[ UIC 10.4 ] Kitab Subulus Salam Syarh Bulughul Maram 166

04. KITAB ZAKAT 04

0561

وَلِلتِّرْمِذِيِّ عَنْ ابْنِ عُمَرَ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا -: مَنْ اسْتَفَادَ مَالًا، فَلَا زَكَاةَ عَلَيْهِ حَتَّى يَحُولَ عَلَيْهِ الْحَوْلُ. وَالرَّاجِحُ وَقْفُهُ

561. diriwayatkan oleh At Tirmidzi dari Ibnu Umar RA ia berkata, “Barangsiapa memanfaatkan harta maka tidak ada kewajiban zakat padanya hingga berlalu satu tahun.” (menurut pendapat yang kuat, hadits ini mauquf)

[Isnadnya shahih: At Tirmidzi 632 dan mauquf pada Ibnu Umar]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Tafsir Hadits

Hadits ini diriwayatkan secara marfu’ oleh At Tirmidzi, namun yang benar ia mauquf pada Ibnu Umar. Hadits ini bisa juga dihukumi marfu’, karena dalam mengungkapkan maknanya tidak ada ruang untuk ijtihad. Hadits ini juga diperkuat oleh hadits-hadits lain yang bersumber pada Khulafa’ Ar Rasyidin dan yang lainnya.

Dengan demikian, jika telah mencapai satu tahun, hendaklah pemiliknya segera mengeluarkan zakatnya. Di dalam At Tarikh, Asy-Syafi’i dan Al Bukhari meriwayatkan hadits marfu’ dari Aisyah RA:

«مَا خَالَطَتْ الصَّدَقَةُ مَالًا قَطُّ إلَّا أَهْلَكَتْهُ»

“Tidaklah –harta- zakat itu bercampur dengan harta yang lain kecuali ia akan merusaknya.’ [Dhaif: Dhaif Al Jami 5057. Ebook editor]

Hadits ini juga diriwayatkan oleh Al Humaidi, dengan tambahan:

«يَكُونُ قَدْ وَجَبَ عَلَيْك فِي مَالِك صَدَقَةٌ فَلَا تُخْرِجُهَا فَيُهْلِكُ الْحَرَامُ الْحَلَالَ»

“Terkadang kamu telah berkewajiban membayar zakat atas hartamu, namun kamu tidak segera mengeluarkannya, maka harta haram tersebut akan merusak harta yang halal.’ [Dhaif: Al-Misykah 1793. Ebook editor]

Di dalam Al Muntaqa Ibnu Taimiyah berkata, “Berdasarkan hadits di atas, ada beberapa orang yang mengharuskan dikeluarkannya zakat dari harta itu sendiri tidak dari yang lainnya.’

0562

وَعَنْ عَلِيٍّ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – قَالَ: لَيْسَ فِي الْبَقَرِ الْعَوَامِلِ صَدَقَةٌ. رَوَاهُ أَبُو دَاوُد وَالدَّارَقُطْنِيّ، وَالرَّاجِحُ وَقْفُهُ أَيْضًا

562. Dari Ali RA, ia berkata, “Tidak ada zakat pada sapi yang dipekerjakan.” (HR. Abu Daud dan Ad Daruquthni, namun yang benar hadits ini mauquf)

[Shahih Mauquf: Abu Daud 1572]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

Ibnu Hajar berkata, ‘Al Baihaqi berkata, ‘Hadits ini diriwayatkan oleh An Nufaili dari Zuhair, namun disertai keraguan apakah hadits ini marfu’ atau mauquf.” Hadits dengan lafazh yang sama diriwayatkan dari Ibnu Abbas RA dan dinisbahkan kepada Ad Daruquthni, namun di dalam rangkaian sanadnya ada perawi yang tertinggal. Selain meriwayatkan dari Ali RA, Ad Daruquthni juga meriwayatkan dari Jabir RA dengan lafazh:

«لَيْسَ فِي الْبَقَرِ الْمُثِيرَةِ صَدَقَةٌ»

“Tidak ada kewajiban zakat pada sapi yang dipekerjakan.” (Al Baihaqi mendhaifkan sanadnya)

Tafsir Hadits

Hadits ini menjelaskan bahwa tidak ada kewajiban zakat pada sapi-sapi yang dipekerjakan, baik sapi tersebut dipelihara secara liar atau tidak.

Syarat pemeliharaan secara liar pada kambing telah dijelaskan dalam hadits Al Bukhari, sedangkan pada unta telah disebutkan dalam hadits Bahz yang diriwayatkan oleh Abu Daud dan An Nasa’i. Ad Dumairi berkata, “kemudian sapi –yang harus dizakati- disamakan dengan kambing dan unta.”

0563

وَعَنْ عَمْرِو بْنِ شُعَيْبٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ جَدِّهِ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا – أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – قَالَ: «مَنْ وَلِيَ يَتِيمًا لَهُ مَالٌ، فَلْيَتَّجِرْ لَهُ وَلَا يَتْرُكْهُ حَتَّى تَأْكُلَهُ الصَّدَقَةُ» رَوَاهُ التِّرْمِذِيُّ وَالدَّارَقُطْنِيّ، وَإِسْنَادُهُ ضَعِيفٌ، وَلَهُ شَاهِدٌ مُرْسَلٌ عِنْدَ الشَّافِعِيِّ

563. Dari Amr bin Syuaib dari bapaknya dari kakeknya Abdullah bin Amr, bahwasanya Rasulullah SAW bersabda, “barangsiapa menjadi wali atas seorang anak yatim yang memiliki harta, maka hendaklah ia menggunakan hartanya untuk berniaga atas nama anak tersebut, dan tidak membiarkan harta tersebut habis karena zakat.” (HR. At Tirmidzi dan Ad Daruquthni dengan sanad dhaif. Menurut Asy-Syafi’i ada riwayat mursal yang menguatkannya)

[Dhaif: At Tirmidzi 641]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

Hadits ini sanadnya dhaif, karena di dalam riwayat At Tirmidzi terdapat Al Mutsanna bin Ash Shabah, ia adalah seorang yang dhaif. Dan di dalam riwayat Ad Daruquthni terdapat Mundil bin Ali, ia adalah seorang yang dhaif, dan terdapat juga Al Azrami, ia adalah seorang yang matruk. Menurut riwayat Asy-Syafi’i hadits ini dikuatkan oleh riwayat lain yang mursal,

«ابْتَغُوا فِي أَمْوَالِ الْأَيْتَامِ لَا تَأْكُلُهُ الزَّكَاةُ»

“Berniagalah dengan harta anak-anak yatim, agar ia tidak habis karena zakat.’ [Dhaif: Dhaif Al Jami 33. Ebook editor]

Hadits ini beliau keluarkan dari riwayat Ibnu Juraij dari Yusuf bin Mahik secara mursal, lalu Asy-Syafi’i menguatkan hadits ini dengan hadits-hadits shahih yang menjelaskan wajibnya zakat secara mutlak.

Ada hadits serupa dengan hadits Amr ini yang diriwayatkan dari Anas Ra, dari Ibnu Umar secara mauquf dan dari Ali RA. Ad Daruquthni meriwayatkan dari Abu Rafi’, ia berkata, “Dahulu keluarga Abu Rafi’ mempunyai harta yang dijaga oleh Ali RA. Ketika Ali RA mengembalikan harta tersebut, mereka mendapati jumlah harta itu berkurang, namun setelah mereka menghitungnya dengan menambah jumlah zakat yang telah dikeluarkan ternyata jumlahnya sesuai. Lalu mereka mendatangi Ali RA, dan beliau berkata, “Apakah kalian mengira bahwa aku tidak akan mengeluarkan zakat dari harta benda yang berada padaku?”

Imam Malik dalam Al Muwatha meriwayatkan dari Aisyah RA bahwasanya ia –Aisyah RA- mengeluarkan zakat dari harta anak-anak yatim yang berada di bawah asuhannya.

Tafsir Hadits

Secara umum, hadits-hadits ini menjelaskan bahwa mengeluarkan zakat dari harta anak-anak hukumnya wajib, sebagaimana yang diwajibkan atas harta orang yang telah dewasa. Kewajiban tersebut dibebankan kepada wali dari anak-anak tersebut. Demikianlah pendapat jumhur ulama.

Diriwayatkan dari Ibnu Mas’ud RA, bahwasanya anak kecil wajib mengeluarkan zakatnya kelak setelah ia dewasa. Namun menurut Ibnu Abbas RA dan beberapa shahabat lainnya, bahwa yang harus dikeluarkan adalah 1/10 dari hartanya, hal ini berdasarkan keumuman hadits ..”pena diangkat..”. menurut saya hadits ini sama sekali tidak menunjukkan hal tersebut, dan ukuran 1/10 berlaku juga pada hal-hal yang lainnya berdasarkan hadits, “Dari perak dikeluarkan 2,5%.” Dan hadits-hadits serupa.

0564

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ أَبِي أَوْفَى قَالَ: «كَانَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – إذَا أَتَاهُ قَوْمٌ بِصَدَقَتِهِمْ قَالَ: اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَيْهِمْ» مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

564. Dari Abdullah bin Abu Aufa, ia berkata, “Jika ada kaum yang datang kepada Rasulullah SAW membawa zakatnya, beliau berdoa, “Ya Allah, berikanlah shalawat kepada mereka.” (Muttafaq alaih)

[Shahih: Al Bukhari 4166 dan Muslim 1078]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Tafsir Hadits

Apa yang dilakukan Rasulullah SAW sebagaimana tersebut dalam hadits merupakan implementasi dari firman Allah SWT:

خُذْ مِنْ أَمْوَالِهِمْ صَدَقَةً تُطَهِّرُهُمْ وَتُزَكِّيهِمْ بِهَا وَصَلِّ عَلَيْهِمْ

“Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka, dan berdoalah untuk mereka.” (QS. At-Taubah [9]: 103]

Dalam ayat tersebut Allah SWT memerintahkan kepada Nabi SAW untuk membacakan shalat kepada mereka, beliau pun melaksanakannya seraya mengucapkan doa ini,

«اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى آلِ أَبِي فُلَانٍ»

“Ya Allah, berikanlah shalawat kepada keluarga ayah si fulan.”

Beliau juga mendoakan keberkahan kepada orang yang membayar zakat, sebagaimana yang diriwayatkan oleh An Nasa’i,

اللَّهُمَّ بَارِكْ فِيهِ وَفِي أَهْلِهِ

“Ya Allah, berkahilah ia dan untanya.” [Isnadnya Shahih: An Nasa’i 2457]

Sebagian ahlu zhahir mengatakan bahwa imam wajib melakukan hal tersebut, sepertinya mereka memahami perintah tersebut dari ayat di atas. namun pendapat ini dibantah, seandainya hal itu wajib, tentu Nabi SAW akan mengajarkannya kepada para petugas zakat, sehingga perintah tersebut merupakan perintah khusus untuk Nabi, karena hanya shalawatnyalah yang bisa memberikan ketenangan.

Hadits ini menunjukkan diperbolehkannya membaca shalawat kepada seseorang selain para nabi, dimana seorang petugas zakat mengucapkannya kepada orang yang datang untuk membayar zakat kepadanya. Malik menganggap hal ini hukumnya makruh.

Al Khaththabi berkata, “Asal shalawat adalah doa, namun ia bisa bermacam-macam tergantung kepada obyeknya, jika Nabi SAW mengucapkan shalawat kepada umatnya, maka maksudnya ialah beliau mendoakan ampunan untuk mereka, dan jika umat membaca shalawat untuk Nabi SAW, maka maksudnya ialah mereka memohon agar Allah menambahkan kedekatan Nabi. Oleh karena itu, shalawat kepada orang-orang yang membayar zakat tersebut tidak layak diucapkan oleh selain Nabi SAW.

 

والله أعلمُ بالـصـواب

Download Sumber

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *