[ UIC 10.4 ] Kitab Subulus Salam Syarh Bulughul Maram 160

03. KITAB JENAZAH 16

0545

545 – وَعَنْ ابْنِ عُمَرَ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا – عَنْ النَّبِيِّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – قَالَ: «الْمَيِّتُ يُعَذَّبُ فِي قَبْرِهِ بِمَا نِيحَ عَلَيْهِ» . مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

545. Dan dari Ibnu Umar Radhiyallahu Anhuma dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam ia berkata, “Mayat itu diadzab dalam kuburnya disebabkan sesuatu dari ratapan atasnya.” (Muttafaq Alaih)

[Shahih: Al Bukhari 1288 dan Muslim 927]

0546

546 – وَلَهُمَا نَحْوُهُ عَنْ الْمُغِيرَةِ بْنِ شُعْبَةَ – رَضِيَ اللَّهُ تَعَالَى عَنْهُ –

546. Dan dari keduanya serupa hadits di atas dari Al-Mughirah bin Syu’bah.

[Shahih: Al Bukhari 1291 dan Muslim 933]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

“Dan bagi keduanya (yakni dua orang Al-Bukhari dan Muslim sebagaimana yang ditunjukkan oleh lafazh Muttafaq Alaih. Maka yang dimaksud) serupa dengan hadits (serupa hadits Umar).

Tafsir Hadits

Hadits-hadits dalam bab ini banyak sekali, dan di dalamnya menunjukkan bahwa mayat akan diadzab disebabkan oleh ratapan atasnya. Di sini ada sedikit kerumitan dalam permasalahan karena mayat diadzab akibat perbuatan orang lain. Oleh karena itulah, timbul perbedaan jawaban tentang masalah itu. Aisyah Radhiyallahu Anha membantah pendapat Umar dan putranya Abdullah, ia berhujjah berdasarkan firman Allah Ta’ala,

{وَلا تَزِرُ وَازِرَةٌ وِزْرَ أُخْرَى}

“Dan seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain.” (QS. Al-An’am: 164)

Demikian juga Abu Hurairah membantahnya. Al-Qurthubi menganggap jauh dari kebenaran bantahan Aisyah tersebut. Al-Qurthubi mengemukakan beberapa riwayat pendapat beberapa shahabat, “Maka Tidak ada jalan untuk mengingkari isi hadits tersebut disertai kemungkinan mentakwilkan.” Kemudian Al-Qurthubi menggabungkan antara hadits pengadzaban dan ayat – Al-An’am: 164-, ia berkata, “Keadaan alam barzah dihubungkan dengan keadaan-keadaan dunia.” Bahkan terjadi pengadzaban di dunia ini disebabkan oleh dosa orang lain sebagaimana firman Allah,

{وَاتَّقُوا فِتْنَةً لا تُصِيبَنَّ الَّذِينَ ظَلَمُوا مِنْكُمْ خَاصَّةً}

“Dan peliharalah dirimu dari pada siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang yang zhalim saja di antara kamu.” (QS. Al-Anfal: 25)

Berdasarkan ayat tersebut, maka hadits tentang pengazaban orang mati karena ratapan orang hidup itu tidak bertentangan dengan ayat, “Dan seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain.” (QS. Al-An’am: 164) karena maksudnya adalah pemberitahuan tentang keadaan akhirat dan dianggap kuat oleh pensyarah.

Kebanyakan ulama berpendapat bahwa pentakwilan atau penafsiran pengertian hadits itu dilihat dari beberapa segi:

Pertama; Menurut Al-Bukhari bahwa orang mati memang disiksa dalam kuburnya, karena ratapan orang yang hidup, apabila ada ratapannya yang menjadi jalannya, misalnya menyebutkan kesalahan dalam meratapi dan keluarganya mengakuinya dengan ratapan yang demikian sehingga orang yang mati disiksa karenanya. Dan bila tidak maka ia tidak disiksa. Maksudnya bahwa orang mati itu disiksa karena sebagian ratapan keluarganya. Tegasnya, seseorang akan disiksa karena sebab perbuatan orang lain apabila dalam perbuatannya itu ada sebab yang mendatangkan siksaan baginya.

Kedua; Maksudnya bahwa orang yang mati disiksa apabila ia sebelumnya pernah berwasiat agar ditangisi setelah ia mati. Ini cara penafsiran mayoritas ulama. Mereka berkata, “Cara semacam ini telah terkenal dikalangan masyarakat kuno sebagaimana tercermin dalam syair Tharfah bin Al-Abdu berikut:

إذَا مِتّ فَابْكِينِي بِمَا أَنَا أَهْلُهُ … وَشُقِّي عَلَيَّ الْجَيْبَ يَا أُمَّ مَعْبَدِ

Apabila aku meninggal maka ratapilah aku dengan apa yang pantas bagiku

Dan tersobeklah saku bajumu untukku wahai Ummu Ma’bad

Tidak mestinya terjadi ratapan dari keluarga orang yang mati karena mengikuti pesannya dan ia tidak disiksa karena tidak menurutinya, bahkan ia disiksa tanpa ada wasiat sekalipun. Apabila mereka mengikuti wasiatnya dan meratapinya maka orang yang mati disiksa karena dua perkara yaitu karena wasiatnya yang bukan pada tempatnya dan ratapan keluarganya.

Ketiga; Bahwa yang disiksa karena ratapan itu khusus orang kafir saja. Dan orang yang beriman tidak disiksa sama sekali karena dosa orang lain. Akan tetapi, pendapat ini jelas jauh dari kebenaran karena orang kafir pun tidak dipikulkan atas dosa orang lain berdasarkan firman Allah, “Dan seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain.” (QS. Al-An’am-164)

Keempat; Bahwa makna penyiksaan dalam hadits itu adalah berupa celaan dan penghinaan malaikat terhadap orang yang mati, karena ratapan keluarganya berdasarkan riwayat Ahmad dari Abu Musa secara marfu,

«الْمَيِّتُ يُعَذَّبُ بِبُكَاءِ الْحَيِّ إذَا قَالَتْ النَّائِحَةُ: وَا عَضُدَاهْ وَا نَاصِرَاهْ وَا كَاسِيَاهْ جِلْدَ الْمَيِّتِ وَقَالَ: أَنْتَ عَضُدُهَا أَنْتَ نَاصِرُهَا أَنْتَ كَاسِيهَا»

“Orang mati itu disiksa karena tangisan orang yang hidup, apabila perempuan yang meratapinya sewaktu menangisinya itu berkata, “Aduhai penolongnya dan pembantunya, Wahai orang yang memakaikan kulit mayat dan ia berkata, “Engkaulah pembantu dan penolongnya dan engkaulah pemberi pakaiannya.”

Hadits yang semakna dengan hadits tersebut diriwayatkan oleh Ibnu Majah dan At-Tirmidzi. [Hasan: At Tirmidzi 1003]

Kelima; Bahwa pengertian penyiksaan itu adalah rasa sakit dan pedih orang yang mati, karena sesuatu yang terjadi dari keluarganya berupa ratapan dan lainnya karena perasaannya halus.

Ulama yang berpendapat sesuai dengan tafsiran ini adalah Muhammad bin Jarir dan lainnya. Al-Qadhi ‘lyadh berkata, “Inilah pendapat yang paling baik.” Mereka berhujjah dengan hadits,

«أَنَّهُ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – زَجَرَ امْرَأَةً عَنْ الْبُكَاءِ عَلَى ابْنِهَا، وَقَالَ: إنَّ أَحَدَكُمْ إذَا بَكَى اسْتَعْبَرَ لَهُ صُوَيْحِبُهُ يَا عِبَادَ اللَّهِ لَا تُعَذِّبُوا إخْوَانَكُمْ»

“Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam membentak seorang perempuan karena ia menangisi anak laki-lakinya yang meninggal seraya bersabda, “Sesungguhnya jika seorang menangis maka ia diingatkan oleh malaikat: Wahai Hamba Allah, janganlah kamu menyiksa saudara-saudaramu.” [Al-Mu’jam Al-Kabir (25/10)]

Al-Qadhi ‘lyadh mengemukakan sebagai dalilnya bahwa amal seorang hamba Allah itu diperlihatkan kepada orang-orang yang mati di antara mereka. Dan hadits ini shahih. Mengenai hal tersebut terdapat juga tafsiran lainnya dan yang telah kami sebutkan itu adalah yang paling penting dalam masalah ini.

0547

547 – وَعَنْ أَنَسٍ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – قَالَ: «شَهِدْت بِنْتًا لِلنَّبِيِّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – تُدْفَنُ، وَرَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – جَالِسٌ عِنْدَ الْقَبْرِ، فَرَأَيْت عَيْنَيْهِ تَدْمَعَانِ.» رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ.

547. Dan dari Anas Radhiyallahu Anhu ia berkata, ‘Aku menyaksikan putri Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dimakamkan dan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam duduk di atas kubur, dan aku melihat kedua matanya mengeluarkan air mata (karena menangis).” (HR. Al-Bukhari).

[Shahih: Al Bukhari 1285]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Al-Waqidi dan lainnya telah menjelaskan dalam riwayatnya bahwa putri beliau yang meninggal adalah Ummu Kultsum. Al-Bukhari telah membantah pendapat orang yang mengatakan bahwa putrinya yang meninggal itu adalah Ruqayah, karena ia meninggal sewaktu Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam berada di Badar, sehingga beliau tidak menyaksikan penguburannya.

Tafsir Hadits

Hadits ini sebagai dalil yang menunjukkan boleh menangisi orang mati setelah meninggalnya. Telah dijelaskan di depan pendapat yang membolehkan menangisi orang mati. Hanya saja pendapat dan hadits itu diperselisihkan dengan hadits,

«فَإِذَا وَجَبَتْ فَلَا تَبْكِينَ بَاكِيَةً»

“Jika perempuan itu telah menemui ajalnya, maka janganlah kamu semua menangisinya.” [Shahih: Abu Daud 3111]

Cara menggabungkan kedua hadits itu adalah bahwa yang dilarang adalah dengan mengeraskan suara atau berteriak, atau larangan itu dikhususkan untuk perempuan karena tangisannya berbentuk ratapan. Jadi larangan perempuan untuk menangis adalah sebagai tindakan pencegahan.

0548

548 – وَعَنْ جَابِرٍ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – أَنَّ النَّبِيَّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – قَالَ: «لَا تَدْفِنُوا مَوْتَاكُمْ بِاللَّيْلِ إلَّا أَنْ تَضْطَرُّوا» أَخْرَجَهُ ابْنُ مَاجَهْ، وَأَصْلُهُ فِي مُسْلِمٍ، لَكِنْ قَالَ: «زَجَرَ أَنْ يُقْبَرَ الرَّجُلُ بِاللَّيْلِ. حَتَّى يُصَلَّى عَلَيْهِ»

548. Dan dari Jabir Radhiyallahu Anhu, sesungguhnya Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam berkata, “Janganlah kalian menguburkan mayat-mayat kalian pada malam hari kecuali karena terpaksa.” (HR. Ibnu Majah dan asalnya dalam Muslim), tetapi ia berkata, “Menegaskan larangan untuk menguburkan seorang laki-laki pada waktu malam sampai ia dishalatkan.”

[Shahih: Ibnu Majah 1543]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Tafsir Hadits

Hadits itu menunjukkan larangan menguburkan mayat pada waktu malam, kecuali karena darurat. Ulama yang sependapat dengan hal ini adalah Al-Hasan. Telah dijelaskan alasan larangan itu adalah karena malaikat pada siang hari itu lebih lemah lembut daripada malaikat pada malam hari dalam bicaranya. Pensyarah mengatakan, “Hanya Allah yang mengetahui keshahihannya.” [Dhaif: Dhaif Al Jami 2017]

Ucapan perawi, “Bahwa asal hadits itu dalam Shahih Muslim” yang lafazhnya menurut Muslim, “Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam berkhutbah pada suatu hari, beliau menyebut seorang laki-laki di antara shahabatnya yang meninggal dan dikafani dengan kafan yang tidak menutupi seluruh badannya, dan dikuburkan pada waktu malam, padahal beliau telah melarang menguburkan mayat pada malam hari sebelum dishalati, kecuali dalam keadaan darurat.”

Berdasarkan itu jelas bahwa larangan itu hanyalah jika sekiranya terjadi pengurangan hak orang mati itu; misalnya tidak dishalati atau karena tanpa perbaikan dan penyempurnaan kafannya.

Apabila dengan penundaan penguburan mayat itu hingga besok siang memungkinkan banyaknya orang yang datang menyalatkannya atau diharapkan kehadiran mereka untuk mendoakannya maka penundaan penguburannya itu lebih baik.

Berdasarkan itu pula, boleh menunda penguburan dengan tidak buru-buru walaupun pada siang hari. Adapun yang menunjukkan bolehnya menguburkan pada malam hari adalah yang dilakukan Ali Alaihissalam terhadap mayat istrinya Fatimah pada waktu malam dan para shahabat menguburkan mayat Abu Bakar juga pada malam hari.

Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dari Ibnu Abbas, bahwa Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam memasuki pekuburan pada malam hari lalu dibawakan pelita baginya, beliau mengambil tempat dari arah kiblat. Beliau bersabda,

رَحِمَك اللَّهُ إنْ كُنْت لَأَوَّاهًا تَلَّاءً لِلْقُرْآنِ

“Allah merahmati engkau, jika engkau dulu seorang pemaaf dan sering membaca Al-Qur’an.” Ia berkata, “Hadits ini Hasan.” [Dhaif: At Tirmidzi 1057]

At-Tirmidzi berkata, “Mayotitas ulama mengizinkan penguburan pada malam hari.” Tetapi Ibnu Hazm berkata, “Tidak boleh menguburkannya pada waktu malam kecuali sangat darurat.” Ia berkata, “Adanya penguburan pada malam hari di antara shahabat dan istri-istrinya, hanyalah karena keadaan darurat yang memaksanya.” Misalnya karena kekhawatiran penuh sesaknya tempat pekuburan atau karena takut kepanasan bagi orang yang hadir mengiringi jenazah, atau takut membusuk, atau alasan-alasan lain yang membolehkan penguburannya pada waktu malam. Tidak halal bagi seseorang mempunyai persangkaan lain terhadap perbuatan shahabat yang melakukan penguburan pada waktu malam berbeda dengan ini (keadaan darurat, pen.)

Catatan:

Dalam pembahasan tentang waktu-waktu shalat telah dikemukakan hadits,

«ثَلَاثُ سَاعَاتٍ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – يَنْهَانَا أَنْ نُصَلِّيَ فِيهِنَّ وَأَنْ نَقْبُرَ فِيهِنَّ مَوْتَانَا حِينَ تَطْلُعُ الشَّمْسُ بَازِغَةً حَتَّى تَرْتَفِعَ وَحِينَ يَقُومُ قَائِمُ الظَّهِيرَةِ حَتَّى تَزُولَ الشَّمْسُ وَحِينَ تَضَيُّفُ الشَّمْسُ لِلْغُرُوبِ حَتَّى تَغْرُبَ»

“Dari Uqbah bin Amir yang menjelaskan tentang tiga waktu dimana Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam pernah melarang kami shalat pada tiga waktu dan melarang menguburkan mayat-mayat dari kami dalam – tiga waktu, yaitu pada waktu matahari mulai terbit hingga meninggi, pada waktu tepat tengah hari hingga matahari tergelincir dan pada waktu matahari hampir terbenam hingga sempurnanya terbenam.”

Sebaiknya pengarang mengemukakan hadits tersebut dalam bab ini.

 

والله أعلمُ بالـصـواب

Download Sumber

 

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *