[ UIC 10.4 ] Kitab Subulus Salam Syarh Bulughul Maram 155

03. KITAB JENAZAH 11

0528

528 – وَعَنْهُ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -: «مَنْ شَهِدَ الْجِنَازَةَ حَتَّى يُصَلَّى عَلَيْهَا فَلَهُ قِيرَاطٌ، وَمَنْ شَهِدَهَا حَتَّى تُدْفَنَ فَلَهُ قِيرَاطَانِ قِيلَ: وَمَا الْقِيرَاطَانِ؟ قَالَ: مِثْلُ الْجَبَلَيْنِ الْعَظِيمَيْنِ» مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ. وَلِمُسْلِمٍ ” حَتَّى تُوضَعَ فِي اللَّحْدِ ” – وَلِلْبُخَارِيِّ أَيْضًا مِنْ حَدِيثِ أَبِي هُرَيْرَةَ: «مَنْ تَبِعَ جِنَازَةَ مُسْلِمٍ إيمَانًا وَاحْتِسَابًا، وَكَانَ مَعَهَا حَتَّى يُصَلَّى عَلَيْهَا وَيُفْرَغَ مِنْ دَفْنِهَا فَإِنَّهُ يَرْجِعُ بِقِيرَاطَيْنِ، كُلُّ قِيرَاطٍ مِثْلُ جَبَلِ أُحُدٍ»

528. Dan darinya Radhiyallahu Anhu, ia berkata, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, ‘Barangsiapa menyaksikan jenazah hingga menyalatkannya, maka baginya satu qirath, dan barangsiapa yang menyaksikannya hingga dikuburkan, maka baginya dua qirath.” Mereka bertanya, “Apakah dua qirath itu?” Beliau menjawab, “Seperti dua gunung yang besar.” (Muttafaq Alaih)

Dan bagi Muslim, “Hingga diletakkan dalam liang lahat.”

Dan bagi Al-Bukhari juga dari hadits Abu Hurairah, “Barangsiapa yang menghantar jenayah seorang muslim dengan keimanan dan mengharapkan ganjaran dan ia tetap bersama jenazah itu hingga jenazah itu dishalatkan dan selesai dikuburkan, maka sungguh ia pulang dengan ganjaran dua qirath, setiap qirath sama dengan gunung Uhud.

[Shahih: Al Bukhari 47, 1325 dan Muslim 945]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

“Dan darinya (yaitu Abu Hurairah) ia berkata, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Barangsiapa menyaksikan jenazah hingga menyalatkannya, maka baginya satu qirath, dan barangsiapa yang menyaksikannya hingga dikuburkan, maka baginya dua qirath.” Mereka bertanya (Abu Awanah menjelaskan bahwa yang bertanya tentang dua qirath itu adalah Abu Hurairah sendiri) “Apakah dua qirath itu?” Beliau menjawab, “Seperti dua gunung yang besar.” Dalam Muslim, “Hingga jenazah itu diletakkan dalam liang lahat.” Dan bagi Al-Bukhari dari Abu Hurairah, “Barangsiapa yang menghantar jenazah seorang muslim dengan keimanan dan mengharapkan ganjaran dan ia tetap bersama jenazah itu hingga ia shalati dan selesai dari penguburannya, maka sungguh ia pulang dengan ganjaran dua qirath, setiap qirath sebesar gunung Uhud.”

Keduanya bersepakat dalam kalimat yang pertama di hadits, kemudian masing-masing menurut redaksinya sendiri. Dan hadits ini diriwayatkan oleh dua belas orang sahabat.

Ucapan, “dengan keimanan dan mengharapkan ganjaran”, pembatasan adanya keimanan dan mengharap ganjaran karena hal tersebut merupakan sebuah keharusan. Amal yang mendapatkan ganjaran adalah amal yang didahului oleh niat, jadi tidak termasuk dalam hal ini orang yang melakukan hal tersebut hanya karena ingin mendapatkan bayaran semata atau hanya karena mencintainya, sebagaimana dijelaskan oleh pengarang dalam Al-Fathu.

Ucapan, “Sebesar gunung Uhud.” Di dalam riwayat An-Nasai teksnya adalah,

فَلَهُ قِيرَاطَانِ مِنْ الْأَجْرِ كُلُّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا أَعْظَمُ مِنْ أُحُدٍ

‘Dia mendapat dua qirath pahala, masing-masing dari keduanya lebih besar dari Gunung Uhud.”[Shahih: An Nasa’i 1996]

Sedangkan dalam riwayat Muslim,

أَصْغَرُهُمَا مِثْلُ أُحُدٍ

‘Paling kecil dari keduanya sebesar Gunung Uhud.” [shahih: Muslim 945]

Dan menurut riwayat Ibnu Adiy dari Watsilah dengan lafazh,

كُتِبَ لَهُ قِيرَاطَانِ مِنْ الْأَجْرِ أَخَفُّهُمَا فِي مِيزَانِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَثْقَلُ مِنْ جَبَلِ أُحُدٍ

“Dituliskan baginya dua qirath ganjaran yang paling ringan di antara keduanya dalam timbangan amal pada hari kiamat kelak, lebih berat dari Gunung Uhud. [Al-Kamil 6/326]

Tafsir Hadits

Pengertian menyaksikan dalam hadits tersebut adalah menghadiri takziah kematiannya. Dan zhahirnya adalah hadir bersama jenazah sejak mulai dikeluarkannya. Telah terdapat dalam lafazh Muslim,

«مَنْ خَرَجَ مَعَ جِنَازَةٍ مِنْ بَيْتِهَا ثُمَّ تَبِعَهَا حَتَّى تُدْفَنَ كَانَ لَهُ قِيرَاطَانِ مِنْ الْأَجْرِ كُلُّ قِيرَاطٍ مِثْلُ أُحُدٍ وَمَنْ صَلَّى عَلَيْهَا ثُمَّ رَجَعَ كَانَ لَهُ قِيرَاطٌ»

“Barangsiapa yang keluar menyertai jenazah dari rumahnya, kemudian ia menghantarnya hingga jenazah itu dikuburkan, maka baginya dua qirath dari pahala, masing-masing qirath seperti Gunung Uhud, dan barangsiapa menyalatkannya kemudian ia kembali maka baginya satu qirath.”[Muslim 945]

Riwayat-riwayat ini jika dikembalikan antara satu dengan yang lainnya dapat dipahami bahwa sesungguhnya tidak berhak untuk mendapatkan pahala yang telah disebutkan, kecuali bagi orang yang menyalatkan jenazah dan mengantarnya. Pengarang berkata, “Yang jelas bagiku pahala didapatkan bagi orang yang shalat walaupun ia tidak mengantarnya.” Karena yang demikian itu adalah sarana untuk shalat, akan tetapi qirath orang yang shalat saja tidak seperti qirath orang yang mengikuti jenazah.

Said bin Mansyur mengeluarkan riwayat dari Urwah dari Zaid bin Tsabit,

«إذَا صَلَّيْت عَلَى جِنَازَةٍ فَقَدْ قَضَيْت مَا عَلَيْك»

“Jika kamu menyalatkan jenazah berarti engkau telah menunaikan apa yang menjadi kewajibanmu.”

Ibnu Abi Syaibah juga mengeluarkan dengan lafazh,

” إذَا صَلَّيْتُمْ ” وَزَادَ فِي آخِرِهِ ” فَخَلُّوا بَيْنَهَا وَبَيْنَ أَهْلِهَا ”

“Jika kalian menyalatinya.” Dan ia menambahkan diakhirnya, “Maka terlepaslah atas kalian hak jenazah dan keluarganya.”

Maknanya, bahwa kamu telah menunaikan hak mayat dan jika kamu tambahkan dengan mengantarnya, maka bagimu pahala.

Al-Bukhari mengeluarkan ucapan Humaid bin Hilal secara muallaq,

«مَا عَلِمْنَا عَلَى الْجِنَازَةِ إذْنًا وَلَكِنْ مَنْ صَلَّى وَرَجَعَ فَلَهُ قِيرَاطٌ»

“Kami tidak mengetahui adanya kewajiban untuk minta izin atas keluarga jenazah, akan tetapi bagi orang yang shalat (tidak mengikuti jenazah) maka baginya satu qirath.”

Adapun dalam hadits Abu Hurairah,

«أَمِيرَانِ وَلَيْسَا أَمِيرَيْنِ الرَّجُلُ يَكُونُ مَعَ الْجِنَازَةِ يُصَلِّي عَلَيْهَا فَلَيْسَ لَهُ أَنْ يَرْجِعَ حَتَّى يَسْتَأْذِنَ وَلِيَّهَا»

“Dua orang pemimpin, tapi keduanya bukan pemimpin yaitu seseorang yang bersama jenazah, kemudian ia menyalatkan jenazah tersebut, maka tidak ada baginya untuk kembali sampai ia meminta izin kepada wali jenazah.”

Dikeluarkan oleh Abdurrazaq, dan sesungguhnya ini adalah hadits munqathi dan mauquf. Telah diriwayatkan beberapa hadits yang semakna dan marfu tetapi semuanya dhaif. Mengenai timbangan amal di akhirat, tidak ada jalan bagi kita untuk mengetahui hakikatnya dan yang mengetahuinya hanya Allah. Pengetahuan kita tentang hal itu hanya dengan jalan permisalan dengan ukuran-ukuran yang kita ketahui. Oleh karena itu, ganjaran yang didapat dari menyalatkan ornag mati misalnya disamakan dengan qirath (gunung), agar dapat dimengerti oleh akal dengan jelas, sesuai dengan bentuk yang diamati oleh indera. Oleh karena qirath itu biasanya ukuran yang hina dibandingkan dengan ukuran mulia dan tinggi lainnya maka Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam mengingatkan kita untuk mengetahui ukurannya, yaitu seperti besar dan berat Gunung Uhud yang terkenal di Madinah. Kalimat “Hingga dikuburkan”, jelas menunjukkan hingga dimasukkan kedalam lubang kubur sekalipun belum selesai penimbunan seluruhnya. Ucapan “Hingga diletakkan di Hang lahat”, juga demikian maksudnya. Hanya saja dalam riwayat lain dari Muslim, diterangkan, “Hingga selesai penguburannya.” Ucapan tersebut sebagai penjelasan dan penafsiran dari riwayat-riwayat lainnya.

Hadits ini memotivasi untuk datang bertakziah atas kematian seseorang, kemudian menyalatkan dan menguburkannya. Hal ini menunjukkan besarnya kemurahan Allah dan pemuliannya terhadap orang yang telah mati, seta menunjukkan banyaknya ganjaran pahala bagi orang yang berbuat baik terhadap orang setelah kematiannya.

Hal-hal yang harus diperhatikan ketika memikul jenazah:

Diriwayatkan dari Al-Baihaqi dalam As-Sunan Al-Kubra dengan sanad dari Abdullah bin Mas’ud, sesungguhnya ia berkata,

«إذَا تَبِعَ أَحَدُكُمْ الْجِنَازَةَ فَلْيَأْخُذْ بِجَوَانِبِ السَّرِيرِ الْأَرْبَعَةِ ثُمَّ لِيَتَطَوَّعَ بَعْدُ أَوْ يَذَرَ فَإِنَّهُ مِنْ السُّنَّةِ»

“Jika seseorang di antara kamu mengantarkan jenazah, maka hendaklah ia memikulnya pada empat bagian samping usungan (tandu), kemudian boleh menambah lebih dari itu, karena semacam itu termasuk sunnah rasul.”

Dan diriwayatkan dengan sanad yang sama, “Sesungguhnya Utsman bin Affan memikul antara dua pikulan tandu ibunya dan beliau tidak melepaskannya hingga mayatnya diletakkan.” Diriwayatkan juga, “Abu Hurairah memikul antara dua pikulan tandu mayat Sa’ad bin Abi Waqqash.” Diriwayatkan juga, “Ibnu Zubair memikul antara dua pikulan tandu mayat Musawwir bin Makhramah.” Telah diriwayatkan dari Yusuf bin Mahik, ia berkata, “Aku pernah bertakziah pada jenazah Rafi’ bin Khudaij dan pada saat itu ada Ibnu Umar dan Ibnu Abbas. Lalu berangkatlah Ibnu Umar dengan memegang ujung pikulan tandu mayat, antara dua orang yang berdiri, lalu ia letakkan pikulan itu di atas pundaknya lalu ia berjalan sambil memikulnya.”

0529

529 – وَعَنْ سَالِمٍ عَنْ أَبِيهِ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا -: أَنَّهُ «رَأَى النَّبِيَّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – وَأَبَا بَكْرٍ وَعُمَرَ، وَهُمْ يَمْشُونَ أَمَامَ الْجِنَازَةِ» رَوَاهُ الْخَمْسَةُ وَصَحَّحَهُ ابْنُ حِبَّانَ، وَأَعَلَّهُ النَّسَائِيّ وَطَائِفَةٌ بِالْإِرْسَالِ.

529. Dan dari Salim dari bapaknya, “Sesungguhnya ia melihat Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam dan Abu Bakar serta Umar mereka berjalan di depan jenazah.” (HR. Al-Khamsah dan dishahihkan oleh Ibnu Hibban dan dianggap cacat oleh An-Nasa’i dan sekelompok ulama dengan kemursalan).

[Shahih: At Tirmidzi 1007]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Biografi Perawi

Salim nama lengkapnya adalah Abu Abdillah atau Abu Amr, Salim bin Abdullah bin Umar bin Khaththab. Ia termasuk salah seorang fuqaha di Madinah. Pemimpin para tabiin dan termasuk ulama masyarakat Madinah. Ia meriwayatkan hadits dari ayahnya dan juga yang lainnya. Wafat pada tahun 106 H.

Diperselisihkan mengenai kemursalan dan tidaknya hadits tersebut. Menurut Ahmad, yang mursal adalah yang diriwayatkan melalui sanad Az-Zuhri, sedangkan hadits dari Salim hanya sampai pada ayahnya Abdullah bin Umar saja, berdasarkan perbuatannya.

Tafsir Hadits

At-Tirmidzi berkata, “Para muhaddits berpendapat bahwa yang paling benar adalah bahwa hadits itu mursal.”

Diriwayatkan dari Ibnu Hibban dalam Shahihnya dari Az-Zuhriy dari Salim, bahwa Abdullah bin Umar,

«كَانَ يَمْشِي بَيْنَ يَدَيْهَا وَأَبُو بَكْرٍ وَعُمَرُ وَعُثْمَانُ»

“Beliau berjalan di depan jenazah bersama Abu Bakar, Umar dan Utsman.” Az-Zuhri berkata, “Yang demikian itu sunnah.”

Ad-Daraquthni dalam Al Ilal menyebutkan perbedaan pendapat yang banyak tentang matan hadits itu dari Az-Zuhri. Ad-Daraquthni berkata, “Yang benar adalah kata orang dari Salim dari ayahnya bahwa Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam pernah berjalan.” Bapaknya berkata, “Bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam berjalan bersama Abu Bakar dan Umar di depan jenazah.” Dan ini adalah mursal. Al-Baihaqi berkata, “Hadits itu bersambung sanadnya, lebih kuat dan lebih benar, karena hadits itu dari riwayat Ibnu Uyainah, dan ia adalah penghafal hadits yang terpercaya. Dari Ali bin Al-Madini, ia berkata, “Aku berkata kepada Ibnu Uyainah, “Wahai Abu Muhammad, orang-orang menentangmu mengenai hadits ini.” Lalu ia berkata, “Az-Zuhri menyatakan keyakinannya terhadap haditsnya itu berkali-kali sehingga tidak dapat aku hitung.” Katanya, “Aku mendengarnya dari mulut Salim dari bapaknya.” Berkata pengarang, “Dalam hal ini seyogyanya tidak ada lagi keraguan karena hadits ini benar-benar ia dengar dari Salim, dari bapaknya, dan memang benar demikian. Hanya saja dalam hadits ini terdapat ucapan perawi dan hadits ini dishahihkan oleh Az-Zuhri dan diriwayatkan oleh Ibnu Uyainah.” Karena ada perbedaan penilaian terhadap hadits ini, mengakibatkan terjadi perbedaan pendapat ulama atas lima pendapat:

Pertama; Bahwa berjalan di depan jenazah itu lebih baik berdasarkan perbuatan Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam dan khalifahnya. Ini merupakan pendapat mayoritas ulama dan Asy-Syafii.

Kedua; Al-Hadawiyah dan Al-Hanafiyah mengatakan bahwa berjalan di belakang jenazah adalah lebih baik, berdasarkan riwayat dari Ibnu Thawus, dari bapaknya,

«مَا مَشَى رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – حَتَّى مَاتَ إلَّا خَلْفَ الْجِنَازَةِ»

“Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam tidak berjalan mengantar jenazah hingga wafatnya kecuali di belakang jenazah.”

Berdasarkan hadits yang diriwayatkan dari Said bin Manshur dari hadits Ali, ia berkata,

الْمَشْيُ خَلْفَهَا أَفْضَلُ مِنْ الْمَشْيِ أَمَامَهَا كَفَضْلِ صَلَاةِ الْجَمَاعَةِ عَلَى صَلَاةِ الْفَذِّ

“Berjalan di belakang jenazah itu lebih utama daripada berjalan di depannya, sebagaimana keutamaan shalat berjamaah daripada shalat sendirian.”

Sanadnya hasan dan mauquf tetapi sama dengan hukum hadits marfu. Akan tetapi Al-Atsram berkata bahwa Ahmad mempersoalkan sanadnya.

Ketiga; Boleh berjalan di depannya, di belakangnya, di samping kanan dan kirinya. Menurut pendapat itu ada kebebasan bagi orang yang mengiringi jenazah dan itu sesuai dengan anjuran untuk mempercepat penguburan mayat. Dan mereka tidak mengharuskan tempat berjalan bagi seseorang agar tidak menyulitkan mereka semua atau sebagiannya.

Keempat; Menurut Ats-Tsauri bahwa orang yang berjalan mengiringi jenazah dapat berjalan sesuai kehendaknya, hanya saja bila ia naik kendaraan, sebaiknya di belakang jenazah. Berdasarkan hadits yang diriwayatkan dalam As-Sunan dan dishahihkan oleh Ibnu Hibban dan Al-Hakim dari Al-Mughirah secara marfu,

«الرَّاكِبُ خَلْفَ الْجِنَازَةِ وَالْمَاشِي حَيْثُ شَاءَ مِنْهَا»

“Orang yang naik kendaraan dibelakang jenazah dan orang yang berjalan kaki, mana saja yang ia sukai.” [Shahih: Abu Daud 3180]

Kelima; Menurut An-Nakhai, jika bersama jenazah itu ada orang perempuan maka berjalan di depannya dan jika tidak, maka berjalan di belakangnya.

 

والله أعلمُ بالـصـواب

Download Sumber

 

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *