[ UIC 10.4 ] Kitab Subulus Salam Syarh Bulughul Maram 167

04. KITAB ZAKAT 05

0565

عَنْ عَلِيٍّ «أَنَّ الْعَبَّاسَ سَأَلَ النَّبِيَّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – فِي تَعْجِيلِ صَدَقَتِهِ قَبْلَ أَنْ تَحِلَّ، فَرَخَّصَ لَهُ فِي ذَلِكَ» . رَوَاهُ التِّرْمِذِيُّ وَالْحَاكِمُ

565. Dari Ali RA, bahwasanya Al Abbas RA bertanya –meminta izin- kepada Nabi SAW tentang menyegerakan zakatnya sebelum jatuh tempo, maka Nabi SAW memberikan keringanan –izin- kepadanya.” (HR. At Tirmidzi dan Al Hakim)

[Hasan: At Tirmidzi 678]

Tafsir Hadits

At Tirmidzi berkata, “Dalam masalah ini diriwayatkan bahwa Ibnu Abbas berkata, ‘Para ulama berbeda pendapat tentang zakat yang dikeluarkan sebelum jatuh tempo. Sebagian ulama berpendapat tidak boleh mengeluarkan zakat sebelum jatuh tempo, di antaranya adalah Sufyan. Sedangkan sebagian besar ulama berpendapat, jika ada seseorang yang mengeluarkan zakat sebelum jatuh tempo, maka zakatnya dianggap sah.”

Hadits di atas telah diriwayatkan oleh Ahmad, Ashabus Sunan dan Al Baihaqi. Al Baihaqi berkata, “Asy-Syafi’i berkata, ‘Diriwayatkan bahwasanya Rasulullah SAW meminjam zakat harta Al Abbas sebelum jatuh tempo. Namun saya tidak tahu apakah ucapan ini ditetapkan sebagai hadits apa tidak.’ Al Baihaqi berkata, ‘Yang dimaksud oleh Asy-Syafi’i ialah hadits nomor ini, dan hadits ini dikuatkan oleh hadits Abu Al Bukhturi dari Ali RA, bahwasanya Nabi SAW berkata:

«إنَّا كُنَّا احْتَجْنَا فَأَسْلَفَنَا الْعَبَّاسُ صَدَقَةَ عَامَيْنِ»

“Sesungguhnya kami sedang butuh, maka Al-Abbas meminjamkan zakatnya kepada kami selama dua tahun.”

Para perawi hadits ini orang-orang tsiqah, namun hadits ini munqathi.

Hadits ini diriwayatkan dari berbagai jalur, yang intinya menunjukkan bahwa Rasulullah SAW telah menyegerakan zakat Al Abbas untuk dua tahun. Namun dalam jalur periwayatan tersebut ada yang menjelaskan bahwa beliau menyegerakannya atau meminjamnya, dan dua kemungkinan ini bisa terjadi secara bersamaan. Dengan demikian, hadits-hadits ini menjadi argumen diperbolehkannya menyegerakan zakat sebelum jatuh tempo, demikianlah pendapat mayoritas ulama, sebagaimana yang diterangkan At Tirmidzi dan yang lainnya. Namun hal ini hanya boleh dilakukan oleh pemilik harta saja, tidak boleh dilakukan oleh seorang wali yang diberi amanah menjaga harta anak kecil maupun seseorang yang dititipi harta tersebut.

Sedangkan mereka yang melarang mengeluarkan zakat sebelum jatuh tempo berargumen dengan hadits berikut: “Tidak ada zakat sebelum berlalu satu tahun.” Sebagaimana yang dijelaskan oleh hadits-hadits terdahulu.

Bantahan atas pendapat ini, bahwa maksud dari hadits di atas tidak ada kewajiban untuk mengeluarkan zakat hingga berlalu satu tahun, hal ini tidak menafikan diperbolehkannya mengeluarkan zakat sebelum jatuh tempo.

Sedangkan argumen yang menganalogikan zakat dengan shalat sehingga orang yang mengeluarkan zakat sebelum jatuh tempo seperti orang yang mendirikan selalu sebelum waktunya, maka analogi ini tidak bisa diterima karena ada hadits yang membolehkannya dalam masalah zakat.

0566

عَنْ جَابِرٍ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – قَالَ: «لَيْسَ فِيمَا دُونَ خَمْسِ أَوْرَاقٍ مِنْ الْوَرِقِ صَدَقَةٌ، وَلَيْسَ فِيمَا دُونَ خَمْسِ ذَوْدٍ مِنْ الْإِبِلِ صَدَقَةٌ، وَلَيْسَ فِيمَا دُونَ خَمْسَةِ أَوْسُقٍ مِنْ التَّمْرِ صَدَقَةٌ» رَوَاهُ مُسْلِمٌ

566. Dari Jabir RA, dari Nabi SAW beliau bersabda, “Perak yang kurang dari 5 uqiyah tidak wajib dizakati, unta yang kurang dari 5 ekor tidak wajib dizakati, hasil tanaman yang kurang dari 5 wasaq tidak wajib dizakati.” (HR. Muslim)

[Shahih: Muslim 980]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Tafsir Hadits

Hadits ini menegaskan batasan nisab yang telah dijelaskan pada hadits-hadits terdahulu, bahwa nisab unta ialah 5 ekor, nisab perak ialah 200 dirham yang setara dengan 5 uqiyah, sedangkan nisab bahan makanan baru dijelaskan dalam hadits ini, yaitu 5 wasaq.

0567

وَلَهُ مِنْ حَدِيثِ أَبِي سَعِيدٍ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ -: «لَيْسَ فِيمَا دُونَ خَمْسَةِ أَوْسُقٍ مِنْ تَمْرٍ وَلَا حَبٍّ صَدَقَةٌ»

567. hadits Muslim dari Abu Said, “Kurma dan biji-bijian yang kurang dari 5 wasaq tidak wajib dizakati.’

[Shahih: Al Bukhari 1405 dan Muslim 979]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Asal hadits Abu Said itu Muttafaq alaih

Tafsir Hadits

Hadits ini menguatkan penjelasan di atas dengan tambahan lafazh kurma. Kemudian 1 wasaq sama dengan 60 sha, 1 sha sama dengan 4 mud, dan 1 mud sama dengan 1 1/3 rithl, sehingga 5 wasaq sama dengan 300 sha.

Ad Daudi menjelaskan, bahwa ukurannya yang tidak diperselisihkan ialah 4 kali raupan dua telapak tangan seseorang yang telapak tangannya tidak terlalu besar juga tidak terlalu kecil. Setelah adanya penjelasan ini pengarang Al Qamus mengatakan, ‘aku mencoba teori tersebut dan memang benar adanya.”

Hadits ini menegaskan bahwa zakat tidak wajib dikeluarkan dari harta benda berupa perak, unta, kurma dan hasil tanaman sebelum mencapai jumlah di atas, hal ini merupakan keringanan dan wujud kasih sayang Allah kepada hamba-Nya.

Nisab untuk perak dan unta telah disepakati para ulama, namun untuk nisab kurma dan hasil tanaman belum ada kesepakatan ulama, hal itu disebabkan karena adanya hadits berikut ini.

0568

عَنْ سَالِمِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ عَنْ أَبِيهِ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا – عَنْ النَّبِيِّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – قَالَ: «فِيمَا سَقَتْ السَّمَاءُ وَالْعُيُونُ أَوْ كَانَ عَثَرِيًّا الْعُشْرُ، وَفِيمَا سُقِيَ بِالنَّضْحِ نِصْفُ الْعُشْرِ» رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ، وَلِأَبِي دَاوُد: «إذَا كَانَ بَعْلًا الْعُشْرُ، وَفِيمَا سُقِيَ بِالسَّوَانِي أَوْ النَّضْحِ نِصْفُ الْعُشْرِ»

568. Dari Salim bin Abdullah dari bapaknya, bahwasanya Nabi SAW bersabda, “Pada tanaman yang disiram langit, mata air atau yang menemukan air sendiri dikeluarkan sepersepuluh, sedangkan yang disiram dengan alat maka dikeluarkan –zakatnya- seperduapuluh.” (HR. Al Bukhari)

Dalam riwayat Abu Daud disebutkan, “Atau tanaman yang mendapatkan air sendiri, dan pada tanaman yang disiram dengan hewan atau dengan alat yang lainnya maka dikeluarkan seperduapuluh.”

[Shahih: Al Bukhari 1483; Abu Daud 1596]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

“Pada tanaman yang disiram langit, (berupa hujan, salju, embun atau gerimis) mata air (yaitu sungai yang mengalir dan mengairi tanaman tanpa menggunakan alat bantu) atau yang menemukan air sendiri (Al Khaththabi berkata, ‘Yakni tanaman yang mengambil air melalui serapan akarnya karena posisi air dekat dengan permukaan tanah, sehingga tanaman bisa menyerapnya tanpa ada campur tangan manusia.” Pendapat ini adalah pendapat yang paling logis dari sekian banyak pendapat) dikeluarkan sepersepuluh, sedangkan yang disiram dengan alat (berupa alat yang ditarik oleh hewan seperti unta, sapi atau yang lainnya bahkan manusia) maka dikeluarkan –zakatnya- seperduapuluh.”

Dalam riwayat Abu Daud (dari Salim juga) disebutkan, “Atau tanaman yang mendapatkan air sendiri, (kata ba’lan bentun lain dari kata utsariyyan, sebagaimana yang disebutkan dalam asy syarh dan al Qamus, yang berarti tanaman yang tumbuh di sekitar mata air. Dan ada yang menafsirkannya, ia adalah setiap pohon kurma, tumbuhan dan tanaman yang tidak disirami. Atau ia adalah tanaman yang disirami hujan dari langit. Atau ia adalah pohon kurma yang menghisap air dengan akarnya) dan pada tanaman yang disiram dengan hewan atau dengan alat yang lainnya (yang mengandalkan kekuatan manusia, dan maksud dari semua ungkapan senada di atas ialah Shahih Muslim yang penyiramannya melelahkan dan membebani) maka dikeluarkan seperduapuluh.”

Tafsir Hadits

Hadits ini dengan jelas membedakan antara tanaman yang disiram dengan peralatan dan yang mendapat siraman dari langit maupun sungai. Dan jelas alasan di balik itu, bahwa bertambah susah payah mengurangi kewajiban yang harus dikeluarkan, ini adalah bentuk kasih sayang Allah kepada hamba-Nya.

Hadits ini juga menegaskan bahwa berapapun yang dihasilkan dari bumi berupa tanaman, baik sedikit maupun banyak harus dikeluarkan zakatnya. Dengan demikian hadits ini bertentangan dengan hadits Jabir dan hadits Abu Said.

Dalam menyikapi hal ini, para jumhur ulama berpendapat bahwa hadits Jabir dan hadits Abu Said membatasi dan memperjelas hadits ini, sehingga zakat tidak wajib dikeluarkan selama hasilnya tidak mencapai 5 wasaq.

Ada beberapa ulama di antaranya Zaid bin Ali dan Abu Hanifah berpendapat bahwa hadits ini diberlakukan apa adanya, sehingga zakat harus dikeluarkan berapa pun hasil yang didapat dari tanaman.

Pendapat yang benar ialah pendapat jumhur ulama, dengan alasan bahwa hadits yang menjelaskan nisab 5 wasaq ialah hadits shahih yang menjelaskan jumlah minimal yang harus dikeluarkan zakat darinya. Posisi hadits ini seperti hadits yang menyebutkan batasan 200 dirham sebagai nisab perak, ia menjelaskan dan membatasi hadits mutlak yang bermakna, ‘dari perak dikeluarkan sebesar 2,5%.” Dalam masalah ini tidak ada ulama yang berpendapat bahwa perak wajib dizakati, baik sedikit maupun banyak. Sedangkan perbedaan pendapat terjadi dalam masalah jika barang tersebut sedikit namun telah mencapai nisab.

Karena hadits ‘dari perak dikeluarkan sebesar 2,5%’ tidak lain hanyalah menjelaskan bagian yang harus dikeluarkan dari perak. Sedangkan penjelasan mengenai jumlah minimal yang mengharuskan seseorang mengeluarkan zakat diambil alih hadits yang menyebutkan bahwa nisab perak ialah 200 dirham. Demikian pula dalam masalah zakat tanaman ini, jumlah bagian yang harus dikeluarkan dijelaskan oleh hadits ‘pada tanaman yang disiram langit dikeluarkan sepersepuluh’, sedangkan penjelasan jumlah minimal yang mengharuskan seseorang mengeluarkan zakat maka diambil alih hadits yang menyebutkan bahwa nisab zakat tanaman ialah 5 wasaq.

Hal itu diperkuat oleh lanjutan hadits yang berbunyi, ‘Yang kurang dari 5 wasaq tidak wajib dizakati’, seakan-akan ucapan ini untuk menghindari kesalahpahaman dari hadits yang berbuyi pada tanaman yang disiram langit dikeluarkan sepersepuluh., demikian pula dengan hadits yang berbunyi ‘dibawah 5 uqiyah perak tidak wajib zakat.’

Selain penjelasan di atas ada satu kaidah yang menegaskan bahwa jika dalil umum bertentangan dengan dalil khusus, maka hukum dalil khusus yang digunakan, ketika tidak diketahui manakah yang lebih dulu disampaikan dari keduanya.

 

والله أعلمُ بالـصـواب

Download Sumber

 

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *