[ UIC 10.4 ] Kitab Subulus Salam Syarh Bulughul Maram 15

01.04. BAB WUDHU

0049

49- وَعَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ زَيْدٍ – فِي صِفَةِ الْوُضُوءِ – «ثُمَّ أَدْخَلَ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – يَدَهُ، فَمَضْمَضَ وَاسْتَنْشَقَ مِنْ كَفٍّ وَاحِدٍ، يَفْعَلُ ذَلِكَ ثَلَاثًا» . مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ.

49. Dari Abdullah bin Zaid –tentang sifat wudhu-, “Kemudian Rasulullah SAW memasukkan tangannya lalu berkumur-kumur dan memasukkan air ke dalam hidung dari satu kali ciduk, beliau melakukannya tiga kali.” (Muttafaq alaih)

[Shahih: Al Bukhari 199, Muslim 235]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

Dari Abdullah bin Zaid –tentang sifat wudhu (yaitu sifat wudhu Rasulullah SAW) Kemudian Rasulullah SAW memasukkan tangannya (yaitu ke dalam air) lalu berkumur-kumur dan memasukkan air ke dalam hidung (tidak disebutkan istintsar -menghembuskan air dari hidung– karena yang dimaksudkan hanyalah menyebutkan bahwa cukup dengan satu kali cidukan air yang dimasukkan ke dalam mulut dan hidung. Adapun menghembuskannya bukan maksud dari hadits tersebut) dari satu kali ciduk, ( Al Kaffu dapat dijadikan mudzakkar dan muanats) beliau melakukannya tiga kali. (secara zhahir, satu kali cidukan kedua telapak tangannya cukup untuk tiga kali, meskipun mengandung makna bahwa yang dimaksudkan adalah beliau melakukan keduanya dari satu kali ciduk, beliau menciduk pada setiap kali ciduk, sebanyak tiga kali)

Tafsir Hadits

Hadits di atas seperti hadits pertama, adalah dalil menyatukan keduanya. Keduanya adalah potongan dari dua hadits panjang mengenai sifat wudhu, dan telah berlalu yang seperti ini. karena penulis hanya menyebutkan yang dijadikannya sebagai hujjah, seperti menyatukannya yang terdapat dalam hadits di atas.

0050

50 – وَعَنْ أَنَسٍ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – قَالَ: «رَأَى النَّبِيُّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – رَجُلًا، وَفِي قَدَمِهِ مِثْلُ الظُّفُرِ لَمْ يُصِبْهُ الْمَاءُ. فَقَالَ: ارْجِعْ فَأَحْسِنْ وُضُوءَك» أَخْرَجَهُ أَبُو دَاوُد وَالنَّسَائِيُّ

50. Dari anas ia berkata, Nabi SAW melihat seorang laki-laki yang di kakinya ada seperti kuku yang tidak terkena air (wudhu), maka beliau bersabda: “Kembalilah dan perbaikilah wudhumu” (HR. Abu Daud dan An Nasa’i)

[Shahih: Shahih Abu Daud 173]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

Nabi SAW melihat seorang laki-laki yang di kakinya ada seperti kuku (terdapat banyak bahasa lainnya, tetapi yang paling bagus adalah yang telah disebutkan) yang tidak terkena air (yaitu air wudhu), maka beliau bersabda (kepadanya): “Kembalilah dan perbaikilah wudhumu”

Tafsir Hadits

Hadits ini dikeluarkan oleh Abu Daud dan An Nasa’i, dan telah dikeluarkan oleh Abu Daud dari jalan Khalid bin Ma’dan, dari salah seorang shahabat Nabi SAW,

«رَأَى رَجُلًا يُصَلِّي وَفِي ظَهْرِ قَدَمِهِ لُمْعَةٌ قَدْرُ الدِّرْهَمِ لَمْ يُصِبْهَا الْمَاءُ فَأَمَرَهُ النَّبِيُّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – أَنْ يُعِيدَ الْوُضُوءَ وَالصَّلَاةَ»

“Bahwa Nabi SAW melihat seorang laki-laki sedang shalat dan di bagian atas telapak kakiknya terdapat bintik sebesar dirham yang belum terkena air, maka beliau menyuruhnya mengulangi wudhu dan shalat.” [Shahih: Shahih Abu Daud 175]

Ahmad bin Hambal berkata ketika di atasnya mengenai sanadnya apakah bagus atau tidak? Ia menjawab ‘Ya’.

Hadits di atas adalah dalil wajibnya mengenakan (meratakan) air kepada seluruh anggota wudhu, dalam nash disebutkan kaki dan diqiyaskan atas yang lainnya. Dan telah ditegaskan dalam hadits:

«وَيْلٌ لِلْأَعْقَابِ مِنْ النَّارِ»

‘Kecelakaan bagi tumit (yang tidak terkena air)’ [Shahih: Al Bukhari 60 dan Muslim 241]

Diucapkan oleh Rasulullah SAW pada sekelompok orang yang tumitnya tidak tersentuh air. Pendapat ini yang dipegang oleh jumhur.

Diriwayatkan dari Abu Hanifah bahwa ia berkata, “Dimaafkan dari separuh anggota wudhu atau seperempatnya atau lebih kecil dari dirham.” Beberapa riwayat yang diceritakan darinya seperti ini dalam buku Al Maqalat, dan dibantah oleh para pengikutnya yang ada pada masa ini. mereka berkata, “Sesungguhnya ucapan itu bukan perkataan Abu Hanifah dan bukan perkataan salah seorang dari para pengikutnya.”

Dengan hadits itu pula ia berdalil wajibnya membasuh anggota wudhu secara berkesinambungan. Beliau menyuruhnya mengulangi wudhu, dan tidak hanya menyuruhnya membasuh yang belum terkena air. Ada yang mengatakan hadits tersebut tidak dapat dijadikan dalil, karena beliau ingin menegaskan dalam pengingkarannya itu, dan sebagai isyarat bahwa siapa yang meninggalkan sesuatu maka seolah-olah ia meninggalkan semuanya. Dan tidak diragukan kelemahan pendapat ini, yang lebih baik adalah mengatakan, bahwa perkataan perawi, ‘Beliau menyuruhnya mengulangi wudhu’, yaitu membasuh yang ditinggalkannya. Dinamakan mengulangi menurut dugaan orang yang berwudhu tersebut, karena sesungguhnya ia shalat berdasarkan dugaan bahwa ia telah berwudhu dengan benar, lalu dinamailah wudhu dalam ucapannya, ‘ia mengulangi wudhu’, karena itu adalah wudhu menurut bahasa.

Hadits tersebut adalah dalil bahwa orang bodoh dan lupa, hukum keduanya dalam meninggalkannya sama dengan yang sengaja.

0051

51 – وَعَنْهُ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – قَالَ: «كَانَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – يَتَوَضَّأُ بِالْمُدِّ وَيَغْتَسِلُ بِالصَّاعِ، إلَى خَمْسَةِ أَمْدَادٍ» . مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ.

51. Dan darinya (Anas bin Malik) RA ia berkata, Rasulullah SAW berwudhu dengan satu mud dan mandi dengan satu sha hingga lima mud. (Muttafaq alaih)

[shahih: Al Bukhari 201, Muslim 325]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

Rasulullah SAW berwudhu dengan satu mud (telah disebutkan ukurannya) dan mandi dengan satu sha (yaitu empat mud) hingga lima mud (seolah-olah ia berkata, dengan empat hingga lima mud)

Tafsir Hadits

Telah dijelaskan terdahulu, bahwa beliau SAW berwudhu dengan sepertiga mud, dan telah kami sebutkan bahwa itulah ukuran minimal air wudhu Rasulullah SAW. seandainya penulis menunda hadits tersebut dan menempatkannya di sini atau masalah ini didahulukan pada pembahasan hadits tersebut, tentu akan lebih sistematis.

Zhahir hadits ini bahwa ukuran tadi adalah batas maksimal wudhu dan mandi Rasulullah SAW. dan tidak menafikan hadits Aisyah RA yang diriwayatkan oleh Al Bukhari:

«أَنَّهُ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – تَوَضَّأَ مِنْ إنَاءٍ وَاحِدٍ يُقَالُ لَهُ الْفَرَقُ»

“Bahwa Nabi SAW berwudhu dari satu bejana yang bernama Al Faraq.” [Shahih Al Bukhari 25]

Yaitu bejana memuat 19 liter air, karena dalam hadits tersebut tidak disebutkan bahwa bejana tersebut penuh dengan air. Akan tetapi perkataan ‘dari bejana’, menunjukkan bahwa hanya sebagian yang beliau gunakan untuk berwudhu. Hadits Anas ini dan hadits yang telah lalu dari Abdullah bin Zaid, menunjukkan agar meminimalisasi penggunaan air wudhu, dan hendaknya mencukupkan dengan air yang sedikit. Al Bukhari berkata, ‘Ahli ilmu membenci padanya –yaitu air wudhu- yang melebihi perbuatan Nabi SAW.

0052

52 – وَعَنْ عُمَرَ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -: «مَا مِنْكُمْ مِنْ أَحَدٍ يَتَوَضَّأُ، فَيُسْبِغُ الْوُضُوءَ، ثُمَّ يَقُولُ: أَشْهَدُ أَنْ لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، إلَّا فُتِحَتْ لَهُ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ الثَّمَانِيَةِ، يَدْخُلُ مِنْ أَيُّهَا شَاءَ» أَخْرَجَهُ مُسْلِمٌ وَالتِّرْمِذِيُّ وَزَادَ «اللَّهُمَّ اجْعَلْنِي مِنْ التَّوَّابِينَ. وَاجْعَلْنِي مِنْ الْمُتَطَهِّرِينَ»

52. Dari Umar RA ia berkata, Rasulullah SAW bersabda, “Tidaklah salah seorang di antara kamu berwudhu, lalu dia menyempurnakan wudhu, kemudian membaca, ‘Aku bersaksi bahwa tidak ada Ilah (yang berhak disembah) melainkan hanya Allah semata, yang tiada sekutu bagi-Nya’, melainkan akan dibukakan baginya pintu-pintu surga yang delapan, dan dia (diperbolehkan) memasukinya dari mana saja ia kehendaki.” (HR. Muslim dan At Tirmidzi)

[Shahih Muslim 234]

At Tirmidzi menambahkan, “Ya Allah, jadikanlah aku orang yang banyak bertaubat, dan jadikanlah aku orang yang suci.”

[shahih: At Tirmidzi 55]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Biografi Perawi

Umar RA adalah Abu Hafsh Umar bin Khaththab Al Qurasy, nasabnya bertemu dengan Nabi SAW pada Ka’ab bin Lu’ai. Ia masuk Islam pada tahun keenam kenabian, ada yang mengatakan tahun kelima, setelah 40 orang lainnya. Ia mengikuti semua peperangan dan penaklukan dalam Islam di Iraq dan Syam. Wafat pada awal Muharram tahun 24 H. Ia ditusuk oleh Abu Lu’lu’, hamba sahaya Mughirah bin Syu’bah, setelah menjabat sebagai khalifah selama 10 ½ tahun.

Penjelasan Kalimat

Tidaklah salah seorang di antara kamu berwudhu, lalu dia menyempurnakan wudhu, (telah disebutkan bahwa maksudnya adalah menyempurnakannya) kemudian membaca, (setelah menyempurnakannya) ‘Aku bersaksi bahwa tidak ada Ilah (yang berhak disembah) melainkan hanya Allah semata, yang tiada sekutu bagi-Nya’, melainkan akan dibukakan baginya pintu-pintu surga (ini termasuk bab atau sama dengan nufikha fii ash Shur –ditiup sangkakala, beliau mengucapkan sesuatu yang akan terjadi dengan fiil madhi (kata kerja bentuk lampau) lantaran kejadiannnya yang pasti. Maksudnya akan dibukakan baginya pada Hari Kiamat, dan dia dapat memasukinya dari mana saja yang dikehendakinya)

Dikeluarkan oleh Muslim, Abu Daud (169), Ibnu Majah (470) dan Ibnu Hibban serta At Tirmidzi, ia menambahkan:

«اللَّهُمَّ اجْعَلْنِي مِنْ التَّوَّابِينَ. وَاجْعَلْنِي مِنْ الْمُتَطَهِّرِينَ»

“Ya Allah, jadikanlah aku orang yang banyak bertaubat, dan jadikanlah aku orang yang suci.”

Beliau menyatukan antara keduanya, sebagai pemahaman yang terambil dari firman Allah SWT:

إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ التَّوَّابِينَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِينَ

Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri. (QS. Al-Baqarah [2]: 222)

Oleh karena itu, taubat menyucikan batin dari kotoran dosa dan wudhu menyucikan lahiriyah dari hadats yang menghalangi untuk bertaqarrub kepada Allah SWT. Maka sangat tepat mengumpulkan keduanya dalam memohon hal tersebut, dan mencakup permohonan agar yang memohon adalah orang yang dicintai oleh Allah SWT dan termasuk ke dalam golongan orang-orang yang dicintai-Nya.

Tafsir Hadits

Walaupun setelah meriwayatkan hadits ini At Tirmidzi mengatakan, “Dalam sanadnya terdapat kegoncangan (idhtirab)”, tetapi awal hadits tersebut ditegaskan dalam Shahih Muslim, dan tambahan ini diriwayatkan oleh Al Bazzar dan At Thabrani dalam Al Ausath dari jalan Tsauban dengan lafazh:

«مَنْ دَعَا بِوَضُوءٍ فَتَوَضَّأَ، فَسَاعَةَ فَرَغَ مِنْ وُضُوئِهِ يَقُولُ أَشْهَدُ أَنْ لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ اللَّهُمَّ اجْعَلْنِي مِنْ التَّوَّابِينَ، وَاجْعَلْنِي مِنْ الْمُتَطَهِّرِينَ…..»

“Siapa yang meminta air wudhu, lalu berwudhu dengan air tersebut, dan ketika ia selesai membaca, ‘Aku bersaksi bahwa tidak ada Ilah (yang berhak disembah) kecuali Allah, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan Rasul-Nya. Ya Allah, jadikanlah aku orang yang banyak bertaubat, dan jadikanlah aku orang yang suci……..” *

Ibnu Majah meriwayatkan hadits dari Anas dan Ibnu As Sunni dalam Amalu Al Yaum wa Al Lailah, dan Al Hakim dalam Al Mustadrak dari hadits Abi Sa’id dengan lafazh:

«مَنْ تَوَضَّأَ فَقَالَ: سُبْحَانَك اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِك أَشْهَدُ أَنْ لَا إلَهَ إلَّا أَنْتَ أَسْتَغْفِرُك وَأَتُوبُ إلَيْك» كُتِبَ فِي رَقٍّ ثُمَّ طُبِعَ بِطَابَعٍ فَلَا يُكْسَرُ إلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ

“Siapa yang berwudhu lalu membaca ‘Mahasuci Engkau yang Allah, dan segala puji bagi-Mu, aku bersaksi bahwa tidak ada Ilah (yang berhak disembah) kecuali Engkau, aku mohon ampun dan taubat kepada-Mu’, maka ia dicatat pada lembaran putih kemudian distempel, maka tidak dirusak hingga Hari Kiamat.” [Shahih: Shahih Al Jami’ 6170], dan dishahihkan oleh An Nasa’i bahwa hadits tersebut mauquf.

Dzikir ini dibaca setelah wudhu. An Nawawi berkata, “shahabat-shahabat kami berkata, ‘Juga disukai setelah mandi’.”

Sampai disini selesailah bab wudhu. Penulis tidak menyebutkan dzikir-dzikir dalam masalah ini kecuali hadits tasmiyah yang terdapat pada awalnya, sedang dzikir ini pada akhirnya.

Adapun bacaan-bacan ketika membasuh setiap anggota wudhu, maka penulis tidak menyebutkannya karena para ulama sepakat atas kelemahannya.

An Nawawi berkata, “Doa-doa ketika sedang berwudhu tidak ada dasarnya, dan para ulama terdahulu tidak menyebutkannya.” Dan Ibnu Ash-Shalah berkata, “Tidak ada hadits shahih dalam masalah tersebut.”

Demikianlah, dan tidak diragukan bagusnya penutup penulis terhadap bab wudhu dengan doa ini, yang secara praktek dibaca ketika wudhu telah sempurna, maka ia menyebutkannya pada penutup tulisannya, kemudian menyusul bab wudhu ini dengan bab mengusap atas khuf karena termasuk hukum wudhu.

_____________________

* [HR. At Thabrani dalam Al Ausath 4895, Al Haitsami berkata dalam Al-Majma’ 1229, Dalam Al Aushat dikatakan: Miswar bin Muwara’i meriwayatkan sendirian, dan tidak ditemukan biografinya, dan di dalamnya terdapat Ahmad bin Suhail Al Waraq, disebutkan dalam Ats-Tsiqat Ibnu Hibban, softwere hadits Gawamiul Kalim menyebutkan, isnadnya dhaif di dalamnya terdapat Miswar yang majhul, tetapi hadits ini dihukumi shahih lighairihi-ebook editor]

 

والله أعلمُ بالـصـواب

Download Sumber

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *