[ UIC 10.4 ] Kitab Subulus Salam Syarh Bulughul Maram 154

03. KITAB JENAZAH 10

0525

525 – وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ – رَضِيَ اللَّهُ تَعَالَى عَنْهُ – قَالَ: «كَانَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – إذَا صَلَّى عَلَى جِنَازَةٍ يَقُولُ: اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِحَيِّنَا، وَمَيِّتِنَا، وَشَاهِدِنَا، وَغَائِبِنَا، وَصَغِيرِنَا، وَكَبِيرِنَا وَذَكَرِنَا، وَأُنْثَانَا، اللَّهُمَّ مَنْ أَحْيَيْته مِنَّا فَأَحْيِهِ عَلَى الْإِسْلَامِ، وَمَنْ تَوَفَّيْته مِنَّا فَتَوَفَّهُ عَلَى الْإِيمَانِ. اللَّهُمَّ لَا تَحْرِمْنَا أَجْرَهُ، وَلَا تُضِلَّنَا بَعْدَهُ» رَوَاهُ مُسْلِمٌ وَالْأَرْبَعَةُ

525. Dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu, ia berkata, “Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam jika menyalatkan jenazah maka beliau mengucapkan doa, ‘Ya Allah, ampunilah orang yang hidup, dan yang mati di antara kami, yang menyaksikan dan yang ghaib, yang kecil dan yang besar, yang laki-laki dan yang perempuan. Ya Allah, barangsiapa yang Engkau hidupkan ia dalam keadaan Islam dan barangsiapa yang Engkau matikan, maka matikanlah ia dalam keadaan beriman; Ya Allah, janganlah Engkau jauhkan kami dari pahalanya dan janganlah Engkau membiarkan kami tersesat sesudahnya.” (HR. Muslim dan Al-Arba’ah).

[Shahih: Abu Daud 3201, dan tidak ditemukan dalam riwayat Muslim]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Tafsir Hadits

Hadits-hadits yang menjelaskan mengenai doa bagi mayat ini’ banyak sekali. Misalnya dalam Sunan Abi Dawud dari Abu Hurairah,

«أَنَّ النَّبِيَّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – دَعَا فِي الصَّلَاةِ عَلَى الْجِنَازَةِ: اللَّهُمَّ أَنْتَ رَبُّهَا وَأَنْتَ خَلَقْتهَا وَأَنْتَ هَدَيْتهَا لِلْإِسْلَامِ وَأَنْتَ قَبَضْت رُوحَهَا وَأَنْتَ أَعْلَمُ بِسِرِّهَا وَعَلَانِيَتِهَا جِئْنَا شُفَعَاءَ لَهُ فَاغْفِرْ. لَهُ ذَنْبَهُ»

“Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam berdoa dalam shalat jenazah, ‘Ya Allah, hanya Engkaulah tuhannya, Engkaulah yang telah menciptakannya, Engkaulah yang telah memberinya petunjuk kepada Islam, Engkaulah yang telah mencabut ruhnya, dan hanya Engkaulah yang lebih mengetahui yang rahasia dan yang nampak padanya, kami datang memohonkan pertolongan baginya maka ampunilah dosanya.”[Dhaif: Abu Daud 3200]

Dan Ibnu Majah dari Hadits Watsilah bin Asqa’, ia berkata,

«صَلَّى بِنَا رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – عَلَى جِنَازَةِ رَجُلٍ مِنْ الْمُسْلِمِينَ فَسَمِعْته يَقُولُ: اللَّهُمَّ إنَّ فُلَانَ بْنَ فُلَانٍ فِي ذِمَّتِك وَحَبْلِ جِوَارِك قِه فِتْنَةَ الْقَبْرِ وَعَذَابَ النَّارِ وَأَنْتَ أَهْلُ الْوَفَاءِ وَالْحَمْدِ اللَّهُمَّ فَاغْفِرْ لَهُ وَارْحَمْهُ فَإِنَّك أَنْتَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ»

“Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam pernah bersama kami menyalati jenazah laki-laki dari orang Islam, aku mendengar beliau berdoa, ‘Ya Allah sesungguhnya si Fulan dan anak si Fulan ini dalam tanggungan Engkau, dalam pertalian dengan tetangga-Mu, jauhkanlah ia dari fitnah kubur dan dari siksa neraka, hanya Engkaulah yang menepati janji dan tempat pujian. Ya Allah ampunilah ia, rahmatilah ia, karena sesungguhnya hanya Engkaulah yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” [Shahih: Ibnu Majah 1521]

Adanya perbedaan riwayat dan lafazh doa menunjukkan kebebasan kita memilih doa-doa tersebut dalam shalat jenazah. Jadi, bukan hanya suatu doa tertentu. Al-Hadawiyah memilih doa-doa yang lain dan Asy-Syafii demikian juga, semua ini tertera dalam kitab Asy-Syarh. Mengenai bacaan suatu surat sesudah membaca surat Al-Fatihah jelas ada tuntunannya sebagaimana sudah dikemukakan dalam riwayat An-Nasai di muka, tetapi tidak ada kewajiban dibaca dalam shalat jenazah. Yang penting adalah ikhlas berdoa bagi orang yang mati itu, karena keikhlasan diperintahkan dalam menegakkan shalat, sebagaimana yang dijelaskan dalam hadits berikut.

0526

526 – وَعَنْهُ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – أَنَّ النَّبِيَّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – قَالَ: «إذَا صَلَّيْتُمْ عَلَى الْمَيِّتِ فَأَخْلِصُوا لَهُ الدُّعَاءَ» رَوَاهُ أَبُو دَاوُد وَصَحَّحَهُ ابْنُ حِبَّانَ

526. Dan darinya -Abu Hurairah- Radhiyallahu Anhu, “Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Apabila kamu menyalatkan mayat maka ikhlaskan doamu baginya.” (HR. Abu Dawud dan dishahihkan oleh Ibnu Hibban).

[Hasan: Abu Daud 3199]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Tafsir Hadits

Hadits ini menunjukkan keharusan berdoa dengan ikhlas bagi mayat, karena mereka hanyalah orang-orang yang memohonkan syafaat kepada Allah untuk si mayat, dan orang yang memohon itu harus sungguh-sungguh dalam permohonannya dengan disertai harapan terkabulnya syafaat bagi si mayat.

Dan diriwayatkan dari Ath-Thabrani,

“Ibnu Umar jika melihat jenazah, maka beliau membaca, “Inilah yang telah dijanjikan oleh Allah dan Rasul-Nya, “Ya Allah tambahkanlah bagi kami keimanan dan penyerahan diri kepada Allah.”

Juga dihubungkan dengan ucapan Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam, Sesungguhnya beliau bersabda,

«مَنْ رَأَى جِنَازَةً فَقَالَ: اللَّهُ أَكْبَرُ صَدَقَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ هَذَا مَا وَعَدَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ اللَّهُمَّ زِدْنَا إيمَانًا وَتَسْلِيمًا تُكْتَبُ لَهُ عِشْرُونَ حَسَنَةً»

“Barangsiapa yang melihat jenazah lalu ia mengucapkan, “Allah Mahabesar, Mahabenar Allah dan Rasul-Nya, inilah yang pernah dijanjikan oleh Allah dan Rasul-Nya. Ya Allah tambahkan bagi kami keimanan dan penyerahan diri, maka dituliskan baginya dua puluh kebaikan.”

0527

527 – وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – عَنْ النَّبِيِّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – قَالَ: «أَسْرِعُوا بِالْجِنَازَةِ، فَإِنْ تَكُ صَالِحَةً فَخَيْرٌ تُقَدِّمُونَهَا إلَيْهِ، وَإِنْ تَكُ سِوَى ذَلِكَ فَشَرٌّ تَضَعُونَهُ عَنْ رِقَابِكُمْ» مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ.

527. Dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam, beliau bersabda, “Segeralah mengurus jenazah, jika jenazah itu baik maka itu suatu kebaikan yang kamu serahkan kepadanya, dan jika jenazah itu tidak baik, maka itu suatu keburukan yang kamu letakkan di atas pundakmu.” (Muttafaq Alaih).

[Shahih: Al Bukhari 1315 dan Muslim 944]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Ibnu Qudamah mengutip pendapat ulama bahwa perintah segera mengurus jenazah itu hanya menunjukkan kesunnahan, tanpa ada perbedaan pendapat tentang hukumnya. Akan tetapi Ibnu Hazm setelah ditanya mengenai hal itu, beliau menjawab, “Wajib.” Dan yang dimaksudkan adalah mempercepat jalan sewaktu memikul mayat. Demikian menurut pengertian sebagian ulama salaf. Menurut Asy-Syafii dan mayoritas ulama bahwa yang dimaksudkan segera mengurus adalah mempercepat jalan saat memikul mayat, melebihi dari kecepatan jalan biasa dan makruh terlalu cepat, jadi disunnahkan mempercepat jalan ketika membawa mayat itu, dengan kecepatan yang tidak mencapai batas terlalu cepat yang dikawatirkan terjadi suatu bahaya bagi mayat atau kesusahan bagi yang memikul dan orang-orang yang mengiringi jenazahnya itu.

Al-Qurthubi berkata, “Maksud hadits tersebut adalah tidak sengaja memperlambat penguburan mayat, karena memperlambat penguburannya terkadang mengakibatkan timbulnya rasa saling membanggakan diri dan rasa sombong keluarganya.” Pendapat ini berdasarkan atas perintah untuk menyegerakan mengurus kematian dalam artian segera membawanya ke kuburan untuk dikuburkan. Ada yang mengatakan bahwa maksudnya adalah segera mempersiapkan jenazah itu. Ini lebih umum dari pendapat pertama di atas. Tetapi An-Nawawi membantah pendapat tersebut, beliau mengatakan pendapat itu batil dan tertolak dengan sendirinya oleh sabdanya, “Kamu meletakkannya di atas pundakmu.” An-Nawawi menjelaskan bahwa memikul di atas pundak itu mengandung beberapa pengertian. Misalnya orang biasa mengatakan, “Si fulan memikul hutang yang banyak di atas pundaknya.” Dia mengatakan, “Yang menguatkan pengertian semacam itu adalah kenyataannya tidak semua pengiring jenazah itu memikulnya.”

Penyusun kitab Al-Fath setelah mengutip pendapat itu berkata bahwa yang menguatkan pendapat agar segera dikuburkan adalah hadits yang diriwayatkan dari Ibnu Umar, “Aku mendengar Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda,

«إذَا مَاتَ أَحَدُكُمْ فَلَا تَحْبِسُوهُ وَأَسْرِعُوا بِهِ إلَى قَبْرِهِ»

‘Apabila seseorang di antara kalian meninggal dunia, maka janganlah kamu tahan mayatnya dan segeralah dikuburkan.” (HR. Ath-Thabrani dengan sanad yang hasan)

[Dhaif: Al-Misykah 1717 dan Ahkamul Jana’iz hal. 13. Ebook editor]

Dari Abu Dawud secara marfu,

«لَا يَنْبَغِي لِجِيفَةِ مُسْلِمٍ أَنْ تَبْقَى بَيْنَ ظَهْرَانَيْ أَهْلِهِ»

“Tidak sepantasnya bagi mayat seorang muslim tinggal lama di tengah keluarganya.” [Dhaif: Abu Daud 3159]

Hadits tersebut sebagai dalil yang menunjukkan keharusan menyegerakan mengurus mayat dan penguburannya.

 

والله أعلمُ بالـصـواب

Download Sumber

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *