[ UIC 10.4 ] Kitab Subulus Salam Syarh Bulughul Maram 172

04.01. BAB ZAKAT FITRAH 01
ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Zakat Fitrah disebut juga dengan zakat ifthar –berbuka-, karena berbuka dari puasa Ramadhan, zakat ini diwajibkan sebagaimana yang dijelaskan dalam beberapa riwayat Al Bukhari.

زَكَاةُ الْفِطْرِ مِنْ رَمَضَانَ

“Zakat fitrah karena –selesai- dari puasa Ramadhan”

0579

عَنْ ابْنِ عُمَرَ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا – قَالَ: «فَرَضَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – زَكَاةَ الْفِطْرِ، صَاعًا مِنْ تَمْرٍ أَوْ صَاعًا مِنْ شَعِيرٍ: عَلَى الْعَبْدِ، وَالْحُرِّ، وَالذَّكَرِ، وَالْأُنْثَى، وَالصَّغِيرِ، وَالْكَبِيرِ، مِنْ الْمُسْلِمِينَ، وَأَمَرَ بِهَا أَنْ تُؤَدَّى قَبْلَ خُرُوجِ النَّاسِ إلَى الصَّلَاةِ» . مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

579. Dari Ibnu Umar RA, ia berkata, “Rasulullah SAW mewajibkan zakat fitrah berupa satu sha dari kurma atau satu sha dari syair atas orang merdeka maupun hamba sahaya, laki-laki maupun perempuan, anak-anak maupun dewasa, dari orang-orang muslimin, beliau memerintahkan agar zakat ini dibayarkan sebelum orang-orang kalau untuk shalat.” Muttafaq alaih.

[shahih: Al Bukhari 1503 dan Muslim 984]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Tafsir Hadits

Hadits ini merupakan dalil atas wajibnya zakat fitrah, karena beliau menyebutkan bahwa Rasulullah SAW ‘mewajibkan’. Ishaq berkata, ‘zakat fitrah hukum wajib menurut ijma’.

Namun ada pendapat lain dari Daud dan beberapa pengikut mazhab Asy-Syafi’i bahwa zakat fitrah hukumnya sunnah, mereka mentakwil kata-kata ‘mewajibkan’ bahwa maksudnya ialah beliau menentukan ukuran dan jumlahnya. Pendapat ini dibantah dengan jawaban bahwa takwil mereka ini bertentangan dengan zhahir teks.

Sedangkan pendapat yang mengatakan bahwa dahulu hukumnya wajib, namun kemudian dinasakh dengan perintah zakat berdasarkan hadits yang diriwayatkan dari Qais bin Sa’ad bin Ubadah:

«أَمَرَنَا رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – بِصَدَقَةِ الْفِطْرِ قَبْلَ أَنْ تَنْزِلَ الزَّكَاةُ فَلَمَّا نَزَلَتْ الزَّكَاةُ لَمْ يَأْمُرْنَا وَلَمْ يَنْهَنَا»

“Rasulullah SAW memerintahkan kami untuk membayar zakat fitrah, sebelum turun perintah untuk berzakat, ketika perintah untuk berzakat telah turun, maka beliau tidak memerintahkan kami untuk membayar zakat fitrah dan tidak pula melarangnya.” [Shahih: An Nasa’i 2506]

Maka pendapat ini tidak benar, karena di dalam hadits ini terdapat perawi majhul, bahkan jika hadits ini shahih, ia tidak menunjukkan adanya nasakh, karena walaupun Rasulullah SAW tidak memerintahkan kembali untuk membayar zakat fitrah, hal itu tidak menunjukkan secara langsung bahwa ia merupakan nasakh, karena untuk kewajiban zakat fitrah ini cukuplah dengan perintah pertama, di samping itu bahwa beliau tidak memerintahkan kembali, tidak otomatis menghapus perintah pertama.

Hadits ini menegaskan bahwa kewajiban zakat fitrah bersifat umum mengenai siapa saja, baik ia hamba sahaya maupun merdeka, laki-laki maupun perempuan, anak-anak maupun dewasa, kaya maupun miskin. Al Baihaqi telah meriwayatkan dari Abdullah bin Tsa’labah atau Tsa’labah bin Abdullah secara marfu’:

«أَدُّوا صَاعًا مِنْ قَمْحٍ عَنْ كُلِّ إنْسَانٍ ذَكَرًا أَوْ أُنْثَى صَغِيرًا أَوْ كَبِيرًا غَنِيًّا أَوْ فَقِيرًا أَوْ مَمْلُوكًا. أَمَّا الْغَنِيُّ فَيُزَكِّيهِ اللَّهُ وَأَمَّا الْفَقِيرُ فَيَرُدُّ اللَّهُ عَلَيْهِ أَكْثَرَ مِمَّا أَعْطَى»

“Bayarkanlah satu sha gandum dari setiap jiwa, laki-laki maupun perempuan, anak-anak maupun dewasa, kaya maupun miskin, merdeka maupun hamba sahaya. Adapun orang kaya maka Allah akan menyucikannya, sedangkan orang fakir maka Allah akan mengembalikan kepadanya lebih banyak dari pada apa yang telah ia bayarkan.” [Dhaif: Dhaif Targhib wa Tarhib 663. Ebook editor]

Di dalam Mukhtashar As Sunan, Al Mundziri berkomentar, “Di dalam sanad hadits tersebut tidak An Nu’man bin Rasyid, ia adalah perawi yang haditsnya tidak bisa digunakan sebagai dasar hukum.”

Sedangkan kewajiban zakat fitrah hamba sahaya ditanggung oleh tuannya, berdasarkan pendapat orang yang mengatakan bahwa hamba sahaya tidak mempunyai hak kepemilikan. Sedangkan mereka yang mengatakan bahwa hamba sahaya mempunyai hak kepemilikan maka ia mewajibkan zakat fitrah atas tanggungan hamba sahaya itu sendiri.

Seorang istri ditanggung oleh suaminya, seorang pembantu ditanggung oleh majikannya, dan seseorang bisa ditanggung oleh kerabatnya yang wajib menanggung nafkahnya. Hal ini berdasarkan hadits:

«أَدُّوا صَدَقَةَ الْفِطْرِ عَمَّنْ تَمُونُونَ»

“bayarkanlah zakat fitrah dari setiap orang yang kalian tanggung.”

Diriwayatkan Ad Daruquthni dan Al Baihaqi, sanad hadits ini dhaif, oleh karena itu terjadilah perbedaan pendapat sebagaimana yang telah dijabarkan di dalam Asy Syarh dan yang lainnya.

Sedangkan anak kecil, kewajiban zakat fitrahnya dibebankan kepada hartanya jika ia memiliki harta, sebagaimana zakat-zakat yang lain yang wajib atas hartanya. Jika ia tidak memiliki harta maka kewajiban tersebut dibebankan kepada orang yang menanggung nafkahnya, demikian pendapat jumhur ulama.

Namun ada yang mengatakan bahwa kewajiban zakat fitrah sama sekali tidak menyentuh anak kecil, karena zakat fitrah merupakan penyuci bagi orang yang telah melaksanakan puasa dari gurauan dan kata-kata kotor, dan juga sebagai pemberian makan kepada orang-orang miskin sebagaimana yang akan dijelaskan pada kesempatan mendatang.

Pendapat ini dibantah dengan jawaban, bahwa hal-hal yang digunakan sebagai dalil pada pendapat di atas merupakan kondisi pada umumnya. Dan kondisi ini tidak bisa menggugurkan penjelasan tegas di dalam hadits Ibnu Umar yang mewajibkan zakat fitrah atas anak kecil.

Hadits bab ini juga menjelaskan bahwa setiap orang mengeluarkan zakat tersebut berupa satu sha kurma atau gandum tanpa ada perselisihan di antara para ulama, juga riwayat yang menyebutkan satu sha’ dari kismis.

Ungkapan ‘… dari orang-orang Muslimin,” mengundang banyak pendapat dari kalangan ahli hadits, karena tambahan lafazh ini tidak disepakati oleh para perawi hadits, hanya saja lafazh ini merupakan tambahan dari seorang adil, maka selayaknyalah untuk diterima. Yang mana tambahan lafazh ini menjelaskan bahwa keislaman seseorang merupakan syarat wajib zakat fitrah, sehingga tidak wajib atas orang-orang kafir untuk menzakati diri mereka sendiri.

Hanya saja, apakah seorang muslim harus mengeluarkan zakat fitrah dari hamba sahayanya yang kafir? Jumhur ulama berpendapat, tidak. Sedangkan Al Hanafiyah dan yang lainnya berpendapat, ia harus mengeluarkan berdasarkan hadits:

«لَيْسَ عَلَى الْمُسْلِمِ فِي عَبْدِهِ صَدَقَةٌ إلَّا صَدَقَةُ الْفِطْرِ»

“Seorang Muslim tidak mempunyai kewajiban mengeluarkan zakat atas hamba sahayanya kecuali zakat fitrah.” [Diriwayatkan Ash-Shahihain tanpa tambahan kecuali zakat fitrah]

Jawaban atas hadits ini; bahwa hadits nomor ini bersifat khusus maka ia membatasi hadits-hadits lain yang bersifat umum, dengan demikian lafazh ‘.. hamba sahaya..’ di dalam hadits ini dikhususkan untuk hamba sahaya muslim dengan dasar pemikiran, lafazh hadits nomor ini, ‘… dari orang-orang muslim.’

Sedangkan pendapat Ath Thahawi yang mengatakan bahwa maksud dari orang-orang Muslim ialah orang yang membayarkannya secara langsung bukan orang yang diwakili atau dibayarkan atas namanya –maksudnya yang membayar hendaklah seorang Muslim namun ia boleh membayar atas nama seseorang non Muslim- maka pendapat ini bertolak belakang dengan zhahir hadits, karena dalam hadits tersebut dicantumkan hamba sahaya dan juga anak-anak kecil, dan mereka adalah golongan yang dibayarkan oleh orang lain atas nama mereka, dan hal ini menunjukkan bahwa sifat Islam tidak dikhususkan untuk orang yang membayarkannya secara langsung saja. Selain itu hadits ini juga didukung oleh hadits Muslim dengan lafazh:

«عَلَى كُلِّ نَفْسٍ مِنْ الْمُسْلِمِينَ حُرٍّ أَوْ عَبْدٍ»

“Atas setiap jiwa yang muslim baik merdeka maupun hamba sahaya.”

Ungkapan, “… beliau memerintahkan agar zakat itu dibayarkan sebelum orang-orang keluar untuk shalat –Ied-“ menunjukkan bahwa menyegerakan pembayaran zakat fitrah adalah perkara yang diperintahkan dan jika seseorang mengeluarkannya setelah shalat maka ia berdosa, dan tidak disebut sebagai zakat fitrah, ia hanyalah sedekah biasa, hal ini dikuatkan oleh hadits berikut:

 

والله أعلمُ بالـصـواب

Download Sumber

 

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *