[ UIC 10.4 ] Kitab Subulus Salam Syarh Bulughul Maram 17

01.05. BAB MENGUSAP KHUF 02

0057

57 – وَعَنْ ثَوْبَانَ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – قَالَ: «بَعَثَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – سَرِيَّةً، فَأَمَرَهُمْ أَنْ يَمْسَحُوا عَلَى الْعَصَائِبِ يَعْنِي الْعَمَائِمَ – وَالتَّسَاخِينِ يَعْنِي الْخِفَافَ» . رَوَاهُ أَحْمَدُ وَأَبُو دَاوُد، وَصَحَّحَهُ الْحَاكِمُ.

57. Dari Tsauban RA, ia berkata, Rasulullah SAW mengutus sekelompok pasukan, maka beliau menyuruh mereka mengusap Asha’ib –yakni sorban- dan At Tasaakhin – yakni khuf. (HR. Ahmad dan Abu Daud, dan dishahihkan oleh Al Hakim)

[Shahih: Abu Daud 146]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Biografi Perawi

Tsauban adalah Abu Abdullah atau Abu Abdurrahman. Ibnu Abdil Barr berkata, ‘yang pertama yang lebih shahih’. Ia dijuluki dengan Ibnu Bujdad, dan ada yang mengatakan Ibnu Jahdar. Ia termasuk penduduk As Sarah –nama tempat antara Makkah dan Madinah-. Yang lain mengatakan dari Himyar. Ia ditawan, lalu dibeli oleh Rasulullah SAW kemudian beliau memerdekakannya. Ia senantiasa menyertai Rasulullah SAW, baik dalam perjalanan maupun ketika muqim hingga beliau wafat. Lalu ia tinggal di Syam kemudian pindah ke Himsh, lalu meninggal dunia di sana pada tahun 54 H.

Tafsir Hadits

Secara zhahir, hadits ini menunjukkan boleh mengusap sorban seperti halnya mengusap sepatu. Apakah disyaratkan sucinya kepala dan penentuan waktu seperti kedua sepatu? Kami belum mendapatkan komentar para ulama tentangnya. Kemudian saya melihat setelah itu pada Hawasy Al Qadhi Abdurrahman ‘Ala Bulughul Maram, bahwa diisyaratkan bolehnya mengusap sorban hendaknya orang yang mengusap itu dalam keadaan suci, sebagaimana yang dilakukan oleh orang yang mengusap khuf. Ia berkata, “Sebagian ulama berpendapat diperbolehkannya mengusap sorban”, tetapi ia tidak menyebutkan dalil atas apa yang dikatakannya.

Zhahirnya, bahwa tidak disyaratkan untuk mengusap karena adanya udzur, dan dianggap sah mengusapnya meskipun kepala tidak tersentuh air sama sekali.

Ibnu Qayyim berkata, “Sesungguhnya beliau SAW hanya mengusap surban saja, dan mengusap jambul lalu menyempurnakannya dengan mengusap sorban.”

Ada yang berpendapat bahwa tidak boleh melakukannya tanpa udzur, karena di dalam hadits yang diriwayatkan oleh Abu Daud:

«أَنَّهُ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – بَعَثَ سَرِيَّةً فَأَصَابَهُمْ الْبَرْدُ، فَلَمَّا قَدِمُوا عَلَى رَسُولِ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – أَمَرَهُمْ أَنْ يَمْسَحُوا عَلَى الْعَصَائِبِ وَالتَّسَاخِينِ»

“Bahwa beliau SAW mengutus sekelompok pasukan lalu mereka ditimpa kedinginan, maka tatkala mereka datang kepada Rasulullah SAW, beliau menyuruh mereka mengusap atas sorban dan sepatu”

Maka hadits tersebut mengandung udzur, tetapi pemahaman ini jauh, meskipun ia cenderung berpendapat dengannya sebagaimana tersebut dalam Asy Syarh, karena telah ditegaskan mengusap khuf dan sorban tanpa udzur pada selain hadits ini.

0058

58 – وَعَنْ عُمَرَ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – مَوْقُوفًا – وَعَنْ أَنَسٍ – مَرْفُوعًا – «إذَا تَوَضَّأَ أَحَدُكُمْ وَلَبِسَ خُفَّيْهِ فَلْيَمْسَحْ عَلَيْهِمَا وَلْيُصَلِّ فِيهِمَا، وَلَا يَخْلَعْهُمَا إنْ شَاءَ إلَّا مِنْ الْجَنَابَةِ» أَخْرَجَهُ الدَّارَقُطْنِيُّ وَالْحَاكِمُ وَصَحَّحَهُ.

58. Dari Umar RA secara mauquf – dan dari Anas RA secara marfu’- : “Apabila salah seorang dari kalian berwudhu dan ia memungkinkan kedua sepatunya (khuf), maka hendaklah ia mengusap keduanya dan ia shalat dengannya, dan janganlah ia melepaskan keduanya jika ia menghendaki kecuali janabah.” (HR. Ad Daruquthni dan Al Hakim dan ia menshahihkannya)

[Shahih: Shahih Al Jami’ 447]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

Apabila salah seorang dari kalian berwudhu dan ia memungkinkan kedua sepatunya (khuf), maka hendaklah ia mengusap keduanya (membatasi memakainya dengan setelah wudhu adalah dalil bahwa yang dimaksudkan dengan thahiratain (keduanya suci), dalam Mughirah – dan yang semakna dengannya- adalah bersuci dari hadats kecil) dan ia shalat dengannya, dan janganlah ia melepaskan keduanya jika ia menghendaki (beliau membatasinya dengan, jika ia kehendaki untuk menolak apa yang dipahami dari zhahirnya satu perintah yaitu menunjukkan wajib, dan zhahirnya larangan adalah hr) kecuali janabah (karena Anda telah mengetahui bahwa wajib melepaskannya)

Tafsir Hadits

Hadits tersebut di atas menerangkan disyariatkannya bersuci, dan memutlakannya dari penentuan waktu, tetapi ia terikat dengannya, sebagaimana yang dijelaskan hadits Shafwan dari hadits Ali RA.

0059

59 – وَعَنْ أَبِي بَكْرَةَ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – عَنْ النَّبِيِّ: «أَنَّهُ رَخَّصَ لِلْمُسَافِرِ ثَلَاثَةَ أَيَّامٍ وَلَيَالِيُهُنَّ، وَلِلْمُقِيمِ يَوْمًا وَلَيْلَةً، إذَا تَطَهَّرَ فَلَبِسَ خُفَّيْهِ: أَنْ يَمْسَحَ عَلَيْهِمَا» . أَخْرَجَهُ الدَّارَقُطْنِيُّ، وَصَحَّحَهُ ابْنُ خُزَيْمَةَ.

59. Dari Abu Bakrah RA dari Nabi SAW, ‘Bahwa beliau membolehkan bagi musafir tiga hari tiga malam, dan bagi muqim satu hari satu malam, jika ia telah bersuci lalu memakai sepatunya, untuk mengusap atas keduanya.’ (HR. Ad Daruquthni dan dishahihkan oleh Ibnu Khuzaimah).

[Hasan: Ad Daruquthni 1/194 dan Ibnu Majah 556]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Biografi Perawi

Abu Bakrah, namanya adalah Nufa’i bin Masruh, sebagaimana yang terdapat dalam Jami Al Ushul, dan ada yang mengatakan Ibnu Al Harits.

Abu Bakrah berkata, “Aku adalah pelayan Rasulullah SAW”, ia menolak dinisbatkan, ia turun dari benteng Tha’if ketika ia mengepung Rasulullah SAW bersama sekelompok pemuda Tha’if, lalu ia masuk Islam dan dimerdekakan oleh Rasulullah SAW, ia termasuk di antara shahabat yang paling utama.

Ibnu Abdil Barr berkata, “Ia seperti mata pedang dalam ibadah, meninggal dunia di Bashrah pada tahun 51 atau 52 H, dan putra-putranya memiliki kemuliaan di Bashrah, baik ilmu maupun kedudukan, dan ia memiliki pengikut yang sangat banyak.

Penjelasan Kalimat

Bahwa beliau membolehkan bagi musafir tiga hari tiga malam, (yaitu mengusap atas kedua sepatu) dan bagi muqim satu hari satu malam, jika ia telah bersuci (yakni setiap yang mukim maupun musafir, yaitu jika ia telah bersuci dari hadats kecil) lalu memakai sepatunya, ( fa, tidak mesti berarti menunjukkan harus berurutan tetapi hanya sebatas athaf, karena sudah maklum bahwa tidak termasuk syarat dalam mengusap sepatu) untuk mengusap atas keduanya

Tafsir Hadits

Hadits tersebut seperti hadits Ali RA dalam menerangkan jangka waktu bagi musafir dan mukim, dan seperti hadits Umar dan Anas mengenai disyariatkannya bersuci, dan di dalamnya terdapat penjelasan bahwa mengusap atas sepatu adalah rukhsah (keringanan), karena shahabat menamainya seperti itu.

0060

60 – وَعَنْ «أُبَيِّ بْنِ عُمَارَةَ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ -، أَنَّهُ قَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ أَمْسَحُ عَلَى الْخُفَّيْنِ؟ قَالَ: نَعَمْ قَالَ: يَوْمًا؟ قَالَ: نَعَمْ قَالَ: وَيَوْمَيْنِ؟ قَالَ: نَعَمْ قَالَ: وَثَلَاثَةَ أَيَّامٍ؟ قَالَ: نَعَمْ، وَمَا شِئْت» أَخْرَجَهُ أَبُو دَاوُد، وَقَالَ: لَيْسَ بِالْقَوِيِّ.

60. Dari Ubai bin Imarah RA bahwa ia berkata, “Wahai Rasulullah, apakah boleh aku mengusap atas sepatu?” Beliau menjawab, ‘Ya’, ia bertanya lagi, ‘Satu hari’? beliau menjawab, ‘Ya’, ia melanjutkan, ‘dua hari?’ beliau menjawab, ‘Ya’, ia bertanya lagi ‘tiga hari?’, Beliau menjawab, ‘Ya, terserah engkau’. (HR. Abu Daud dan ia berkata tidak kuat)

[Dhaif: Dhaif Abu Daud 158]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Biografi Perawi

Ubai bin Imarah berasal dari Madinah dan tinggal di Mesir. Ia adalah seorang shahabat, dalam sanad haditsnya terdapat idhthirab. Yang dimaksudkan adalah hadits ini, dan seperti tersebut juga dikatakan oleh Ibnu Abdil Barr dalam Al Isti’ab.

Tafsir Hadits

Hadits ini dikeluarkan oleh Abu Daud dan ia berkata, “Tidak kuat.” Al Hafidz Al Mundziri berkata dalam Mukhtashar As Sunan dengan maknanya, yaitu dengan makna yang dikatakan oleh Abu Daud dan Al Bukhari. Imam Ahmad berkata, “Para perawinya tidak diketahui.” Dan Ad Daruquthni berkata isnad ini tidak kuat.

Ibnu Hibban berkata, “Saya tidak berpegang atas isnad khabarnya.” Ibnu Abdil Barr berkata, “Tidak kuat, dan tidak memiliki sanad yang dapat dijadikan hujjah.” Ibnu Jauzi berlebihan dan memasukkannya ke dalam hadits-hadits maudhu.

Hadits tersebut adalah dalil tidak adanya pembatasan waktu mengusap baik ketika berada di tempat maupun ketika sedang dalam perjalanan. Pendapat ini diriwayatkan dari Malik dan pendapat lama Imam Asy-Syafi’i, akan tetapi hadits tersebut tidak bertentangan dengan makna hadits-hadits yang terdahulu dan tidak berlawanan dengannya, dan seandainya kuat, maka kemutlakannya dibatasi hadits-hadits terdahulu itu, sebagaimana hadits ini dibatasi dengan disyariatkannya bersuci sebagaimana yang telah dijelaskannya.

 

والله أعلمُ بالـصـواب

Download Sumber

 

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *