[ UIC 10.4 ] Kitab Subulus Salam Syarh Bulughul Maram 171

04. KITAB ZAKAT04. KITAB ZAKAT 09

0577

وَعَنْ عَمْرِو بْنِ شُعَيْبٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ جَدِّهِ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا – «أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – قَالَ – فِي كَنْزٍ وَجَدَهُ رَجُلٌ فِي خَرِبَةٍ – إنْ وَجَدْته فِي قَرْيَةٍ مَسْكُونَةٍ فَعَرِّفْهُ. وَإِنْ وَجَدْته فِي قَرْيَةٍ غَيْرِ مَسْكُونَةٍ فَفِيهِ وَفِي الرِّكَازِ الْخُمُسُ» أَخْرَجَهُ ابْنُ مَاجَهْ بِإِسْنَادٍ حَسَنٍ

577. Dari Amr bin syu’aib dari bapaknya dari kakeknya, bahwasanya Nabi SAW bersabda pada harta simpanan yang ditemukan oleh salah seorang di daerah yang telah rusak –akibat bencana- “Jika engkau mendapatkannya di desa yang ditempati maka umumkanlah, dan jika engkau mendapatkannya di desa yang tidak ditempati maka padanya dan juga pada barang galian dikeluarkan seperlima.” HR. Ibnu Majah dengan sanad hasan.

[Yang benar dikeluarkan oleh Al Hakim dan ia mendiamkannya. Lihat Nashbur Rayah II/458. Ebook editor]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Tafsir Hadits

Lafazh: maka padanya dan juga pada barang galian dikeluarkan seperlima, menjelaskan bahwa barang tersebut telah menjadi hak milik orang yang menemukannya dan harus dikeluarkan zakatnya sebanyak 20% dan syariat tidak menyebut barang yang ditemukan di desa sebagai barang galian –rikaz-, karena tidak mengeluarkannya dari dalam perut bumi, namun kelihatannya ia menemukannya di atas permukaan bumi.

Oleh karena itu, Asy-Syafi’i dan orang-orang yang sependapat mensyaratkan pada harta karun dua hal; pertama berasal dari zaman jahiliyah, dan yang kedua berada di tanah mati –tidak terpelihara-.

Jika barang tersebut ditemukan di jalanan atau di masjid, maka dan sebagainya sebagai barang temuan –luqathah-, karena sebenarnya barang tersebut milik kaum Muslimin, namun tidak diketahui dengan tepat siapa pemiliknya. Sehingga selanjutnya disebut sebagai barang temuan.

Jika ia ditemukan di tanah seseorang maka ia adalah hak milik pemilik tanah, kecuali jika ia menjelaskan bahwa barang itu bukan miliknya. Jika ia mengatakan bahwa barang tersebut bukan miliknya maka ia adalah milik orang yang mewakilinya, dan demikian selanjutnya hingga orang terakhir yang mendapat bagian, yaitu orang yang menghidupkan tanah –memeliharanya-.

Semua pendapat Asy-Syafi’i ini berdasarkan hadits yang ia riwayatkan dari Amr bin Syu’aib dengan lafazh:

«أَنَّ النَّبِيَّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – قَالَ فِي كَنْزٍ وَجَدَهُ رَجُلٌ فِي خَرِبَةٍ جَاهِلِيَّةٍ: إنْ وَجَدْته فِي قَرْيَةٍ مَسْكُونَةٍ أَوْ طَرِيقٍ مَيِّتٍ فَعَرِّفْهُ وَإِنْ وَجَدْته فِي خَرِبَةٍ جَاهِلِيَّةٍ أَوْ قَرْيَةٍ غَيْرِ مَسْكُونَةٍ فَفِيهِ وَفِي الرِّكَازِ الْخُمُسُ»

“Bahwasanya Nabi SAW bersabda tentang harta yang ditemukan oleh seseorang di daerah yang rusak dari zaman jahiliyah, “Jika engkau mendapatkannya di desa yang di tempati atau di jalanan yang mati maka umumkanlah, dan jika engkau mendapatkannya di daerah rusak sisa zaman jahiliyah atau di desa yang tidak ditempati maka padanya dan pada rikaz itu dikeluarkan seperlima -20%-.

0578

وَعَنْ بِلَالِ بْنِ الْحَارِثِ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – «أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – أَخَذَ مِنْ الْمَعَادِنِ الْقَبَلِيَّةِ الصَّدَقَةَ.» رَوَاهُ أَبُو دَاوُد

578. Dari Bilal bin Al Harits RA, bahwasanya Rasulullah SAW mengambil zakat dari barang tambang qabaliyah. HR. Abu Daud

[Dhaif: Abu Daud 3061]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Biografi Perawi

Bilal bin al Harits Al Mazani, ia mendatangi Rasulullah SAW pada tahun 5 H. Dan pada waktu Fathu Makkah. Ia adalah salah satu pembawa bendera suku Mazinah. Puteranya al Harits meriwayatkan hadits darinya. Ia wafat pada tahun 60 H, pada umur 80 tahun.

Penjelasan Kalimat

Qabaliyah (nama satu daerah);

Di dalam Al Muwatha, riwayat ini berasal dari Rabi’ah dari beberapa gurunya, bahwasanya Rasulullah SAW memberikan kepada Bilal bin Al Harits barang tambang Qabaliyah, dan beliau mengambil zakat darinya, namun tidak mencapai 20%.

Setelah meriwayatkan hadits Malik ini, Asy-Syafi’i berkomentar, “Bahwa hadits ini bukanlah hadits yang ditetapkan oleh ahli hadits, dan di dalam hadits tersebut tidak ada yang diriwayatkan dari Rasulullah SAW kecuali bahwa beliau memberikan barang tersebut kepada Bilal. Sedangkan zakat barang tambang kurang dari 20% maka tidak berasal dari hadits yang diriwayatkan dari Rasulullah SAW.

Al Baihaqi berkomentar, “Memang, dalam riwayat Malik ini seperti apa yang diketahui oleh Asy-Syafi’i.”

Tafsir Hadits

Hadits ini menjelaskan kewajiban zakat pada barang tambang yang bisa jadi ia sebanyak 20%.

Dalam masalah ini Ahmad dan Ishaq berpendapat bahwa zakat tersebut kurang dari 20%. Sedangkan ulama selain mereka berpendapat bahwa zakat tersebut sebesar 20%, berdasarkan hadits ‘dan pada rikaz dikeluarkan 20%’, walaupun ia mempunyai kemungkinan lain sebagaimana yang telah dijelaskan terdahulu.

 

والله أعلمُ بالـصـواب

Download Sumber

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *