[ UIC 10.4 ] Kitab Subulus Salam Syarh Bulughul Maram 163

04. KITAB ZAKAT 01
ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Secara bahasa zakat artinya tumbuh dan suci. Sedangkan menurut istilah, zakat bermakna sedekah wajib, sedekah sunnah, nafkah, pengampunan dan kebenaran. Menurut ijma ulama zakat merupakan salah satu dari rukun Islam yang lima.

Ulama berbeda pendapat tentang tahun disyariatkan zakat. Namun menurut jumhur ulama, zakat diwajibkan pada tahun ke-2 Hijriyah sebelum diwajibkannya puasa Ramadhan. Adapun penjelasan tentang tahun pensyariatan zakat dibahas pada babnya.

0554

عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا -: «أَنَّ النَّبِيَّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – بَعَثَ مُعَاذًا إلَى الْيَمَنِ – فَذَكَرَ الْحَدِيثَ – وَفِيهِ: أَنَّ اللَّهَ قَدْ افْتَرَضَ عَلَيْهِمْ صَدَقَةً فِي أَمْوَالِهِمْ تُؤْخَذُ مِنْ أَغْنِيَائِهِمْ، فَتُرَدَّ فِي فُقَرَائِهِمْ» مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ، وَاللَّفْظُ لِلْبُخَارِيِّ

554. Dari Ibnu Abbas RA bahwasanya Nabi SAW mengutus Muadz ke Yaman –kemudian beliau menyebutkan satu hadits yang dijelaskan di dalamnya- “Sesungguhnya Allah SWT telah mewajibkan zakat atas harta benda mereka, yang diambil dari orang-orang kaya di antara mereka untuk diberikan kepada orang-orang fakir di antara mereka.” (Muttafaq alaih, ini lafazh Al Bukhari)

[Shahih: Al Bukhari 1395 dan Muslim 19]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Biografi Perawi

Rasulullah SAW mengutus Muadz ke negeri Yaman pada tahun 10 Hijriyah sebelum beliau menunaikan haji, demikian yang disebutkan oleh Al Bukhari pada bagian akhir kitab Al Maghazy. Ada riwayat lain yang menyebutkan bahwa beliau mengutusnya pada tahun 9 Hijriyah sepulang dari perang Tabuk. Ada juga yang mengatakan bahwa hal itu terjadi pada tahun 8 Hijriyah setelah Fathul Makkah.

Penjelasan Kalimat

Hadits ini terdapat dalam Shahih Al Bukhari dengan redaksi lengkap sebagai berikut:

عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ «أَنَّهُ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ – لَمَّا بَعَثَ مُعَاذًا إلَى الْيَمَنِ قَالَ لَهُ: إنَّك تَقْدُمُ عَلَى قَوْمٍ أَهْلِ كِتَابٍ فَلْيَكُنْ أَوَّلُ مَا تَدْعُوهُمْ إلَيْهِ عِبَادَةَ اللَّهِ فَإِذَا عَرَفُوا اللَّهَ فَأَخْبِرْهُمْ أَنَّ اللَّهَ قَدْ فَرَضَ عَلَيْهِمْ خَمْسَ صَلَوَاتٍ فِي يَوْمِهِمْ وَلَيْلَتِهِمْ فَإِذَا فَعَلُوا فَأَخْبِرْهُمْ أَنَّ اللَّهَ قَدْ فَرَضَ عَلَيْهِمْ الزَّكَاةَ فِي أَمْوَالِهِمْ تُؤْخَذُ مِنْ أَغْنِيَائِهِمْ وَتُرَدُّ فِي فُقَرَائِهِمْ فَإِذَا أَطَاعُوك فَخُذْ مِنْهُمْ وَتَوَقَّ كَرَائِمَ أَمْوَالِ النَّاسِ»

“Dari Ibnu Abbas, bahwasanya ketika Rasulullah SAW mengutus Muadz ke Yaman, beliau bersabda kepadanya, “Sesungguhnya engkau mendatangi kaum dari golongan ahli kitab, maka hendaklah yang pertama engkau serukan kepada mereka adalah beribadah kepada Allah, jika mereka telah mengenal Allah, maka kabarkanlah kepada mereka bahwasanya Allah SWT telah mewajibkan shalat lima kali dalam sehari semalam, dan jika mereka telah melaksanakannya maka kabarkanlah kepada mereka bahwasanya Allah telah mewajibkan zakat dari harta benda mereka, yang diambil dari orang-orang kaya di antara mereka untuk dibagikan kepada orang-orang fakir di antara mereka, jika mereka menaati perintahmu maka ambillah –zakat- dari mereka, dan hindarilah harta-harta mulia –kesayangan- mereka.”

Dari sabda beliau, ‘yang diambil dari orang-orang kaya di antara mereka’, para ulama menyimpulkan bahwa imam –pemimpin- atau pihak yang mewakilinya berhak mengambil dan membagikan zakat. Jika ada yang tidak mau membayar zakat, maka ia berhak mengambilnya secara paksa. Hal ini dipertegas dengan sikap Rasulullah SAW ketika beliau mengutus para pengumpul zakat ke penjuru negeri.

Dan sabda beliau ‘… dibagikan kepada orang-orang fakir di antara mereka.’ Menjelaskan bahwa zakat cukup dibagikan kepada satu golongan saja. Namun ada yang berpendapat, pengkhususan orang-orang fakir dalam hadits ini hanya menunjukkan bahwa golongan inilah yang mayoritas saat itu, sehingga tidak menunjukkan pengkhususan kepada satu golongan ini saja. Atau bisa jadi hanya merekalah yang berhak mendapatkannya. Bagi yang mengatakan bahwa kondisi orang miskin lebih parah daripada orang fakir, maka orang miskin masuk dalam kategori ini. sedangkan yang berpendapat sebaliknya maka pendapat mereka jelas berbeda.

0555

وَعَنْ أَنَسٍ «أَنَّ أَبَا بَكْرٍ الصِّدِّيقَ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – كَتَبَ لَهُ: هَذِهِ فَرِيضَةُ الصَّدَقَةِ الَّتِي فَرَضَهَا رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – عَلَى الْمُسْلِمِينَ وَاَلَّتِي أَمَرَ اللَّهُ بِهَا رَسُولَهُ فِي كُلِّ أَرْبَعٍ وَعِشْرِينَ مِنْ الْإِبِلِ فَمَا دُونَهَا الْغَنَمُ: فِي كُلِّ خَمْسٍ شَاةٌ، فَإِذَا بَلَغَتْ خَمْسًا وَعِشْرِينَ إلَى خَمْسٍ وَثَلَاثِينَ فَفِيهَا بِنْتُ مَخَاضٍ أُنْثَى، فَإِنْ لَمْ تَكُنْ فَابْنُ لَبُونٍ ذَكَرٌ، فَإِذَا بَلَغَتْ سِتًّا وَثَلَاثِينَ إلَى خَمْسٍ وَأَرْبَعِينَ فَفِيهَا بِنْتُ لَبُونٍ أُنْثَى، فَإِذَا بَلَغَتْ سِتًّا وَأَرْبَعِينَ إلَى سِتِّينَ فَفِيهَا حِقَّةٌ طَرُوقَةُ الْجَمَلِ، فَإِذَا بَلَغَتْ وَاحِدَةً وَسِتِّينَ إلَى خَمْسٍ وَسَبْعِينَ فَفِيهَا جَذَعَةٌ، فَإِذَا بَلَغَتْ سِتًّا وَسَبْعِينَ إلَى تِسْعِينَ فَفِيهَا بِنْتَا لَبُونٍ، فَإِذَا بَلَغَتْ إحْدَى وَتِسْعِينَ إلَى عِشْرِينَ وَمِائَةٍ فَفِيهَا حِقَّتَانِ طَرُوقَتَا الْجَمَلِ، فَإِذَا زَادَتْ عَلَى عِشْرِينَ وَمِائَةٍ فَفِي كُلِّ أَرْبَعِينَ بِنْتُ لَبُونٍ، وَفِي كُلِّ خَمْسِينَ حِقَّةٌ، وَمَنْ لَمْ يَكُنْ مَعَهُ إلَّا أَرْبَعٌ مِنْ الْإِبِلِ فَلَيْسَ فِيهَا صَدَقَةٌ إلَّا أَنْ يَشَاءَ رَبُّهَا. وَفِي صَدَقَةِ الْغَنَمِ فِي سَائِمَتِهَا إذَا كَانَتْ أَرْبَعِينَ إلَى عِشْرِينَ وَمِائَةِ شَاةٍ شَاةٌ، فَإِذَا زَادَتْ عَلَى عِشْرِينَ وَمِائَةٍ إلَى مِائَتَيْنِ فَفِيهَا شَاتَانِ، فَإِذَا زَادَتْ عَلَى مِائَتَيْنِ إلَى ثَلَاثِمِائَةٍ فَفِيهَا ثَلَاثُ شِيَاهٍ، فَإِذَا زَادَتْ عَلَى ثَلَاثِمِائَةٍ فَفِي كُلِّ مِائَةٍ شَاةٌ، فَإِذَا كَانَتْ سَائِمَةُ الرَّجُلِ نَاقِصَةً مِنْ أَرْبَعِينَ شَاةٍ شَاةً وَاحِدَةً فَلَيْسَ فِيهَا صَدَقَةٌ، إلَّا أَنْ يَشَاءَ رَبُّهَا، وَلَا يُجْمَعُ بَيْنَ مُتَفَرِّقٍ وَلَا يُفَرَّقُ بَيْنَ مُجْتَمِعٍ خَشْيَةَ الصَّدَقَةِ، وَمَا كَانَ مِنْ خَلِيطَيْنِ فَإِنَّهُمَا يَتَرَاجَعَانِ بَيْنَهُمَا بِالسَّوِيَّةِ، وَلَا يُخْرَجُ فِي الصَّدَقَةِ هَرِمَةٌ، وَلَا ذَاتُ عَوَارٍ، وَلَا تَيْسٌ إلَّا أَنْ يَشَاءَ الْمُصَّدِّقُ، وَفِي الرِّقَةِ: فِي مِائَتَيْ دِرْهَمٍ رُبُعُ الْعُشْرِ، فَإِنْ لَمْ تَكُنْ إلَّا تِسْعِينَ وَمِائَةٍ فَلَيْسَ فِيهَا صَدَقَةٌ إلَّا أَنْ يَشَاءَ رَبُّهَا، وَمَنْ بَلَغَتْ عِنْدَهُ مِنْ الْإِبِلِ صَدَقَةُ الْجَذَعَةِ وَلَيْسَتْ عِنْدَهُ جَذَعَةٌ وَعِنْدَهُ حِقَّةٌ، فَإِنَّهَا تُقْبَلُ مِنْهُ، وَيَجْعَلُ مَعَهَا شَاتَيْنِ إنْ اسْتَيْسَرَتَا لَهُ، أَوْ عِشْرِينَ دِرْهَمًا، وَمَنْ بَلَغَتْ عِنْدَهُ صَدَقَةُ الْحِقَّةِ وَلَيْسَتْ عِنْدَهُ الْحِقَّةُ، وَعِنْدَهُ الْجَذَعَةُ، فَإِنَّهَا تُقْبَلُ مِنْهُ الْجَذَعَةُ، وَيُعْطِيهِ الْمُصَّدِّقُ عِشْرِينَ دِرْهَمًا أَوْ شَاتَيْنِ» رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ

555. Dari Anas RA, bahwasanya Abu Bakar RA mengirim tulisan kepadanya, “Inilah kewajiban sedekah –zakat- yang telah diwajibkan Rasulullah SAW kepada umat Islam berdasarkan perintah Allah kepada Rasul-Nya –Muhammad SAW-, “Pada setiap 24 ekor unta atau yang kurang darinya maka zakatnya satu ekor kambing; [yaitu dengan perincian] pada setiap lima ekor unta dikeluarkan satu ekor ka,bing, jika jumlah unta tersebut telah mencapi 25 hingga 35 ekor, maka zakatnya seekor bintu makhadh [anak unta betina yang telah berumur 1 tahun], jika tidak ada maka seekor Ibnu labuun [anak unta jantan berumur 2 tahun], jika jumlahnya mencapai 36 hingga 45 ekor, maka zakatnya seekor bintu labuun [anak unta betina berumur 2 tahun], jika jumlahnya mencapai 46 hingga 60 maka zakatnya seekor hiqqah [unta betina berumur 3 tahun], jika jumlahnya mencapai 61 hingga 75 ekor, maka zakatnya seekor jadza’ah [unta betina berumur 4 tahun], jika jumlahnya mencapai 76 hingga 90 maka zakatnya dua ekor bintu labuun, jika jumlahnya mencapai 91 hingga 120 maka zakatnya dua ekor hiqqah, jika jumlahnya lebih dari 120 ekor, maka pada setiap 40 ekor zakatnya seekor bintu labuun, dan pada setiap 50 ekor zakatnya seekor hiqqah, sedangkan orang yang tidak memiliki kecuali 4 ekor unta maka ia tidak wajib mengeluarkan zakat kecuali jika ia menghendakinya.

Sedangkan untuk kambing yang dipelihara secara liar, maka jika jumlahnya telah mencapai 40 hingga 120 ekor maka zakatnya satu ekor kambing, jika jumlahnya lebih dari 120 hingga 200 ekor maka zakatnya dua ekor kambing, jika jumlahnya lebih dari 200 jingga 300 maka zakatnya tiga ekor kambing, jika jumlahnya melebihi 300 ekor maka pada setiap 100 ekor kambing dikeluarkan seekor kambing, namun jika jumlah kambing liar seseorang 40 ekor kurang satu, maka ia tidak wajib mengeluarkan zakat, kecuali jika ia menghendakinya.

Dan tidak boleh digabungkan antara (hewan-hewan) yang terpisah atau memisahkan yang tergabung karena takut untuk mengeluarkan zakat, dan jika hewan itu milik dua orang maka kewajibannya ditanggung bersama-sama secara proporsional, dan hendaklah tidak memberikan zakat berupa hewan yang telah tua renta, tidak juga yang buta sebelah matanya, tidak pula kambing pejantan kecuali jika pemiliknya menghendakinya.

Sedangkan perak, maka zakatnya 2,5%, namun jika jumlahnya hanya 190 dirham maka pemiliknya tidak wajib mengeluarkan zakat kecuali jika pemiliknya menghendakinya.

Jika seseorang harus mengeluarkan unta berumur 4 tahun namun ia tidak memilikinya dan hanya memiliki hiqqah, maka ia mengeluarkan hiqqah tersebut ditambah dua ekor kambing jika mungkin, atau 20 dirham, sedangkan jika seseorang harus mengeluarkan hiqqah namun ia tidak memilikinya dan hanya memiliki Jadza’ah, maka ia mengeluarkan Jadza’ah tersebut lalu petugas pengumpul zakat mengembalikan 20 dirham atau dua ekor kambing.” (HR. Al Bukhari)

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

Dari Anas RA, bahwasanya Abu Bakar RA mengirim tulisan kepadanya, (tulisan ini dikirimkan oleh Abu Bakar kepada Anas ketika beliau menugaskannya sebagai amil –pegawai- ke Bahrain) “Inilah kewajiban sedekah (hal ini menunjukkan bahwa kata sedekah bisa berarti zakat; di dalam Al Bukhari naskah ini dimulai dengan basmalah) yang telah diwajibkan Rasulullah SAW kepada umat Islam (yang telah ditentukan ukurannya oleh Rasulullah SAW. teks ini menegaskan bahwa hadits ini adalah hadits marfu’. Yang dimaksud dengan ‘diwajibkan’ adalah ditentukan, sebab dasar penetapannya telah disebutkan di dalam Al Qur’an) berdasarkan perintah Allah kepada Rasul-Nya –Muhammad SAW-, (bahwa Allah telah memerintahkan kepadanya untuk menjelaskan secara detail yang meliputi macam, jenis dan jumlah yang harus dikeluarkan)

“Pada setiap 24 ekor unta atau yang kurang darinya maka zakatnya satu ekor kambing; [yaitu dengan perincian] pada setiap lima ekor unta dikeluarkan satu ekor kambing, (menurut imam Malik dan imam Ahmad, pemilik tersebut hanya boleh mengeluarkan zakat berupa kambing, jika ia memaksa mengeluarkan zakat berupa unta maka zakatnya tidak sah. Sedangkan menurut Jumhur ulama hal itu dianggap sah dengan argumen bahwa hukum asalnya ialah zakat yang dikeluarkan hendaklah dari jenis barang yang harus dizakati, kemudian agama menggantinya dengan kambing sebagai bentuk kasih sayang kepada pemilik harta, dengan demikian jika pemilik harta berkehendak untuk menggunakan hukum aslinya maka hal itu diperbolehkan, namun jika harga unta tersebut kurang dari harga 4 ekor kambing, maka para ulama mazhab syafiiyah dan yang lainnya berbeda pendapat. Dan jika ditilik dari sisi analoginya, maka tentulah zakat tersebut tidak sah, demikian penjelasan Ibnu Hajar di dalam Al Fath) jika jumlah unta tersebut telah mencapai 25 hingga 35 ekor, maka zakatnya seekor bintu makhadh [anak unta betina yang telah berumur 1 tahun], (memasuki umur dua tahun hingga dua tahun penuh, berdasarkan hal ini jumhur ulama mengatakan bahwa setelah mencapai jumlah 25 sampai 35 maka harus dikeluarkan zakat berapa bintu makhadh; Diriwayatkan dari Ali RA, bahwa beliau berpendapat pada jumlah 25 ekor unta dikeluarkan 5 ekor kambing, hal ini berdasarkan satu hadits marfu’ dan satu hadits mauquf dari Ali RA. Namun ternyata hadits marfu tersebut dhaif, sedangkan hadits mauquf tidak bisa digunakan sebagai dasar hukum. Oleh karena itu, jumhur ulama tidak menghiraukannya) jika tidak ada maka seekor Ibnu labuun [anak unta jantan berumur 2 tahun] (memasuki umur 3 tahun sampai 3 tahun penuh), jika jumlahnya mencapai 36 hingga 45 ekor, maka zakatnya seekor bintu labuun [anak unta betina berumur 2 tahun], jika jumlahnya mencapai 46 hingga 60 maka zakatnya seekor hiqqah [unta betina berumur 3 tahun], (memasuki umur empat tahun hingga genap 4 tahun) jika jumlahnya mencapai 61 hingga 75 ekor, maka zakatnya seekor jadza’ah [unta betina berumur 4 tahun], (memasuki umur 5 tahun); jika jumlahnya mencapai 76 hingga 90 maka zakatnya dua ekor bintu labuun, jika jumlahnya mencapai 91 hingga 120 maka zakatnya dua ekor hiqqah, jika jumlahnya lebih dari 120 ekor, (walau hanya lebih satu, demikian pendapat jumhur –pendapat ini diperkuat oleh tulisan Umar RA, jika jumlahnya 121 hingga 129 maka zakatnya tiga ekor bintu labuun. Berdasarkan pendapat jumhur ini, maka jika jumlahnya lebih dari 120 zakatnya seekor unta. Dan setiap penambahan jumlah sebelum mencapai jumlah 130 tidak ada zakat, tetapi setelah mencapai jumlah tersebut maka dikeluarkan dua ekor bintu labuun dan seekor hiqqah, dan pada jumlah 140 dikeluarkan dua ekor bintu labuun dan dua ekor hiqqah.

Sedangkan menurut imam Hanafi, jika jumlahnya melebihi 120, maka setiap penambahan zakatnya dikeluarkan berupa kambing, kembali ke hukum awal, dengan demikian jika jumlahnya mencapai 125, maka dikeluarkan tiga ekor bintu labun dan seekor kambing.

Menurut saya lafazh hadits ini hanya menjelaskan apa yang harus dilakukan setiap 40 dan 50 ekor, maka jika jumlahnya telah mencapai 121 harus dikeluarkan 3 ekor bintu labun, karena setiap 40 ekor dikeluarkan seekor bintu labuun, dan hadits ini tidak menjelaskan apa yang harus dilakukan pada jumlah 125, mungkin pendapat Abu Hanifah yang berlaku di sini, atau bisa jadi ia adalah bentuk keringanan hingga jumlahnya mencapai 130, Wallahu a’lam)

maka pada setiap 40 ekor zakatnya seekor bintu labuun, dan pada setiap 50 ekor zakatnya seekor hiqqah, sedangkan orang yang tidak memiliki kecuali 4 ekor unta maka ia tidak wajib mengeluarkan zakat kecuali jika ia menghendakinya. (ia mengeluarkan zakat sebagai amal baik, hal ini dijelaskan agar tidak dipahami secara salah bahwa orang tersebut tidak boleh mengeluarkan zakat. Demikian penjelasan zakat unta)

Sedangkan untuk kambing yang dipelihara secara liar, (menurut jumhur ulama, pemeliharaan secara liar merupakan syarat wajibnya zakat, sedangkan menurut imam Malik dan Rabi’ah, hal itu tidak menjadi syarat. Menurut saya pemeliharaan secara liar juga merupakan syarat wajib pada unta berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Abu Daud dan An Nasa’i dari Bahz bin Hakim:

«فِي كُلِّ سَائِمَةٍ إبِلٌ»

‘Pada setiap unta yang dipelihara secara liar…” [Hasan: Abu Daud 1575. Ebook editor]

Demikian juga dengan sapi, walapun dalam haditsnya tidak dijelaskan adanya pemeliharaan secara liar, kemudian para ulama menganalogikan kepada unta dan kambing) maka jika jumlahnya telah mencapai 40 hingga 120 ekor maka zakatnya satu ekor kambing, (kambing di sini meliputi kambing jantan maupun betina, baik domba maupun kambing biasa) jika jumlahnya lebih dari 120 hingga 200 ekor maka zakatnya dua ekor kambing, jika jumlahnya lebih dari 200 jingga 300 maka zakatnya tiga ekor kambing, jika jumlahnya melebihi 300 ekor maka pada setiap 100 ekor kambing dikeluarkan seekor kambing, (dengan demikian sebelum mencapai 400 tidak wajib mengeluarkan 4 ekor kambing, menurut jumhur ulama. Diriwayatkan dari imam Ahmad dan sebagian ulama Kufah, bahwa jika jumlahnya 300 plus 1, maka wajib dikeluarkan 4 ekor kambing) namun jika jumlah kambing liar seseorang 40 ekor kurang satu, maka ia tidak wajib mengeluarkan zakat, kecuali jika ia menghendakinya. (sebagai amal baik baginya)

Dan tidak boleh digabungkan antara (hewan-hewan) yang terpisah (sebagai contoh, jika tiga orang masing-masing memiliki 40 ekor kambing, sehingga setiap orang harus mengeluarkan seekor kambing, lalu mereka menyatukan semua milik mereka hingga jumlahnya 120 ekor, dan tentunya hanya wajib mengeluarkan seekor kambing untuk mereka bertiga) atau memisahkan yang tergabung karena takut untuk mengeluarkan zakat, (sebagai contoh, jika dua orang memiliki beberapa ekor kambing yang dipelihara secara bersama, dan masing-masing memiliki 101 ekor, dengan demikian keseluruhannya ialah 202 ekor dan wajib mengeluarkan 3 ekor kambing, kemudian mereka memisahkan milik masing-masing sehingga mereka hanya mengeluarkan seekor kambing setiap orangnya. Ibnu Al Atsir berkata, “Inilah yang saya dengar dalam masalah ini.” Al Khaththabi berkata, ‘Imam Asy-Syafi’i berkata ‘Perkataan ini ditujukan kepada petugas pengumpul dan pemilik harta, yang mana petugas khawatir jika zakat yang ia kumpulkan menjadi sedikit sedangkan pemilik harta khawatir jika hartanya berkurang’.” Kesimpulannya, hendaklah keduanya tidak mengubah-ubah kondisi harta tersebut baik mengumpulkan atau memisahkan karena adanya kekhawatiran tersebut) dan jika hewan itu milik dua orang maka kewajibannya ditanggung bersama-sama secara proporsional, (sebagai contoh, jika dua orang memiliki beberapa ekor sapi yang dipelihara bersama, salah seorang dari keduanya memiliki 40 ekor, maka ia harus mengeluarkan seekor musinnah, dan yang lain memiliki 30 ekor sehingga ia harus mengeluarkan seekor tabii’, kemudian orang yang mengeluarkan musinnah meminta 3/7 nilai musinnah dari rekannya sedangkan orang yang mengeluarkan tabii meminta 4/7 nilai tabii dari rekannya, hal ini karena kewajiban tersebut jatuh pada mereka secara bersama-sama seakan-akan harta tersebut milik satu orang) dan hendaklah tidak memberikan zakat berupa hewan yang telah tua renta, (yaitu hewan yang gigi-giginya sudah tanggal) tidak juga yang buta sebelah matanya, (termasuk dalam hal ini segala penyakit, hal ini senada dengan hadits yang diriwayatkan oleh Abu Daud,

«وَلَا يُعْطِي الْهَرِمَةَ وَلَا الدَّرِنَةَ وَلَا الْمَرِيضَةَ وَلَا الشَّرَطَ اللَّئِيمَةَ وَلَكِنْ مِنْ وَسَطِ أَمْوَالِكُمْ فَإِنَّ اللَّهَ لَمْ يَسْأَلْكُمْ خَيْرَهُ وَلَا أَمَرَكُمْ بِشَرِّهِ»

“Dan hendaklah tidak diserahkan sebagai zakat hewan yang tua renta, yang kudisan, yang sedang sakit, dan yang tidak berharga, tetapi hendaklah diambil dari yang kondisinya sedang-sedang saja, karena sesungguhnya Allah tidak meminta harta terbaik kalian dan tidak memerintahkan dengan harta yang paling buruk dari kalian” [shahih: Abu Daud 1582. Ebook editor])

tidak pula kambing pejantan kecuali jika pemiliknya menghendakinya. (yaitu jika kambing jantan tersebut bukan sebagai pejantan, maka pemiliknya boleh mengeluarkannya sebagai zakat karena ia punya hak untuk mengeluarkan yang terbaik; Namun ada yang memahami teks ‘kecuali jika pemiliknya menghendakinya’, yakni menghendaki untuk mengeluarkan hewan yang tua renta atau cacat namun harganya lebih tinggi dari hewan yang sedang-sedang saja maka ia boleh melakukannya.

Juga ada yang memahami bahwa kata-kata pemilik di sini berarti petugas zakat, sesungguhnya begitu teks di atas maksudnya ia mempunyai hak untuk mempertimbangkan hal yang dianggap paling baik untuk para fakir, sehingga ia diperbolehkan menyalahi aturan di atas.

Hal di atas berlaku jika kambing-kambing tersebut dalam kondisi yang berbeda-beda, lain halnya jika semua kambing tersebut cacat atau pejantan semua, maka diperbolehkan mengeluarkan zakat dari salah satu yang ada. Akan tetapi, imam Malik mengharuskan pemilik kambing tersebut untuk membeli kambing yang memenuhi syarat sebagai zakat, ia berargumen dengan hadits di atas)

Sedangkan perak, maka zakatnya 2,5%, namun jika jumlahnya hanya 190 dirham maka pemiliknya tidak wajib mengeluarkan zakat kecuali jika pemiliknya menghendakinya. (mungkin ada yang memahami bahwa jika jumlahnya 191 maka ia harus dizakati walaupun beliau sampai 200 dirham. Bukan begitu maksudnya, penyebutan angka 90 di sini karena angka tersebut adalah angka puluhan sebelum ratusan, hal ini berdasarkan kebiasaan bahwa jika hitungan telah melebihi satuan maka hitungannya akan berubah menjadi puluhan lalu ratusan lalu ribuan dan seterusnya)

Jika seseorang harus mengeluarkan unta berumur 4 tahun namun ia tidak memilikinya dan hanya memiliki hiqqah, maka ia mengeluarkan hiqqah tersebut ditambah dua ekor kambing jika mungkin, atau 20 dirham, (jika tidak mungkin mengeluarkan 2 ekor kambing) sedangkan jika seseorang harus mengeluarkan hiqqah namun ia tidak memilikinya dan hanya memiliki Jadza’ah, (walaupun lebih mahal dari yang seharusnya ia keluarkan, namun tidak boleh membebani seseorang dengan sesuatu yang sulit ia lakukan) maka ia mengeluarkan Jadza’ah tersebut lalu petugas pengumpul zakat mengembalikan (kelebihan nilai tersebut) 20 dirham atau dua ekor kambing.”

Para ulama berbeda pendapat dalam menentukan batasan perbedaan umur hewan tersebut. Asy-Syafi’i berpendapat bahwa perbedaan yang dimaksud ialah perbedaan antara dua umur sebagaimana yang disebutkan di atas. sedangkan Al Hadawiyah menjelaskan bahwa yang wajib dilakukan ialah menambahkan tambahan dari pemilik harta atau mengembalikan kelebihan dari pihak petugas zakat, hal ini kembali kepada taksiran harga. Mereka mengatakan bahwa hal ini berdasarkan riwayat yang berbunyi, “sepuluh dirham atau satu kambing”. Hal ini tidak menunjukkan kecuali kepada satu hal yaitu perbedaan harga yang berlaku berdasarkan tempat dan waktu, maka dalam hal ini harus dikembalikan kepada harga.

Dalam masalah ini Al Bukhari meriwayatkan hadits Abu Bakar RA dalam ‘Bab Pengambilan Zakat Barang Dagangan’, lalu beliau menyebutkan ucapan Muadz kepada Penduduk Yaman.

ائْتُونِي بِعَرْضِ ثِيَابِكُمْ خَمِيصٍ أَوْ لَبِيسٍ فِي الصَّدَقَةِ مَكَانَ الشَّعِيرِ وَالذُّرَةِ أَهْوَنُ عَلَيْكُمْ وَخَيْرٌ؛ لِأَصْحَابِ مُحَمَّدٍ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – بِالْمَدِينَةِ

“Berikan kepadaku dari dagangan pakaian kalian, baik berupa khamish atau pakaian yang telah dipakai untuk sedekah, sebagai ganti gandum dan jagung, karena hal itu lebih mudah untuk kalian dan baik untuk shahabat-shahabat Muhammad SAW di Madinah.” Dan masalah ini akan diperjelas pada saatnya nanti.

 

والله أعلمُ بالـصـواب

Download Sumber

 

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *