, kemudian ia berkhutbah di hadapan manusia dari atas mimbar, saat itu di antara isi khutbahnya ialah, ‘Sesungguhnya aku berpendapat bahwa 2 mud samraau dari Syam sama dengan satu sha kurma.’ Kemudian orang-orang mengikuti pendapat tersebut, maka Abu Said berkata, ‘Akan tetapi aku tetap mengeluarkannya sebagaimana yang aku keluarkan pada masa Nabi SAW.” hadits ini adalah hadits yang disebutkan pada awal nomor ini. dari sini jelas, bahwa hitungan tersebut adalah murni pendapat Muawiyah.

Setelah menjabarkan hadits-hadits masalah ini, Al Baihaqi berkata, “Dan ada hadits-hadits dari Nabi SAW yang menyebutkan satu sha dari gandum dan hadits-hadits lain yang menyebutkan setengah sha, yang mana tidak ada satu pun hadits yang benar, dan saya telah menjelaskan sebab jatuhnya masing-masing di dalam Al Khilafiyaat.

0582

وَعَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا – قَالَ: «فَرَضَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – زَكَاةَ الْفِطْرِ طُهْرَةً لِلصَّائِمِ مِنْ اللَّغْوِ، وَالرَّفَثِ، وَطُعْمَةً لِلْمَسَاكِينِ، فَمَنْ أَدَّاهَا قَبْلَ الصَّلَاةِ فَهِيَ زَكَاةٌ مَقْبُولَةٌ، وَمَنْ أَدَّاهَا بَعْدَ الصَّلَاةِ فَهِيَ صَدَقَةٌ مِنْ الصَّدَقَاتِ» رَوَاهُ أَبُو دَاوُد وَابْنُ مَاجَهْ. وَصَحَّحَهُ الْحَاكِمُ

582. Dari Ibnu Abbas RA berkata, ‘Rasulullah SAW mewajibkan zakat fitrah untuk menyucikan orang yang berpuasa dari perkataan yang tidak berguna dan ucapan keji, serta untuk memberi makan orang-orang miskin. Barangsiapa membayarkannya sebelum shalat maka ia sebagai zakat yang diterima, dan barangsiapa membayarnya setelah shalat maka ia dianggap sebagai sedekah dari berbagai macam bentuk sedekah lainnya. HR. Abu Daud dan Ibnu Majah, Al Hakim menshahihkannya.

[Hasan: Abu Daud 1609]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

‘Rasulullah SAW mewajibkan zakat fitrah untuk menyucikan orang yang berpuasa dari perkataan yang tidak berguna (yang keluar dari mulutnya selama ia sedang berpuasa) dan ucapan keji,…. dan seterusnya.

Tafsir Hadits

Hadits ini menegaskan wajibnya zakat fitrah berdasarkan lafazh hadits ‘faradha’, sebagaimana yang telah dijelaskan pada hadits sebelumnya. Selain itu, juga menjelaskan bahwa zakat merupakan penghapus kesalahan-kesalahan. waktu untuk membayarkan zakat fitrah sebelum shalat Ied dilaksanakan dan hukum wajibnya terbatas pada waktu tertentu. Ada yang berpendapat bahwa zakat fitrah wajib dikeluarkan mulai terbit fajar pada bulan Syawal, berdasarkan hadits, ‘cukuplah mereka dari pada berkeliling pada hari ini.’ ada juga yang berpendapat bahwa zakat fitrah wajib dikeluarkan mulai terbenamnya matahari pada akhir bulan Ramadhan, berdasarkan sabda beliau, ‘untuk menyucikan bagi orang yang berpuasa..’. dan ada juga yang berpendapat bahwa zakat fitrah itu wajib dikeluarkan dengan salah satu dari waktu di atas, berdasarkan kedua dalil yang disebutkan.

Di dalam masalah ini ada beberapa pendapat ulama:

Pendapat pertama; menyamakannya dengan zakat-zakat yang lain, sehingga boleh membayarkannya walaupun dua tahun sebelum jatuh temponya.

Pendapat kedua; boleh membayarkannya sebelum jatuh temponya selama dalam Ramadhan tersebut, dan tidak boleh membayarkannya sebelum masuk bulan Ramadhan, karena zakat tersebut memiliki dua sebab yaitu adanya puasa dan ifthar –berbuka-, maka zakat tersebut tidak boleh mendahului keduanya sebagaimana zakat yang lain tidak boleh dibayarkan sebelum mencapai nishab dan haul.

Pendapat kedua; tidak boleh mengeluarkannya sebelum jatuh tempo atau pada saat diwajibkannya, kecuali untuk jangka waktu yang bisa dimaafkan seperti membayarkannya satu hari atau dua hari sebelumnya.

Sabda beliau, ‘untuk memberi makan kepada orang-orang miskin’ menunjukkan bahwa zakat fitrah hanya dikhususkan untuk mereka saja, inilah pendapat beberapa orang dari al Aal. Sedangkan ulama yang lainnya berpendapat bahwa zakat fitrah seperti zakat yang lainnya, ia dibagikan kepada 8 golongan tersebut, dalam hal ini al Mahdi berargumen dengan firman Allah SWT: “Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk …..” (QS. At-Taubah [9]: 60) sedangkan penyebutan beberapa golongan tertentu di dalam beberapa nash tidak menunjukkan pengkhususan, karena kondisi tersebut juga terjadi pada zakat yang lainnya, namun tidak ada satu ulama pun yang mengatakan bahwa zakat bisa dikhususkan untuk golongan tertentu, seperti yang disebutkan di dalam hadits Muadz: ‘aku diperintahkan untuk mengambilnya dari orang-orang kaya di antara kalian dan membagikannya kepada orang-orang miskin di antara kalian.’

 

والله أعلمُ بالـصـواب

Download Sumber

 

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *