[ UIC 10.4 ] Kitab Subulus Salam Syarh Bulughul Maram 162

03. KITAB JENAZAH 18

0552

552 – وَعَنْ عَائِشَةَ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا – قَالَتْ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -: «لَا تَسُبُّوا الْأَمْوَاتَ، فَإِنَّهُمْ قَدْ أَفْضَوْا إلَى مَا قَدَّمُوا» رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ.

552. Dan dari Aisyah Radhiyallahu Anha ia berkata, “Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Janganlah kalian mencaci mayat-mayat, sesungguhnya mereka telah menyelesaikan apa yang mereka telah kerjakan.” (HR. Al-Bukhari)

[Shahih: Al Bukhari 1393]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

“Dan dari Aisyah Radhiyallahu Anha ia berkata, “Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Janganlah kalian mencaci mayat-mayat, sesungguhnya mereka telah menyelesaikan (yakni mencapai) apa yang mereka telah kerjakan (yaitu amal-amal perbuatannya).”

Tafsir Hadits

Hadits ini sebagai dalil yang menunjukkan haram mencaci maki orang yang telah mati. Secara zhahir, larangan itu berlaku umum bagi orang Islam dan kafir, tetapi dalam Asy-Syarah terdapat keterangan yang membolehkan mencaci maki mayat orang kafir berdasarkan banyaknya sejarah dalam firman Allah yang mencela orang kafir dalam Al-Qur’an, seperti celaan terhadap kaum Ad, kaum Tsamud dan kaum-kaum lainnya yang sama dengan mereka.

Menurutku, ungkapan “Mereka telah menyelesaikan apa yang mereka telah kerjakan” adalah suatu alasan yang bersifat umum bagi kedua pihak (orang Islam dan kafir), yang maknanya adalah tidak ada faedahnya mencaci dan menyingkap harga diri mereka. Adapun firman Allah yang menyebutkan tentang kesesatan umat-umat yang telah lalu bukanlah untuk menghina dan mencela mereka, tetapi bertujuan untuk mengingatkan umat Islam tentang perbuatan-perbuatan yang akan membawa atau menjerumuskan para pelakunya kepada bahaya atau bencana. Dan juga sebagai penjelasan tentang larangan-larangan yang mereka lakukan agar dihindari oleh umat Islam. Adanya sebutan orang yang jahat dengan berbagai macam kejahatan yang dilakukannya adalah untuk tujuan yang baik maka itu dibolehkan, dan tidak termasuk mencaci yang dilarang dan tidak ada pengkhususan bagi orang-orang kafir.

Ya, memang ada hadits yang mengkhususkan sebagian orang beriman, sebagaimana dijelaskan dalam sebuah hadits, bahwa Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam pernah melewati jenazah, orang-orang mengeluh membicarakan jenazah itu karena kejelekannya. Sikap mereka itu disetujui oleh beliau -karena beliau tidak menegurnya-, bahkan beliau bersabda, “Maka pantaslah neraka baginya.” Kemudian beliau bersabda, “Kalian sebagai saksi di hadapan Allah.” [Shahih: Al Bukhari 1367 dan Muslim 949]

Tidak ada keterangan bahwa yang dimarahi karena kejahatannya adalah bukan orang yang beriman, karena Al-Hakim telah meriwayatkan sabda Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam tentang orang itu,

بِئْسَ الْمَرْءُ كَانَ لَقَدْ كَانَ فَظًّا غَلِيظًا

“Orang yang paling jelek adalah orang itu, sungguh dia orang yang keras kepala dan kasar.”

Zhahirnya, ucapan beliau bahwa ia seorang muslim. Karena seandainya ia orang kafir, maka sesungguhnya caciannya akan tertuju pada kekafirannya.

Al-Qurthubi menjawab tentang permasalahan cacian mereka dan penetapan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam terhadap sikap mereka, bisa dipahami bahwa orang mati itu pernah terang-terangan melakukan kejahatan selama hidupnya, dan ini menjadi masuk dalam bab tentang tidak ada keharaman untuk berghibah tentang seorang fasik. Atau boleh jadi beliau memasukkan larangan mencaci maki orang mati setelah penguburannya.

Menurutku, kemungkinan yang kedua inilah yang sesuai dengan alasan sampainya mereka kepada amal yang pernah mereka lakukan, karena sampai dalam pengertian yang sebenarnya adalah setelah penguburannya.

0553

553 – وَرَوَى التِّرْمِذِيُّ عَنْ الْمُغِيرَةِ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – نَحْوَهُ، لَكِنْ قَالَ: ” فَتُؤْذُوا الْأَحْيَاءَ “.

553. Dan At-Tirmidzi meriwayatkan dari Al-Mughirah serupa hadits di atas tetapi ia berkata, “Maka akan menyakiti orang-orang yang hidup.”

[Shahih: At Tirmidzi 1982]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

“Dan At-Tirmidzi meriwayatkan dari Al-Mughirah serupa hadits di atas (yaitu serupa hadits Aisyah tentang larangan mencaci maki orang yang telah mati) tetapi ia berkata (bahwa sebagai ganti ucapan ‘sesungguhnya mereka telah menyelesaikan apa yang mereka telah kerjakan) dengan maka akan menyakiti yang hidup.”

Tafsir Hadits

Ibnu Rusyd berkata, “Sesungguhnya mencaci maki orang kafir juga diharamkan bila menyebabkan sakit hati orang muslim yang masih hidup, dan dibolehkan jika tidak menyakitkannya. Adapun mencaci maki terhadap orang muslim yang telah mati, jelas haram, kecuali didorong oleh suatu keperluan; misalnya ada kemaslahatan bagi orang yang mati itu sendiri, jika hal itu dapat membersihkan kezhaliman yang pernah ia lakukan. Cara semacam itu baik dilakukan, bahkan wajib. Ini sebanding dengan pengecualian bolehnya ghibah terhadap orang hidup karena beberapa alasan yang membolehkannya.

Catatan:

Termasuk menyakitkan orang mati adalah duduk di atas kuburnya, berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Ahmad. Al-Hafidz Ibnu Hajar -dengan sanad yang shahih- meriwayatkan dari hadits Amru bin Hazm Al-Anshari, ia berkata, “Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam pernah melihat aku duduk bersandar di atas suatu kuburan, kemudian beliau bersabda,

لَا تُؤْذِ صَاحِبَ الْقَبْرِ

“Janganlah kamu menyakiti mayat yang memiliki kubur itu.” [1]

Dan diriwayatkan oleh Muslim dari hadits Abu Hurairah, ia berkata, “Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda,

«لَأَنْ يَجْلِسَ أَحَدُكُمْ عَلَى جَمْرَةٍ فَتَحْرِقَ ثِيَابَهُ فَتَخْلُصَ إلَى جِلْدِهِ خَيْرٌ لَهُ مِنْ الْجُلُوسِ عَلَيْهِ»

“Sungguh duduknya seseorang di antara kamu di atas bara api lalu membakar pakaiannya dan tembus hingga kulitnya, lebih baik daripada duduk di atas kubur.” [Shahih: Muslim 971]

Dan diriwayatkan oleh Muslim dari dari Abu Murtsid secara marfu;

«لَا تَجْلِسُوا عَلَى الْقُبُورِ وَلَا تُصَلُّوا إلَيْهَا»

“Janganlah kalian duduk di atas kubur dan janganlah kalian shalat menghadap ke kuburan.” [Shahih: Muslim 972]

Zhahir hadits ini menunjukkan keharaman. Pengarang berkata yang dikutip dari pendapat An-Nawawi bahwa mayoritas ulama berkata, “Larangan duduk di atas kuburan adalah kemakruhan.” Malik berkata, “Bahwa yang dimaksud dengan duduk adalah berbicara”, dan ini adalah pentakwilan yang batil. Sebagaimana yang dikatakan oleh Malik, Abu Hanifah juga berkata demikian, sebagaimana dijelaskan dalam kitab Al-Fathu.

Menurutku, “Dalil itu menetapkan hukum haram duduk di atas kubur dan haram melewati di atasnya, karena sabdanya, “janganlah kamu menyakiti mayat yang memiliki kuburan.” Adalah larangan menyakiti mayat-mayat orang-orang yang beriman dalam kubur karena menyakiti orang yang beriman itu jelas diharamkan berdasarkan firman Allah,

{وَالَّذِينَ يُؤْذُونَ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ بِغَيْرِ مَا اكْتَسَبُوا فَقَدِ احْتَمَلُوا بُهْتَانًا وَإِثْمًا مُبِينًا}

“Dan orang-orang yang menyakiti orang-orang mukmin dan mukminat tanpa kesalahan yang mereka perbuat, maka sesungguhnya mereka telah memikul kebohongan dan dosa yang nyata.” (QS. Al-Ahzab: 58)

_______________

[1] Al-Hakim (3/681), aku tidak menemukannya dalam riwayat Ahmad.

 

والله أعلمُ بالـصـواب

Download Sumber

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *