[ UIC 10.4 ] Kitab Subulus Salam Syarh Bulughul Maram 164

04. KITAB ZAKAT04. KITAB ZAKAT 02

0556

«وَعَنْ مُعَاذِ بْنِ جَبَلٍ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – أَنَّ النَّبِيَّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – بَعَثَهُ إلَى الْيَمَنِ، فَأَمَرَهُ أَنْ يَأْخُذَ مِنْ كُلِّ ثَلَاثِينَ بَقَرَةً تَبِيعًا أَوْ تَبِيعَةً، وَمِنْ كُلِّ أَرْبَعِينَ مُسِنَّةً، وَمِنْ كُلِّ حَالِمٍ دِينَارًا أَوْ عَدْلَهُ مَعَافِرِيًّا» . رَوَاهُ الْخَمْسَةُ، وَاللَّفْظُ؛ لِأَحْمَدَ، وَحَسَّنَهُ التِّرْمِذِيُّ، وَأَشَارَ إلَى اخْتِلَافٍ فِي وَصْلِهِ، وَصَحَّحَهُ ابْنُ حِبَّانَ وَالْحَاكِمُ

556. Dari Muadz bin Jabal RA bahwasanya Nabi SAW mengutus ke negeri Yaman, beliau memerintahkannya untuk mengambil satu sapi tabii, baik betina maupun jantan dari setiap 30 ekor sapi, mengambil satu sapi musinnah dari setiap 40 ekor sapi, dan mengambil satu Dinar atau yang setara dengannya berupa pakaian maafiri dari setiap orang yang telah baligh. (HR. Al Khamsah dengan lafazh Ahmad, At Tirmidzi menghasankannya tapi ia menunjukkan adanya perselisihan pendapat tentang maushulnya hadits ini, sedangkan Ibnu Hibban dan Al Hakim menshahihkannya)

[Shahih: Abu Daud 1576]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

Dari Muadz bin Jabal RA bahwasanya Nabi SAW mengutus ke negeri Yaman, beliau memerintahkannya untuk mengambil satu sapi tabii, (sapi yang telah berumur satu tahun) baik betina maupun jantan (beliau diberi kebebasan untuk memilih antara keduanya) dari setiap 30 ekor sapi, mengambil satu sapi musinnah (sapi yang telah berumur 2 tahun) dari setiap 40 ekor sapi, dan mengambil satu Dinar atau yang setara dengannya berupa pakaian maafiri (nama satu daerah di Yaman) dari setiap orang yang telah baligh. (dalam lafazh Abu Daud dijelaskan bahwa ini adalah Jizyah dari mereka yang tidak memeluk agama Islam)

At Tirmidzi menganggap hadits ini sebagai hadits mursal karena perawi –Masruq- tidak pernah bertemu langsung dengan Muadz. Sepertinya dalam hal ini At Tirmidzi sependapat dengan Al Bukhari bahwa harus terjadi pertemuan langsung antara perawi.

Jumhur menganggap hadits ini adalah hadits marfu’, karena Masruq adalah orang Hamadzan yang tinggal di negeri Yaman, ia berada di sana pada saat Muadz berada di Yaman sehingga mungkin terjadi pertemuan antara keduanya.

Tafsir Hadits

Hadits ini menjelaskan bahwa jika jumlah sapi belum mencapai 30 ekor, maka tidak wajib dikeluarkan zakatnya. Namun diriwayatkan dari Az Zuhri, ia berpendapat bahwa pada tiap 5 ekor sapi dikeluarkan zakat berupa seekor kambing berdasarkan qiyas kepada unta.

Jumhur membantah pendapat Az Zuhri ini, bahwa nishab zakat tidak bisa ditetapkan dengan qiyas, ditambah lagi adanya riwayat yang menjelaskan:

«لَيْسَ فِيمَا دُونَ ثَلَاثِينَ مِنْ الْبَقَرِ شَيْءٌ»

“Di bawah jumlah 30 ekor sapi tidak wajib mengeluarkan apa-apa.”

Walaupun hadits ini sanadnya tidak diketahui, tetapi isi hadits Muadz menguatkannya.

0557

وَعَنْ عَمْرِو بْنِ شُعَيْبٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ جَدِّهِ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا – قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -: «تُؤْخَذُ صَدَقَاتُ الْمُسْلِمِينَ عَلَى مِيَاهِهِمْ» رَوَاهُ أَحْمَدُ.

وَلِأَبِي دَاوُد أَيْضًا: «لَا تُؤْخَذُ صَدَقَاتُهُمْ إلَّا فِي دُورِهِمْ»

557. Dari Amr bin syu’aib dari bapaknya dari kakeknya, ia berkata, Rasulullah SAW bersabda, “Zakat orang-orang Muslim diambil dari tempat sumber air mereka.” (HR. Ahmad).

Di dalam hadits Abu Daud disebutkan, “Zakat mereka tidak diambil kecuali di rumah-rumah mereka.”

[Shahih: Shahih Al Jami’ 2904; Abu Daud 1591]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

Dari Amr bin syu’aib dari bapaknya dari kakeknya, ia berkata, Rasulullah SAW bersabda, “Zakat orang-orang Muslim diambil dari tempat sumber air mereka.” (tempat mereka memberi minum hewan, khusus zakat hewan ternak)

Di dalam hadits Abu Daud (dari Amr bin Syu’aib) disebutkan, “Zakat mereka tidak diambil kecuali di rumah-rumah mereka.” (dalam riwayat lain dari Abu Daud dan An Nasa’i disebutkan:

«لَا جَلَبَ وَلَا جَنَبَ وَلَا تُؤْخَذُ صَدَقَاتُهُمْ إلَّا فِي دُورِهِمْ»

“Zakat hewan ternak tidak disetorkan kepada petugas pengumpul zakat, petugas tidak boleh berada di tempat yang jauh dan tidaklah zakat mereka diambil kecuali di rumah-rumah mereka.” )

Tafsir Hadits

Hadits ini menjelaskan bahwa petugaslah yang harus datang ke rumah pemilik harta. Hadits Ahmad khusus untuk zakat hewan ternak, sedangkan hadits Abu Daud untuk semua jenis zakat.

Abu Daud meriwayatkan dari Jabir bin Atik secara marfu’:

«سَيَأْتِيكُمْ رَكْبٌ مُبْغَضُونَ فَإِذَا أَتَوْكُمْ فَرَحِّبُوا بِهِمْ وَخَلُّوا بَيْنَهُمْ وَبَيْنَ مَا يَبْتَغُونَ فَإِنْ عَدَلُوا فَلِأَنْفُسِهِمْ وَإِنْ ظَلَمُوا فَعَلَيْهَا وَأَرْضُوهُمْ فَإِنَّ تَمَامَ زَكَاتِكُمْ رِضَاهُمْ»

“Akan datang kepada kalian rombongan yang dibenci –petugas zakat-, jika mereka mendatangi kalian maka sambutlah mereka, dan berilah mereka kesempatan untuk menunaikan tugas mereka, jika mereka berbuat adil maka kebaikan bagi mereka, dan jika mereka berbuat zhalim maka itu tanggung jawab mereka, buatlah mereka senang, karena sesungguhnya sempurnanya zakat kalian adalah kesenangan mereka.” [Dhaif: Abu Daud 1588]

Hadits ini menjelaskan bahwa para petugas zakat mendatangi pemilik harta, dan mereka harus menerima para petugas itu walaupun berbuat zhalim terhadap mereka. Ahmad meriwayatkan dari Anas RA,

«أَتَى رَجُلٌ مِنْ بَنِي تَمِيمٍ فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ إذَا أَدَّيْت الزَّكَاةَ إلَى رَسُولِك فَقَدْ بَرِئْت مِنْهَا إلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ قَالَ: نَعَمْ وَلَك أَجْرُهَا وَإِنَّمَا عَلَى مَنْ بَدَّلَهَا»

bahwasanya seseorang dari Bani Tamim telah datang kepada Rasulullah SAW seraya berkata, “Wahai Rasulullah, jika aku telah membayar zakat kepada orang yang engkau utus, apakah aku telah terbebas dari tanggung jawabku terhadap Allah dan Rasul-Nya?” Rasulullah SAW menjawab, “Ya dan bagimu pahalanya sedangkan dosanya atas orang yang telah menggantinya atau menukarnya.” [Dhaif: Takhrij Musykilah Al Faqr 71. Ebook editor]

kemudian Muslim meriwayatkan hadits dari Jabir secara marfu’ bahwasanya ketika ada orang-orang Arab Badui mendatangi Rasulullah SAW seraya berkata, “Sesungguhnya ada para petugas zakat yang mendatangi kami lalu mereka menzhalimi kami.” Maka beliau bersabda:

أَرْضُوا مُصَّدِّقَكُمْ

“Buatlah senang para petugas kalian itu” [Shahih: Muslim 989 dari Jarir bin Abdullah]

Akan tetapi di dalam riwayat Al Bukhari disebutkan bahwasanya orang yang diminta untuk memberikan lebih banyak dari apa yang harus ia keluarkan sebagai zakat, maka hendaklah ia tidak memberikannya kepada petugas itu.

Dari beberapa hadits di atas dapat dikompromikan dalam sebuah kesimpulan bahwa jika petugas meminta lebih banyak tanpa alasan sama sekali, hendaklah orang tersebut menolaknya. Namun, jika ia memintanya dengan alasan, hendaknya orang tersebut memberikannya walaupun ia memandang permintaan tersebut merupakan perbuatan zhalim.

0558

وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -: «لَيْسَ عَلَى الْمُسْلِمِ فِي عَبْدِهِ وَلَا فَرَسِهِ صَدَقَةٌ» رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ. وَلِمُسْلِمٍ «لَيْسَ فِي الْعَبْدِ صَدَقَةٌ إلَّا صَدَقَةُ الْفِطْرِ»

558. Dari Abu Hurairah RA bahwasanya Rasulullah SAW bersabda, “Seorang Muslim tidak berkewajiban mengeluarkan zakat atas hamba sahaya dan kudanya.” (HR. Al Bukhari). Dalam riwayat Muslim disebutkan, “Tidak ada zakat pada hamba sahaya kecuali zakat fitrah.”

[Shahih: Al Bukhari 1464 dan Muslim 982]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Tafsir Hadits

Hadits ini menegaskan bahwa hamba sahaya dan kuda tidak wajib dizakati selama digunakan untuk membantu pekerjaan dan untuk dikendarai. Ini adalah ijma ulama.

Namun, jika kuda tersebut dipelihara untuk diambil keturunannya, menurut mazhab Hanafiyah harus dizakati. Pendapat ini didasarkan pada hadits berikut:

«فِي كُلِّ فَرَسٍ سَائِمَةٍ دِينَارٌ أَوْ عَشَرَةُ دَرَاهِمَ»

“Pada setiap kuda yang dipelihara secara liar, dikeluarkan satu dinar atau sepuluh dirham.” (HR. Ad Daruquthni dan Al Baihaqi, dan keduanya mendhaifkannya) [Maudhu’: Dhaif Al Jami 3997]

Pendapat ini dibantah oleh jumhur ulama, bahwa hadits dhaif ini tidak bisa menandingi hadits shahih di atas, dan masalah serupa telah terjadi pada masa Marwan, maka ia meminta pertimbangan dari para shahabat, lalu Abu Hurairah RA meriwayatkan: “Seorang Muslim tidak berkewajiban mengeluarkan zakat atas hamba sahaya dan kudanya.” Lalu Marwan berkata kepada Zaid bin Tsabit, “Apa pendapatmu Wahai Abu Sa’id?” Maka dengan segera Abu Hurairah RA menyahut, “Sungguh aneh Marwan ini, aku telah memberitahunya hadits Rasulullah SAW, lalu ia berkata, apa pendapatmu wahai Abu Said.” Lalu Zaid berkata, “Benar apa yang dikatakan oleh Rasulullah SAW, namun yang beliau maksud ialah kuda yang digunakan untuk berperang, tetapi jika pemiliknya seorang pedagang yang mengharapkan keturunan dari kuda tersebut, maka ia harus dizakati.” Lalu Marwan berkata, “Berapa”, Zaid berkata, ““Pada setiap kuda yang dipelihara secara liar, dikeluarkan satu dinar atau sepuluh dirham.”

Ahlu Zhahir berpendapat bahwa kuda tidak dizakati walaupun ia disiapkan sebagai barang dagangan. Pendapat ini dibantah, bahwa zakat barang dagangan adalah wajib menurut ijma ulama sebagaimana yang diriwayatkan oleh Ibnu Al Mundzir. Saya katakan mungkinkah pendapat ini bisa dikatakan ijma ulama, sedangkan ada pendapat lain yang menyelisihinya, yakni pendapat ahlu zhahir?

 

والله أعلمُ بالـصـواب

Download Sumber

 

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *