[ UIC 10.4 ] Kitab Subulus Salam Syarh Bulughul Maram 165

04. KITAB ZAKAT 03

0559

وَعَنْ بَهْزِ بْنِ حَكِيمٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ جَدِّهِ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ – قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -: «فِي كُلِّ سَائِمَةِ إبِلٍ: فِي أَرْبَعِينَ بِنْتُ لَبُونٍ، لَا تُفَرَّقُ إبِلٌ عَنْ حِسَابِهَا، مَنْ أَعْطَاهَا مُؤْتَجِرًا بِهَا فَلَهُ أَجْرُهَا، وَمَنْ مَنَعَهَا فَإِنَّا آخِذُوهَا وَشَطْرَ مَالِهِ، عَزْمَةً مِنْ عَزَمَاتِ رَبِّنَا، لَا يَحِلُّ لِآلِ مُحَمَّدٍ مِنْهَا شَيْءٌ» رَوَاهُ أَحْمَدُ وَأَبُو دَاوُد وَالنَّسَائِيُّ وَصَحَّحَهُ الْحَاكِمُ، وَعَلَّقَ الشَّافِعِيُّ الْقَوْلَ بِهِ عَلَى ثُبُوتِهِ.

559. Dari Bahz bin Hakim, dari bapaknya dari kakeknya, Rasulullah SAW bersabda, ‘Pada setiap unta yang dipelihara secara liar, dari setiap 40 ekor dikeluarkan seekor bintu labun, tanpa memilah-milah unta saat menghitungnya, barangsiapa mengeluarkannya dengan mengharapkan pahalanya maka baginya adalah pahalanya, sedangkan orang yang menghalanginya maka kami akan mengambilnya serta sebagian dari hartanya, ini adalah ketetapan dari ketetapan-ketetapan Tuhan kami, sedikitpun zakat itu tidak halal untuk keluarga Muhammad.” (HR. Ahmad, Abu Daud dan An Nasa’i, Al Hakim menshahihkannya, Asy-Syafi’i memberikan komentar atas ketetapan hadits ini)

[Hasan: Abu Daud 1575]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Biografi Perawi

Bahz bin Hakim, nama lengkapnya adalah Bahz bin Hakim bin Muawiyah bin Hidah Al Qusyairi. Ia adalah seorang tabi’i yang diperselisihkan, apakah ia bisa dijadikan hujjah atau tidak. Yahya bin Ma’in berkata, “Sanadnya shahih jika perawi lain selain Bahz adalah tsiqah.” Abu Hatim berkata, “Dia adalah seorang Syaikh yang haditsnya ditulis, tetapi tidak digunakan sebagai hujjah.” Asy-Syafi’i berkata, “Ia tidak bisa dijadikan sebagai hujjah.” Adz Dzahabi berkata, “Tidak ada seorang ulama pun yang meninggalkannya.”

Kakeknya, Muawiyah bin Hidah adalah shahabat Rasulullah SAW.

Penjelasan Kalimat

‘Pada setiap unta yang dipelihara secara liar, dari setiap 40 ekor dikeluarkan seekor bintu labun, (telah disebutkan terdahulu bahwa bintu labuun dikeluarkan jika jumlahnya telah mencapai 36 hingga 45 ekor, sehingga hadits di atas menguatkan bahwa jika jumlahnya telah mencapai 40 harus dikeluarkan bintu labuun, sedangkan penyebutan 40 di sini bisa berarti bisa tambah maupun kurang, jika tidak maka zhahir hadits ini bertentangan dengan hadits Anas RA terdahulu) tanpa memilah-milah unta saat menghitungnya, (jika unta-unta tersebut milik dua orang yang dipelihara secara campur maka tidak boleh dipisahkan) barangsiapa mengeluarkannya dengan mengharapkan pahalanya maka baginya adalah pahalanya, sedangkan orang yang menghalanginya maka kami akan mengambilnya (dengan sungguhh-sungguh karena hukumnya wajib) serta sebagian dari hartanya, ini adalah ketetapan dari ketetapan-ketetapan Tuhan kami, sedikitpun zakat itu tidak halal untuk keluarga Muhammad.” (HR. Ahmad, Abu Daud dan An Nasa’i, Al Hakim menshahihkannya, Asy-Syafi’i memberikan komentar atas ketetapan hadits ini) (Asy-Syafi’i berkata, “Hadits ini tidak ditetapkan sebagai hujjah oleh ulama hadits, jika hadits ini adalah hujjah pastilah kami mengatakannya.” Ibnu Hibban berkata, “Bahz sering keliru, jika tidak tentulah aku telah memasukkannya ke dalam kelompok perawi yang tsiqah, ia adalah salah satu perawi yang statusnya mengharuskanku untuk beristikharah kepada Allah.”)

Tafsir Hadits

Hadits ini menegaskan bahwa penguasa berhak untuk mengambil zakat secara paksa dari orang-orang yang tidak mau mengeluarkannya, dan kelihatannya hukum ini adalah ijma ulama. Dan niat penguasa sudah cukup sebagai keputusan. Dalam masalah ini, pemaksaan telah membebaskan pemilik harta dari kewajiban walaupun ia tidak mendapatkan pahala karenanya.

Sementara itu, pengambilan dari sebagian harta mereka adalah sebagai hukuman atas perbuatan mereka. Ada yang mengatakan bahwa hukum ini telah dinasakh, tetapi ia tidak menyebutkan satu dalil pun atas pernyataan tersebut. Bahkan banyak hadits-hadits lain yang disebutkan di dalam kitab Asy Syarh, yang menguatkan adanya hukuman ini.

Ibnu Hajar menyatakan, bahwa hadits tersebut sama sekali tidak menunjukkan adanya hukuman dengan cara mengambil sebagian harta selain zakat tersebut. Berdasarkan adanya satu riwayat yang membaca teks hadits “Syutira Maluhu” yang bermakna bahwa harta orang tersebut dibagi menjadi dua, lalu petugas zakat mengambil zakat dari bagian yang terbaik dari hukuman.

Komentar saya, disebutkan di dalam kitab An Nihayah, “Al Harbi berkata, ‘Telah keliru perawi yang meriwayatkan lafazh hadits yang maknanya bahwa harta orang tersebut dibagi menjadi dua….’ sebagaimana yang telah disebutkan oleh Ibnu Hajar.” Hal senada disampaikan oleh pengarang Dhau’ An Nahar disebutkan berdasarkan riwayat ini, maka diperbolehkan menghukum seseorang dengan hartanya, karena mengambil zakat dari bagian terbaik merupakan hukuman, sebab harta yang seharusnya diambil adalah harta yang sedang-sedang saja bukan yang terbaik.

Setelah selang waktu saya mendapati Imam An Nawawi membantah pendapat yang mengatakan bahwa hadits Bahz tidak menunjukkan diperbolehkannya pemberian hukuman pada harta, beliau menjelaskan, ‘Jika petugas zakat mengambil zakat dari bagian yang terbaik maka ia telah mengambil nilai lebih dari yang seharusnya ia ambil, itu merupakan sebuah hukuman bagi pemilik harta.’

Hanya saja seandainya hadits Bahz ini shahih, maka ia hanya menunjukkan diperbolehkannya memberikan hukuman pada harta orang yang menolak memberikan zakat saja, dan tidak bisa digunakan pada permasalahan lain, kemudian sebagian harta yang diambil tersebut menjadi zakat juga. Sehingga tata cara pengambilan dan pembagiannya terhadap yang berhak persis sebagai hukum zakat.

Dan hukum ini hanya berlaku pada zakat saja, sedangkan permasalahan yang lain tidak bisa dikenakan hukum ini, karena jika hal itu dipaksakan maka kita harus menganalogikan permasalahan tersebut dengan zakat, padahal tidak ada nash yang menjelaskan illah dibalik hukuman tersebut, sedangkan illah yang tidak berdasarkan satu nash tidak bisa memberikan sebuah praduga yang bisa digunakan sebagai sandaran hukum.

Pada sisi lain, keharaman harta seorang Muslim telah ditegaskan oleh dalil yang qath’i sebagaimana keharaman darah mereka. Sehingga tidak diperbolehkan mengambil harta seorang muslim tanpa ada dalil, dan sudah jelas bahwa selain masalah hukuman bagi orang yang menolak memberikan zakat tidak ada nashnya yang qath’i. bahkan, seandainya dipaksakan hadits Bahz ini sebagai dalil, tetap saja hadits Bahz ini adalah hadits ahad yang hanya memberikan kekuatan praduga, bagaimana mungkin hadits ahad ini akan dimenangkan atas hadits yang qath’i?”

Kemudian pada masa-masa ini pihak pemerintah telah kelewatan dalam memberlakukan hukuman dengan harta, yang tidak bisa diterima oleh akal sehat maupun syariat. Urusan kepemerintahan dipegang oleh orang-orang bodoh yang tidak mengetahui masalah syariat sama sekali, dan tidak mengenal norma-norma agama sama sekali. Ambisi mereka tidak lain hanya bagaimana cara merampas harta orang-orang yang berada di bawah kekuasaannya, lalu mereka melegalkan perbuatannya dengan sebutan penertiban dan lain sebagainya. Lalu mereka menghambur-hamburkan harta rampasan tersebut untuk kepentingan pribadi mereka, mereka memakannya, memperluas tanahnya dan membangun megah rumahnya di berbagai daerah. Inna lillahi wa inna ilaihi rajiun.

Para penguasa tersebut tidak memberlakukan hukuman had kepada para pencuri dan peminum arak, sebagai gantinya mereka meminta uang tebusan kepada mereka. Ada juga yang memberlakukan keduanya, yaitu had dan tebusan uang. Semua tindakan itu hukumnya haram secara mutlak, namun sayangnya yang tua telah bongkotan –tak tahu diri- dan yang muda mulai ikutan, sedangkan para ulama mendiamkannya sehingga masalah pun kian semakin rawan.

Sedangkan haramnya zakat untuk keluarga Muhammad SAW akan dibahas pada pembahasan berikutnya.

0560

وَعَنْ عَلِيٍّ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -: «إذَا كَانَتْ لَك مِائَتَا دِرْهَمٍ – وَحَالَ عَلَيْهَا الْحَوْلُ – فَفِيهَا خَمْسَةُ دَرَاهِمَ، وَلَيْسَ عَلَيْك شَيْءٌ حَتَّى يَكُونَ لَك عِشْرُونَ دِينَارًا، وَحَالَ عَلَيْهَا الْحَوْلُ، فَفِيهَا نِصْفُ دِينَارٍ، فَمَا زَادَ فَبِحِسَابِ ذَلِكَ، وَلَيْسَ فِي مَالِ زَكَاةٍ حَتَّى يَحُولَ عَلَيْهِ الْحَوْلُ» . رَوَاهُ أَبُو دَاوُد، وَهُوَ حَسَنٌ، وَقَدْ اُخْتُلِفَ فِي رَفْعِهِ

560. Dari Ali RA berkata, Rasulullah SAW bersabda, “Jika kamu memiliki 200 dirham dan telah berada padamu selama setahun maka wajib dikeluarkan 5 dirham. Kamu tidak wajib mengeluarkan apa-apa hingga kamu memiliki 20 dinar dan telah berada padamu selama setahun, jika demikian maka wajib dikeluarkan setengah dinar, dan setiap pertambahan maka seperti itulah cara menghitungnya, harta benda tidak wajib dikeluarkan zakatnya hingga mencapai haul.” (HR. Abu Daud, hadits ini hasan, dan diperselisihkan tentang kemarfuannya)

[shahih: Abu Daud 1573]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

“Jika kamu memiliki 200 dirham dan telah berada padamu selama setahun maka wajib dikeluarkan 5 dirham (2,5% dari semua). Kamu tidak wajib mengeluarkan apa-apa (dari zakat emas) hingga kamu memiliki 20 dinar dan telah berada padamu selama setahun, jika demikian maka wajib dikeluarkan setengah dinar, dan setiap pertambahan maka seperti itulah cara menghitungnya, harta benda tidak wajib dikeluarkan zakatnya hingga mencapai haul.”

Hadits ini diriwayatkan oleh Abu Daud dari Al Harits Al Awar secara marfu’, kecuali teks … dan setiap pertambahan maka seperti itulah cara menghitungnya, harta benda tidak wajib dikeluarkan zakatnya hingga mencapai haul (satu tahun).” Abu Daud berkata, “Saya tidak tahu apakah ini ucapan Ali RA atau ucapan Rasulullah SAW.”

Ungkapan ini menegaskan bahwa para ulama berbeda pendapat dalam menentukan asal teks ini. di dalam kitab At Talkhish, Ibnu Hajar menjelaskan bahwa hadits tersebut cacat, dan beliau juga menjelaskan tentang cacatnya.

Namun, Ad Daruquthni meriwayatkan teks tersebut secara marfu’ dari Ibnu Umar RA dengan lafazh:

«لَا زَكَاةَ فِي مَالِ امْرِئٍ حَتَّى يَحُولَ عَلَيْهِ الْحَوْلُ»

“Tidak ada kewajiban zakat pada harta seseorang hingga mencapai haul (satu tahun).”

Beliau juga meriwayatkan dari Aisyah RA secara marfu dengan lafazh:

«لَيْسَ فِي الْمَالِ زَكَاةٌ حَتَّى يَحُولَ عَلَيْهِ الْحَوْلُ»

“Tidak ada kewajiban zakat pada harta hingga mencapai haul.” [Dhaif: Dhaif Al Jami’ 4910, dari Anas. Ebook editor]

Selain kedua hadits tersebut, beliau juga mempunyai beberapa jalur periwayatan yang lain dari Ibnu Umar dan Aisyah RA.

Tafsir Hadits

Hadits ini menunjukkan bahwa nishab zakat perak adalah 200 dirham. Pendapat ini merupakan ijma ulama, namun mereka berselisih dalam menentukan ukuran satu dirham, sebagaimana tersebut di dalam kitab Asy Syarh. Disebutkan di dalam Syarh Ad Dumairi bahwa satu dirham sama dengan 6 daniq, 10 dirham sama dengan 7 mitsqal, dan ukuran mitsqal tidak pernah berubah sejak masa jahiliyah hingga Islam. Dalam kitab tersebut disebutkan bahwa kaum muslimin telah berijma atas hal ini. dijelaskan dalam Al Manar bahwa jika perak tersebut berupa qirsy [uang logam yang bernilai 1/1000 pound] yang dikenal sekarang, maka satu nisab perak sama dengan 13 qirsy menurut Al Hadawiyah, atau 14 qirsy menurut Asy-Syafi’iyah, atau 20 qirsy lebih sedikit menurut Al Hanafiyah, sedangkan nisab emas adalah 15 Ahmar menurut Al Hadawiyah atau 20 Ahmar menurut Al Hanafiyah, kemudian dijelaskan bahwa ini hanyalah perkiraan saja.

Dalam hadits ini juga dijelaskan bahwa zakat yang harus dikeluarkan dari 200 dirham adalah 2,5 %. Ini merupakan ijma ulama.

Adapun teks yang berbunyi, ‘Dan setiap pertambahan maka seperti itulah cara menghitungnya’, diperselisihkan ulama akan sumbernya. Hadits ini menunjukkan bahwa setiap ada pertambahan maka ada zakat yang harus dikeluarkan sesuai dengan prosentase yang ditunjukkan dalam hadits. Inilah pendapat yang diikuti oleh sebagian ulama.

Diriwayatkan dari Ali RA dan Ibnu Umar bahwasanya mereka berkata, “Setiap kelebihan atas nisab perak maka dikeluarkan 2,5% baik kelebihan atsar sedikit maupun banyak, dan tidak ada waqsh –jumlah antara nisab ke nisab selanjutnya yang tidak diwajibkan zakat pada jumlah tersebut- kemungkinan mereka memahami hadits Jabir yang berbunyi:

وَلَيْسَ فِيمَا دُونَ خَمْسِ أَوَاقِيَّ صَدَقَةٌ»

“[Perak] yang kurang dari 5 uqiyah tidak wajib zakat.”

Bahwa jika jumlah perak kurang dari 5 uqiyah, maka tidak wajib dikeluarkan zakat, namun jika ada tambahan yang melebihi 5 uqiyah tersebut, maka harus dikeluarkan zakatnya 2,5% dari tambahan tersebut, walaupun tambahan tersebut kurang dari 5 uqiyah.

Sedangkan dalam zakat hasil tanaman, An Nawawi menyebutkan dalam Syarh Muslim, bahwa setiap kelebihan dikeluarkan zakat darinya tanpa waqsh dan ini merupakan ijma ulama.

Sedangkan hadits Abu Said RA –yang telah lalu-:

«وَلَيْسَ فِيمَا دُونَ خَمْسَةِ أَوْسَاقٍ مِنْ تَمْرٍ وَلَا حَبٍّ صَدَقَةٌ»

“Kurma maupun biji-bijian yang kurang dari 5 wasaq tidak wajib dikeluarkan zakat.”

Bahwa, jika jumlah yang kurang dari 5 wasaq tersebut bukan kelebihan dari 5 wasaq yang lain maka ia tidak wajib dikeluarkan zakat darinya. Penjelasan ini memperkuat pendapat Ali dan Ibnu Umar.

Sabda beliau, “Dan kamu tidak wajib mengeluarkan apa-apa hingga kamu memiliki 20 dinar”, menjelaskan bahwa nisab emas ialah 20 dinar yang darinya harus dikeluarkan ½ dinar yaitu 2,5%. Angka 2,5% ini berlaku pada perak dan emas, baik yang sudah dibentuk maupun belum.

Dalam hadits marfu dari Abu Said RA yang diriwayatkan Ad Daruquthni disebutkan:

«وَلَا يَحِلُّ بِالْوَرِقِ زَكَاةٌ حَتَّى يَبْلُغَ خَمْسَ أَوَاقٍ»

“Dan tidak ada zakat pada perak hingga mencapai 5 uqiyah.’

Dalam hadits marfu’ Jabir RA:

«لَيْسَ فِيمَا دُونَ خَمْسِ أَوَاقٍ مِنْ الْوَرِقِ صَدَقَةٌ»

“Dibawah 5 uqiyah dari perak tidak ada kewajiban zakat.’

Sedangkan untuk zakat emas dijelaskan dalam hadits nomor ini.

Lalu Ibnu Hajar meriwayatkan dari Asy-Syafi’i bahwasanya beliau berkata, “Rasulullah SAW mewajibkan zakat perak, lalu orang-orang mengambil zakat emas entah hal tersebut berdasarkan hadits yang belum saya ketahui atau berdasarkan kepada qiyas.” Ibnu Abdil Barr berkata, “Tidak ada hadits kuat yang menjelaskan masalah zakat emas dari Nabi SAW, yang diriwayatkan melalui jalur ahad.” Beliau juga sempat menyinggung hadits yang diriwayatkan oleh Abu Daud dan Ad Daruquthni ini.

Menurut saya firman Allah SWT:

{وَالَّذِينَ يَكْنِزُونَ الذَّهَبَ وَالْفِضَّةَ وَلا يُنْفِقُونَهَا فِي سَبِيلِ اللَّهِ}

“Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak dan tidak menafkahkannya pada jalan Allah.” (QS. At-Taubah [9]: 34]; mengisyaratkan adanya kewajiban berzakat pada emas. Disamping itu Al Bukhari, Abu Daud, Ibnu Al Mundzir, Ibnu Abi Hatim dan Ibnu Mardawih meriwayatkan dari Abu Hurairah RA, bahwa Rasulullah SAW bersabda:

«مَا مِنْ صَاحِبِ ذَهَبٍ وَلَا فِضَّةٍ لَا يُؤَدِّي حَقَّهُمَا إلَّا جُعِلَتْ لَهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ صَفَائِحُ وَأُحْمِيَ عَلَيْهِ»

“Tidaklah seseorang yang memiliki emas atau perak, lalu ia tidak menunaikan hak keduanya, kecuali pada hari kiamat akan dijadikan untuknya lembaran-lembaran, lalu ia dipanggang di atasnya.” [Shahih: Muslim 987 tidak terdapat dalam Al Bukhari; Shahih Al Jami’ 5729 ebook editor]

Dan tentu hak keduanya adalah zakat.

Dalam hal ini terdapat banyak hadits yang saling menguatkan, hadits-hadits tersebut dimuat dalam Ad Durru Al Mantsur. Dan dalam menghitung nisab keduanya diharapkan tidak terjadi manipulasi sama sekali, tetapi dijelaskan dalam syarh Ad Dumairi Ala Al Minhaj, jika manipulasi tersebut sebanding dengan biaya pembentukan emas atau pemurniannya, maka hal itu masih bisa ditolerir, dan itulah yang banyak berlaku di kalangan masyarakat.

Hadits ini juga menegaskan bahwa zakat harta tidak wajib dikeluarkan hingga berlalu satu tahun –mencapai haul- demikian yang disampaikan oleh jumhur ulama. Namun ada pendapat lain yang dilontarkan oleh beberapa shahabat, tabi’in, beberapa keluarga nabi dan Daud, mereka berpendapat bahwa haul tidak disyaratkan dengan berdasarkan lafazh hadits: “Pada perak dikeluarkan –zakat- 2,5%.”

Bantahan atas hadits ini, bahwa hadits ini diperjelas oleh hadits-hadits yang menyebutkan adanya syarat haul. Dan di antara hadits-hadits tersebut ialah hadits nomor berikut ini.

 

والله أعلمُ بالـصـواب

Download Sumber

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *