[ UIC 10.4 ] Kitab Subulus Salam Syarh Bulughul Maram 168

04. KITAB ZAKAT 06

0569

«وَعَنْ أَبِي مُوسَى الْأَشْعَرِيِّ وَمُعَاذٍ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا – أَنَّ النَّبِيَّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – قَالَ لَهُمَا: لَا تَأْخُذُوا فِي الصَّدَقَةِ إلَّا مِنْ هَذِهِ الْأَصْنَافِ الْأَرْبَعَةِ: الشَّعِيرُ، وَالْحِنْطَةُ، وَالزَّبِيبُ، وَالتَّمْرُ» رَوَاهُ الطَّبَرَانِيُّ وَالْحَاكِمُ.

569. Dari Abu Musa Al Asy’ari dan Muadz RA, bahwasanya Nabi SAW bersabda kepada mereka berdua, “Janganlah kalian mengambil zakat apa pun kecuali dalam 4 jenis berikut ini: syair –jewawut-, gandum, kismis –anggur kering- dan kurma.” HR. At Thabrani dan Al Hakim.

[Shahih: lihat Al Irwa 801. Ebook editor]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

Dari Abu Musa Al Asy’ari dan Muadz RA, bahwasanya Nabi SAW bersabda kepada mereka berdua, (saat beliau mengutus keduanya ke negeri Yaman untuk mengajarkan agama kepada penduduknya) “Janganlah kalian mengambil zakat apa pun kecuali dalam 4 jenis berikut ini: syair –jewawut-, gandum, kismis –anggur kering- dan kurma.” HR. At Thabrani dan Al Hakim.

Al Baihaqi berkata: perawi hadits ini tsiqah, dan sanadnya bersambung. At Thabrani meriwayatkan hadits ini dari Musa bin Thalhah dari Umar, “Sesungguhnya Rasulullah SAW mensyariatkan zakat pada keempat jenis tersebut.” Lalu ia menyebutkan hadits di atas. Abu Zur’ah berkata, ‘Hadits tersebut mursal’, kemudian beliau menyebutkan beberapa hal yang terkait dengan hadits tersebut untuk menguatkan perkataannya, lalu ia berkata, ‘Dan hadits-hadits mursal ini jalurnya berbeda-beda, dan masing-masing menguatkan yang lainnya, disamping itu terdapat hadits Abu Musa dan Muadz. Lalu ada perkataan Umar, Ali dan Aisyah RA , “Tidak ada kewajiban zakat pada sayur-mayur.”

Tafsir Hadits

Hadits ini menegaskan bahwa tidak ada kewajiban zakat kecuali pada 4 jenis tersebut. Inilah pendapat Al Hasan Al Bashri, Al Hasan bin Shalih, Ats Tsauri, Asy-Sya’bi, Ibnu Sirin dan salah satu pendapat yang diriwayatkan dari Ahmad. Dengan demikian zakat tidak wajib pada jagung.

Terdapat hadits Amr bin syu’aib dari bapaknya dari kakeknya menyebutkan 4 jenis di atas ditambah jagung. Hadits ini diriwayatkan oleh Ad Daruquthni tanpa menyebutkan jagung, dan diriwayatkan oleh Ibnu Majah dengan menyebutkan jagung. Kemudian Ibnu Hajar berkata, ‘Hadits ini wahin –lemah-, karena ia diriwayatkan oleh Muhammad bin Abdullah bin Al Arzumi dan ia adalah perawi matruk.

Namun dalam masalah ini terdapat banyak hadits mursal yang msk jagung, dan masing-masing saling menguatkan, demikian komentar Al Baihaqi. Namun nampaknya hal itu tidak bisa mengalahkan hadits bab ini yang jelas-jelas membatasi 4 jenis tersebut.

Asy-Syafi’i menyertakan jagung ke dalam 4 jenis tersebut dengan jalan qiyas, yang mana beliau mengqiyaskan jagung dengan keempat jenis di atas dengan alasan semuanya adalah bahan makanan pokok dalam kondisi normal. Karena makanan-makanan pokok yang dimakan hanya dalam kondisi terpaksa, tidak wajib dizakati. Dengan demikian mereka yang menggunakan analogi dalam menentukan hukum, lalu ia melihat bahwa alasan semua adalah makanan pokok bisa di antara, maka ia mewajibkan zakat pada jagung, sedangkan yang tidak bisa menerima alasan tersebut ia tidak mewajibkannya pada jagung.

Sedangkan Al Hadawiyah berpendapat bahwa zakat wajib dikeluarkan dari semua jenis hasil bumi, berdasarkan hadits yang bersifat umum, ‘Dari semua yang disiram langit dizakati sepersepuluh.’ Kecuali rumput kering dan kayu bakar, berdasarkan hadits Rasulullah SAW:

«النَّاسُ شُرَكَاءُ فِي ثَلَاثٍ»

‘semua manusia mempunyai hak bersama dalam tiga hal…’ [Shahih: Shahih Al Jami’ 6713]

Lalu mereka mengqiyaskan kayu bakar kepada rumput kering.

Pensyarah berkata, “Hadits Abu Musa dan Muadz merupakan hadits yang mencakup keseluruhan, dan nampaknya pendapat yang benar ialah pendapat yang membatasi zakat pada keempat jenis di atas.” menurut saya, karena hadits tersebut dengan jelas membatasi ruang lingkup bab zakat ini, yang tidak bisa dibantah dengan hadits umum maupun dengan qiyas, dengan begitu ia juga tidak bisa dibantah dengan hadits yang berbunyi:

«خُذْ الْحَبَّ مِنْ الْحَبِّ»

Ambilah biji dari biji. [Dhaif: Abu Daud 1599]; walaupun hadits ini bersifat umum dan jelas argumen yang kuat adalah argumen mereka yang membatasi zakat pada keempat hal di atas.

Demikian di dalam Al Manar, “Selain keempat jenis di atas merupakan bentuk kehati-hatian, baik dalam mewajibkan zakat maupun tidak mewajibkannya, namun kelihatannya pendapat yang kuat ialah pendapat yang tidak mewajibkan selain dari keempat jenis di atas.”

Menurut saya, “Dasar hukum yang qath’i menegaskan harta seorang muslim adalah haram, maka tidak boleh ada yang mengambil darinya, kecuali dengan dasar hukum yang qath’i pula, sedangkan argumen-argumen yang menyertakan jagung dalam keempat jenis di atas tidak bisa mematahkan dasar hukum yang qath’i tersebut. Kemudian dasar hukum qath’i yang lain; bahwa hukum asal setiap seseorang adalah bebas dari tuntutan apa pun. Dan jelas tidak ada dalil yang menggugurkan kedua hal ini, maka tidak ada sikap yang lebih hati-hati bagi seseorang kecuali dengan tidak mengambil zakat dari jagung dan yang lainnya, yang tidak mempunyai dasar hukum apa pun kecuali dalil umum yang telah dijelaskan dan dibatasi oleh hadits yang lain.

0570

وَلِلدَّارَقُطْنِيِّ، عَنْ مُعَاذٍ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – قَالَ: «فَأَمَّا الْقِثَّاءُ، وَالْبِطِّيخُ وَالرُّمَّانُ وَالْقَصَبُ، فَقَدْ عَفَا عَنْهُ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -» . وَإِسْنَادُهُ ضَعِيفٌ

570. hadits Ad Daruquthni dari Muadz bin Jabal RA berkata, “Sedangkan ketimun, semangka, delima dan tebu, maka Rasulullah SAW telah membebaskan –zakatnya. Sanadnya dhaif.

[Dhaif: lihat Taudihul Ahkam II/125. Ebook editor]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Tafsir Hadits

Hadits ini dhaif, karena di dalam sanadnya terdapat perawi yang bernama Muhammad bin Abdullah Al Azrami, demikian dijelaskan di dalam Hawasy Bulughul Maram yang ditulis oleh As Sayyid Muhammad bin Ibrahim bin Mufadhal rahimahullah. Sedangkan yang diriwayatkan oleh Ad Daruquthni dari Amr bin syu’aib dari bapaknya ia berkata, “Abdullah bin Amr ditanya mengenai tanaman bumi seperti, sayuran, mentimun dan khiyar –sejenis ketimun-. Maka beliau menjawab, tidak ada zakat dalam sayuran.” Hadits ini berasal dari riwayat Muhammad bin Abdullah al Azrami.

Sedangkan hadits yang diriwayatkan dari Muadz yang disebutkan di dalam kitab ini, maka Ibnu Hajar mengomentarinya di dalam At Talkhish, “Hadits tersebut terdapat kelemahan dan sanadnya ada yang putus, namun makna yang dikandungnya telah dijelaskan oleh hadits-hadits yang membatasi adanya zakat dalam empat jenis terdahulu.

Dan hadits:

«لَيْسَ فِي الْخَضْرَاوَاتِ صَدَقَةٌ»

“Tidak ada zakat di dalam sayur mayur”

Telah diriwayatkan oleh Ad Daruquthni secara marfu’ melalui jalur Musa bin Thalhah dan Muadz. At Tirmidzi berkomentar tentang hadits ini, mursal dan tidak marfu’ melalui Musa bin Thalhah dari Nabi SAW. maka jawabannya; bahwa Musa bin Thalhah ialah seorang tabi’i yang adil, maka orang yang menerima hadits mursal harus menerima hadits mursal milik Musa bin Thalhah. Dan hadits tersebut telah jelas diriwayatkan dari Ali dan Umar secara mauquf dan keduanya dihukumi sebagai hadits marfu’.

Sayuran adalah makanan yang tidak ditimbang dan tidak dianggap makanan pokok.

 

والله أعلمُ بالـصـواب

Download Sumber

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *