[ UIC 10.4 ] Kitab Subulus Salam Syarh Bulughul Maram 153

03. KITAB JENAZAH 09

0521

521 – وَعَنْ عَلِيٍّ – رَضِيَ اللَّهُ تَعَالَى عَنْهُ -، أَنَّهُ كَبَّرَ عَلَى سَهْلِ بْنِ حُنَيْفٍ سِتًّا، وَقَالَ: إنَّهُ بَدْرِيٌّ. رَوَاهُ سَعِيدُ بْنُ مَنْصُورٍ، وَأَصْلُهُ فِي الْبُخَارِيِّ.

521. Dari Ali Radhiyallahu Anhu sesungguhnya ia bertakbir untuk Sahl bin Hanif dengan enam kali takbir, dan ia berkata, “Sesungguhnya ia seorang badr.” (HR. Said bin Manshur asalnya hadits ini adalah di Al-Bukhari)

[Shahih: Al-Albani berkata, ini adalah atsar mauquf, akan tetapi dihukumi marfu, lihat Ahkamul Janaiz 143, asalnya dalam shahih Al Bukhari 4004, tanpa lafazh enam kali. Ebook editor]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Menurut riwayat dalam Al-Bukhari adalah, “Sesungguhnya Ali Alaihissalam bertakbir untuk Sahl bin Hanif.” Dan Al-Barqani menambahkan dalam Mustakhrajnya dengan lafazh Sittan (enam), demikian yang disebutkan oleh Al-Bukhari dalam Tarikhnya.

Tafsir Hadits

Telah terjadi perbedaan riwayat dalam jumlah takbir pada shalat jenazah. Al-Baihaqi telah mengeluarkan riwayat dari Said bin Al-Musayyab, “Sesungguhnya Umar berkata, “Semua itu pernah dilakukan apakah empat, lima, dan kami sepakat atas empat.” Ibnu Al-Mundzir meriwayatkan dari jalan yang lain dari Said, Al-Baihaqi juga meriwayatkan dari Abi Wail ia berkata,

«كَانُوا يُكَبِّرُونَ عَلَى عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – أَرْبَعًا وَخَمْسًا وَسِتًّا وَسَبْعًا فَجَمَعَ عُمَرُ أَصْحَابَ رَسُولِ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – فَأَخْبَرَ كُلٌّ بِمَا رَأَى فَجَمَعَهُمْ عُمَرُ عَلَى أَرْبَعِ تَكْبِيرَاتٍ»

“Mereka bertakbir pada zaman Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dengan empat, lima, enam, dan tujuh. Kemudian Umar mengumpulkan shahabat-shahabat Rasulullah semuanya mengkhabarkan apa yang telah mereka riwayatkan dan apa yang telah mereka lihat, kemudian Umar mengumpulkan mereka dengan empat kali takbir.”

Ibnu Abdil Bar meriwayatkan dalam Al-Istidzkar dengan sanadnya,

«كَانَ النَّبِيُّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – يُكَبِّرُ عَلَى الْجَنَائِزِ أَرْبَعًا وَخَمْسًا وَسِتًّا وَسَبْعًا وَثَمَانِيًا حَتَّى جَاءَ مَوْتُ النَّجَاشِيِّ فَخَرَجَ إلَى الْمُصَلَّى وَصَفَّ النَّاسَ وَزَادَ: وَكَبَّرَ عَلَيْهِ أَرْبَعًا ثُمَّ ثَبَتَ النَّبِيُّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – عَلَى أَرْبَعٍ حَتَّى تَوَفَّاهُ اللَّهُ»

“Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bertakbir dalam shalat jenazah dengan empat, lima, enam, tujuh dan delapan sampai datang kematian An-Najasy, maka keluarlah beliau ke mushalla dan manusia bershaf di belakang, kemudian beliau bertakbir atasnya dengan empat, dan tetaplah Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bertakbir dengan empat kali takbir sampai Allah mewafatkan beliau,”

Jika sah riwayat ini maka Umar dan orang yang bersamanya tidak mengetahui ketetapan perkara atas empat sampai beliau harus mengumpulkan mereka untuk bermusyawarah dalam hal itu.

0522

522 – وَعَنْ جَابِرٍ – رَضِيَ اللَّهُ تَعَالَى عَنْهُ – قَالَ: «كَانَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – يُكَبِّرُ عَلَى جَنَائِزِنَا أَرْبَعًا وَيَقْرَأُ بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ فِي التَّكْبِيرَةِ الْأُولَى.» رَوَاهُ الشَّافِعِيُّ بِإِسْنَادٍ ضَعِيفٍ.

522. Dan dari Jabir Radhiyallahu Anhu ia berkata, “Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bertakbir untuk jenazah kami dengan empat takbiran, beliau membaca surat Al-Fatihah pada takbir yang pertama.” (HR. As-Syafii dengan sanad yang dhaif).

[Shahih: Ahkamul Janaiz 155 dan Al Irwa 734. Ebook editor]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Tafsir Hadits

Hadits ini tidak disebutkan dalam Asy-Syarah dan pensyarah -semoga Allah merahmatinya- tidak berkomentar atas hadits ini. Pengarang berkata dalam Al-Fath, “Sesungguhnya syaikh beliau telah memberikan faidah dalam Syarah At-Tirmidzi bahwa sanadnya dhaif. Di dalam At-Talkhish bahwa hadits ini diriwayatkan oleh Asy-Syafii dari Ibrahim bin Muhammad dari Muhammad bin Abdullah bin Uqail dari Jabir. Mereka mendhaifkan Ibnu Uqail.

Ketahuilah, sesungguhnya ulama telah berbeda pendapat dalam masalah membaca Al-Fatihah dalam shalat jenazah. Ibnu Al-Mundzir menukil dari Ibnu Mas’ud, Al-Hasan bin Ali, Ibnu Az-Zubair tentang disyariatkannya Al-Fatihah. Ini adalah pendapat Asy-Syafi’i, Ahmad, dan Ishaq. Dan dinukil dari Abu Hurairah dan Ibnu Umar, tidak ada dalam shalat jenazah bacaan Al-Qur’an, ini adalah pendapat Malik dan orang-orang Kuffah. Pendapat pertama melandaskan dengan riwayat yang telah lalu. Walaupun hadits ini dhaif, tapi ia memiliki syahid (hadits lain yang serupa).

0523

523 – وَعَنْ طَلْحَةَ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَوْفٍ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – قَالَ: «صَلَّيْت خَلْفَ ابْنِ عَبَّاسٍ عَلَى جِنَازَةٍ، فَقَرَأَ فَاتِحَةَ الْكِتَابِ فَقَالَ: لِيَعْلَمُوا أَنَّهَا سُنَّةٌ» رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ.

523. Dan dari Thalhah bin Abdullah bin Auf ia berkata, “Aku shalat jenazah di belakang Ibnu Abbas Radhiyallahu Anhuma beliau membaca Fatihatul Kitab.” Beliau berkata, “Supaya mereka tahu bahwa ini adalah sunnah.” (HR. Al-Bukhari).

[Shahih: Al Bukhari 1335]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Tafsir Hadits

Ibnu Khuzaimah mengeluarkan dalam Shahihnya. dan An-Nasa’i dengan lafazh,

فَأَخَذْت بِيَدِهِ فَسَأَلْته عَنْ ذَلِكَ فَقَالَ: نَعَمْ يَا ابْنَ أَخِي إنَّهُ حَقٌّ وَسُنَّةٌ

“Maka aku menarik tangannya, kemudian aku bertanya tentang hal itu, maka ia berkata, “Benar wahai anak saudaraku, sesungguhnya ini adalah haq (benar) dan sunnah.” [Shahih: An Nasa’i 1987]

Dan An-Nasa’i meriwayatkan dari jalan yang lain dengan lafazh,

«فَقَرَأَ بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ وَسُورَةٍ وَجَهَرَ حَتَّى أَسْمَعَنَا فَلَمَّا فَرَغَ أَخَذْت بِيَدِهِ فَسَأَلْته فَقَالَ: سُنَّةٌ وَحَقٌّ»

“Ia membaca Fatihatul-Kitab (Al-Fatihah) dan surah yang lain dengan suara yang kencang sampai kami mendengarnya, maka ketika beliau menyelesaikan shalatnya aku tarik tangannya, kemudian aku bertanya kepadanya, ia menjawab, “Sunnah dan haq.” [Shahih: An Nasa’i 1986]

At-Tirmidzi meriwayatkan dari Ibnu Abbas,

«أَنَّهُ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – قَرَأَ عَلَى الْجِنَازَةِ بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ»

“Sesungguhnya Beliau Shallallahu Alaihi wa Sallam membaca Al-Fatihah pada shalat jenazah.” [Shahih: At Tirmidzi 1026]

Kemudian ia berkata, “Tidak shahih, yang shahih adalah dari Ibnu Abbas dengan ucapannya, “Dari Sunnah.” Al-Hakim berkata, “Mereka bersepakat bahwa ucapan shahabat “Dari Sunnah” merupakan hadits yang bersandar. Berkata pengarang, “Demikian yang dinukil Ijma, sedangkan perbedaan pendapat ini sudah masyhur di kalangan Ahlul Hadits dan Ushul.”

Hadits ini dalil yang menunjukkan wajibnya membaca Al-Fatihah dalam shalat jenazah, karena yang dimaksud dengan “Dari sunnah” yaitu jalan yang disandarkan kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, bukanlah sunnah yang dimaksud di sini adalah lawan dari fardhu. Ini merupakan istilah yang dikenal dan ditambah dengan kewajiban dari penegasan ucapan “Haq” yakni tetap.

Ibnu Majah telah mengeluarkan hadits dari Ummu Syarik ia berkata,

«أَمَرَنَا رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – أَنْ نَقْرَأَ عَلَى الْجِنَازَةِ بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ»

“Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam memerintahkan kami untuk membaca Al-Fatihah dalam shalat jenazah.” [Dhaif: Ibnu Majah 1518]

Dalam sanadnya ada kelemahan dan hadits ini selaras dengan hadits Ibnu Abbas dan perintah menunjukkan dalil wajib. Kewajiban membaca Al-Fatihah inilah pendapat Asy-Syafi’i, Ahmad dan selain keduanya dari ulama salaf dan khalaf. Yang lain berpendapat tidak disyariatkannya berdasarkan ucapan Ibnu Mas’ud, “Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam tidak menentukan kepada kami bacaan dalam shalat jenazah, bahkan ia berkata, “Bertakbirlah jika imam bertakbir dan pilihlah ucapan yang baik yang kalian sukai.” Kecuali ucapan ini tidak dihubungkan dalam Al-Intishar kepada kitab hadits untuk diketahui shahih dan tidaknya dan hadits ini menafikan sedang hadits Ibnu Abbas menetapkan jadi ia didahulukan.

Dari Al-Hadi dan sekelompok ulama dari ahlul Bait bahwa membaca bacaan adalah sunnah mengamalkan hadits Ibnu Abbas “sunnah” dan Anda telah mengetahui maksudnya dari lafazhnya. Dan berdalil dengan kewajibannya bahwa mereka bersepakat bahwa itu adalah shalat dan telah tetap dalam hadits, “Tidak ada shalat, kecuali dengan Fatihatul Kitab.”

Ini masuk dalam kategori keumuman hadits dan mengeluarkannya dari keumuman ini memerlukan dalil adapun tempat bacaan fatihah itu setelah takbir yang pertama kemudian ia bertakbir dan bershalawat atas Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam kemudian bertakbir mendoakan mayat dan cara berdoa sebagaimana yang ditunjukkan hadits berikut:

0524

524 – وَعَنْ عَوْفِ بْنِ مَالِكٍ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – ” قَالَ: «صَلَّى رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – عَلَى جِنَازَةٍ فَحَفِظْت مِنْ دُعَائِهِ: اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَهُ، وَارْحَمْهُ، وَعَافِهِ، وَاعْفُ عَنْهُ، وَأَكْرِمْ نُزُلَهُ، وَوَسِّعْ مُدْخَلَهُ، وَاغْسِلْهُ بِالْمَاءِ وَالثَّلْجِ وَالْبَرَدِ، وَنَقِّهِ مِنْ الْخَطَايَا كَمَا يُنَقَّى الثَّوْبُ الْأَبْيَضُ مِنْ الدَّنَسِ، وَأَبْدِلْهُ دَارًا خَيْرًا مِنْ دَارِهِ، وَأَهْلًا خَيْرًا مِنْ أَهْلِهِ، وَأَدْخِلْهُ الْجَنَّةَ، وَقِه فِتْنَةَ الْقَبْرِ وَعَذَابَ النَّارِ» رَوَاهُ مُسْلِمٌ

524. Dan dari Auf bin Malik Radhiyallahu Anhu ia berkata, “Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam shalat jenazah dan aku telah hafal dari do’a beliau, ‘Ya Allah ampunilah ia, rahmati ia, ampunilah dia, ampunilah darinya, muliakanlah tempat kembalinya, luaskanlah tempat masuknya, mandikanlah ia dengan air, salju, dan air dingin, bersihkanlah ia dari kesalahan sebagaimana baju putih yang dibersihkan dari kotoran, gantikanlah baginya rumah yang lebih baik dari rumahnya, keluarga yang lebih baik dari keluarganya, masukkanlah ia dalam surga dan hindarkanlah fitnah kubur dan azab neraka.” (HR. Muslim).

[Shahih: Muslim 963]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Tafsir Hadits

Bisa dipahami, bahwa Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam membaca doa ini dengan keras sehingga bisa dihafal. Mungkin juga beliau ditanya apa yang beliau baca kemudian beliau menyebutkannya, maka kemudian ini dihafal. Para ahli fikih mengatakan, “Disunnahkan untuk membaca secara pelan. Di antara mereka mengatakan, “Boleh dipilih.” Di antara mereka ada yang mengatakan, “Dibaca pelan pada siang hari dan dibaca keras pada malam hari.” Berdo’a untuk mayat harus dengan penuh keikhlasan sebagaimana sabda Rasulullah,

أَخْلِصُوا لَهُ الدُّعَاءَ

“Ikhlaskanlah doa untuknya.” [Hasan: Abu Daud 3199]

Dan apa yang datang dari beliau Shallallahu Alaihi wa Sallam adalah lebih utama. Hadits-hadits yang lebih shahih dalam masalah ini adalah hadits berikut,

 

والله أعلمُ بالـصـواب

Download Sumber

 

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *