[ UIC 10.4 ] Kitab Subulus Salam Syarh Bulughul Maram 170

04. KITAB ZAKAT 08

0574

«وَعَنْ أُمِّ سَلَمَةَ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا – أَنَّهَا كَانَتْ تَلْبَسُ أَوْضَاحًا، مِنْ ذَهَبٍ فَقَالَتْ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، أَكَنْزٌ هُوَ؟ قَالَ: إذَا أَدَّيْت زَكَاتَهُ فَلَيْسَ بِكَنْزٍ» رَوَاهُ أَبُو دَاوُد وَالدَّارَقُطْنِيّ. وَصَحَّحَهُ الْحَاكِمُ

574. Dari Ummu Salamah bahwasanya ia memakai perhiasan dari emas, lalu ia bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah ini termasuk kanzun –harta simpanan-?” maka beliau bersabda, “Jika engkau telah mengeluarkan zakatnya, maka ia tidak termasuk kanzun.” HR. Abu Daud dan Ad Daruquthni, Al Hakim menshahihkannya.

[Hasan: Abu Daud 1564]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

Dari Ummu Salamah bahwasanya ia memakai perhiasan dari emas, lalu ia bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah ini termasuk kanzun –harta simpanan-?” (apakah ia termasuk di dalam ayat, “Dan orang-orang yang menyimpan emas..” (QS. At-Taubah [9]: 34]) maka beliau bersabda, “Jika engkau telah mengeluarkan zakatnya, maka ia tidak termasuk kanzun.” HR. Abu Daud dan Ad Daruquthni, Al Hakim menshahihkannya.

Tafsir Hadits

Hadits ini dengan jelas menegaskan adanya kewajiban zakat pada perhiasan, dan juga menjelaskan setiap harta yang telah dikeluarkan zakatnya maka tidak termasuk kanzun, sehingga ia tidak termasuk barang yang mendapati ancaman ayat di atas.

0575

وَعَنْ سَمُرَةَ بْنِ جُنْدُبٍ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – قَالَ: «كَانَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – يَأْمُرُنَا أَنْ نُخْرِجَ الصَّدَقَةَ مِنْ الَّذِي نَعُدُّهُ لِلْبَيْعِ» رَوَاهُ أَبُو دَاوُد، وَإِسْنَادُهُ لَيِّنٌ

575. Dari Samurah bin Jundub, ia berkata, Rasulullah SAW memerintahkan kami untuk mengeluarkan zakat dari barang-barang dagangan. HR. Abu Daud sanadnya layyin.

[Dhaif: Abu Daud 1562]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

Dari Samurah bin Jundub, ia berkata, Rasulullah SAW memerintahkan kami untuk mengeluarkan zakat dari barang-barang dagangan. HR. Abu Daud sanadnya layyin. (karena ia berasal dari riwayat Sulaiman bin Samurah, ia adalah perawi majhul. Ad Daruquthni dan Al Bazzar meriwayatkan hadits ini darinya juga)

Tafsir Hadits

Hadits ini menjelaskan kewajiban zakat pada barang dagangan. Hukum ini didukung oleh firman Allah SWT:

{أَنْفِقُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا كَسَبْتُمْ}

“… nafkahkanlah (di jalan Allah) sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik…” (QS. Al-Baqarah [2]: 267)

Mujahid berkata, ayat ini turun pada barang dagangan.

Al Hakim meriwayatkan, bahwasanya Rasulullah SAW bersabda:

فِي الْإِبِلِ صَدَقَتُهَا وَفِي الْبَقَرِ صَدَقَتُهَا وَفِي الْبَزِّ صَدَقَتُهُ

“Pada unta ada zakatnya, pada sapi ada zakatnya, pada kambing ada zakatnya, dan pada pakaian baz ada zakatnya.” [Dhaif: Silsilah Adh-Dhaifah 1178, Dhaif Al Jami 3992. Ebook editor]

Demikian pula yang telah dijelaskan oleh Ad Daruquthni dan Al Baihaqi.

Ibnu Al Mundzir berkata, “Ijma atas wajibnya zakat barang dagangan telah disepakati oleh tujuh ulama fikih yang mewajibkannya, namun orang yang menolaknya tidak dihukumi kafir karena masih adanya perbedaan pendapat dalam masalah tersebut.”

0576

وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – قَالَ: «وَفِي الرِّكَازِ الْخُمُسُ» مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

576. Dari Abu Hurairah RA bahwasanya Nabi SAW bersabda, “Dan pada rikaz dikeluarkan seperlima.” (Muttafaq alaih)

[Shahih: Al Bukhari 2355 dan Muslim 1710]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

“Dan pada rikaz (harta terpendam yang pengambilannya tidak memerlukan banyak usaha) dikeluarkan seperlima.”

Para ulama berbeda pendapat dalam menjelaskan hakikat rikaz di atas. Malik dan Asy-Syafi’i bpdp bahwa yang dimaksud adalah harta karun yang terpendam di dalam tanah yang berasal dari masa jahiliyah. Sedangkan Al Hadawiyah dan Al Hanafiyah berpendapat bahwa yang dimaksud adalah barang tambang.

Sedangkan dalam barang tambang, Malik dan Asy-Syafi’i berpendapat bahwa dikeluarkan zakat darinya seperti tanaman.

Tafsir Hadits

Pendapat Malik dan Asy-Syafi’i dikuatkan oleh hadits:

«الْعَجْمَاءُ جُبَارٌ وَالْمَعْدِنُ جُبَارٌ وَفِي الرِّكَازِ الْخُمُسُ»

(kerusakan yang diakibatkan oleh) hewan ternak tidak dijamin, (kecelakaan akibat kerja di lokasi) penambangan tidak dijamin, dan pada harta rikaz dikeluarkan –zakat- seperlima. [Shahih: Al Bukhari 1499]

Zhahir hadits ini mengisyaratkan bahwa rikaz di atas bukanlah barang tambang.

Kemudian Asy-Syafi’i mengkhususkan barang tambang yang harus dizakati ialah emas dan perak saja, berdasarkan hadits riwayat Al Baihaqi,

«أَنَّهُمْ قَالُوا: وَمَا الرِّكَازُ يَا رَسُولَ اللَّهِ؟ قَالَ: الذَّهَبُ وَالْفِضَّةُ الَّتِي خُلِقَتْ فِي الْأَرْضِ يَوْمَ خُلِقَتْ»

bahwasanya mereka bertanya “Wahai Rasulullah apakah rikaz itu?” Beliau menjawab, “Yaitu emas dan perak yang telah diciptakan di dalam bumi pada saat bumi diciptakan.” [Dhaif: Dhaif Al Jami 3163. Ebook editor]

Namun ada yang mengatakan bahwa penjelasan riwayat ini dhaif.

Dalam emas dan perak di atas, Asy-Syafi’i, Malik dan Ahmad menetapkan adanya nisab, berdasarkan hadits, ‘di bawah 5 uqiyah tidak wajib zakat’ dan darinya dikeluarkan zakat 2,5%, berdasarkan hadits, ‘pada perak dikeluarkan 2,5%’, hal ini berbeda dengan rikaz yang harus dikeluarkan darinya seperlima (20%) tanpa dibatasi nisab.

Hikmah dibedakannya antara rikaz dan barang tambang karena rikaz didapat lebih mudah, sedangkan barang tambang memerlukan banyak usaha untuk mendapatkannya.

Sedangkan Al Hadawiyah berpendapat bahwa baik rikaz maupun barang tambang dikeluarkan zakat darinya 20% tanpa dibatasi dengan nisab, sehingga kewajiban ini mencakup yang banyak maupun sedikit, tidak membedakan apakah ia didapatkan di daratan maupun di lautan, dari dalam bumi maupun dari permukaan bumi. Ia mencakup timah, tembaga, besi, minyak bumi, garam, kayu bakar dan rumput.

Namun sebenarnya yang jelas disebutkan di dalam nash hadits ialah emas dan perak, sedangkan yang lainnya tidak ada kewajiban zakat hingga ada dalil yang menerangkannya. Kemudian bahwa hal-hal yang disebutkan di atas terdapat pada zaman Nabi SAW, dan tidak pernah diketahui bahwa Rasulullah SAW mengambil 20% dari barang-barang tersebut. Dan tidak pernah diriwayatkan hadits tentang masalah itu kecuali hadits tentang rikaz yang jelas maksudnya ialah emas dan perak, sedangkan ayat:

{وَاعْلَمُوا أَنَّمَا غَنِمْتُمْ مِنْ شَيْءٍ}

“Ketahuilah, sesungguhnya apa saja yang dapat kamu peroleh sebagai rampasan perang.” (QS. Al-Anfal [8]: 41); ia khusus menjelaskan hukum harta rampasan perang.

 

والله أعلمُ بالـصـواب

Download Sumber

 

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *