[ UIC 10.4 ] Kitab Subulus Salam Syarh Bulughul Maram 169

04. KITAB ZAKAT 07

0571

وَعَنْ سَهْلِ بْنِ أَبِي حَثْمَةَ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – قَالَ: «أَمَرَنَا رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -: إذَا خَرَصْتُمْ فَخُذُوا وَدَعُوا الثُّلُثَ فَإِنْ لَمْ تَدَعُوا الثُّلُثَ فَدَعُوا الرُّبُعَ» رَوَاهُ الْخَمْسَةُ إلَّا ابْنَ مَاجَهْ. وَصَحَّحَهُ ابْنُ حِبَّانَ وَالْحَاكِمُ

571. Dari Sahl bin abu Hatsmah berkata, Rasulullah SAW memerintahkan kami seraya bersabda, “Jika kalian menaksir –suatu barang- maka amblillah dan tinggalkanlah sepertiga, jika kalian tidak meninggalkan sepertiga maka tinggalkanlah seperempat.” HR. Al Khamsah, kecuali Ibnu Majah dan dishahihkan Ibnu Hibban dan Al Hakim.

[Dhaif: At Tirmidzi 643]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Tafsir Hadits

“Jika kalian menaksir –suatu barang- maka amblillah dan tinggalkanlah sepertiga (untuk pemilik harta), jika kalian tidak meninggalkan sepertiga maka tinggalkanlah seperempat.”

Ibnu al Qaththan menjelaskan bahwa di dalam sanadnya terdapat perawi yang majhul. Namun, Al Hakim mengatakan bahwa hadits ini diperkuat oleh hadits yang telah disepakati keshahihannya, “Bahwa Umar memerintahkannya untuk melakukan hal tersebut.” Kelihatannya yang ia maksud ialah apa yang telah diriwayatkan oleh Abdurrazaq, Ibnu Abi Syaibah dan Abu Ubaidah, “Bahwasanya Umar RA berkata kepada seorang tukang taksir –barang dagangan-, “Tinggalkan bagi mereka sejumlah kira-kira yang mereka makan dan yang berjauthan.” Ibnu Abdil Barr meriwayatkan secara marfu’:

«خَفِّفُوا فِي الْخَرْصِ فَإِنَّ فِي الْمَالِ الْعَرِيَّةَ وَالْوَطِيَّةَ وَالْأُكَلَةَ»

“Ringankalah dalam menaksir, karena sesungguhnya pada harta tersebut terdapat bagian pinjaman, yang berjatuhan dan yang dimakan.”

Para ulama berbeda pendapat dalam memahami hadits ini dalam dua golongan:

Pendapat pertama; Ditinggalkan sepertiga atau seperempat dari sepersepuluh.

Pendapat kedua; ditinggalkan sepertiga atau seperempat dari total hasil sebelum dibagi menjadi sepuluh bagian.

Asy-Syafi’i berkata, “Maksud hadits tersebut ialah hendaklah ditinggalkan atau disisakan sepertiga atau seperempat dari zakat, agar pemilik harta tersebut membagikannya kepada para kerabat dan tetangganya.”

Ada yang mengatakan bahwa hendaklah disisakan bagi orang tersebut dan keluarganya sekedar untuk makan. Di dalam Asy Syarh, disebutkan yang lebih utama hendaklah kembali kepada apa yang telah dijelaskan dalam hadits Jabir, yaitu meringankan taksiran, maka disisakan sepertiga atau seperempat dari sepersepuluh. Karena jumlah yang disisakan terkadang akan berjatuhan sebelum masa panen, sehingga ia tidak wajib untuk dizakati.

Ibnu Taimiyah berkata, “Sesungguhnya hadits ini sejalan dengan kaidah-kaidah syariat dan keutamaannya, ia sangat sesuai dengan hadits yang berbunyi, “Tidak ada zakat pada sayur-mayur.” karena sudah menjadi adat kebiasaan bahwa jika hasil tanaman tersebut telah siap dipanen, pemilik beserta keluarganya akan memakannya dan akan memberikan sebagian hasilnya kepada orang-orang, sehingga bagian yang telah dimakan dan diberikan tersebut bukan disimpan maupun tersisa, sehingga bagian tersebut seperti sayur-mayur yang tidak bisa disimpan.

Dengan begitu jelaslah bahwa adat kebiasaan tersebut hukumnya seperti hal yang tidak mungkin ditinggalkan, karena hati orang tersebut ingin memakan buah itu dalam kondisi segar, dan ia harus memberi orang-orang yang berada di sekitarnya, karena meninggalkan hal tersebut akan menyakitkan hati dan memberatkannya.

0572

عَنْ عَتَّابِ بْنِ أَسِيدٍ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – قَالَ: «أَمَرَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -: أَنْ يُخْرَصَ الْعِنَبُ كَمَا يُخْرَصُ النَّخْلُ وَتُؤْخَذُ زَكَاتُهُ زَبِيبًا» رَوَاهُ الْخَمْسَةُ، وَفِيهِ انْقِطَاعٌ

572. Dari Attab bin Asid berkata, Rasulullah SAW memerintahkan agar anggur ditaksir sebagaimana kurma, lalu zakatnya diambil setelah menjadi kismis –anggur kering-. HR. Al Khamsah, di dalam sanadnya ada yang putus.

[Dhaif: Abu Daud 1603]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

Rasulullah SAW memerintahkan agar anggur ditaksir sebagaimana kurma, lalu zakatnya diambil setelah menjadi kismis –anggur kering-. HR. Al Khamsah, di dalam sanadnya ada yang putus. Karena Said bin Musayyab meriwayatkannya dari Attab, dan Abu Daud telah berkata, Said bin Musayyab belum pernah mendengar dari Attab.” Abu Hatim berkata, “riwayat melalui Sa’id yang benar ialah bahwasanya Rasulullah SAW memerintahkan Attab”, secara mursal. An Nawawi berkata, “seandainya hadits tersebut mursal, namun ia didukung oleh perkataan para imam.”

Tafsir Hadits

Hadits ini adalah dalil yang menunjukkan wajibnya menaksir buah kurma dan anggur, karena perawi menggunakan lafazh ‘memerintahkan’. Hal itu menunjukkan bahwa Rasulullah SAW berbicara dengan kalimat perintah, dan makna asli perintah ialah wajib. Berdasarkan hal di atas, Asy-Syafi’i berpendapat bahwa hukum menaksir kurma dan anggur adalah wajib.

Al Hadawiyah berpendapat bahwa hukumnya mandub –sunnah-. Sedangkan Abu Hanifah berpendapat bahwa hukumnya haram, karena menaksir adalah tindakan mengira-ngira sesuatu yang belum jelas.

Bantahan atas pendapat Abu Hanifah, bahwa taksiran tersebut berdasarkan sebuah dugaan kuat, dan penggunaan dugaan kuat diakui oleh syariat.

Untuk menaksir seperti ini cukup satu orang yang adil, sedangkan ucapan orang fasik tidak bisa diterima oleh orang yang mengetahui, dan orang yang tidak mempunyai ilmu tentang sesuatu, maka ia tidak punya hak untuk berijtihad dalam masalah tersebut.

Alasan lain, bahwa Rasulullah SAW mengutus Abdullah bin Rawahah sendirian untuk mekasir harta orang-orang Khaibar, dan dalam posisi ini, seorang penaksir bertindak seperti seorang hakim, yang berijtihad dan bertindak sesuai dengan ijtihad tersebut.

Akan tetapi, jika hasil tanaman yang telah ditaksir tertimpa keburukan –seperti hama-, maka dalam hal ini Ibnu Abdil Barr berkata, “seluruh ulama telah bersepakat bahwa jika tanaman tersebut terkena bencana sebelum masa panen maka tidak ada jaminan –pemilik tidak dituntut untuk bertanggungjawab-.”

Dalam penaksiran tersebut ada beberapa manfaat, di antaranya adalah:

1. Untuk menjaga agar pemilik harta tidak berkhianat. Oleh karena itu, jika ia mengklaim adanya penurunan jumlah dari hasil taksiran yang dilaksanakan terdahulu, maka ia harus menunjukkan bukti atau penguat yang lain.

2. Untuk mengetahui dengan kelas berapa hak orang-orang fakir dalam harta tersebut.

3. Petugas bisa dengan mudah menarik jumlah zakat dengan jelas –saat panen tiba-.

4. Pemilik harta bisa mengetahui berapa bagian yang bebas ia makan, dan lain sebagainya.

Teks hadits di atas hanya menjelaskan penaksiran kurma dan anggur saja. Dalam hal ini ada yang berpendapat bahwa tanaman yang lain yang mungkin bisa diketahui jumlahnya maka ia dianalogikan kepada kurma dan anggur. Ada yang mengatakan bahwa cara ini hanya berlaku pada kurma dan anggur saja, karena tidak ada nash yang menjelaskan hal tersebut, dan ini yang kelihatannya lebih logis. Al Hadawiyah dan Asy-Syafi’iyah berpendapat bahwa penaksiran tidak bisa dilakukan pada tanaman –yang hasilnya tertutupi oleh kulit- karena tidak mungkin mengetahui perkiraan jumlahnya dengan baik karena ia tertutup oleh kulit tersebut. Oleh karena itu, dalam hal ini jika pemilik tanaman mengklaim adanya penurunan hasil dari jumlah taksiran, maka ia harus memberikan bukti atau cukup dengan bersumpah.

Bentuk atau cara penaksiran itu dapat dilakukan dengan cara mengelilingi pohon tersebut dan melihat semua buahnya, lalu berkata, ‘Taksirannya sekian jika kurma dalam keadaan segar dan setelah kering menjadi sekian.’

0573

عَنْ عَمْرِو بْنِ شُعَيْبٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ جَدِّهِ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا -: «أَنَّ امْرَأَةً أَتَتْ النَّبِيَّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -، وَمَعَهَا ابْنَةٌ لَهَا، وَفِي يَدِ ابْنَتِهَا مَسَكَتَانِ مِنْ ذَهَبٍ فَقَالَ لَهَا: أَتُعْطِينَ زَكَاةَ هَذَا؟ قَالَتْ: لَا. قَالَ: أَيَسُرُّك أَنْ يُسَوِّرَك اللَّهُ بِهِمَا يَوْمَ الْقِيَامَةِ سِوَارَيْنِ مِنْ نَارٍ؟ فَأَلْقَتْهُمَا» رَوَاهُ الثَّلَاثَةُ، وَإِسْنَادُهُ قَوِيٌّ، وَصَحَّحَهُ الْحَاكِمُ مِنْ حَدِيثِ عَائِشَةَ

573. Dari Amr bin Syuaib dari bapaknya dari kakeknya bahwasanya seorang wanita telah mendatangi Nabi SAW bersama anak perempuannya, dan di tangan anak tersebut terdapat dua gelang emas, kemudian Nabi SAW bertanya kepadanya, “Apakah engkau telah membayar zakat atas kedua barang tersebut?” wanita tersebut menjawab, ‘tidak’. Beliau bersabda, “Apakah engkau suka jika pada Hari Kiamat nanti Allah akan mengenakan dua gelang dari api padanya?” maka wanita tersebut melemparkan kedua gelang tersebut.” (HR. Imam Tiga, sanadnya kuat. Al Hakim menshahihkannya dari riwayat Aisyah RA)

[Hasan: Abu Daud 1563]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

Dari Amr bin Syuaib dari bapaknya dari kakeknya bahwasanya seorang wanita (ia adalah Asma’ binti Yazid bin As Sakan) telah mendatangi Nabi SAW bersama anak perempuannya, dan di tangan anak tersebut terdapat dua gelang emas, kemudian Nabi SAW bertanya kepadanya, “Apakah engkau telah membayar zakat atas kedua barang tersebut?” wanita tersebut menjawab, ‘tidak’. Beliau bersabda, “Apakah engkau suka jika pada Hari Kiamat nanti Allah akan mengenakan dua gelang dari api padanya?” maka wanita tersebut melemparkan kedua gelang tersebut.” (HR. Imam Tiga, sanadnya kuat. (Abu Daud meriwayatkannya dari Husain Al Mualim, dengan demikian ucapan At Tirmidzi: ‘saya tidak mengetahuinya kecuali dari Ibnu Luhaiah tidak benar) Al Hakim menshahihkannya dari riwayat Aisyah RA.

Hadits Aisyah RA yang diriwayatkan oleh Al Hakim dan perawi yang lain ialah:

«أَنَّهَا دَخَلَتْ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – فَرَأَى فِي يَدِهَا فَتَخَاتٍ مِنْ وَرِقٍ فَقَالَ مَا هَذَا يَا عَائِشَةُ فَقَالَتْ: صُغْتُهُنَّ؛ لِأَتَزَيَّنَ لَك بِهِنَّ يَا رَسُولَ اللَّهِ؛ فَقَالَ: أَتُؤَدِّينَ زَكَاتَهُنَّ؟ قَالَتْ: لَا، قَالَ: هُنَّ حَسْبُك مِنْ النَّارِ»

“bahwasanya ia mendatangi Rasulullah SAW. beliau melihat di tangannya terdapat cincin-cincin terbuat dari perak, lalu beliau bertanya, “Apa ini wahai Aisyah?” ia menjawab, “Aku telah membuatnya sebagai hiasan di hadapanmu, Wahai Rasulullah.” Beliau bertanya, “Apakah engkau telah mengeluarkan zakatnya? Ia menjawab, ‘belum’. Beliau bersabda: “Cincin-cincin tersebut akan menjadikan atasmu sebagian dari api neraka.” Al Hakim berkata Sanadnya sesuai syarat Ash-Shahihain.

Tafsir Hadits

Hadits ini menegaskan wajibnya zakat pada perhiasan. Secara zhahir hadits ini tidak menjelaskan adanya nisab, karena Rasulullah SAW memerintahkan untuk membersihkan –menyucikan- perhiasan-perhiasan tersebut dengan membayarkan zakat, yang biasanya tidak mencapai 5 uqiyah.

Dalam masalah ini terdapat 4 pendapat:

1. Wajibnya zakat pada perhiasan, berdasarkan hadits di atas. demikian menurut mazhab Al Hadawiyah dan beberapa ulama salaf, serta salah satu pendapat Asy-Syafi’i.

2. Tidak ada kewajiban zakat pada perhiasan, berdasarkan beberapa atsar yang diriwayatkan dari para salaf yang menjelaskan pendapat ini. demikian menurut mazhab Malik, Ahmad dan salah satu pendapat Asy-Syafi’i. namun jika hadits di atas telah jelas keshahihannya, maka atsar-atsar tersebut tidak berguna lagi.

3. Bentuk zakat perhiasan dengan cara meminjamkannya, berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Ad Daruquthni dari Anas dan Asma binti Abu Bakar.

4. Kewajiban zakatnya hanya sekali saja, sebagaimana yang telah diriwayatkan oleh Al Baihaqi dari Anas.

Pendapat yang paling jelas dalilnya ialah pendapat pertama, karena hadits di atas shahih dan kuat. Sedangkan nisabnya, menurut mereka yang mewajibkannya ialah nisab emas dan perak, walaupun sebenarnya hadits di atas tidak menjelaskannya, kelihatannya mereka membatasi hadits ini dengan hadits-hadits yang berkenaan dari zakat emas dan perak. Hukum wajib ini diperkuat oleh hadits berikut ini:

 

والله أعلمُ بالـصـواب

Download Sumber

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *