[ UIC 10.4 ] Kitab Subulus Salam Syarh Bulughul Maram 157

03. KITAB JENAZAH 13

0533

533 – وَعَنْ ابْنِ عُمَرَ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا – عَنْ النَّبِيِّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – قَالَ: «إذَا وَضَعْتُمْ مَوْتَاكُمْ فِي الْقُبُورِ، فَقُولُوا: بِسْمِ اللَّهِ وَعَلَى مِلَّةِ رَسُولِ اللَّهِ» أَخْرَجَهُ أَحْمَدُ وَأَبُو دَاوُد وَالنَّسَائِيُّ، وَصَحَّحَهُ ابْنُ حِبَّانَ، وَأَعَلَّهُ الدَّارَقُطْنِيُّ بِالْوَقْفِ

533. Dan dari Ibnu Umar Radhiyallahu Anhuma dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam beliau bersabda, “Jika kalian meletakkan mayat-mayat kalian dalam kubur maka ucapkanlah Bismillah wa ala Millati Rasulillah (dengan nama Allah dan atas agama Rasulullah).” (HR. Ahmad, Abu Dawud dan An-Nasa’i dishahihkan oleh Ibnu Hibban dan Ad-Daraquthni menganggap cacat hadits ini dengan mauquf)

[Shahih: Abu Daud 3213]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Tafsir Hadits

An-Nasai menguatkan kemauqufan hadits itu yang ia riwayatkan dari Ibnu Umar saja. Hanya saja hadits tersebut memiliki beberapa penguat atau pendukung yang rnarfu yang dimuat dalam Asy-Syarah.

Al-Hakim dan Al-Baihaqi meriwayatkan dengan sanad yang lemah pula bahwa ketika diletakkan mayat Ummu Kultsum putri Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dalam kuburannya, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam berkata,

{مِنْهَا خَلَقْنَاكُمْ وَفِيهَا نُعِيدُكُمْ وَمِنْهَا نُخْرِجُكُمْ تَارَةً أُخْرَى} [طه: 55] بِسْمِ اللَّهِ وَفِي سَبِيلِ اللَّهِ وَعَلَى مِلَّةِ رَسُولِ اللَّهِ»

“Dari bumi (tanah) itulah Kami menjadikan kamu dan kepadanya Kami akan mengembalikan kamu dan daripadanya Kami akan mengeluarkan kamu pada kali yang lain. (QS. Thaha: 55) Dengan Nama Allah, di jalan Allah dan atas agama Rasulullah.”[Dhaif: Ahkamul Janaiz hal 153]

Dalam riwayat Asy-Syafii terdapat doa lain yang beliau anggap baik. Berdasarkan ucapan Asy-Syafii (dan hadits-hadits tersebut), maka dapat diambil pengertian bahwa orang yang menguburkan mayat boleh memilih bacaan bagi orang yang mati, mana yang dianggap baik, tanpa ada pembatasan atau penentuan satu bacaan tertentu saja.

0534

534 – وَعَنْ عَائِشَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – قَالَ: «كَسْرُ عَظْمِ الْمَيِّتِ كَكَسْرِهِ حَيًّا» رَوَاهُ أَبُو دَاوُد بِإِسْنَادٍ عَلَى شَرْطِ مُسْلِمٍ

– وَزَادَ ابْنُ مَاجَهْ – مِنْ حَدِيثِ أُمِّ سَلَمَةَ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا – ” فِي الْإِثْمِ ”

534. Dan dari Aisyah sesungguhnya Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam berkata, “Memecahkan tulang mayat sama dengan memecahkannya ketika ia hidup.” (HR. Abu Dawud dengan sanad menurut syarat Muslim).

[Shahih: Abu Daud 3207]

Dan Ibnu Majah menambahkan dari hadits Ummu Salamah Radhiyallahu Anha yakni dalam dosanya.”

[Dhaif: Ibnu Majah 1617]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Tafsir Hadits

Hal ini menunjukkan kewajiban menghormati mayat sebagaimana kewajiban menghormatinya semasa hidup. Hanya tambahan keterangan (persamaan dosa) di sini ada penetapan perbedaan bahwa orang yang memecah tulang mayat tidak wajib menanggung kerugian tersebut. Dari hadits ini juga bisa dipahami bahwa orang yang mati itu merasa sakit, sebagaimana orang hidup. Dan ada hadits yang menjelaskan hal tersebut.

0535

535 – وَعَنْ سَعْدِ بْنِ أَبِي وَقَّاصٍ قَالَ: الْحَدُوا لِي لَحْدًا، وَانْصِبُوا عَلَيَّ اللَّبِنَ نَصْبًا، كَمَا صُنِعَ بِرَسُولِ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -. رَوَاهُ مُسْلِمٌ

535. Dan dari Saad binAbi Waqas Radhiyallahu Anhu ia berkata, “Buatkan bagiku lahad dan tegakkan di atasnya papan yang tegak sebagaimana yang telah dilakukan untuk Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam.” (HR. Muslim).

[Shahih: Muslim 966]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

Ini ucapannya ketika ditanyakan kepadanya, “Bolehkah kami jadikan untuk tempat mayatmu sesuatu seperti peti dari kayu?” Kemudian ia menjawab, “Tetapi buatkanlah…” Lahat ialah lubang yang digali pada bagian samping arah kiblat dari kubur.

Dalam hadits itu terkandung petunjuk bahwa makam Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam dibuatkan liang lahat dahulu.

Ahmad dan Ibnu Majah dengan sanad hasan, “Bahwa pernah ada dua orang Madinah yang satu menggali liang lahat dan satu lagi menggali Syaqqun (lubang kecil tengah kubur) Kemudian shahabat mencari keduanya. Mereka bertanya, “Mana di antara keduanya yang melakukannya untuk makam Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam. Maka datanglah orang yang membuat lahat kemudian ia membuatkan lahat bagi Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam. [Hasan Shahih: Ibnu Majah 1579]

Serupa dengan hadits itu terdapat dalam hadits dari Ibnu Abbas dari riwayat Ahmad, dan At-Tirmidzi yang menjelaskan bahwa orang yang biasa menggali lahat itu adalah Abu Thalhah Al-Anshari. Tetapi terdapat sanad yang lemah. Dalam hadits tersebut terdapat petunjuk liang lahat lebih utama dan lebih baik.

0536

536 – وَلِلْبَيْهَقِيِّ عَنْ جَابِرٍ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – نَحْوُهُ، وَزَادَ: وَرُفِعَ قَبْرُهُ عَنْ الْأَرْضِ قَدْرَ شِبْرٍ. وَصَحَّحَهُ ابْنُ حِبَّانَ.

536. Dan Bagi Al-Baihaqi dari Jabir Radhiyallahu Anhu semisal hadits ini -hadits Sa’ad- dan ia menambahkan, dan kuburnya ditinggikan dari tanah seukuran hasta.” (Disahihkan oleh Ibnu Hibban).

[Sanadnya Hasan: Ahkamul Janaiz hal 195. Ebook editor]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Tafsir Hadits

Hadits ini diriwayatkan oleh Al-Baihaqi dan Ibnu Hibban dari hadits Ja’far bin Mahmud, dari bapaknya, dari Jabir berdasarkan hadits dari Qasim bin Muhammad, ia berkata, “Aku pernah masuk ke tempat Aisyah kemudian aku katakan padanya, “Wahai Ibu jelaskan kepadaku tentang keadaan kubur Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dan kubur kedua shahabatnya, kemudian beliau menjelaskan kepadanya tentang keadaan tiga kubur, tidak terlalu baik, dan tidak terlalu jelek dikelilingi pagar halaman yang merah.” Diriwayatkan oleh Abu Dawud. [Dhaif: Abu Daud 3220]

Dan Al-Hakim menambahkan, “Aku melihat (jasad) Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam diangkat, kepala Abu Bakar berada di antara kedua pundak Rasulullah, dan kepala Umar berada di antara kedua kaki Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam.”

Diriwayatkan oleh Abu Dawud dalam Al-Marasil dari hadits Shaleh bin Abu Shaleh, ia berkata, “Aku melihat kubur Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam sejengkal atau kira-kira sejengkal tingginya dari tanah.”

Hadits ini bertentangan dengan riwayat Al-Bukhari dari Sufyan At-Tamari, “Ia melihat kubur Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam ditinggikan seperti ponok unta.” Yakni setinggi punuk unta. Al-Baihaqi menggabungkan kedua riwayat ini dengan berkata, “Bahwa pertama kuburan Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam itu rata dengan tanah, kemudian tatkala jatuh atau longsor pada masa kekuasaan Al-Walid bin Abdul Malik, kemudian ia memperbaiki dan menjadikannya tinggi seperti punuk unta.

Faedah:

Wafatnya Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam pada hari Senin saat matahari terbenam, tepatnya tanggal dua belas Rabiul Awal dan dikuburkan pada hari Selasa sebagaimana keterangan dalam kitab Al-Muwaththa, sekelompok ulama mengatakan bahwa penguburannya hari Rabu sebagaimana tersebut dalam kitab Al-Muwaththa’. Yang mengurus mandi dan penguburannya adalah Ali, Al-Abbas, dan Usamah Radhiyallahu Anhum. Diriwayatkan oleh Abu Dawud dari Asy-Sya’bi dengan penambahan, “Murhib menceritakan kepadaku.” Demikian dalam Asy-Syarh. Sedangkan dalam At-Talkhish adalah Murhib atau Abu Murhib, dengan terdapat keraguan, bahwa mereka memasukkan Abdurrahman bin Auf sebagai orang yang ikut mengurus mayat Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam. Sedangkan dalam riwayat Al-Baihaqi dijelaskan bahwa bersama Ali dan Al-Abbas adalah Al-Fadhlu bin Al-Abbas dan Shaleh. Ia adalah Syaqran dan ia tidak menyebutkan Abdurrahman bin Auf. Dan dalam riwayat lain darinya dan Ibnu Majah, “Bahwa yang mengurus mayat Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam adalah Ali, Al-Fadhu, Qitsam, dan Syuqran.” Dan ia menambahkan, “Seorang laki-laki dari Anshar membuatkan lahat kubur beliau. Semua riwayat itu dapat digabungkan bahwa perawi yang meriwayatkan itu berdasarkan apa yang dilihatnya pertama kali dan yang ada tambahan berarti menurut penglihatannya pada akhir pengurusan mayat.

****

– وَلِمُسْلِمٍ عَنْهُ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ -: «نَهَى رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – أَنْ يُجَصَّصَ الْقَبْرُ. وَأَنْ يُقْعَدَ عَلَيْهِ، وَأَنْ يُبْنَى عَلَيْهِ.»

“Dan bagi Muslim dari Jabir, “Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam melarang menembok kuburan, duduk di atasnya dan membangun di atasnya. ‘

[Shahih: Muslim 970]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Hadits tersebut sebagai dalil yang menunjukkan haramnya tiga perbuatan yang disebutkan dalam hadits itu, karena keharaman itulah pada dasarnya yang terkandung dalam kalimat larangan itu. Mayoritas ulama berpendapat bahwa larangan menembok bagian lubang kuburan dan membangun bagian atasnya hanyalah makruh, sedangkan duduk di atasnya haram. Itu sebagai jalan kompromi pengertian hakekat dan majas. Hanya saja tidak diketahui sesuatu alasan yang mengalihkannya dari pengertian hakikat yang merupakan asal hukum dari larangan.

Terdapat beberapa hadits yang menjelaskan tentang larangan membangun di atas kuburan, larangan memberi tulisan pada batu nisan dan memperindah kuburan, larangan menambah atau melebihkan dari sejengkal dan menginjak di atasnya.

Abu Dawud dan At-Tirmidzi meriwayatkan hadits dari Ibnu Mas’ud secara marfu,

«لَعَنَ اللَّهُ زَائِرَاتِ الْقُبُورِ وَالْمُتَّخِذِينَ عَلَيْهَا الْمَسَاجِدَ وَالسُّرُجَ»

“Allah mengutuk perempuan-perempuan yang menziarahi kubur, orang yang mendirikan masjid-masjid di kuburan dan memperindahnya.” [Dhaif: Abu Daud 3236]

Dalam lafazh bagi An-Nasa’i,

«نَهَى أَنْ يُبْنَى عَلَى الْقَبْرِ أَوْ يُزَادَ عَلَيْهِ أَوْ يُجَصَّصَ أَوْ يُكْتَبَ عَلَيْهِ»

Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam melarang dari membangun di atas kubur, atau meninggikan tanahnya, atau menemboknya atau menuliskan nama di atasnya. [Shahih: An Nasa’i 7026]

Al-Bukhari mengeluarkan dari hadits Aisyah ia berkata, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda -ketika beliau sakit dan tidak mampu berdiri-,

«لَعَنَ اللَّهُ الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى اتَّخَذُوا قُبُورَ أَنْبِيَائِهِمْ مَسَاجِدَ»

“Allah melaknat Yahudi yang menjadikan kuburan nabi-nabi mereka sebagai masjid.” [Shahih: Al Bukhari 437 dan Muslim 967]

At-Tirmidzi juga meriwayatkan:

«أَنَّ عَلِيًّا – عَلَيْهِ السَّلَامُ – قَالَ؛ لِأَبِي الْهَيَّاجِ الْأَسَدِيِّ: أَبْعَثُك عَلَى مَا بَعَثَنِي عَلَيْهِ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – أَنْ لَا أَدَعَ قَبْرًا مُشْرِفًا إلَّا سَوَّيْته وَلَا تِمْثَالًا إلَّا طَمَسْته»

Sesungguhnya Ali Alaihissalam berkata kepada Abu Al-Hiyaj Al-Asadi, “Aku mengutus kamu atas apa yang telah diutus kepadaku oleh Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam untuk tidak meninggalkan kuburan yang berlebihan, kecuali engkau ratakan dan tidak ada berhala kecuali engkau hancurkan.” At-Tirmidzi berkata, “Hadits ini hasan.” [Shahih: At Tirmidzi 1049 dan Muslim 969] dan sebagian ahlul ilmi mengamalkan hadits ini, mereka memakruhkan meninggikan kubur melebihi tanahnya.

Pensyarah -semoga Allah merahmatinya- mengatakan, “Kabar-kabar yang berkaitan dengan laknat dan tasyabbuh (penyerupaan) dengan berhala sebagaimana ucapan beliau,

«لَا تَجْعَلُوا قَبْرِي وَثَنًا يُعْبَدُ مِنْ دُونِ اللَّهِ»

“Janganlah kalian jadikan kuburanku sebagai berhala yang disembah selain Allah.” [1]

Memberikan pemahaman makna atas pengharaman untuk membangun, menghiasi, menembok dan meletakkan kotak-kotak yang dihiasi, serta meletakkan kain-kain penutup di kubur dan di atas-atasnya, serta mengusap-usap tembok kubur. Hal ini seiring dengan jauhnya masa dan tersebarnya kejahilan di antara umat-umat yang akan datang akan menyebabkan pada penyembahan berhala, maka semua ini sangat dicegah. Dan mencegah sebelum terjadinya bencana yang lebih besar yang akan menimpa umat, lebih sesuai dengan hikmah yang diperoleh dari disyariatkannya hukum-hukum yaitu untuk mengambil manfaat dan menolak bencana, baik itu dari zat benda tersebut atau dari akibat yang akan ditimbulkannya.

Ini adalah ucapan yang baik, dan kami telah menjelaskan secara tuntas tentang masalah ini dalam tulisan yang tersendiri.

______________

[1] Aku –pentahqiq kitab ini – tidak menemukan dengan lafazh ini.

 

والله أعلمُ بالـصـواب

Download Sumber

 

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *