[ UIC 10.4 ] Kitab Subulus Salam Syarh Bulughul Maram 150

03. KITAB JENAZAH 06

0509

509 – وَعَنْ عَلِيٍّ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – قَالَ: سَمِعْت النَّبِيَّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – يَقُولُ: «لَا تُغَالُوا فِي الْكَفَنِ فَإِنَّهُ يُسْلَبُ سَرِيعًا» رَوَاهُ أَبُو دَاوُد

509. Dari Ali Radhiyallahu Anhu, ia berkata, “Aku mendengar Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Janganlah kalian terlalu mahal dalam menggunakan kain kafan, karena ia akan rusak dengan segera.” (HR. Abu Dawud)

[Dhaif: Abu Daud 3154]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Tafsif Hadits

Diriwayatkan dari Asy-Sya’bi dari Ali Alaihissallam dan dalam sanadnya terdapat Amr bin Hisyam Al-Janbiy yang masih diperselisihkan ulama. Sanad hadits ini terputus antara Asy-Sya’bi dan Ali karena menurut Ad-Daraquthni ia tidak mendengar dari Ali kecuali satu hadits. Dalam hadits ini adanya larangan untuk berlebihan dalam kain kafan, yaitu dalam hal harganya.

Ucapan “Karena ia akan cepat rusak” merupakan isyarat bahwa kain kafan akan cepat rusak dan hilang, seperti pada hadits Aisyah, “Sesungguhnya Abu Bakar melihat baju yang dipakainya ketika ia sedang sakit, di dalamnya ada bekas minyak ja’faran. Maka ia berkata, “Cucilah pakaianku ini dan tambahkanlah oleh kalian menjadi dua baju dan kafanilah mayatku dengannya nanti.” Maka aku berkata, “Sesungguhnya ini sudah lapuk?” Ia berkata, “Sesungguhnya orang yang hidup lebih layak untuk memakai yang baru daripada mayat, sesungguhnya kain kafan itu akan hancur secara perlahan.” Telah disebutkan oleh Al-Bukhari secara ringkas.

0510

510 – «وَعَنْ عَائِشَةَ أَنَّ النَّبِيَّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – قَالَ لَهَا: لَوْ مِتّ قَبْلِي لَغَسَّلْتُك» الْحَدِيثَ. رَوَاهُ أَحْمَدُ وَابْنُ مَاجَهْ وَصَحَّحَهُ ابْنُ حِبَّانَ.

510. Dari Aisyah Radhiyallahu Anha, “Nabi Shallallahu alaihi wa Sallam bersabda, “Seandainya engkau meninggal sebelumku, maka sungguh aku akan memandikanmu.” (Hadits ini diriwayatkan oleh Ahmad, Ibnu Majah dan dishahihkan oleh Ibnu Hibban).

[Shahih: Shahih Al Jami’ 1487]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Tafsir Hadits

Dalam hadits ini ada petunjuk bahwa bagi suami boleh memandikan istrinya, ini adalah pendapat mayoritas ulama. Abu Hanifah berkata, “Suami tidak boleh memandikan istrinya, namun berbeda jika sebaliknya, karena telah terangkatnya hukum pernikahan dan tidak ada iddah bagi suami. Tapi hadits ini jelas membantah pendapat ini pada kedua pasangan suami istri.

Adapun perempuan selain istri, maka Abu Dawud telah mengeluarkan riwayat dalam Marasilnya. dari hadits Abu Bakar bin Ayyasy dari Muhammad bin Abu Sahl, dari Makhul ia berkata, “Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda,

«إذَا مَاتَتْ الْمَرْأَةُ مَعَ الرِّجَالِ لَيْسَ فِيهِمْ امْرَأَةٌ غَيْرُهَا وَالرَّجُلُ مَعَ النِّسَاءِ لَيْسَ مَعَهُنَّ رَجُلٌ غَيْرُهُ فَإِنَّهُمَا يُيَمَّمَانِ وَيُدْفَنَانِ»

“Jika seorang perempuan meninggal di sekitar laki-laki sedangkan tidak ada perempuan selain dia bersama mereka, begitu pula jika seorang laki-laki meninggal di sekelompok perempuan dan tidak ada bersama mereka laki-laki selainnya, maka keduanya ditayamumkan kemudian dimakamkan, keduanya diposisikan orang yang tidak menemukan air.” [Maudhu: Adh-Dhaifah 6382. Ebook editor]

Muhammad bin Abu Sahl disebutkan oleh Ibnu Hibban dalam Ats-Tsiqat, Al-Bukhari berkata, “Haditsnya tidak diikuti.”

Dari Ali Alaihissalam berkata, “Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda,

«لَا تُبْرِزْ فَخِذَك وَلَا تَنْظُرْ إلَى فَخِذِ حَيٍّ وَلَا مَيِّتٍ»

“Janganlah kamu tampakkan pahamu, dan jangan pula kamu melihat paha orang yang hidup maupun yang mati.” (HR. Abu Dawud dan Ibnu Majah, dalam sanadnya ada perselisihan ulama). [Dhaif Jiddan: Dhaif Al Jami’ 6187]

0511

511 – وَعَنْ أَسْمَاءَ بِنْتِ عُمَيْسٍ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا -: أَنَّ فَاطِمَةَ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا – أَوْصَتْ أَنْ يُغَسِّلَهَا عَلِيٌّ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ -. رَوَاهُ الدَّارَقُطْنِيُّ.

511. Dari Asma binti Umais, “Fatimah Radhiyallahu Anha berwasiat agar ia dimandikan oleh Ali.” (HR. Ad-Daraquthni).

[Sunan Ad Daruquthni 2/79]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Tafsir Hadits

Hadits ini menunjukkan tentang masalah suami memandikan istrinya, sebagaimana yang ditunjukan oleh hadits yang pertama. Adapun istri yang memandikan suaminya, maka dalil yang menunjukkan hal ini adalah riwayat yang dikeluarkan oleh Abu Dawud dari riwayat Aisyah Radhiyallahu Anha sesungguhnya ia berkata,

لَوْ اسْتَقْبَلْت مِنْ أَمْرِي مَا اسْتَدْبَرْت مَا غَسَّلَ رَسُولَ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – غَيْرُ نِسَائِهِ

“Jika aku menghadapkan perkaraku, maka aku tidak akan berpaling darinya, tidaklah memandikan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam selain istri-istrinya.” [Shahih: Abu Daud 3141]

Telah dishahihkan oleh Al-Hakim walaupun ini adalah ucapan seorang shahabiyyah. Demikian juga hadits Fatimah, menunjukan bahwa hal ini telah dikenal pada masa hidup Rasulullah. Hal ini dikuatkan juga oleh riwayat yang dikeluarkan oleh Al-Baihaqi bahwa Abu Bakar telah berwasiat kepada istrinya Asma’ binti Umais untuk memandikannya dan meminta bantuan kepada Abdurrahman bin Auf karena lemahnya ia dari hal itu, dan tidak ada yang mengingkarinya. Ini adalah pendapat mayoritas ulama. Ada perbedaan pendapat dari Ahmad bin Hambal ia berkata, “Karena terangkatnya hukum pernikahan, demikian yang disebutkan dalam Asy-Syarah dan Dalil Ath-Talib dari kitab-kitab Al-Hanabilah, yang lafazhnya demikian, “Dan bagi seorang suami untuk memandikan istrinya, budak perempuannya, dan anak perempuan yang berumur di bawah tujuh tahun, dan bagi perempuan memandikan suaminya, tuannya dan anak lelaki yang belum sampai tujuh tahun.”

0512

512 – وَعَنْ بُرَيْدَةَ – «فِي قِصَّةِ الْغَامِدِيَّةِ الَّتِي أَمَرَ النَّبِيُّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – بِرَجْمِهَا فِي الزِّنَا – قَالَ: ثُمَّ أَمَرَ بِهَا فَصُلِّيَ عَلَيْهَا وَدُفِنَتْ.» رَوَاهُ مُسْلِمٌ.

512. Dan dari Buraidah Radhiyallahu Anhu dalam kisah perempuan Al-Ghamidiyah yang telah diperintahkan oleh Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam untuk dirajam karena melakukan zina, Buraidah berkata, “Kemudian diperintahkan baginya untuk dishalati dan dimakamkan.” (HR. Muslim).

[Shahih: Muslim 1659]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Tafsir Hadits

Hadits ini menunjukkan bahwa orang yang dibunuh karena pelaksanaan hukum had (seperti perzinahan, pen.) maka dishalatkan. Tidak disebutkan di sini bahwa Rasulullah menyalatkannya. Dalam hal ini Malik berkata, “Sesungguhnya imam tidak menyalati orang yang terbunuh karena pelaksanaan had, karena orang yang memiliki kemuliaan tidak menyalati orang yang fasik sebagai ancaman bagi mereka.”

Saya berkata, “Demikian yang disebutkan dalam Asy-Syarah, akan tetapi telah berkata Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam tentang perempuan Al-Ghamidiyah ini, Sesungguhnya ia telah bertobat dengan tobat yang jika dibagikan kepada penduduk Madinah, niscaya akan mencukupi mereka.” Atau seperti lafazh ini. Bagi ulama ada perbedaan dalam hal menyalati orang yang fasik dan orang yang dibunuh atas pelaksanaan had (hukuman), juga bagi orang yang terbunuh karena melawan di medan perang, serta anak zina. Ibnu Al-Arabi berkata, “Madzhab para ulama cukup untuk tidak menyalati atas setiap muslim, baik ia terbunuh karena had atau karena ia dirajam atau karena ia bunuh diri atau anak zina.” Telah datang riwayat tentang orang yang bunuh diri.

0513

513 – وَعَنْ جَابِرِ بْنِ سَمُرَةَ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – قَالَ: «أُتِيَ النَّبِيُّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – بِرَجُلٍ قَتَلَ نَفْسَهُ بِمَشَاقِصَ فَلَمْ يُصَلِّ عَلَيْهِ.» رَوَاهُ مُسْلِمٌ.

513. Dari Jabir bin Samurah, ia berkata, “Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam didatangkan dengan seorang yang bunuh diri dengan mata tombak, dan beliau tidak menshalatkannya.” (HR. Muslim).

[Shahih: Muslim 978]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Tafsir Hadits

Al-Musyaqish adalah bentuk jamak dari tunggal musyqish, yaitu mata tombak yang tajam. Al-Khaththabi berkata, “Rasulullah meninggalkan shalat atasnya” maknanya, sebagai ganjaran dosa baginya dan sebagai ancaman bagi orang yang melakukan sebagaimana yang ia lakukan. Para ulama berbeda pendapat dalam hal ini. Umar bin Abdul Aziz tidak memandang untuk menyalati orang yang bunuh diri, demikan juga yang dikatakan oleh Al-Auza’i. Mayoritas fuqaha yang lain mengatakan untuk dishalatkan. Mereka berkata dalam hadits ini bahwa sesungguhnya orang ini dishalatkan oleh para shahabat, mereka berkata, “Ini sebagaimana Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam meninggalkan untuk menshalati orang yang meninggal dan ia memiliki hutang pada awal peristiwa dan beliau memerintahkan para shahabat untuk menyalatinya. Aku berkata, “Jika memang ada riwayat yang menunjukkan bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam memerintahkan para shahabatnya untuk menyalati orang yang bunuh diri, maka pendapat ini adalah lebih sempurna, dan jika tidak maka pendapat Umar bin Abdul Aziz adalah lebih sesuai untuk hadits ini kecuali di dalam riwayat An-Nasai disebutkan,

أَمَّا أَنَا فَلَا أُصَلِّي عَلَيْهِ

‘Adapun aku tidak akan menyalatkannya.” [Shahih: An Nasa’i 1963]

Bisa jadi yang lainnya memahami bahwa selain beliau menyalatkannya.

 

والله أعلمُ بالـصـواب

Download Sumber

 

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *