[ UIC 10.4 ] Kitab Subulus Salam Syarh Bulughul Maram 159

03. KITAB JENAZAH 15

0540

540 – وَعَنْ بُرَيْدَةَ بْنِ الْحُصَيْبِ الْأَسْلَمِيِّ – رَضِيَ اللَّهُ تَعَالَى عَنْهُ – قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -: «كُنْت نَهَيْتُكُمْ عَنْ زِيَارَةِ الْقُبُورِ فَزُورُوهَا» رَوَاهُ مُسْلِمٌ، زَادَ التِّرْمِذِيُّ (فَإِنَّهَا تُذَكِّرُ الْآخِرَةَ ”

540. Dan dari Buraidah bin Al-Hushaib Al Aslamy Radhiyallahu Anbu ia berkata, “Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Dulu aku pernah melarang kalian untuk menziarahi kuburan, maka (sekarang) ziarahilah.” (HR. Muslim, dan At-Tirmidzi menambahkan yakni dari hadits Buraidah “Karena itu mengingatkan kalian dengan kematian.”)

[Shahih: Muslim (977); At-Tirmidzi (1054)]

0541

541 – زَادَ ابْنُ مَاجَهْ مِنْ حَدِيثِ ابْنِ مَسْعُودٍ ” وَتُزَهِّدُ فِي الدُّنْيَا ”

541. Ibnu Majah menambahkan dari hadits Ibnu Mas’ud, “Dan lebih menjadikan kalian zuhud terhadap dunia.”

[Dhaif: Ibnu Majah 1593]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Hadits ini sama dengan hadits sebelumnya dengan tambahan kalimat, (bahwa ziarah kubur itu) menjadikan zuhud dunia.”

Tafsir Hadits

Mengenai bab ini terdapat beberapa hadits dari Abu Hurairah dalam riwayat Muslim, dari Ibnu Mas’ud yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah dan Al-Hakim. Hadits dari Abu Said yang diriwayatkan oleh Ahmad dan Al-Hakim, hadits dari Ali Alaihissalam yang diriwayatkan oleh Ahmad dari Aisyah yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah. Kesemua hadits tersebut menunjukkan adanya tuntunan ziarah kubur dan keterangan tentang hikmahnya, bahwa ziarah kubur itu dapat menjadi pelajaran bagi yang menziarahinya, sebagaimana dalam hadits dari Ibnu Mas’ud,

«فَإِنَّهَا عِبْرَةٌ وَذِكْرٌ لِلْآخِرَةِ وَالتَّزْهِيدِ فِي الدُّنْيَا»

“…Sesungguhnya ziarah kubur itu sebagai suatu pelajaran dan peringatan akan akhirat dan menjadikan zuhud terhadap dunia.”

Apabila kosong dari hikmah itu, maka ziarah kubur tidak dikehendaki dalam ajaran agama. Hadits ini menghimpun dua macam kalimat yaitu yang pertama mengingatkan kita bahwa Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam pernah melarang ziarah kubur kemudian beliau mengizinkannya kembali. Perintahnya, “Ziarahilah kubur.” Merupakan perintah kepada orang laki-laki dan perintah itu hanya menunjukkan hukum sunnah, lebih-lebih menziarahi kuburan kedua orang tua. Ini sudah disepakati para ulama.

Adapun ucapan, “Semoga sejahtera bagi kamu semua wahai kaum ahli kubur, orang-orang beriman dan semoga rahmat Allah dan rahmat-Nya (dilimpahkan bagimu)” yaitu ucapan yang berkunjung ketika tiba di kubur.

Dan beliau berdoa memohonkan ampunan bagi mereka dan semacamnya. Akan dijelaskan kemudian dalam hadits yang diriwayatkan oleh Muslim. Dan mengenai bacaan Al-Qur’an dan semacamnya di sisi kubur akan dijelaskan kemudian.

0542

542 – وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – «أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – لَعَنَ زَائِرَاتِ الْقُبُورِ.» أَخْرَجَهُ التِّرْمِذِيُّ وَصَحَّحَهُ ابْنُ حِبَّانَ.

542. Dan dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu sesungguhnya Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam melaknat perempuan yang menziarahi kubur.” (HR, At-Tirmidzi dan dishahihkan oleh Ibnu Hibban)

[Hasan: At Tirmidzi 1056]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Tafsir Hadits

Dan berkata At-Tirmidzi setelah meriwayatkan hadits ini, “Hadits ini hasan.” Mengenai masalah ini terdapat hadits Ibnu Abbas dan Hasan. Sebagian ulama berkata, “Bahwa hadits itu ada sebelum Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam membolehkan ziarah kubur, setelah beliau membolehkannya maka termasuk laki-laki dan perempuan.” Sebagian ulama berkata, “Hanya makruh ziarah kubur itu bagi orang-orang perempuan karena mereka kurang sabar dan banyak keluh kesahnya.” Kemudian ia menurunkan dengan riwayatnya bahwa ketika Abdurrahman bin Abu Bakar meninggal dunia dan dikuburkan di Makkah, lalu Aisyah datang untuk menziarahi kuburnya, kemudian ia mengucapkan syair,

وَكُنَّا كَنَدْمَانَيْ جَذِيمَةَ بُرْهَةً … مِنْ الدَّهْرِ حَتَّى قِيلَ لَنْ يَتَصَدَّعَا

وَعِشْنَا بِخَيْرٍ فِي الْحَيَاةِ وَقَبْلَنَا … أَصَابَ الْمَنَايَا رَهْطَ كِسْرَى وَتُبَّعَا

وَلَمَّا تَفَرَّقْنَا كَأَنِّي وَمَالِكًا … لِطُولِ اجْتِمَاعٍ لَمْ نَبِتْ لَيْلَةً مَعَا

Kami seperti orang-orang yang menyesal merasa sakit suatu waktu

Sehingga dikatakan tidak akan berakhir

Kami hidup dengan baik dalam kehidupan dunia

Sedangkan sebelumnya kami ditimpa oleh angan-angan dan suatu kaum berpecah belah

Dan ketika kami berpisah seakan-akan aku dan Malik hanya sempat menginap

satu malam karena sudah lamanya kami berkumpul

Makna yang ditunjukkan sebagian ulama (tentang makruhnya perempuan ziarah kubur. Pen) ini sesuai dengan riwayat yang dikeluarkan oleh Muslim.

« عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ: كَيْفَ أَقُولُ يَا رَسُولَ اللَّهِ إذَا زُرْت الْقُبُورَ؟ فَقَالَ: قُولِي: السَّلَامُ عَلَى أَهْلِ الدِّيَارِ مِنْ الْمُسْلِمِينَ وَالْمُؤْمِنِينَ يَرْحَمُ اللَّهُ الْمُتَقَدِّمِينَ مِنَّا وَالْمُتَأَخِّرِينَ وَإِنَّا إنْ شَاءَ اللَّهُ بِكُمْ لَاحِقُونَ»

“Dari Aisyah, ia bertanya kepada Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam, “Bagaimana dan apa yang saya ucapkan wahai Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam jika aku menziarahi kubur?” lalu beliau bersabda, “Ucapkanlah, Semoga selamat sejahtera bagi ahli kubur dari orang-orang Islam dan beriman, semoga Allah merahmati orang-orang yang terdahulu dari kami dan yang akan datang dan sesungguhnya kami jika Allah sudah menghendaki akan menemui kalian semua.” [Shahih: Muslim 974]

Dan riwayat yang dikeluarkan oleh Al-Hakim dari hadits Ali bin Al-Husain Alaihimassalam,

«أَنَّ فَاطِمَةَ – عَلَيْهَا السَّلَامُ – كَانَتْ تَزُورُ قَبْرَ عَمِّهَا حَمْزَةَ كُلَّ جُمُعَةٍ فَتُصَلِّي وَتَبْكِي عِنْدَهُ»

“Sesungguhnya Fatimah Alaihassalam pernah menziarahi kubur pamannya Hamzah setiap Jum’at, ia berdoa untuknya dan menangis di sisinya.”

Saya katakan: bahwa hadits ini mursal, dan sesungguhnya Ali bin Al-Husain tidak mendapatkan masa hidupnya Fatimah binti Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam dan semua hadits yang diriwayatkan oleh Al-Baihaqi dalam Syu’ab Al-Iman secara mursal, bahwa beliau bersabda,

«مَنْ زَارَ قَبْرَ الْوَالِدَيْنِ أَوْ أَحَدِهِمَا فِي كُلِّ جُمُعَةٍ غُفِرَ لَهُ وَكُتِبَ بَارًّا»

“Barangsiapa menziarahi kuburan kedua orangtuanya atau salah satunya pada setiap hari Jumat, maka dituliskan suatu kebaikan baginya.”

0543

543 – وَعَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ – رَضِيَ اللَّهُ تَعَالَى عَنْهُ – قَالَ: «لَعَنَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – النَّائِحَةَ وَالْمُسْتَمِعَةَ.» أَخْرَجَهُ أَبُو دَاوُد

543. Dan dari Abu Said Al-Khudri Radhiyallahu Anhu ia berkata, “Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam melaknati orang perempuan yang meratapi mayat dan perempuan-perempuan yang memperdengarkannya.” (HR. Abu Dawud)

[Dhaif: Abu Daud 3128]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Tafsir Hadits

Meratapi mayat adalah menangis dengan mengeraskan suara sambil menyebutkan sifat dan keadaan mayat serta perbuatan dan jasa-jasa baiknya. Hadits tersebut sebagai dalil yang menunjukkan haramnya yang demikian, dan ini sudah disepakati ulama.

0544

544 – وَعَنْ أُمِّ عَطِيَّةَ – رَضِيَ اللَّهُ تَعَالَى عَنْهَا – قَالَتْ: «أَخَذَ عَلَيْنَا رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – أَنْ لَا نَنُوحَ.» مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

544. Dan dari Ummu Athiyyah Radhiyallahu Anha ia berkata, “Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam mengambil janji kami untuk tidak meratapi mayat.” (Muttafaq Alaih)

[Shahih: Al Bukhari 1306 dan Muslim 936]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Tafsir Hadits

Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam pernah mengadakan perjanjian dengan mereka dan menerima perjanjian itu sewaktu mengadakan sumpah setia dengan mereka untuk tetap konsekuen dengan jaran agama Islam.

Kedua hadits di atas menunjukkan larangan keras, dan haram bagi orang yang meratapi mayat serta orang yang sengaja mendengarkan orang yang meratap, karena kutukan itu hanyalah atas sesuatu yang diharamkan. Mengenai hal ini terdapat hadits Ibnu Mas’ud, ia berkata, Rasulullah Shallallahu Alaih, wa Sallam bersabda,

«لَيْسَ مِنَّا مَنْ ضَرَبَ الْخُدُودَ وَشَقَّ الْجُيُوبَ وَدَعَا بِدَعْوَى الْجَاهِلِيَّةِ»

“Bukan dari umat kami, orang yang meratap sampai memukul-mukul pipinya, yang merobek-robek saku baju dan yang berseru keras seperti seruan orang jahiliyah.” (Muttafaq Alaih) [Shahih: Al Bukhari 1294 dan Muslim 103]

Dan diriwayatkan dari hadits Abu Musa, “Bahwasanya Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda,

«أَنَا بَرِيءٌ مِمَّنْ حَلَقَ وَسَلَقَ وَخَرَقَ»

“Aku berlepas diri dari orang yang mencukur rambut, dari orang yang berteriak dan yang membakar pakaian (karena musibah yang menimpanya).” [Shahih: Muslim 104]

Mengenai masalah ini terdapat hadits selainnya. Dan hadits itu bertentangan dengan hadits yang diriwayatkan oleh Ahmad, Ibnu Majah dan yang dishahihkan oleh Al-Hakim, dari Ibnu Umar, “Bahwa Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam pernah melewati beberapa perempuan keluarga Ibnu Abdul Ashal yang sedang menangisi keluarganya yang mati syahid dalam Perang Uhud dan Hamzah termasuk yang ditangisi; kemudian datang perempuan-perempuan Anshar yang menangisi Hamzah.” [Hasan Shahih: Ibnu Majah 1614]

Hadits tersebut dibatalkan hukumnya (mansukh) dengan keterangan pada akhir hadits, “Bahwasanya beliau bersabda kepada mereka,

«فَلَا تَبْكِينَ عَلَى هَالِكٍ بَعْدَ الْيَوْمِ»

“Janganlah kalian menangisi orang yang binasa dalam suatu musibah setelah hari ini.”

Sabda beliau itu menunjukkan bahwa yang dimaksud adalah meratapi dengan tangisan, karena menangisi saja tidak dilarang sebagaimana ditunjukkan dalam penjelasan hadits yang diriwayatkan oleh An-Nasa’i dari Abu Hurairah, ia berkata,

«مَاتَ مَيِّتٌ مِنْ آلِ رَسُولِ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – فَاجْتَمَعَ النِّسَاءُ يَبْكِينَ عَلَيْهِ فَقَامَ عُمَرُ يَنْهَاهُنَّ وَيَطْرُدُهُنَّ فَقَالَ لَهُ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -: دَعْهُنَّ يَا عُمَرُ فَإِنَّ الْعَيْنَ تَدْمَعُ وَالْقَلْبُ مُصَابٌ وَالْعَهْدُ قَرِيبٌ »

“Meninggal seseorang dari keluarga Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam kemudian perempuan berkumpul menangisinya, kemudian Umar melarang mereka dan mengusirnya.” Kemudian Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Biarkan mereka wahai Umar, karena sesungguhnya mata itu menangis sewaktu hati terkena musibah dan waktunya sebentar saja.” [Dhaif: An Nasa’i 1858]

Yang meninggal adalah Zainab, sebagaimana dijelaskan dalam hadits dari Ibnu Abbas yang diriwayatkan oleh Ahmad,

«إيَّاكُنَّ وَنَعِيقَ الشَّيْطَانِ فَإِنَّهُ مَهْمَا كَانَ مِنْ الْعَيْنِ وَمِنْ الْقَلْبِ فَمِنْ اللَّهِ وَمِنْ الرَّحْمَةِ وَمَا كَانَ مِنْ الْيَدِ وَاللِّسَانِ فَمِنْ الشَّيْطَانِ»

“Tinggalkan oleh kalian perempuan yang menangis sambil memuji-muji kebaikan orang seperti setan karena tangisan itu tampaknya dari mata dan timbulnya dari hati, maka sebenarnya itu termasuk rahmat Allah dan apa-apa yang dari tangan dan lidah maka sebenarnya dari setan.” [Dhaif: Al-Misykah 1748, Adh-Dhaifah 3361, Dhaif Al Jami 2215. Ebook editor]

Hadits tersebut menunjukkan boleh menangisi orang yang mati dan yang dilarang hanyalah tangisan dengan menyaringkan suara ratapannya. Dan juga dalam ucapan beliau Shallallahu Alaihi wa Sallam,

«الْعَيْنُ تَدْمَعُ وَيَحْزَنُ الْقَلْبُ وَلَا نَقُولُ إلَّا مَا يُرْضِي الرَّبَّ»

“Mata itu mengeluarkan air mata dan hati merasa sedih, tidak boleh kamu mengucapkan selain sesuatu yang diridhai Allah.” [Shahih: Al Bukhari 1303 dan Muslim 2315]

Beliau mengucapkan demikian sewaktu meninggal putranya Ibrahim.

Dan diriwayatkan dari Al-Bukhari dari Ibnu Umar,

«إنَّ اللَّهَ لَا يُعَذِّبُ بِدَمْعِ الْعَيْنِ وَلَا بِحُزْنِ الْقَلْبِ وَلَكِنْ يُعَذِّبُ بِهَذَا وَأَشَارَ إلَى لِسَانِهِ أَوْ يَرْحَمُ»

“Sesungguhnya Allah tidak menyiksa karena tetesan air mata dan tidak juga karena susahnya hatinya, tetapi Allah akan menyiksa karena ini -sambil beliau menunjuk lidahnya- kecuali Dia mengasihaninya.” [Shahih: Al Bukhari 1304 dan Muslim 924]

Adapun keterangan dalam hadits Aisyah Radhiyallahu Anha, dalam sabda beliau Shallallahu Alaihi wa Sallam kepada orang yang beliau perintahkan untuk melarang para perempuan yang berkumpul menangisi Ja’far bin Abu Thalib, beliau bersabda,

اُحْثُ فِي وُجُوهِهِنَّ التُّرَابَ

“Hamburkan tanah ke mulut mereka yang menangis itu.” [Shahih: Al Bukhari 1299 dan Muslim 935]

Maka harus ditafsirkan bahwa mereka menangis sambil meratapinya kemudian beliau menyuruh shahabatnya untuk melarang walaupun dengan menghamburkan tanah debu ke mulut mereka.

 

والله أعلمُ بالـصـواب

Download Sumber

 

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *