[ UIC 10.4 ] Kitab Subulus Salam Syarh Bulughul Maram 156

03. KITAB JENAZAH 12

0530

530 – وَعَنْ أُمِّ عَطِيَّةَ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا – قَالَتْ «نُهِينَا عَنْ اتِّبَاعِ الْجَنَائِزِ، وَلَمْ يُعْزَمْ عَلَيْنَا.» مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ.

530. Dan dari Ummu Athiyah Radhiyallahu Anha ia berkata, “Kami dilarang untuk mengikuti jenazah dan tidak ditekankan (pelarangan tersebut) atas kami.” (Muttafaq Alaih).

[Shahih: Al-Bukhari (1278) dan Muslim (938)]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Tafsir Hadits

Mayoritas ulama ushul dan para muhaddits mengatakan bahwa ucapan shahabat “Kami dilarang atau kami diperintahkan” tanpa menyebutkan pelakunya maka hadits ini dihukumi hadits marfu karena zhahirnya. Orang yang menyuruh dan yang melarang itu adalah Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam. Adapun hadits ini telah ditetapkan kemarfuannya, Al-Bukhari meriwayatkan hadits ini dalam bab Haidh dari Ummu Athiyyah dengan lafazh, “Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam telah melarang kami…” Kecuali hadits ini mursal, karena Ummi Athiyyah tidak mendengarnya langsung dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam. Juga dengan riwayat Ath-Thabrani dari Ummi Athiyyah, ia berkata, “Ketika Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam tiba di Madinah lalu beliau mengumpulkan kaum wanita dalam suatu rumah, kemudian beliau mengutus Umar kepada kami, kemudian Umar berkata, “Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam telah mengutusku untuk datang kepada kalian untuk mengambil bai’at bahwa kalian tidak boleh mencuri…” Di dalamnya juga disebutkan bahwa kami tidak boleh keluar mengantar jenazah.

Ucapan Ummu Athiyyah “Dan beliau tidak menekankan (pelarangan tersebut) atas kami”, menurut zhahirnya bahwa pelarangan itu untuk kemakruhan, bukan menunjukkan keharaman. Seakan-akan ia memahaminya dari qarinah (suatu petunjuk), jika tidak maka asal dari pelarangan ini adalah haram. Kemakruhan ini adalah pendapat mayoritas Ahlul Ilmu. Hal ini juga ditunjukkan oleh riwayat yang dikeluarkan Ibnu Abi Syaibah dari Abu Hurairah, “Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam selalu mengikuti jenazah maka Umar melihat seorang wanita lalu Umar berteriak ke arah wanita itu, lalu beliau bersabda, “Biarkan dia wahai Umar…” Al-Hadits. Hadits ini dikeluarkan oleh An-Nasai, Ibnu Majah dari jalan yang lain dengan perawi-perawi yang tsiqah.

0531

531 – وَعَنْ أَبِي سَعِيدٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – قَالَ: «إذَا رَأَيْتُمْ الْجِنَازَةَ فَقُومُوا، فَمَنْ تَبِعَهَا فَلَا يَجْلِسْ حَتَّى تُوضَعَ» مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

531. Dari Abu Sa’id Radhiyallahu Anhu, “Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Jika kalian melihat jenazah, maka berdirilah dan orang yang mengikutinya maka janganlah duduk sampai jenazah diletakkan (dalam kuburnya).” (Muttafaq Alaih).

[Shahih: Al Bukhari 1310 dan Muslim 959]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Tafsir Hadits

Perintah ini, secara zhahir menunjukkan wajibnya berdiri untuk jenazah, jika jenazah itu melewati orang-orang mukallaf walaupun tidak dimaksudkan untuk mengantarkannya, baik jenazah yang mukmin dan bukan. Hal ini juga dikuatkan oleh riwayat yang dikeluarkan oleh Al-Bukhari, “Berdirinya Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam untuk jenazah orang Yahudi yang melewatinya.” Sebabnya adalah, bahwa kematian itu sesuatu yang mengagetkan. Dan dalam riwayat lain dikatakan, “Bukankah jenazah itu juga memiliki jiwa?” Diriwayatkan oleh Al-Hakim juga, “Sesungguhnya kami berdiri hanyalah untuk malaikat ” Dan diriwayatkan oleh Al-Hakim dan Ahmad juga, “Sesungguhnya kami berdiri untuk memuliakan Dzat yang mencabut nyawa.” Menurut lafazh Ibnu Hibban, “Untuk mengagungkan Allah.” Alasan ini tidaklah saling menafikan satu dengan yang lain.

Perintah ini bertentangan dengan hadits yang diriwayatkan dari Ali Alaihissalam dalam riwayat Muslim, “Sesungguhnya Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam berdiri untuk jenazah kemudian duduk.” Ucapan itu dapat dipahami bahwa maksudnya beliau berdiri kemudian beliau duduk setelah jenazah itu jauh darinya. Tetapi ucapan ini tertolak bahwa Ali mengisyaratkan kepada suatu kaum untuk duduk kemudian menceritakan hadits ini kepada mereka. Ketika terjadi perbedaan dua hadits ini, maka ulama berselisih pendapat tentang masalah itu.

Asy-Syafii berpendapat bahwa hadits dari Ali tersebut sebagai nasikh (penghapus) perintah berdiri. Disebutkan juga bahwa sesungguhnya hadits Ali tidak menjadi nash untuk penghapusan karena ada kemungkinan dipahami bahwa duduknya Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam sebagai penjelasan bolehnya kedua hal tersebut. Karenanya An-Nawawi berkata “Pendapat yang terpilih adalah yang mengatakan bahwa berdiri itu sunnah ”

Adapun hadits Ubadah bin Shamit, “Sesungguhnya Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam selalu berdiri untuk jenazah, kemudian ada seorang pendeta Yahudi yang melewatinya dan ia berkata, “Seperti inilah kami berbuat.” Kemudian Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Duduklah kalian dan berbedalah dengan mereka.” Diriwayatkan oleh Ahmad dan Ashhab As-Sunan -kecuali An-Nasai dan Ibnu Majah- dan diriwayatkan juga oleh Al-Bazzar dan Al-Baihaqi.

Hadits ini adalah hadits dhaif. Karena di dalamnya terdapat Basyar bin Rafi’. Al-Bazzar berkata, “Basyar bin Rafi hanya seorang diri dalam riwayat ini, sedangkan ia seorang yang lemah dalam meriwayatkan hadits.”

Dan Ucapan “Barangsiapa yang mengikuti jenazah, maka jangan duduk sampai jenazah itu diletakkan” ini memberikan manfaat dilarangnya orang yang mengiringi jenazah sampai jenazah itu diletakkan. Dapat dipahami bahwa yang dimaksud diletakkan di tanah atau diletakkan di liang lahat. Dan telah diriwayatkan hadits dengan dua lafazh ini (di tanah dan di lahat) kecuali sesungguhnya Al-Bukhari dan selainnya menguatkan riwayat diletakkan di tanah. Sebagian ulama salaf berpendapat diwajibkannya berdiri sampai jenazah diletakkan sebagaimana yang ditunjukkan oleh hadits ini. Juga karena riwayat yang ada pada An-Nasai dari hadits Abu Hurairah dan Abu Said, “Kami tidak pernah melihat Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam ketika menyaksikan jenazah sekalipun beliau duduk sampai jenazah diletakkan.” Mayoritas ulama berkata bahwa ini disunnahkan. Telah diriwayatkan oleh Al-Baihaqi dari hadits Abu Hurairah dan lain-lainnya bahwa orang yang berdiri (sampai jenazah diletakkan) itu seperti perempuan hamil dalam pahalanya.

0532

532 – وَعَنْ أَبِي إِسْحَاقَ، «أَنَّ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ يَزِيدَ أَدْخَلَ الْمَيِّتَ مِنْ قِبَلِ رِجْلَيْ الْقَبْرِ. وَقَالَ: هَذَا مِنْ السُّنَّةِ.» أَخْرَجَهُ أَبُو دَاوُد.

532. Dan dari Abu Ishaq, “Sesungguhnya Abdullah bin Yazid memasukkan mayat dari arah kedua kakinya ke dalam kubur, dan ia berkata, “Ini dari sunnah.” (HR. Abu Dawud).

[Shahih: Abu Daud 3211]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Biografi Perawi

Abu Ishaq, beliau adalah As-Sabi’i Al-Hamdani Al-Kufi. Ia melihat Ali Alaihissalam dan selainnya dari shahabat Nabi. Beliau seorang tabi’in yang terkenal dengan banyak riwayat. Dilahirkan pada tahun kedua dari pemerintahan Utsman. Wafat pada tahun 129 H.

Abdullah bin Yazid, beliau adalah Abdullah bin Yazid Al-Khathmi. Ia berkebangsaan Kufah. Beliau menyaksikan Perjanjian Hudaibiyah dan ketika itu berusia tujuh belas tahun. Beliau seorang pemimpin di Kufah, ikut perang bersama Ali dalam Perang Shiffin dan Perang Jamal, disebutkan oleh Ibnu Abdilbar dalam Al-Isti’ab.

Penjelasan Kalimat

“Memasukan mayat dari arah kedua kakinya ke dalam kubur” yakni dari arah tempat yang diletakkan di dalamnya kaki mayat. Ini adalah bentuk pengungkapan keadaan yang menujukkan tempat.

Tafsir Hadits

Diriwayatkan dari Ali Alaihissalam ia berkata,

«صَلَّى رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – عَلَى جِنَازَةِ رَجُلٍ مِنْ وَلَدِ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ فَأَمَرَ بِالسَّرِيرِ فَوُضِعَ مِنْ قِبَلِ رِجْلَيْ اللَّحْدِ، ثُمَّ أَمَرَ بِهِ فَسَلَّ سَلًّا»

“Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam shalat jenazah seorang laki-laki dari anak Abdul Muthalib, beliau memerintahkan dengan tempat tidur dan diletakkan dari arah kedua kaki lahat, kemudian beliau memerintahkannya untuk dimiringkan.”

Ini disebutkan oleh pensyarah tetapi ia tidak mengeluarkan hadits ini. Dalam masalah ini ada tiga pendapat.

Pertama; Sebagaimana yang disebutkan. Ini adalah pendapat Al-Hadawiyah, Asy-Syafii dan Ahmad.

Kedua; Diturunkan dari arah kepalanya. Berdasarkan riwayat Asy-Syafii dari rawi yang tsiqah secara marfu dari hadits Ibnu Abbas,

«أَنَّهُ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – سَلَّ مَيِّتًا مِنْ قِبَلِ رَأْسِهِ»

“Sesungguhnya Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam menurunkan mayat dari arah kepalanya.” [Dhaif: Al-Misykah 1705. Ebook editor]

Dan ini adalah salah satu dari pendapat Asy-Syafii.

Ketiga; Bagi Abu Hanifah, sesungguhnya mayat diturunkan dari arah kiblat secara miring dan ini lebih gampang.

Saya berkata, “Bahkan ada nash -yang akan datang- yang menjelaskan hadits Jabir dalam hal larangan menguburkan mayat pada malam hari.” Sesungguhnya dikeluarkan oleh At-Tirmidzi dari Ibnu Abbas yang teksnya menunjukkan tentang memasukkan mayat dari arah kiblat. Dan hadits ini hasan, maka memberikan faidah bahwa inilah perbuatan yang dipilih.

Faidah

Telah terjadi perbedaan pendapat tentang menutupi kubur dengan baju ketika menurunkan mayat. Dikatakan, ditutupi apakah itu mayat perempuan atau laki-laki berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Al-Baihaqi dari Ibnu Abbas, ia berkata, “Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam menutupi kubur Said dengan kainnya.” Al-Baihaqi berkata, “Yang saya hafal hanya dari hadits Yahya bin Ishaq bin Abul Aizar dan ia adalah orang yang lemah.”

Ada juga yang mengatakan, “Yang boleh dan perlu ditutup hanyalah mayat perempuan.” Berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Al-Baihaqi juga dari Abu Ishaq bahwa ia pernah menghadiri takziah jenazah Al-Harits A’war, saat itu Abdullah bin Zaid tidak mau membentangkan kain di atas mayat, seraya berkata, “Dia orang laki-laki.” Al-Baihaqi berkata, “Sanadnya shahih sekalipun mauquf.” Tetapi menurut saya hadits itu diperkuat oleh riwayat Al-Baihaqi juga dari seorang laki-laki penduduk Kufah yang menjelaskan bahwa Ali bin Abi Thalib menghadiri orang yang sedang menguburkan mayat, pada saat itu, kain dikembangkan di atas kuburannya, lalu Ali menarik kain itu dari kuburan seraya berkata, “Yang diberlakukan seperti ini hanya pada mayat perempuan.”

 

والله أعلمُ بالـصـواب

Download Sumber

 

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *