[ UIC 10.4 ] Kitab Subulus Salam Syarh Bulughul Maram 149

03. KITAB JENAZAH 05

0506

506 – وَعَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا – أَنَّ النَّبِيَّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – قَالَ: «الْبَسُوا مِنْ ثِيَابِكُمْ الْبَيَاضَ، فَإِنَّهَا مِنْ خَيْرِ ثِيَابِكُمْ، وَكَفِّنُوا فِيهَا مَوْتَاكُمْ» رَوَاهُ الْخَمْسَةُ إلَّا النَّسَائِيّ، وَصَحَّحَهُ التِّرْمِذِيُّ

506. Dari Ibnu Abbas Radhiyallahu Anhu, “Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Pakailah baju-bajumu yang putih, karena sesungguhnya itu termasuk sebaik-baiknya pakaianmu, dan kafanilah mayat-mayat kalian dengannya.” (HR. Al-Khamsah kecuali An-Nasai dan dishahihkan oleh At-Tirmidzi)

[Shahih: At Tirmidzi 994]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Tafsir Hadits

Telah dijelaskan di muka, hadits yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari dari Aisyah bahwa sesungguhnya Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam dikafani dengan tiga helai kain putih. Zhahirnya perintah dalam hadits itu, menunjukkan wajib mengkafani mayat dengan kain putih dan wajibnya memakai kain putih tersebut (oleh orang yang masih hidup). Kecuali perintah ini dipalingkan dari wajib dalam masalah berpakaian, yaitu adanya penjelasan bahwa Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam pernah memakai kain yang bukan warna putih. Sedangkan untuk dijadikan kain kafan tidak boleh dialihkan kepada hukum lain kecuali tidak dapat ditemukan kain putih sebagaimana saat terjadi pengkafanan para syuhada pada perang Uhud. Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam mengkafani semuanya dengan warna yang sama (selain putih) karena dalam keadaan darurat.

Adapun hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Adiy dari hadits Ibnu Abbas yang menyatakan bahwa:

أَنَّهُ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – كُفِّنَ فِي قَطِيفَةٍ حَمْرَاءَ

“Sesungguhnya Nabi Shallallahu alaihi wa Sallam dikafani dengan potongan kain merah”

dalam sanadnya itu terdapat Qais Ibnu Ar-Rabi’, dan dia adalah seorang yang dhaif. Rupanya terdapat kesamaran dengan hadits yang menyatakan bahwa sesungguhnya dijadikan di makam Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam potongan kain merah. Begitu juga pendapat yang niengatakan beliau dikafani dengan kain burdah hibrah sebagaimana telah dijelaskan di atas, adalah tidak benar karena kain tersebut hanya sebagai penutup sementara untuk kemudian diambil setelah itu.

507

507 – وَعَنْ جَابِرٍ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -: «إذَا كَفَّنَ أَحَدُكُمْ أَخَاهُ فَلْيُحْسِنْ كَفَنَهُ» رَوَاهُ مُسْلِمٌ.

507. Dari Jabir Radhiyallahu Anhu, ia berkata, Rasulullah Shallallahu alaihi wa Sallam bersabda, “Jika salah seorang dari kalian mengkafani mayat saudaranya, maka hendaklah ia mengkafaninya dengan baik.” (HR. Muslim)

[Shahih: Muslim 943]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Tafsir Hadits

Dan diriwayatkan oleh At-Tirmidzi juga dari Abu Qatadah, ia berkata bahwa hadits ini hasan gharib. Ia juga berkata, “Dan Ibnul Mubarak mengatakan bahwa Sallam bin Abu Muthi’ berkata, “Hendaklah kalian berbuat baik dalam mengkafaninya” yaitu yang luas dan mencukupi.

Dalam perintah berbuat baik dalam mengkafani itu terdapat petunjuk untuk memilih materi kain yang paling baik. Juga dalam sifat kainnya dan tata cara mengkafani yang baik pula. Mengenai materi kain yang baik, maka seyogyanya dalam bentuk yang tidak berlebihan dalam harga sebagaimana hal tersebut akan dijelaskan kemudian. Akan dijelaskan hadits yang melarangnya. Mengenai sifat bajunya adalah sebagaimana yang telah dijelaskan oleh hadits Ibnu Abbas sebelum ini. Mengenai tata cara meletakkan kain kafan terhadap mayat telah dijelaskan di muka. Telah dikemukakan beberapa hadits tentang melakukan hal yang terbaik dalam mengkafani dan disebutkan di dalamnya tentang alasannya.

Ad-Dailamy telah meriwayatkan hadits dari Jabir secara marfu,

«أَحْسِنُوا كَفَنَ مَوْتَاكُمْ فَإِنَّهُمْ يَتَبَاهَوْنَ وَيَتَزَاوَرُونَ بِهَا فِي قُبُورِهِمْ»

“Perbaikilah kafan orang-orang yang meninggal di antara kalian, karena mereka akan saling membanggakan diri dan saling berziarah di antara mereka dalam kuburnya.”

Dan ia juga meriwayatkan hadits dari Ummu Salamah,

«أَحْسِنُوا الْكَفَنَ وَلَا تُؤْذُوا مَوْتَاكُمْ بِعَوِيلٍ وَلَا بِتَزْكِيَةٍ وَلَا بِتَأْخِيرِ وَصِيَّةٍ وَلَا بِقَطِيعَةٍ وَعَجِّلُوا بِقَضَاءِ دَيْنِهِ وَاعْدِلُوا عَنْ جِيرَانِ السُّوءِ وَأَعْمِقُوا إذَا حَفَرْتُمْ وَوَسِّعُوا»

“Lakukanlah hal yang terbaik dalam mengkafani, dan janganlah kalian menyakiti orang-orang mati di antara kamu dengan jeritan, dengan penyuciannya, dengan menunda pelaksanaan wasiatnya dan dengan pemutusan silaturahmi, segerakanlah pembayaran hutangnya, berbuat adillah terhadap tetangga yang jelek, galilah yang dalam dan luaskan liang kuburnya.”

Di antara cara berbuat baik terhadap mayat, telah dijelaskan dalam hadits yang diriwayatkan oleh Ahmad dari Aisyah Radhiyallahu Anba dari beliau Shallallahu Alaihi wa Sallam,

«وَمَنْ غَسَّلَ مَيِّتًا فَأَدَّى فِيهِ الْأَمَانَةَ وَلَمْ يُفْشِ عَلَيْهِ مَا يَكُونُ مِنْهُ عِنْدَ ذَلِكَ خَرَجَ مِنْ ذُنُوبِهِ كَيَوْمِ وَلَدَتْهُ أُمُّهُ»

“Barangsiapa memandikan mayat kemudian ia menunaikan amanat dalam memandikannya dan tidak menyebarkan apa yang ada pada mayat itu, maka keluarlah dia dari dosanya seperti pada hari dia dilahirkan oleh ibunya.” [Dhaif Jiddan: Ibnu Majah 1484]

Dan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda,

«لِيَلِهِ أَقْرَبُكُمْ إنْ كَانَ يَعْلَمُ فَإِنْ لَمْ يَكُنْ يَعْلَمُ فَمَنْ تَرَوْنَ عِنْدَهُ حَظًّا مِنْ وَرَعٍ وَأَمَانَةٍ»

“Ada suatu malam dimana ia lehih dekat kepada seseorang di antara kamu sekiranya ia mengetahuinya, jika tidak diketahui maka ada orang yang melihat di sisinya sifat wara’ dan amanat.” (HR. Ahmad)

Dan diriwayatkan oleh Asy-Syaikhani dari hadits ibnu Umar, ia berkata, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda,

«مَنْ سَتَرَ مُسْلِمًا سَتَرَهُ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ»

“Barangsiapa yang menutupi -aib-seorang muslim, niscaya Allah menutupi rahasianya pada hari kiamat.” [Shahih: Al Bukhari 2442 dan Muslim 2580]

Dan diriwayatkan oleh Abdullah bin Ahmad dari hadits Ubay bin Ka’ab,

«إنَّ آدَمَ – عَلَيْهِ السَّلَامُ – قَبَضَتْهُ الْمَلَائِكَةُ وَغَسَّلُوهُ وَكَفَّنُوهُ وَحَنَّطُوهُ وَحَفَرُوا لَهُ وَأَلْحَدُوهُ وَصَلَّوْا عَلَيْهِ وَدَخَلُوا قَبْرَهُ وَوَضَعُوا عَلَيْهِ اللَّبِنَ ثُمَّ خَرَجُوا مِنْ الْقَبْرِ ثُمَّ حَثَوْا عَلَيْهِ التُّرَابَ ثُمَّ قَالُوا: يَا بَنِي آدَمَ هَذَا سُنَّتُكُمْ»

“Sesungguhnya setelah malaikat mengambil ruh Adam Alaihissallam, mereka memandikannya, mengkafaninya, memberi wewangian kepadanya, menggalikan liang kubur untuknya. Kemudian mereka menyalatinya, lalu memasukkannya ke dalam kubur dan meletakkan bata di atasnya. Kemudian mereka keluar dari kubur itu dan menimbuni tanah di atasnya. Kemudian mereka berkata, “Wahai anak Adam, inilah sunnah kalian.” [Dhaif: Dhaif Al Jami 1350]

0508

508 – وَعَنْهُ قَالَ: «كَانَ النَّبِيُّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – يَجْمَعُ بَيْنَ الرَّجُلَيْنِ مِنْ قَتْلَى أُحُدٍ فِي ثَوْبٍ وَاحِدٍ ثُمَّ يَقُولُ: أَيُّهُمْ أَكْثَرُ أَخْذًا لِلْقُرْآنِ؟ فَيُقَدِّمُهُ فِي اللَّحْدِ وَلَمْ يُغَسَّلُوا وَلَمْ يُصَلَّ عَلَيْهِمْ» . رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ.

508. Dan darinya Radhiyallahu Anhu, ia berkata, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam pernah mengumpulkan dua mayat saat perang Uhud dalam satu kain kafan, kemudian beliau bersabda, “Mana di antara mereka yang banyak menghafal Al-Qur’an? Maka dimasukkannya lebih dahulu dalam liang lahat, mereka tidak dimandikan dan beliau tidak menyalatkannya.” (HR. Al-Bukhari).

[Shahih: Al Bukhari 1343]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Tafsir Hadits

“Dan darinya (yaitu Jabir) Rasulullah Shallallahu alaihi wa Sallam pernah mengumpulkan dua mayat saat perang Uhud dalam satu kain kafan, kemudian beliau bersabda, “Mana di antara mereka yang banyak menghafal Al-Qur’an? maka dimasukkannya lebih dahulu dalam liang lahat (lubang tempat mayat itu disebut lahat, yaitu lubang yang digali di bagian samping kubur yang agak condong dari tengah kuburan itu. Lafazh ilhad menurut pengertian bahasa adalah condong atau miring) mereka tidak dimandikan dan beliau tidak menyalatkannya.”

Hadits ini mengandung berapa hukum:

Pertama; Boleh digabung dua mayat dalam satu kain kafan dalam keadaan darurat. Itu salah satu dari dua kemungkinan. Kemungkinan kedua, dengan tanpa memotong kain, tetapi mayat itu dikafani masing-masing dengan satu kain tersebut, dengan pembatas atau lapisan kain antara keduanya. Demikian pendapat mayoritas ulama. Bahkan ada yang mengatakan bahwa menurut kenyataannya tidak ada ulama yang berpendapat sesuai dengan kemungkinan yang pertama, karena dengan cara itu berarti berhubungan langsung kedua kulit dari dua mayat itu.

Jelas dalam hadits Jabir bahwa dalam sambungan itu terdapat keterangan, ia mengatakan,

«فَكُفِّنَ أَبِي وَعَمِّي فِي نَمِرَةٍ وَاحِدَةٍ»

“Dikafani ayahku dan pamanku dalam satu kain kafan tanpa lapis.”[Al Bukhari 1348]

Ini sebagai dalil yang menjadi landasan kemungkinan yang pertama. Menurut penyarah, kenyataan yang pernah dipraktekkan sesuai dengan kemungkinan kedua ialah terhadap diri Hamzah Radhiyallahu Anhu. Menurut pendapat saya (Ash.-Shan’ani) hadits dari Jabir itu menjelaskan tanpa pemotongan untuk keduanya. Jadi masuk salah satu dari dua kemungkinan yang dibolehkan itu, sedangkan pemotongan kain itu menjadi dua, hukumnya jaiz (boleh) menurut hukum asal.

Kedua; Hadits tersebut menunjukkan keharusan mendahulukan yang paling banyak menghafal Al-Qur’an untuk dimasukkan daripada lainnya. Dan hukum itu dapat diqiyaskan semua sisi keutamaan bila mayat-mayat itu dikuburkan dalam satu liang kubur.

Ketiga; Boleh dikuburkan semuanya dalam satu kubur dalam keadaan darurat. Al-Bukhari menetapkan cara semacam itu dalam satu bab tersendiri dengan lafazh, “Bab Penguburan dua dan tiga orang dalam satu lubang kubur.” Di dalamnya beliau menulis hadits Jabir tersebut. Sekalipun riwayat Jabir itu hanya dua orang tetapi terdapat sebutan tiga orang itu dalam riwayat Abdurrazaq yang mengatakan, “Pernah dikuburkan dua orang dan tiga orang dalam satu lubang kubur.”

Dalam As-Sunan dari Hisyam bin Amir Al-Anshari, ia berkata,

«جَاءَتْ الْأَنْصَارُ إلَى رَسُولِ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – يَوْمَ أُحُدٍ فَقَالُوا: أَصَابَنَا قَرْحٌ وَجَهْدٌ فَقَالَ: احْفِرُوا وَأَوْسِعُوا وَاجْعَلُوا الرَّجُلَيْنِ وَالثَّلَاثَةَ فِي قَبْرٍ»

“Orang-orang Anshar datang melaporkan kepada Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam sewaktu perang Uhud.” Mereka mengatakan kepada beliau, “Pihak kami banyak ditimpa mati syahid, sehingga kami payah mengurusnya.” Kemudian beliau bersabda, “Galilah kuburnya, perluas kuburan itu dan jadikan atau masukkan dua orang dan tiga orang dalam satu kubur.” Dishahihkan oleh At-Tirmidzi. [Hasan Shahih: At Tirmidzi 1713]

Dalam masalah ini adalah sama untuk dua dan tiga mayat perempuan.

Mengenai penguburan laki-laki dan perempuan dalam satu kubur terdapat hadits yang diriwayatkan oleh Abdurrazaq dengan sanad hasan. Wa’ilah bin Asqa yang menjelaskan bahwa

«كَانَ يَدْفِنُ الرَّجُلَ وَالْمَرْأَةَ فِي الْقَبْرِ الْوَاحِدِ فَيُقَدَّمُ الرَّجُلُ وَتُجْعَلُ الْمَرْأَةُ وَرَاءَهُ»

Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam pernah menguburkan seorang lak-laki dan perempuan dalam satu kubur, beliau memasukkan laki-laki terlebih dahulu dan yang perempuan di belakangnya, dengan dibatasi tanah antara keduanya.

Keempat; Orang-orang yang mati syahid tidak dimandikan. Demikian pendapat mayoritas ulama. Di kalangan ulama terdapat beberapa pendapat mengenai hal ini. Diriwayatkan dari Sa’id bin Musayyab, Al-Hasan dan Ibnu Syuraih bahwa menurut mereka orang yang mati syahid wajib dimandikan. Tetapi hadits berikut ini menolak pendapat mereka yaitu hadits yang diriwayatkan oleh Ahmad dari Jabir Radhiyallahu Anhu bahwa Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda tentang orang-orang yang mati syahid dalam perang Uhud sebagai berikut,

لَا تُغَسِّلُوهُمْ فَإِنَّ كُلَّ جُرْحٍ أَوْ دَمٍ يَفُوحُ مِسْكًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Janganlah, kamu mandikan mereka karena setiap luka dan tetesan darahnya akan memancarkan kesturi pada hari kiamat kelak.” [Shahih: Ahmad 3/299]

Di dalamnya terdapat hikmah larangan tersebut.

Kelima; Tidak boleh dishalati orang yang mati syahid. Terdapat perbedaan pendapat dalam hal ini di antara ulama, yaitu wajib dimandikan berdasarkan keumuman shalat bagi orang yang mati. Juga berdasarkan hadits yang diriwayatkan dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam. bahwa beliau menyalati orang-orang yang mati syahid pada perang Uhud. Bahkan beliau membaca takbir sewaktu menyalatkan mayat Hamzah sebanyak tujuh puluh kali. Dan berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari dari Uqbah bin Amir,

«أَنَّهُ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – صَلَّى عَلَى قَتْلَى أُحُدٍ»

“Sesungguhnya Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam menyalatkan mayat-mayat syuhada perang Uhud.” [Shahih: Al Bukhari 4042 dan Muslim 2296]

Sekelompok ulama lain mengatakan untuk tidak dishalati, berdasarkan hadits dari Jabir di atas. Asy-Syafii mengatakan, “Terdapat beberapa hadits yang seakan-akan hadits mutawatir bahwa Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam tidak menyalatkan orang yang mati syahid pada perang Uhud.” Ia berkata bahwa hadits yang menjelaskan tentang Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam yang menyalatkan mereka dan bertakbir tujuh puluh kali itu tidaklah benar, karena haditsnya tidak shahih. Dan sepantasnyalah orang-orang yang mengeluarkan pendapat yang bertentangan dengan hadits-hadits shahih merasa malu.

Adapun mengenai hadits dari Uqbah bin Amir, berdasarkan keterangan hadits itu sendiri bahwa peristiwa itu terjadi setelah delapan tahun dari peristiwa itu. Yakni, yang bertentangan berkata, “Tidak dishalatkan dalam kubur jika masanya sudah lama, maka tidak sempurna istidhlal dengannya. Seakan-akan beliau berdoa dan memohonkan ampunan bagi mereka kepada Allah, sewaktu beliau sudah merasa dekat ajalnya, sebagai ucapan selamat tinggal dan doa terakhir bagi mereka. Pernyataan Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam tidak menunjukkan batalnya hukum yang sudah jelas itu.

Yang menguatkan pendapat bahwa beliau hanya mendoakan saja bagi mereka, karena Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam tidak melakukannya secara berjamaah dengan para shahabat, karena seandainya beliau melakukan shalat jenazah, maka pasti tersebar berita itu di kalangan shahabat dan pasti beliau melakukannya dengan berjamaah sebagaimana yang pernah dilakukannya saat menyalatkan Najasyi, karena berjamaah lebih utama dalam shalat jenazah. Dan syuhada perang Uhud adalah termasuk yang paling utama untuk mendapatkan keutamaan itu. Lagi pula tidak terdapat satu riwayat pun yang menerangkan bahwa beliau pernah menziarahi kubur sendirian. Begitu pula hadits dari Uqbah yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari, “Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam menyalatkan orang-orang yang gugur pada perang, terjadi setelah delapan tahun peristiwa.” Dalam riwayat Ibnu Hibban, “Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam tidak pernah lagi keluar menziarahi kubur hingga beliau wafat.”

 

والله أعلمُ بالـصـواب

Download Sumber

 

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *