[ UIC 10.4 ] Kitab Subulus Salam Syarh Bulughul Maram 151

03. KITAB JENAZAH 07

0514

514 – وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – «فِي قِصَّةِ الْمَرْأَةِ الَّتِي كَانَتْ تَقُمُّ الْمَسْجِدَ فَسَأَلَ عَنْهَا النَّبِيُّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – فَقَالُوا: مَاتَتْ فَقَالَ: أَفَلَا كُنْتُمْ آذَنْتُمُونِي؟ فَكَأَنَّهُمْ صَغَّرُوا أَمْرَهَا فَقَالَ: دُلُّونِي عَلَى قَبْرِهَا فَدَلُّوهُ فَصَلَّى عَلَيْهَا» مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ وَزَادَ مُسْلِمٌ ثُمَّ قَالَ: «إنَّ هَذِهِ الْقُبُورَ مَمْلُوءَةٌ ظُلْمَةً عَلَى أَهْلِهَا وَإِنَّ اللَّهَ يُنَوِّرُهَا لَهُمْ بِصَلَاتِي عَلَيْهِمْ»

514. Dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu dalam kisah perempuan yang telah menjadi penyapu untuk masjid dan Nabi bertanya tentangnya, para shahabat menjawab bahwa ia telah meninggal, beliau bersabda, “Kenapa kalian tidak memanggilku?” Seakan-akan mereka mengecilkan urusan ini. beliau bersabda, “Tunjukkan aku di mana kuburnya.” Maka mereka menunjukkan kuburannya, kemudian Rasulullah shalat di atas kuburnya.” (Muttafaq Alaih). Muslim menambahkan, kemudian beliau bersabda, “Sesungguhnya kubur ini telah dipenuhi oleh kegelapan atas penghuninya, dan Allah telah memberikan cahaya kepadanya dengan shalatku atas mereka.”

[Shahih: Al Bukhari 1337 dan Muslim 956]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

“Yang menjadi tukang sapu di masjid (ia mengeluarkan sampah dari masjid, ia seorang tukang sapu) Nabi bertanya tentangnya, para shahabat menjawab bahwa ia telah meninggal, beliau bersabda, “Kenapa kalian tidak memanggilku?’ Seakan-akan mereka mengecilkan urusan ini. Beliau bersabda, “Tunjukkan aku di mana kuburnya.” (yakni perintah ini setelah jawaban mereka atas pertanyaan beliau bahwa ia meninggal) Maka mereka menunjukkan kuburannya, kemudian Rasulullah shalat di atas kuburnya.”

Muslim menambahkan dari riwayat Abu Hurairah, kemudian ia bersabda (yakni Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam) “Sesungguhnya kubur ini telah dipenuhi oleh kegelapan atas penghuninya dan Allah telah memberikan cahaya kepadanya dengna shalatku atas mereka.” (tambahan ini tidak dikeluarkan oleh Al-Bukhari karena ini merupakan bagian dari Marasil yang baik sanadnya sebagaimana yang dikatakan oleh Ahmad)

Tafsir Hadits ‘

Dalam hal ini, pengarang menetapkan bahwa perkara ini terjadi pada seorang perempuan, di dalam Al-Bukhari disebutkan “Sesungguhnya seorang laki-laki hitam atau perempuan hitam, keraguan ada pada perawi, akan tetapi Al-Bukhari secara tegas menyebutkan dalam riwayat yang lain dari Tsabit ia berkata, “Aku tidak memandangnya kecuali seorang perempuan”, Ibnu Khuzaimah menetapkan ini dari jalan yang lain dari Abu Hurairah ia berkata, “Perempuan hitam” Al-Baihaqi juga meriwayatkan dengan sanad yang hasan yang ia namakan perempuan itu dengan Umu Mihjan dan hadits ini juga memberikan faedah bahwa yang menjawab Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam adalah Abu Bakar. Dalam Al-Bukhari ada pergantian dari pertanyaan ‘maka ia bertanya tentangnya’ menjadi ‘apakah yang telah dilakukan oleh dia? Kemudian mereka menjawab, “Ia telah meninggal, wahai Rasululah.”

Hadits ini adalah dalil sahnya shalat atas mayat setelah dikuburkannya secara mutlak. Entah ia dishalatkan sebelum dikubur atau sesudahnya. Ini adalah pendapat Asy-Syafii. Hal ini ditunjukkan oleh shalatnya Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam atas Barra bin Ma’rur ketika ia meninggal sedangkan ia berada di Makkah dan ketika beliau tiba maka beliau shalat di atas kuburnya dan itu terjadi setelah sebulan wafatnya.

Juga ditunjukkan oleh shalatnya Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam atas seorang anak laki-laki dari Anshar yang dikuburkan pada malam hari dan beliau tidak mengetahui kematiannya. (HR. Al-Bukhari)

Juga ditunjukkan oleh beberapa hadits dalam permasalahan ini dari sembilan orang shahabat, sebagaimana yang telah disyaratkan dalam Asy-Syarah. Abu Thalib berpendapat mewakili mazhab Al-Hadi bahwa tidak boleh shalat di atas kubur sebagaimana yang disebutkannya dalam Al-Bahri dengan hadits yang tidak kuat untuk menolak hadits-hadits yang telah ditetapkan dalam hal ini sebagaimana yang telah Anda ketahui dari keshahihan dan banyaknya riwayat. Telah terjadi perbedaan pendapat dari orang yang shalat di atas kubur dalam masa disyariatkannya shalat. Sebagian mereka mengatakan sampai sebulan setelah dikubur. Ada juga yang mengatakan sampai rusaknya mayat karena jika ia telah rusak maka tidak ada gunanya untuk dishalati. Dikatakan selama-lamanya karena yang dimaksud dengan shalat di sini adalah berdoa dan itu boleh di setiap waktu.

Saya berkata, “Ini adalah yang haq, karena tidak ada dalil yang menunjukkan tentang pembatasan waktu.” Adapun dalil yang mengatakan bahwa shalat di atas kubur merupakan kekhususan dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam ini tidak dapat diterima karena klaim kekhususan telah menyelisihi asal syar’i.

0515

515 – وَعَنْ حُذَيْفَةَ – رَضِيَ اللَّهُ تَعَالَى عَنْهُ -: «أَنَّ النَّبِيَّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – كَانَ يَنْهَى عَنْ النَّعْيِ.» رَوَاهُ أَحْمَدُ وَالتِّرْمِذِيُّ وَحَسَّنَهُ.

515. Dari Hudzaifah Radhiyallahu Anhu, “Sesungguhnya Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam telah melarang untuk mengabarkan kematian.” (HR. Ahmad dan dihasankan oleh At-Tirmidzi).

[Hasan: At Tirmidzi 986]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

“Dari Hudzaifah Radhiyallahu Anhu, “Sesungguhnya Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam telah melarang dari mengabarkan kematian” (dalam Al-Qamus, lafazh an-na’i maknanya adalah merintih atas kematiannya yaitu dengan mengabarkan kematiannya)

Seakan-akan seperti bentuk larangan sebagaimana yang dikeluarkan oleh At-Tirmidzi dari Abdullah dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam,

«إيَّاكُمْ وَالنَّعْيَ فَإِنَّ النَّعْيَ مِنْ عَمَلِ الْجَاهِلِيَّةِ»

“Takutlah kalian dari meratap, karena meratap itu bagian dari perbuatan jahiliyah.” [Dhaif: At Tirmidzi 984]

Karena sesungguhnya bentuk ancaman sama dengan larangan.

Dikeluarkan dari hadits Huzaifah, dan di sini ada kisah bahwa sesungguhnya sanad hadits ini dihubungkan dengan Huzaifah karena ia telah berkata kepada orang yang menghadirinya, “Jika aku mati, maka janganlah dikhabarkan pada seorang pun karena aku khawatir ini akan menjadi an-nayu (meratap). Karena aku mendengar Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam melarang dari an-na’yu ini.” Inilah lafazhnya dan ia tidak menghasankan hadits ini. Kemudian At-Tirmidzi menafsiri kata ‘an-na’yu yakni mereka memanggil orang-orang bahwa si fulan telah meninggal, agar mereka dapat menyaksikan jenazahnya. Berkata sebagian Ahlul Ilmu, “Tidak mengapa seorang laki-laki mengabarkan kepada kerabat dan saudara-saudaranya.” Dari Ibrahin An-Nakhai sesungguhnya ia berkata, “Tidak mengapa seseorang mengabarkan kerabatnya.”

Dikatakan bahwa yang dilarang adalah seperti apa yang dilakukan oleh orang jahiliyah, yaitu mengirimkan orang untuk mengabarkan kematian mayat di pintu-pintu rumah dan pasar-pasar. Di dalam An-Nihayah disebutkan bahwa yang berlaku di negara-negara Arab adalah,” jika seseorang yang mulia di kalangan mereka meninggal atau terbunuh, maka diutuslah seorang penunggang kuda ke kabilah-kabilah untuk mengabarkan kematiannya kepada mereka dengan mengatakan, “Na’aa’ fulanan (telah meninggal si fulan)” atau “ya na’aa’ al-arab, halaka fulanun (Wahai bangsa Arab telah meninggal seseorang)” atau halakat al-arabu bimauti fulanin (telah binasalah bangsa Arab karena kematian si fulan).

Inilah yang paling mendekati kebenaran dalam hal pelarangan ini.

Saya berkata, “Di antara na’yu adalah bersuara kencang di menara-menara yang tinggi sebagaimana yang berlaku di masa sekarang ini karena kematian orang yang mulia.” Ibnul Al-Arabi berkata, “Diambil dari kumpulan hadits-hadits ini tiga keadaaan,

Pertama; Memberitahukan kepada keluarga, shahabat-shahabat dan orang-orang shaleh, maka ini adalah sunnah.

Kedua; Mengundang orang banyak untuk bermegah-megahan dan ini adalah dimakruhkan

Ketiga; Memberitahukan dengan cara meratap dan yang serupa adalah dilarang.”

Seakan-akan dia mengambil kesunnahan yang pertama. Yakni seharusnya ada dari sekelompok manusia yang dipanggil untuk memandikan, menyalati dan menguburkan mayat.

Dan ini telah ditunjukkan oleh sabda Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, “Mengapa kalian tidak memanggilku?” Dan riwayat-riwayat yang serupa ini dari beliau.

0516

516 – وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ – رَضِيَ اللَّهُ تَعَالَى عَنْهُ -: «أَنَّ النَّبِيَّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – نَعَى النَّجَاشِيَّ فِي الْيَوْمِ الَّذِي مَاتَ فِيهِ، وَخَرَجَ بِهِمْ إلَى الْمُصَلَّى. فَصَفَّ بِهِمْ، وَكَبَّرَ عَلَيْهِ أَرْبَعًا» . مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ.

516. Dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu, “Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam pernah mengabarkan berita kematian Najasyi pada hari kematiannya, beliau keluar bersama mereka (shahabat) menuju mushalla lalu berbaris dengan mereka dan beliau bertakbir empat kali.” (Muttafaq Alaih).

[Shahih: Al Bukhari 1245 dan Muslim 951]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

“Dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu, “Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam pernah mengabarkan berita kematian Najasyi (itu adalah gelar bagi setiap raja Habasyah dan namanya adalah Ashhamah) pada hari kematiannya, beliau keluar bersama mereka -shahabat- menuju mushalla (yang dimaksudkan adalah tempat shalat hari raya atau mungkin juga tempat khusus yang biasa dijadikan tempat shalat jenazah) lalu berbaris dengan mereka dan beliau bertakbir empat kali.”

Tafsir Hadits

Di dalamnya ada dalil bahwa lafazh an-na’yu adalah istilah pemberitahuan kematian, dan kalau hanya sekadar pemberitaan kepada orang (untuk menyalati dan menguburkannya) itu boleh. Dalam hadis terdapat petunjuk atas ajaran tentang shalat ghaib. Mengenai masalah ini terdapat beberapa pendapat:

Pertama; Shalat ghaib disyariatkan secara mutlak. Ini menurut pendapat Asy-Syafii, Ahmad dan selainnya. Menurut Ibnu Hazm, “Tidak terdapat seorang pun yang menentang pendapat tersebut.”

Kedua; Shalat ghaib itu dilarang secara mutlak. Ini merupakan pendapat Ulama Al-Hadawiyah (Syiah), Al-Hanafiyah dan Malik.

Ketiga; Boleh shalat ghaib itu pada hari kematiannya atau hari yang dekat dengan hari kematiannya itu, tetapi tidak boleh bila sudah lama masa kematiannya.

Keempat; Boleh shalat jenazah bila orang yang mati berada di arah kiblat. Kedua pendapat (ketiga dan keempat) itu berdasarkan kisah kematian Najasyi tersebut. Bagi ulama yang melarangnya secara mutlak, mengemukakan alasan bahwa shalat ghaib Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam atas kematian Najasyi itu, hanya khusus bagi beliau, padahal menurut hukum asal, tidak ada pengkhususan itu.

Kelima; Shalat ghaib itu boleh dilakukan bila yang dishalati itu meninggal di suatu negeri, yang tidak ada orang yang menyalatkan mayatnya seperti Najasyi itu, karena dia meninggal di suatu negeri yang penghuni atau penduduknya belum ada yang menganut agama Islam.

Ibnu Taimiyah memilih pendapat ini, dan pendapatnya dikutip oleh penyusun dalam Fath Bari dari Al-Khathabi, dan pendapat itulah yang dianggap baik oleh Ar-Rauyani. Kemudian ia berkata, “Itu suatu kemungkinan.” Hanya saja saya, Ash-Shan’ani belum mengetahui dengan pasti tentang berita-berita yang mengatakan bahwa Najasyi’ iu tidak dishalati oleh seorang pun di negeri tempat ia meninggal.

Hadits ini dapat dijadikan dalil tentang makruhnya shalat jenazah di dalam masjid karena kenyataannya Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam keluar untuk melakukan shalat jenazah. Di antara ulama yang mengatakan makruh shalat jenazah di dalam masjid adalah para pengikut mazhab Al-Hanafiyah dan Al-Malikiyah. Tetapi pendapat mereka itu dibantah dengan alasan bahwa tidak ada sama sekali dalam hadits yang melarang shalat jenazah dalam masjid. Keluarnya Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam hanyalah untuk menghormati Najasyi, raja Habasyah itu, dan karena banyaknya jamaah yang mengikuti shalat jenazah sehingga masjid tidak dapat menampungnya.

Hadits tersebut mengandung tuntunan untuk menyusun beberapa shaf (dua atau tiga lebih baik) dalam shalat jenazah itu. Ini sesuai dengan hadits yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari dari Jabir yang menjelaskan tentang shalat jenazah pada waktu itu bahwa Jabir sendiri berdiri di shaf kedua atau ketiga. Sesuai dengan kisah itu Al-Bukhari menetapkan judul babnya dengan, “Bab Tentang orang yang menyusun shaf menjadi dua shaf, tiga shaf sewaktu sahalat jenazah, di belakang imam.”

Dalam hadits terkandung tanda-tanda kenabian Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam tepat pada hari kematiannya itu tanpa ada orang yang memberitahukannya, padahal jarak antara Madinah dan Habasyah itu jauh sekali.

 

والله أعلمُ بالـصـواب

Download Sumber

 

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *