[ UIC 10.4 ] Kitab Subulus Salam Syarh Bulughul Maram 161

03. KITAB JENAZAH 17

0549

549 – وَعَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ جَعْفَرٍ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – قَالَ: «لَمَّا جَاءَ نَعْيُ جَعْفَرٍ – حِينَ قُتِلَ – قَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -: اصْنَعُوا لِآلِ جَعْفَرٍ طَعَامًا، فَقَدْ أَتَاهُمْ مَا يَشْغَلُهُمْ» أَخْرَجَهُ الْخَمْسَةُ إلَّا النَّسَائِيّ.

549. Dan dari Abdullah bin Ja’far Radhiyallahu Anhuma ia berkata, “Ketika datang hari kematian Ja’far ketika ia terbunuh, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Buatkanlah bagi keluarga Ja’far makanan sesungguhnya telah datang kepada mereka sesuatu yang menyibukkannya.” (HR Al-Khamsah kecuali An-Nasa’i).

[Hasan: Abu Daud 3132]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Tafsir Hadits

Hadits ini dalil yang menunjukkan bahwa keharusan mengasihani dan menghibur keluarga yang ditimpa musibah kematian dengan memasakkan makanan baginya, karena mereka sibuk mengurusi kematian itu. Tetapi Ahmad meriwayatkan dari Jabir bin Abdullah bin Bajali,

كُنَّا نَعُدُّ الِاجْتِمَاعَ إلَى أَهْلِ الْمَيِّتِ وَصَنْعَةَ الطَّعَامِ بَعْدَ دَفْنِهِ مِنْ النِّيَاحَةِ

“Kami menganggap berkumpul ke tempat keluarga orang yang mati dan membuat makanan setelah penguburannya, termasuk ratapan.”

Hadits dari Jarir bin Abdullah itu ditafsirkan bahwa maksudnya adalah pembuatan makanan oleh keluarga orang yang mati diberikan kepada mereka yang menguburkannya bersama mereka dan dihidangkan di hadapan mereka, sebagaimana yang biasa dilakukan oleh sebagian orang yang tidak mengerti. Sedangkan berlaku baik terhadap mereka dengan membawakan makanan untuknya, tidak mengapa dan inilah yang dimaksudkannya oleh hadits Abdullah.

Di antara yang diharamkan setelah kematian adalah menyembelih di sisi kuburnya karena jelas ada larangan berbuat demikian. Sebagaimana hadits yang diriwayatkan oleh Ahmad dan Abu Dawud dari Anas, “Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda,

لَا عُقْرَ فِي الْإِسْلَامِ»

‘Tidak ada sembelih hewan bagi mayat dalam Islam.” [Shahih: Shahih Al Jami’ 7335]

Abdurrazaq berkata, “Mereka biasa menyembelih di sisi kubur seekor sapi atau kambing.” Al-Khatabi berkata, “Orang-orang jahiliyah biasa menyembelih onta di atas kubur seorang yang dermawan, mereka mengatakan bahwa mereka membalas kedermawanannya karena dia biasa menyembelih onta semasa hidupnya lalu dimakan oleh para tamu. Kami sekarang menyembelih onta untuk dimakan binatang buas dan burung.”

Onta sembelihan ini menjadi makanannya setelah ia mati, sebagaimana ia pernah diberi makan semasa hidup. Bahkan ada di antara mereka yang berpendapat bahwa apabila disembelihkan onta di sisi kuburnya maka ia akan dibangkitkan menuju padang masyhar pada hari kiamat kelak dalam keadaan mengendarai onta. Dan sebaliknya barangsiapa yang tidak disembelihkan hewan di sisi kuburnya, maka ia dikumpulkan menuju padang masyhar dengan berjalan kaki. Ini pendapat jahiliyah yang percaya dengan hari kebangkitan. Dan inilah perbuatan jahiliyah yang diharamkan.

0550

550 – وَعَنْ سُلَيْمَانَ بْنِ بُرَيْدَةَ عَنْ أَبِيهِ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا – قَالَ: «كَانَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – يُعَلِّمُهُمْ إذَا خَرَجُوا إلَى الْمَقَابِرِ أَنْ يَقُولُوا: السَّلَامُ عَلَيْكُمْ أَهْلَ الدِّيَارِ مِنْ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُسْلِمِينَ، وَإِنَّا إنْ شَاءَ اللَّهُ بِكُمْ لَاحِقُونَ، نَسْأَلُ اللَّهَ لَنَا وَلَكُمْ الْعَافِيَةَ» رَوَاهُ مُسْلِمٌ

550. Dan dari Sulaiman bin Buraidah dari bapaknya Radhiyallahu Anhuma ia berkata, “Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam selalu mengajarkan mereka jika keluar menuju pekuburan (pemakaman) untuk mengucapkan “Keselamatan atas penghuni perkuburan ini dari orang-orang mu’min dan muslim, dan kami -jika Allah berkehendak- akan menyusul kalian, aku meminta kepada Allah bagi kami dan kalian keselamatan.” (HR. Muslim)

[Shahih: Muslim 975]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

“Dan dari Sulaiman bin Buraidah (Ia adalah Al-Aslami meriwayatkan dari bapaknya dari Imran bin Hushain dan sekelompok ulama shahabat lainnya, wafat pada tahun 115 H) dari bapaknya (yaitu Buraidah) ia berkata, “Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam selalu mengajarkan mereka (yaitu para shahabat) jika keluar menuju perkuburan untuk mengucapkan ‘”Keselamatan atas penghuni rumah-rumah ini dari orang-orang mu’min dan muslim, dan kami jika Allah berkehendak-akan menyusul kalian, aku meminta kepada Allah bagi kami dan kalian keselamatan.” Dan diriwayatkan juga dari hadits Aisyah yang di dalamnya terdapat tambahan,

«وَيَرْحَمُ اللَّهُ الْمُتَقَدِّمِينَ مِنَّا وَالْمُتَأَخِّرِينَ»

“Semoga Allah merahmati orang-orang yang terdahulu yang akan datang di antara kita.’ [Shahih: Muslim 974]

Tafsir Hadits

Hadits tersebut sebagai dalil yang menunjukkan adanya ajaran dan tuntunan berziarah kubur dan mengucapkan salam kepada orang-orang mati yang ada dalam kubur, sebagaimana salam kepada orang-orang yang hidup. Al-Khathabi berkata, “Dalam hadits itu ada kata Ad-dar atau diyar yang berarti kubur dan itulah yang benar.” Lafazh dar menurut bahasa adalah rumah yang ada pada seperempat bagian dari tempat yang didiami dan daerah yang tidak dihuni orang. Pembatasan dengan kalimat Masyiah (insya Allah, pen.) dalam hadits atau ucapan itu, adalah untuk meninggalkan kepastian dan karena mengikuti firman Allah Ta’ala,

{وَلا تَقُولَنَّ لِشَيْءٍ إِنِّي فَاعِلٌ ذَلِكَ غَدًا. إِلا أَنْ يَشَاءَ اللَّهُ}

“Dan jangan sekali-kali kamu mengatakan terhadap sesuatu, “Sesungguhnya aku akan mengerjakan itu besok pagi, kecuali (dengan menyebut) Insya Allah.” (QS. Al-Kahfi: 23-24) Dikatakan juga bahwa kehendak Allah itu kembali pada tanah itu sendiri.

Sedangkan permohonan selamat sejahtera sebagai dalil yang menunjukkan bahwa salamah wa afiat itu termasuk sesuatu yang paling penting dan permohonan yang paling mulia. Selamat sejahtera bagi orang mati itu adalah selamatnya dari siksaan dan pertanyaan-pertanyaan sebagai perhitungan amal perbuatannya.

Maksud dan tujuan ziarah kubur adalah mendoakan orang yang telah mati, tanda berlaku baik terhadap mereka, untuk mengingatkan kehidupan akhirat dan zuhud di dunia. Adapun perbuatan orang-orang pada umumnya sekarang ini, bertentangan dengan tujuan itu. Mereka berdoa kepada orang yang sudah mati dan menjadikannya sebagai wasilah (perantara) kepada Allah ketika memohon pertolongan dan segala keperluannya. Perbuatan ini termasuk bidah dan perbuatan jahiliyah. Pembahasan ini telah dikemukakan sebelumnya.

0551

551 – وَعَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ: «مَرَّ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – بِقُبُورِ الْمَدِينَةِ، فَأَقْبَلَ عَلَيْهِمْ بِوَجْهِهِ فَقَالَ: السَّلَامُ عَلَيْكُمْ يَا أَهْلَ الْقُبُورِ، يَغْفِرُ اللَّهُ لَنَا وَلَكُمْ، أَنْتُمْ سَلَفُنَا وَنَحْنُ بِالْأَثَرِ» رَوَاهُ التِّرْمِذِيُّ، وَقَالَ: حَسَنٌ

551. Dan dari Ibnu Abbas Radhiyallahu Anhuma ia berkata, “Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam melewati pekuburan (pemakaman), kemudian beliau menghadapkan wajahnya ke arah mereka sambil mengucapkan, “Keselamatan atas kalian wahai penduduk kubur Allah mengampuni kami dan kalian, kalian telah mendahului kami dan kami akan menyusul.” (HR. At-Tirmidzi dan ia berkata hadits hasan)

[Dhaif: At Tirmidzi 1053]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Tafsir Hadits

Di sini dijelaskan bahwa beliau memberi salam kepada penghuni kubur ketika beliau melewati pekuburan walaupun tidak dimaksudkan untuk berziarah kepada mereka dan dalam hadits ini dijelaskan bahwa mereka mengetahui orang yang melewati mereka dan salam orang lewat itu atas mereka, jika tidak, maka salam itu akan menjadi sia-sia, zhahir hadits ini untuk jamaah dan lainnya.

Dalam dua hadits -yang pertama dan yang ini- adalah dalil bahwa seseorang apabila mendoakan untuk seseorang, atau memohonkan ampun baginya, maka doanya memohon lebih dulu untuk dirinya, lalu memohon ampun bagi ahli kubur. Cara inilah yang dijelaskan dalam Al-Qur’an dalam ayat-ayat berikut,

{رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلإِخْوَانِنَا}

“Ya Rabb kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami.” (QS. Al-Hasyr: 10)

{وَاسْتَغْفِرْ لِذَنْبِكَ وَلِلْمُؤْمِنِينَ}

‘Dan mohonlah ampunan bagi dosamu dan bagi (dosa) orang-orang Mu’min.” (QS. Muhammad: 19) dan ayat-ayat lain yang semisal.

Ayat ini menunjukkan bahwa doa-doa ini dan serupanya berguna bagi orang yang telah mati, tanpa ada perselisihan pendapat para ulama tentang masalah ini. Adapun mengenai doa-doa lain seperti bacaan Al-Qur’an bagi orang mati, menurut Asy-Syafii tidaklah sampai kepadanya. Sedangkan Ahmad dan sekelompok ulama lainnya berpendapat sampai kepada yang mati. Sekelompok Ahlussunnah dan Al-Hanafiyah berpendapat bahwa manusia boleh memohonkan pahala amalnya untuk diberikan kepada orang lain, baik berupa pahala shalat, puasa, haji, sedekah, bacaan Al-Qur’an, dzikir dan semua macam ibadah yang mendekatkan diri kepada Allah. Inilah pendapat yang paling kuat dalilnya.

Ad-Daraquthni telah meriwayatkan hadits,

«أَنَّ رَجُلًا سَأَلَ النَّبِيَّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – أَنَّهُ كَيْفَ يَبَرُّ أَبَوَيْهِ بَعْدَ مَوْتِهِمَا فَأَجَابَهُ بِأَنَّهُ يُصَلِّي لَهُمَا مَعَ صَلَاتِهِ وَيَصُومُ لَهُمَا مَعَ صِيَامِهِ»

“Ada seorang laki-laki yang pernah menanyakan kepada Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam tentang cara berbakti kepada kedua orang tuanya setelah meninggal keduanya, lalu beliau menjawab, “Yaitu dengan melaksanakan shalat untuk keduanya bersamaan dengan shalat untuk dirinya, dan berpuasa untuk keduanya bersamaan dengan puasa untuk dirinya.” [1]

Diriwayatkan oleh Abu Dawud dari Ma’qil bin Yasar, dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam, beliau bersabda,

«اقْرَءُوا عَلَى مَوْتَاكُمْ سُورَةَ يس»

“Bacakan untuk orang-orang mati di antara kalian dengan surat Yasin.” [Dhaif: Abu Daud 3121]

Hadits itu mencakup juga orang sudah meninggal bahkan begitulah menurut pengertian hakikatnya. Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim,

«أَنَّهُ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – كَانَ يُضَحِّي عَنْ نَفْسِهِ بِكَبْشٍ وَعَنْ أُمَّتِهِ بِكَبْشٍ»

“Sesungguhnya Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam pernah berkurban untuk dirinya seekor kibas dan umatnya seekor kibas.”

Dalam hadits itu terkandung isyarat bahwa manusia itu memperoleh manfaat amal orang lain. Dan kami telah menjelaskannya dengan panjang lebar dalam Hawasiy Dhau An-Nahar dengan penjelasan yang menguatkan pendapat ini.

__________________

[1] Aku tidak menemukan lafazh seperti ini di Sunan Ad-Daraquthni

 

والله أعلمُ بالـصـواب

Download Sumber

 

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *