[ UIC 10.4 ] Kitab Subulus Salam Syarh Bulughul Maram 152

03. KITAB JENAZAH 08

0517

517 – وَعَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا – قَالَ: سَمِعْت النَّبِيَّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – يَقُولُ: «مَا مِنْ رَجُلٍ مُسْلِمٍ يَمُوتُ فَيَقُومُ عَلَى جِنَازَتِهِ أَرْبَعُونَ رَجُلًا، لَا يُشْرِكُونَ بِاَللَّهِ شَيْئًا، إلَّا شَفَّعَهُمْ اللَّهُ فِيهِ» رَوَاهُ مُسْلِمٌ

517. Dari Ibnu Abbas Radhiyallahu Anhuma, ia berkata, “Aku mendengar Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Tidak ada seseorang yang meninggal, lalu jenazahnya dishalatkan oleh empat puluh orang yang tidak mempersekutukan Allah dengan sesuatu, kecuali Allah memberikan syafaat kepada mereka dalam permohonan ampun baginya.” (HR. Muslim).

[Shahih: Muslim 948]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Tafsir Hadits

Hadits ini menjadi dalil yang menunjukkan keutamaan memperbanyak jamaah shalat jenazah. Dan juga menunjukkan bahwa syafaat orang yang benar-benar beriman itu diterima di sisi Allah. Dalam suatu riwayat Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda,

«مَا مِنْ مُسْلِمٍ يُصَلِّي عَلَيْهِ أُمَّةٌ مِنْ الْمُسْلِمِينَ يَبْلُغُونَ كُلُّهُمْ مِائَةً يَشْفَعُونَ فِيهِ إلَّا شُفِّعُوا فِيهِ»

“Tidak ada seorang muslim yang dishalati jenazahnya oleh umat Islam yang semuanya mencapai jumlah seratus orang, yang memohonkan syafaat (ampunan) baginya, kecuali mereka diberi syafaat dalam hal itu.” [Shahih: Muslim 947]

Dalam riwayat lain mencapai jumlah tiga shaf. Hadits tersebut diriwayatkan dalam As-Sunan (yaitu Abi Dawud, At-Tirmidzi, An-Nasai dan Ibnu Majah). [Dhaif Jiddan: Dhaif Al-Jami 5087]

Al-Qadli berkata, “Ada orang yang mengatakan bahwa hadits-hadits ini beliau ucapkan sebagai jawaban pertanyaan orang yang menanyakan tentang hal itu, lalu beliau menjawab masing-masing pertanyaan itu.” Dan mungkin Nabi Shallallahu Alaihi ma Sallam memberitahukan tentang maqbul (diterima)nya syafaat setiap orang dalam sekian jumlah itu, bukan menunjukkan adanya saling pertentangan antara kedua hadits itu. Karena pemahamannya boleh dihilangkan berdasarkan nash Al-Qur’an atau hadits. Penggabungan pengertian kedua hadits tersebut dapat diamalkan, bahwa syafaat itu dapat diterima.

0518

518 – وَعَنْ سَمُرَةَ بْنِ جُنْدُبٍ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – قَالَ: «صَلَّيْت وَرَاءَ النَّبِيِّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – عَلَى امْرَأَةٍ مَاتَتْ فِي نِفَاسِهَا، فَقَامَ وَسَطَهَا.» مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ.

518. Dari Samurah bin Jundab Radhiyallahu Anhuma, ia berkata, “Saya pernah shalat di belakang Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam pada shalat jenazah seorang perempuan yang meninggal dalam keadaan keluar darah nifasnya. Beliau berdiri di tengahnya.” (Muttafaq Alaih).

[Shahih: Al Bukhari 1331 dan Muslim 964]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Tafsir Hadits

Hadits ini merupakan dalil yang menunjukkan adanya tuntunan berdirinya imam tepat di tengah mayat perempuan jika sedang melakukan shalat jenazah dan hukumnya sunnah. Yang wajib hanyalah berdiri menghadap ke arah bagian dari mayat itu (pada bagian kepala, tengah, atau kakinya, pen.), baik pada mayat laki-laki maupun perempuan.

Para ulama berselisih pendapat tentang hukum menghadap arah mayat sewaktu shalat jenazah laki-laki dan perempuan itu. Abu Hanifah, berkata bahwa keduanya sama saja. Al-Hadawiyah berkata bahwa imam menghadap tepat pada pusar laki-laki dan bagian dada perempuan, berdasarkan riwayat ahlul bait (ulama syiah) dari Ali Radhiyallahu Anhu. Al-Qasim berkata bahwa imam berdiri tepat menghadap dada perempuan dan antara dada dan pusat pada jenazah laki-laki.

Asy-Syafii berkata, “Imam berdiri tepat pada bagian kepala mayat laki-laki dan tepat pada bagian lututnya bagi jenazah perempuan.” Pendapat tersebut berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Abu Dawud dan At-Tirmidzi dari Anas Radhiyallahu Anhu,

«أَنَّهُ صَلَّى عَلَى رَجُلٍ فَقَامَ عِنْدَ رَأْسِهِ وَصَلَّى عَلَى الْمَرْأَةِ فَقَامَ عِنْدَ عَجِيزَتِهَا؛ فَقَالَ لَهُ الْعَلَاءُ بْنُ زِيَادٍ: هَكَذَا كَانَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – يَفْعَلُ قَالَ: نَعَمْ»

“Beliau pernah menyalati jenazah laki-laki, beliau berdiri tepat pada kepalanya dan beliau menyalat jenazah perempuan, beliau berdiri pada bagian lututnya.” Lalu Al-A’la bin Ziyad bertanya kepadanya, “Apakah demikan cara yang biasa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam lakukan?” Anas menjawab, “Ya.” [Shahih: Abu Daud 3194]

Hanya saja, menurut penyusun kitab Fath Al-Bari bahwa Al-Bukhari menjelaskan kuatnya hadits Samurah, sedangkan hadits dari Anas ini lemah.

0519

519 – وَعَنْ عَائِشَةَ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا – قَالَتْ: «وَاَللَّهِ لَقَدْ صَلَّى رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – عَلَى ابْنَيْ بَيْضَاءَ فِي الْمَسْجِدِ.» رَوَاهُ مُسْلِمٌ.

519. Dari Aisyah Radhiyallahu Anha, ia berkata, “Demi Allah, sesungguhnya Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam pernah menyalatkan mayat dua anak Baidha’ dalam masjid.” (HR. Muslim)

[Shahih: Muslim 973]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

“Dari Aisyah Radhiyallahu Anha, ia berkata, ‘Demi Allah, sesungguhnya Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam pernah menyalatkan mayat dua anak Baidha” (mereka adalah Sahal dan Suhail. Bapaknya bernama Wahab bin Rasi’ah dan ibunya bernama Da’dun. Yang dijuluki Baidha” yang berarti yang putih, karena sifat dan warna kulitnya yang putih) dalam masjid.”

Aisyah berkata demikian sebagai bantahan atas orang orang yang menentangnya ketika menyalatkan Sa’ad bin Abi Waqqash dalam masjid. Ia (Aisyah) berkata, “Sungguh cepatnya orang-orang lupa bahwa Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam pernah menyalati jenazah dalam masjid.”

Tafsir Hadits

Hadits ini dijadikan dalil jumhur ulama tentang tidak makruhnya melaksanakan shalat jenazah di dalam masjid. Abu Hanifah dan imam Malik berpendapat bahwa shalat jenazah di dalam masjid tidak sah. Dalam kitab Al-Qaduri yang dijadikan rujukan bagi pengikut madzhab Hanafi disebutkan, “Bahwa jenazah tidak dishalatkan di masjid jami’. Imam Hanifah dan Malik berhujah atas pendapatnya dengan keluarnya Rasulullah ke tanah lapang untuk melaksanakan shalat ghaib bagi An-Najasyi, dan jawaban atas pendapat ini telah diuraikan di atas. Sebagaimana riwayat Abu Abu Dawud,

«مَنْ صَلَّى عَلَى جِنَازَةٍ فِي الْمَسْجِدِ فَلَا شَيْءَ لَهُ»

“Barangsiapa shalat jenazah di masjid, maka tidak apa-apa.” [Hasan: Abu Daud 3191]

Pendapat ini dijawab, bahwa nash tersebut telah didhaifkan oleh imam Ahmad, karena di dalamnya ada sanad Shalih Maula At-Tauamah yang meriwayatkan hadits sendirian, sedang ia adalah seorang yang dhaif. Dan adapun nash yang masyhur dalam Sunan Abu Dawud dengan lafazh, ‘Fa Laa Syafa Alaihi” bukan ‘Fa Laa Syafa Lahu”.

Dan telah diriwayatkan bahwasanya Umar Al-Khaththab menyalatkan Abu Bakar di masjid, dan Shuhaib menyalatkan Umar di Masjid. Dan menurut Al-Hadawiyah memasukkan mayit ke dalam masjid hukumnya makruh li tanzih. Mereka dan Al-Hanafiyah mentakwil hadits Aisyah, bahwa yang dimaksud adalah Rasulullah menyalatkan dua anak Baidha’ di dalam masjid, sedang jenazah keduanya di luar masjid. Penakwilan ini tidak sesuai dengan hujjah Aisyah.

0520

520 – وَعَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ أَبِي لَيْلَى قَالَ: «كَانَ زَيْدُ بْنُ أَرْقَمَ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – يُكَبِّرُ عَلَى جَنَائِزِنَا أَرْبَعًا، وَأَنَّهُ كَبَّرَ عَلَى جِنَازَةٍ خَمْسًا، فَسَأَلْته فَقَالَ: كَانَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – يُكَبِّرُهَا» رَوَاهُ مُسْلِمٌ وَالْأَرْبَعَةُ

520. Dan dari Abdurrahaman bin Abu Laila ia berkata, “Zaid bin Arqam bertakbir atas jenazah-jenazah kami dengan empat kali takbir, dan sesungguhnya ia juga bertakbir atas jenazah dengan lima takbir, kemudian aku bertanya kepadanya, ia menjawab, “Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bertakbir dengannya.” (HR. Muslim dan Al-Arba’ah).

[Shahih: Muslim 957]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Biografi Perawi

Abdurrahman bin Abi Laila, beliau adalah Abu Isya Abdurrahman bin Abi Laila. Lahir pada enam tahun dari sisa kekhalifahan Umar. Ia mendengar dari bapaknya, Ali bin Abi Thalib dan sekelompok shahabat yang lain. Meninggal pada tahun 82 H. Sebab-sebab kematiannya ada beberapa pendapat; dikatakan ia hilang, terbunuh, dan ada juga yang mengatakan ia tenggelam di sungai Bashrah.

Tafsir Hadits

Telah lalu pada hadits Abu Hurairah, “Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bertakbir dalam shalatnya untuk An-Najasy dengan empat kali takbir.” Dan diriwayatkan juga empat kali takbir ini dari Ibnu Mas’ud, Abu Hurairah, Uqbah bin Amir, Al-Barra bin Azib, dan Zaid bin Tsabit. Dalam Ash-Shahihain dari IbnuAbbas disebutkan riwayat sebagai berikut,

«صَلَّى عَلَى قَبْرٍ فَكَبَّرَ أَرْبَعًا»

“Beliau shalat pada kuburan dengan empat kali takbir.'[Shahih: Al Bukhari 1319 dan Muslim 954]

Ibnu Majah mengeluarkan riwayat dari Abu Hurairah,

«أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – صَلَّى عَلَى جِنَازَةٍ فَكَبَّرَ أَرْبَعًا»

“Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam menyalati jenazah dan bertakbir dengan empat kali takbir.” [shahih: Ibnu Majah 1556]

Ibnu Abu Dawud berkata, “Tidak ada dalam bab ini yang lebih shahih darinya.” Mayoritas ulama berpendapat dengan empat kali takbir tidak yang lainnya, baik dari ulama khalaf maupun salaf. Di antara mereka adalah imam Mazhab yang empat dan riwayat dari Zaid bin Ali. Al-Hadawiyah berpendapat, bahwa shalat ini dilakukan dengan lima takbir dan mereka berhujjah dengan riwayat dari Ali Alaihissalam ia bertakbir untuk Fatimah dengan lima kali takbir, dan dari Ibnu Al-Hanafiyah sesungguhnya ia bertakbir atas Ibnu Abbas dengan lima takbiran. Mereka mentakwil riwayat dengan empat takbir, bahwa yang dimaksud adalah selain dari takbir iftitah dan ini sangat jauh.

 

والله أعلمُ بالـصـواب

Download Sumber

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *