[ UIC 10.4 ] Kitab Subulus Salam Syarh Bulughul Maram 158

03. KITAB JENAZAH 14

0537

537 – وَعَنْ عَامِرِ بْنِ رَبِيعَةَ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ -: «أَنَّ النَّبِيَّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – صَلَّى عَلَى عُثْمَانَ بْنِ مَظْعُونٍ، وَأَتَى الْقَبْرَ، فَحَثَى عَلَيْهِ ثَلَاثَ حَثَيَاتٍ وَهُوَ قَائِمٌ» رَوَاهُ الدَّارَقُطْنِيُّ.

537. Dan dari Amir bin Rabiah Radhiyallahu Anhu sesungguhnya Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam menyalati Utsman bin Mazh’un dan beliau mendatangi kuburnya, lalu beliau menaburkan tanah tiga kali di atasnya dalam keadaan berdiri.” (HR. Ad-Daraquthni).

[Hasan: Al Irwa’ 743]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Diriwayatkan dari Al-Bazzar, sesudah kalimat, “wahuwa qa’imun” (sedang beliau berdiri) dengan penambahan, ‘inda ra’sibi’ (pada bagian kepalanya). Dan ia juga menambahkan ‘wa amara farasysya al-ma’a alaihi’ (dan beliau memerintahkan untuk memercikkan air di atasnya). Abu Syaikh meriwayatkan dalam Makarim Al Akhlaq dari Abu Hurairah secara marfu,

«مَنْ حَثَى عَلَى مُسْلِمٍ احْتِسَابًا كُتِبَ لَهُ بِكُلِّ ثَرَاةٍ حَسَنَةٌ»

‘Tidaklah ada orang yang menaburkan -tanah- atas orang mukmin karena mengharap pahala kecuali akan dituliskan baginya di dalam setiap butiran tanah kebaikan.” Sanad hadits ini dhaif.

Ibnu Majah meriwayatkan dari hadits Abu Hurairah,

«أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – حَثَى مِنْ قِبَلِ الرَّأْسِ ثَلَاثًا»

“Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam telah menaburkan -tanah- di arah kepala dengan tiga kali taburan.” Abu Hatim berkata, “Hadits ini batil.”

Al-Baihaqi meriwayatkan dari jalan Muhammad bin Abu Ziyad dari Abi Umamah, ia berkata,

«تُوُفِّيَ رَجُلٌ فَلَمْ تُصَبْ لَهُ حَسَنَةٌ إلَّا ثَلَاثَ حَثَيَاتٍ حَثَاهَا عَلَى قَبْرٍ فَغُفِرَتْ لَهُ ذُنُوبُهُ»

“Seorang laki-laki meninggal, ia tidak mendapat satu kebaikan, kecuali tiga taburan yang ditaburkan di atas kuburnya, maka diampunkanlah dosa-dosanya dengan itu.”

Tetapi hadits ini saling menguatkan dari sebagian yang lain sehingga menjadi dalil disyariatkannya untuk menaburkan tanah di atas kuburan dengan tiga kali taburan, dan ini dilakukan dengan tangan secara bersamaan. Karena tetapnya riwayat dari Amir bin Rabi’ah yang di dalamnya disebutkan hatstsa biyadaihi (beliau menaburkan -tanah- dengan kedua tangannya). Pengikut Asy-Syafii mensunnahkan dalam penaburan tersebut untuk mengucapkan ayat berikut,

{مِنْهَا خَلَقْنَاكُمْ وَفِيهَا نُعِيدُكُمْ}

“Dari bumi (tanah) itulah Kami menjadikan kamu dan kepadanya Kami akan , mengembalikan kamu.” (QS. Thaha: 55).

0538

538 – وَعَنْ عُثْمَانَ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – قَالَ: «كَانَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – إذَا فَرَغَ مِنْ دَفْنِ الْمَيِّتِ وَقَفَ عَلَيْهِ وَقَالَ: اسْتَغْفِرُوا؛ لِأَخِيكُمْ وَاسْأَلُوا لَهُ التَّثْبِيتَ، فَإِنَّهُ الْآنَ يُسْأَلُ» رَوَاهُ أَبُو دَاوُد، وَصَحَّحَهُ الْحَاكِمُ.

538. Dan dari Utsman Radhiyallahu Anhu ia berkata, “Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam jika telah selesai menguburkan mayat, beliau berdiri di atasnya dan bersabda, “Mintakanlah ampunan bagi saudara kalian dan mohonlah baginya ketetapan hati, karena sekarang ia sedang ditanya.” (HR. Abu Dawud dan dishahihkan oleh Al-Hakim)

[Shahih: Abu Daud 3221]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Hadits tersebut menunjukkan bahwa mayat mendapat manfaat dari istighfar orang yang hidup untuknya. Ini berdasarkan dengan firman Allah Ta’ala,

{رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالإِيمَانِ}

“Ya Rabb kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami.” (QS. Al-Hasyr: 10).

{وَاسْتَغْفِرْ لِذَنْبِكَ وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ}

“Dan mohonlah ampunan bagi dosamu dan bagi (dosa) orang-orang mukmin, laki-laki dan perempuan.” (QS. Muhammad: 19) dan ayat-ayat lain serupa dengan kedua ayat ini.

Sesungguhnya orang yang meninggal ditanya dalam kuburnya. Telah datang beberapa riwayat tentang hal ini dalam beberapa hadits shahih lainnya, sebagaimana hadits yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim di antaranya hadits Anas, sesungguhnya Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda,

«إنَّ الْمَيِّتَ إذَا وُضِعَ فِي قَبْرِهِ وَتَوَلَّى عَنْهُ أَصْحَابُهُ إنَّهُ لِيَسْمَعَ قَرْعَ نِعَالِهِمْ» زَادَ مُسْلِمٌ ” وَإِذَا انْصَرَفُوا أَتَاهُ مَلَكَانِ ”

“Sesungguhnya orang yang mati apabila sudah diletakkan dalam kuburannya dan teman-temannya telah berpaling daripadanya, maka sesungguhnya ia mendengar bunyi terompah mereka.” Dalam riwayat Muslim terdapat penambahan, “Dan apabila mereka bubar, maka datanglah kepadanya dua malaikat.” [Shahih: Al Bukhari 1377 dan Muslim 2870]

Ibnu Hibban dan At-Tirmidzi menambahkan dari hadits Abu Hurairah,

«أَزْرَقَانِ أَسْوَدَانِ يُقَالُ لِأَحَدِهِمَا: الْمُنْكَرُ وَالْآخَرُ النَّكِيرُ»

“Keduanya biru-biru kehitaman yang dinamakan salah satunya dengan Al-Munkar dan lainnya An-Nakir.” [Shahih: At Tirmidzi 1071]

Ath-Thabrani menambahkan di dalam Al Ausath,

«أَعْيُنُهُمَا مِثْلُ قُدُورِ النُّحَاسِ وَأَنْيَابُهُمَا مِثْلُ صَيَاصِي الْبَقَرِ وَأَصْوَاتُهُمَا مِثْلُ الرَّعْدِ»

“Kedua matanya seperti periuk-periuk tembikar dan taring keduanya seperti dua tanduk sapi dan suara-suaranya seperti petir.” [Dhaif: Adh-Dhaifah 5385 dan Dhaif Targhib wa Tarhib 2081. Ebook editor]

Abdurrazaq menambahkan,

«وَيَحْفِرَانِ بِأَنْيَابِهِمَا وَيَطَآنِ فِي أَشْعَارِهِمَا وَمَعَهُمَا مِرْزَبَّةٌ لَوْ اجْتَمَعَ عَلَيْهَا أَهْلُ مِنًى لَمْ يُقِلُّوهَا»

“Kedua taringnya dapat menggali lubang, dan ia dapat meratakannya dengan rambutnya bersama keduanya ada batang besi yang berat yang jika berkumpul penduduk Mina untuk mengangkatnya niscaya tidak akan mampu.”

Al-Bukhari menambahkan dari hadits Barra,

«فَيُعَادُ رُوحُهُ فِي جَسَدِهِ»

“Maka dikembalikanlah ruh mayat tersebut ke jasadnya.” [Shahih: Abu Daud 3212; Ash-Shan’ani telah keliru menisbatkannya kepada Al Bukhari]

Kumpulan hadits-hadits ini memberikan manfaat bahwa keduanya bertanya kepada mayat dan keduanya berkata kepadanya, “Siapa Tuhan yang kamu sembah?” Dan jika Allah memberi petunjuk kepadanya maka ia akan menjawab, “Aku menyembah Allah.” Maka kedua malaikat itu bertanya lagi, “Apa yang kau katakan kepada laki-laki ini?” Yakni kepada Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam. Adapun orang-orang mukmin mereka berkata, “Kami menyaksikan sesungguhnya ia hamba Allah dan Rasul-Nya.”

Dalam riwayat lain disebutkan, “Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya.” Maka dikatakan kepadanya, “Engkau telah benar, maka tidak lagi ditanya yang lain-lainnya.” Kemudian dikatakan kepadanya, “Engkau telah berada dalam keyakinan, dalam keyakinan itulah engkau meninggal, dan atas inilah engkau akan dibangkitkan insya Allah.”

Dalam lafazh lain, “Maka memanggillah Sang Penyeru dari atas langit, ‘Telah benar Hamba-Ku maka luruskanlah jalannya ke surga, bukakanlah pintu ke surga, dan berilah pakaian kepadanya dengan pakaian surga.” Ia berkata, “Maka didatangkan kepadanya yang terbaik dan yang terindah dan diluaskan sepanjang matanya memandang.” Dikatakan kepadanya, “Lihatlah tempat dudukmu dari neraka, Allah telah gantikan dengan tempat duduk di surga.” Kemudian ia melihat keduanya secara bersamaan selanjutnya ia berkata, “Tinggalkanlah aku sehingga aku pergi melihat keluargaku.” Maka dikatakan kepadanya, “Maka dibukakanlah baginya kuburnya sepanjang tujuh puluh hasta yang dipenuhi oleh permadani hijau sampai hari kiamat.”

Dalam lafazh yang lain dikatakan kepadanya, “Tidurlah.” Kemudian ia tidur seperti tidurnya pengantin baru yang tidak dibangunkan, kecuali oleh istri yang ia cintai.” Adapun orang kafir dan orang munafik, maka kedua malaikat itu berkata kepadanya, “Siapa Tuhanmu?” Maka ia berkata, “Ha’ ha’, aku tidak tahu.” Kemudian ditanyakan lagi oleh keduanya, “Apa agamamu?” Ia berkata, “Ha ‘ha’, aku tidak tahu.” Maka ditanyakan lagi oleh keduanya, “Siapa orang ini yang diutus kepada kalian?” Maka ia berkata, “Ha’ ha’, aku tidak tahu.” Maka dikatakan kepadanya, “Kamu tidak paham dan tidak mengikuti orang yang dapat memberikan kefahaman kepadamu.” Maka dipukullah ia dengan palu dari besi dengan pukulan yang jika dipukulkan kepada gunung, maka gunung itu akan runtuh menjadi pasir. Kemudian orang itu berteriak dengan teriakan yang dapat didengar oleh makhluk-makhluk yang ada di sekitarnya, kecuali ats-tsaqalaian (manusia dan jin).

Ketahuilah, sesungguhnya telah datang hadits-hadits yang menunjukkan pengkhususan umat ini dengan pertanyaan di dalam kubur, bukan untuk umat sebelumnya. Para ulama berkata, “Hikmah dibalik semua ini adalah bahwa telah datang kepada umat-umat terdahulu para rasul kepada mereka, jika mereka menaatinya itulah yang dimaksud, dan jika mereka bermaksiat dan tidak mentaatinya, maka mereka diasingkan dan dipercepat adzabnya. Ketika Allah mengutus Nabi Muhammad sebagai rahmat bagi alam semesta, maka ditahanlah adzab terhadap mereka dan sebelum Islam dari orang yang menampakkan keburukan, baik disengaja maupun tidak, dan mengutus bagi mereka malaikat yang menanya kepada mereka dikubur agar Allah mengeluarkan rahasia-rahasia mereka dengan pertanyaan tersebut dan agar Allah memisahkan antara yang buruk dan yang baik. Ibnul Qayyim berpendapat, atas umumnya pertanyaan ini dan beliau telah membeberkan masalah ini dalam kitabnya Ar-ruh.

0539

539 – وَعَنْ ضَمْرَةَ بْنِ حَبِيبٍ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – أَحَدِ التَّابِعِينَ – قَالَ: كَانُوا يَسْتَحِبُّونَ إذَا سُوِّيَ عَلَى الْمَيِّتِ قَبْرُهُ، وَانْصَرَفَ النَّاسُ عَنْهُ. أَنْ يُقَالَ عِنْدَ قَبْرِهِ: يَا فُلَانُ، قُلْ: لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ، ثَلَاثَ مَرَّاتٍ، يَا فُلَانُ: قُلْ رَبِّي اللَّهُ، وَدِينِي الْإِسْلَامُ، وَنَبِيِّي مُحَمَّدٌ، رَوَاهُ سَعِيدُ بْنُ مَنْصُورٍ مَوْقُوفًا – وَلِلطَّبَرَانِيِّ نَحْوُهُ مِنْ حَدِيثِ أَبِي أُمَامَةَ مَرْفُوعًا مُطَوَّلًا.

539. Dan dari Dhamrah bin Habib -seorang tabiin- ia berkata, “Mereka menyukai jika mayat telah dibujurkan di kuburnya dan manusia sudah bubar darinya, untuk dikatakan di sisi kubur, ‘Wahai fulan katakanlah La ilaha illallah -sebanyak tiga kali- wahai fulan ucapkanlah tuhanku Allah agamaku Islam dan Nabiku Muhammad.” Diriwayatkan oleh Said bin Manshur secara Mauquf dan bagi Ath-Thabrani serupa hadits ini dari hadits Abu Umamah secara marfu’ dan teks yang panjang.

[Munkar bahkan palsu: Adh-Dhaifah 599. Ebook editor]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

“Dan dari Dhamrah bin Habib seorang tabiin (tinggal di Himsha, ia adalah orang yang tsiqah, ia meriwayatkan dari Syadad bin Aus dan selainnya) ia berkata, “Mereka (yakni para shahabat yang ia jumpai) menyukai jika mayat telah dibujurkan di kuburnya dan manusia sudah bubar darinya, untuk dikatakan di sisi kubur, “Wahai fulan, katakanlah “La ilaha illallah” -sebanyak tiga kali-wahai fulan ucapkanlah, ‘Tuhanku Allah, agamaku Islam dan Nabiku Muhammad.” Hadits ini mauquf pada Dhamrah bin Habib.

Tafsir Hadits

Dan bagi Ath-Thabrani serupa hadits ini dari hadits Abu Umamah secara marfu’dan teks yang panjang lafazh hadits ini dari Abu Umamah,

«إذَا أَنَا مِتّ فَاصْنَعُوا بِي كَمَا أَمَرَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – أَنْ نَصْنَعَ بِمَوْتَانَا، أَمَرَنَا رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – فَقَالَ: إذَا مَاتَ أَحَدٌ مِنْ إخْوَانِكُمْ فَسَوَّيْتُمْ التُّرَابَ عَلَى قَبْرِهِ فَلْيَقُمْ أَحَدُكُمْ عَلَى رَأْسِ قَبْرِهِ ثُمَّ لِيُقَلْ: يَا فُلَانُ ابْنُ فُلَانَةَ فَإِنَّهُ يَسْمَعُهُ وَلَا يُجِيبُ ثُمَّ يَقُولُ: يَا فُلَانُ ابْنُ فُلَانَةَ فَإِنَّهُ يَقُولُ: أَرْشِدْنَا رَحِمَك اللَّهُ وَلَكِنْ لَا تَشْعُرُونَ فَلْيَقُلْ: اُذْكُرْ مَا كُنْت عَلَيْهِ فِي الدُّنْيَا مِنْ شَهَادَةِ أَنْ لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ وَأَنَّك رَضِيت بِاَللَّهِ رَبًّا وَبِالْإِسْلَامِ دِينًا وَبِمُحَمَّدٍ نَبِيًّا وَبِالْقُرْآنِ إمَامًا فَإِنَّ مُنْكَرًا وَنَكِيرًا يَأْخُذُ كُلُّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا بِيَدِ صَاحِبِهِ، فَيَقُولُ: انْطَلَقَ بِنَا مَا يُقْعِدُنَا عِنْدَ مَنْ قَدْ لُقِّنَ حُجَّتَهُ فَقَالَ رَجُلٌ: يَا رَسُولَ اللَّهِ فَإِنْ لَمْ يَعْرِفْ أُمَّهُ قَالَ: يَنْسُبُهُ إلَى أُمِّهِ حَوَّاءَ يَا فُلَانُ بْنُ حَوَّاءَ»

“Jika aku meninggal, maka buatlah bagiku sebagaimana yang diperintahkan kepada kami dari Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam atas mayat-mayat kami. Rasulullah memerintahkan kepada kami, beliau bersabda, “Jika meninggal salah seorang saudara kalian dan telah kalian ratakan tanah di atas kuburnya, maka hendaklah salah seorang di antara kalian berdiri di atas kepala kuburnya kemudian mengucapkan, ‘Wahai Fulan bin Fulanah, sesungguhnya ia mendengarkannya tetapi ia tidak menjawab.” Kemudian dikatan lagi, “Ya Fulan bin Fulanah, sesungguhnya ia kini telah duduk tegak.” Kemudian ia berkata lagi, “Wahai Fulan bin Fulanah, sesungguhnya ia berkata, “Kamu telah diberi petunjuk, semoga Allah merahmati kamu.” Akan tetapi, mereka tidak merasa. Maka ucapkanlah, “Ingatlah apa yang telah kamu lakukan di dunia dari ucapan syahadat La ilaha illallah wa anna Muhammad Abduhu warasuluhu, dan sesungguhnya engkau telah ridha Allah sebagai Tuhanmu, Islam sebagai agamamu, Nabi Muhammad sebagai Nabimu, serta Al-Qur’an sebagai imammu, maka sesungguhnya Munkar dan Nakir setiap orang dari mereka mengambil tangan temannya dan berkata, “Pergilah bersama kami, tidak ada yang mendudukkan kami bagi orang yang telah ditalqinkan hajatnya.” Berkata seorang laki-laki, “Ya Rasulullah, sesungguhnya ia tidak diketahui siapa ibunya.” Beliau bersabda, “Ia dinasabkan kepada ibunya Hawa, maka katakan, “Ya Fulan Ibnu Hawa.”

Pengarang berkata, “Sanad hadits ini shalih (baik).” Telah dikuatkan oleh Adh-Dhiya di dalam Al Ahkam. Aku berkata, “Al-Haitsami berkata setelah menuturkan hadits ini yang lafazhnya seperti yang dikeluarkan Ath-Thabrani dalam Al-Kabir, “Di dalam sanad ini terdapat orang-orang yang tidak aku kenal siapa mereka.” Dan di dalam catatan kakinya ia menulis, “Dalam hadits ini ada Ashim bin Abdullah dan ia adalah seorang yang dhaif.” Kemudian ia berkata, “Rawi yang meriwayatkan dari Abu Umamah adalah Said bin Al-Azdi, ia dianggap putih oleh Abu Hatim. Al-Atsram berkata, “Aku berkata kepada Ahmad bin Hambal, inilah yang tnereka lakukan jika mayat dikubur, seorang laki-laki berdiri di samping kuburnya dan berkata, “Ya Fulan bin Fulanah. Ahmad berkomentar, “Aku tidak melihat seseorang pun yang melakukan ini kecuali orang Syam ketika Abu Mughirah meninggal.” Ini diriwayatkan dari Abu Bakar bin Abi Maryam dari guru-gurunya. Mereka melakukan ini, dan perbuatan ini merupakan pendapat kelompok Asy-Syafiiyah. Berkata pengarang Al-Manar, “Sesungguhnya hadits talqin ini, hadits yang tidak diragukan oleh orang yang mengerti ilmu hadits tentang kepalsuannya, bahwa hadits ini diriwayatkan oleh Said bin Manshur dalam Sunannya dari Dhamrah bin Habib dari guru-gurunya dari penduduk-penduduk Himsh dan masalah ini adalah masalah penduduk Himsh.

Adapun menjadikan kata-kata, “Mintakan kepada mereka ketetapan karena mereka sekarang ditanya.” sebagai penguat dalil, maka tidak dapat menjadi penguat dalam hal ini. Ibnul Qayyim menegaskan di dalam Al-Huda sebagaimana ucapannya dalam Al-Manar. Adapun di dalam kitabnya Ar-Ruh, sesungguhnya beliau menjadikan hadits talqin sebagai dalil bahwa mayat mendengar ucapan orang yang hidup, dan menjadikan bersambungnya amal dengan hadits talqin tanpa memungkiri beramal dengan hadits ini. Tetapi beliau juga tidak menghukumi bahwa hadits ini shahih bahkan ia mengatakan dalam kitabnya Ar-Ruh bahwa hadits ini dhaif yang telah diteliti oleh ulama-ulama peneliti bahwa hadits ini dhaif. Dan beramal dengannya adalah bid’ah dan tidak akan menjadi baik dengan banyaknya orang yang melakukannya.

 

والله أعلمُ بالـصـواب

Download Sumber

 

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *