[ UIC 10.4 ] Kitab Subulus Salam Syarh Bulughul Maram 148

03. KITAB JENAZAH 04

0504

504 – وَعَنْ عَائِشَةَ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا – قَالَتْ: كُفِّنَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – فِي ثَلَاثَةِ أَثْوَابٍ بِيضٍ سُحُولِيَّةٍ مِنْ كُرْسُفٍ، لَيْسَ فِيهَا قَمِيصٌ وَلَا عِمَامَةٌ. مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

504. Dari Aisyah Radhiyallahu Anha, ia berkata, “Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dikafani dengan tiga lapis kain putih yang terbuat dari kapas, tanpa memakai baju dan sorban.” (Muttafaq Alaih).

[Shahih: Al Bukhari 1264 dan Muslim 941]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Tafsir Hadits

Hadits ini menunjukkan bahwa, yang terbaik dalam mengkafani mayat adalah dengan tiga lapis kain putih karena Allah Ta’ala tidak akan memilihkan untuk Nabi-Nya, kecuali yang terbaik. Pengarang As-Sunan telah meriwayatkan dari hadits Ibnu Abbas Radhiyallahu Anhu,

«الْبَسُوا ثِيَابَ الْبَيَاضِ فَإِنَّهَا أَطْيَبُ وَأَطْهَرُ وَكَفِّنُوا فِيهَا مَوْتَاكُمْ»

“Pakailah pakaian putih, karena pakaian putih adalah sebaik-baik dan sesuci-suci pakaian, dan kafanilah mayat-mayat kalian dengannya.”

Telah dishahihkan oleh At-Tirmidzi dan Al-Hakim hadits ini juga ada syahid penguat dari riwayat Amrah yang mereka keluarkan sanadnya juga shahih.

Adapun riwayat yang telah lalu dari hadits Aisyah, “Sesungguhnya beliau Shallallahu Alaihi wa Sallam diselimuti dengan kain burdah dari hibrah “, yaitu kain burdah buatan Yaman yang dijahit dan mahal harganya. Hal ini sama sekali tidak bertentangan dengan apa yang ada di sini, karena Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam tidaklah dikafani dengan kain itu, tetapi hanya diselimuti untuk mengeringkan beliau. Kemudian mereka melepaskannya dari beliau sebagaimana riwayat yang disebutkan dalam Muslim. Secara zhahir hadits dapat diketahui bahwa, menyelimuti Rasulullah dengan kain tersebut sebelum dimandikan. At-Tirmidzi berkata, “Pengafanan Rasulullah dengan tiga helai kain kafan putih adalah riwayat yang paling shahih yang menjelaskan pengafanannya.”

Adapun riwayat yang dikeluarkan oleh Ahmad, Ibnu Abi Syaibah, Al-Bazzar dari hadits Ali Alaihissalam,

أَنَّهُ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – كُفِّنَ فِي سَبْعَةِ أَثْوَابٍ

“Sesungguhnya beliau Shallallahu Alaihi wa Sallam dikafani dengan tujuh helai baju.”

adalah riwayat dari Abdullah bin Muhammad bin Uqail. Ia termasuk rawi yang jelek hafalannya. Haditsnya bisa diikuti jika yang meriwayatkannya beberapa orang tidak sendirian. Maka bagaimana bisa ia menyelisihi apa yang ada di sini? Hal ini tidak akan mungkin diterima. Pengarang berkata, “Al-Hakim telah meriwayatkan dari hadits Ayyub dari Nafi’ dari Ibnu Umar apa yang menguatkan hadits Ibnu Uqail. Jika hadits ini shahih, maka hadits ini dan hadits Aisyah bisa dikompromikan bahwa Aisyah meriwayatkan apa yang mungkin ia lihat yaitu tiga helai, dan selainnya yang dilihat oleh orang lain. Jika sah riwayat dari Ali, maka sesungguhnya dialah yang langsung memandikan beliau.

Ketahuilah, sesungguhnya yang wajib dari kafan adalah apa yang dapat menutupi jasad mayat. Jika kainnya kurang untuk menutupi semuanya, maka yang didahulukan adalah menutup aurat. Dan apa yang tersisa, maka yang ditutupi adalah bagian kepala dan pada kedua kakinya diberi jerami, sebagaimana yang telah dilakukan oleh Rasulullah Shallallahii Alaihi wa Sallam kepada pamannya Hamzah dan Mushab bin Umar. Jika ingin menambahkan kain, maka yang disunnahkan adalah menjadikannya ganjil. Namun dapat juga untuk mencukupkan dengan dua helai. Sebagaimana yang telah lalu dalam hadits tentang orang ihram yang meninggal.

Anda telah mengetahui dari riwayat Asy-Sya’bi mengenai tiga helai kain yaitu sarung, selendang dan lipatan kepala. Dikatakan juga, sarung dan dua helai baju. Dikatakan juga hendaklah pada kain kafan baju yang tidak dijahit dan sarung yang menutupi pusarnya sampai ke lututnya dan kain lipatan yang dapat menutupi dari atas kepalanya sampai ke kakinya.

Pendapat ini ditakwilkan dari ucapan Aisyah, bahwa tidak ada di dalam kain kafan baju maupun sorban, bahwa yang dimaksud adalah meniadakan adanya dua benda ini secara bersamaan tidak untuk baju saja. Dan tiga helai yang telah dimaksud tidak termasuk baju dan sorban. Jadi maksudnya adalah bahwa tiga helai tadi adalah selain keduanya, walaupun keduanya terwakili. Ini adalah takwil yang sangat jauh sekali. Dikatakan yang lebih utama untuk diucapkan adalah, “Sesungguhnya mengafani dengan baju atau tidak adalah sama, karena keduanya disukai. Sesungguhnya beliau Shallallahu Alaihi wa Sallam pernah mengkafani Abdullah bin Ubay dengan bajunya.” (HR. Al-Bukhari) Dan tidaklah Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam berbuat sesuatu kecuali yang terbaik.

Dalam hadits ini disebutkan, bahwa baju orang yang telah meninggal seperti baju orang yang hidup, yaitu tertutup dan diberi sarung. Ini disunnahkan dan disukai oleh Muhammad bin Sirin sebagaimana yang disebutkan oleh Al-Baihaqi dalam Al-Khilafiyat. Ia berkata di dalam Asy-Syarah, “Ini menolak pendapat orang yang mengatakan sesungguhnya tidak disyariatkan baju, kecuali ujungnya tidak dikancing.” Aku berkata bahwa pendapat ini sesuai karena mengancingkan ujung-ujung baju adalah kebiasaan penduduk pada masa itu.

0505

505 – وَعَنْ ابْنِ عُمَرَ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا – قَالَ: «لَمَّا تُوُفِّيَ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ أُبَيٍّ جَاءَ ابْنُهُ إلَى رَسُولِ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – فَقَالَ: أَعْطِنِي قَمِيصَك أُكَفِّنُهُ فِيهِ فَأَعْطَاهُ إيَّاهُ» . مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

505. Dari Ibnu Umar Radhiyallahu Anhuma, ia berkata, “Ketika Abdullah bin Ubay meninggal, datanglah anaknya kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam sambil berkata kepada beliau, “Berikan bajumu kepadaku akan aku gunakan untuk mengafaninya -ayahku-.” Kemudian Rasulullah memberikan baju beliau kepadanya.” (Muttafaq Alaih)

[Shahih: Al Bukhari 1269 dan Muslim 2400]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

“Dari Ibnu Umar Radhiyallahu Anhuma, ia berkata, “Ketika Abdullah bin Ubay meninggal, datanglah anaknya (ia adalah Abdullah bin Abdillah) kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam sambil berkata kepada beliau, “Berikan bajumu kepadaku akan aku gunakan untuk mengafaninya -ayahku-.”Kemudian Rasulullah memberikan baju beliau kepadanya.”

Tafsir Hadits

Hadits ini menjadi dalil disyariatkannya mengkafani mayat dengan baju sebagaimana yang telah dijelaskan dimuka.

Secara zhahir hadits, bahwa sesungguhnya ia – Abdullah bin Abdillah – datang meminta baju kepada Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam sebelum ayahnya dikafankan. Namun, riwayat ini bertentangan dengan apa yang ada pada Al-Bukhari dari Jabir,

«أَنَّهُ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – أَتَى عَبْدُ اللَّهِ بْنُ أُبَيٍّ بَعْدَمَا دُفِنَ فَأَخْرَجَهُ فَنَفَثَ فِيهِ مِنْ رِيقِهِ، وَأَلْبَسَهُ قَمِيصَهُ»

“Sesungguhnya Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam mendatangi Abdullah bin Ubay setelah selesai dikuburkan (tanpa dikafani), kemudian beliau mengeluarkannya lagi dan membersihkannya dari tanah lalu mengkafaninya dengan menggunakan baju beliau.”

Riwayat tersebut jelas menunjukkan bahwa pemberian dan pemakaian bajunya setelah dikuburkan, dan ini bertentangan dengan hadits Ibnu Umar.

Cara menggabungkan pengertian kedua hadits yang bertentangan itu adalah, bahwa yang dimaksud dengan ucapan Ibnu Umar, “maka Rasulullah memberikan baju beliau kepadanya” yaitu beliau mengiyakan untuk memberikannya (belum diberikan). Pemutlakan pengiyaan ini sebagai pemberian adalah bentuk majas, karena jelas akan terjadinya pemberian itu. Demikian juga ucapan yang terdapat dalam hadits dari Jabir “setelah penguburan” yaitu tunjukkan kepadaku kuburannya. Bahwa yang dimaksud hadits dari Jabir itu adalah bahwa peristiwa yang terjadi setelah pengeluaran mayat dari lubang kuburnya adalah bahwa beliau meludahinya sedangkan bajunya telah dipakaikan sebelumnya. Penggabungan pengertian kedua hadits itu tidak menunjukkan bahwa kedua peristiwa tersebut terjadi dalam waktu yang bersamaan karena penggunaan huruf waw itu tidak selamanya menunjukkan peristiwa yang berurutan dan tidak pula menunjukkan terjadi bersamaan. Maka seakan-akan bahwa maksud penyebutan Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam dalam semua kalimat hanyalah menunjukkan penghormatan Nabi dan tidak menunjukkan berurutan. Dikatakan bahwa Nabi memberikan sehelai bajunya terlebih dahulu, kemudian mayat itu dikuburkan, lalu beliau memberikan lagi sehelai baju yang kedua karena permintaan anaknya. Di dalam Al-lklil yang dikarang oleh Al-Hakim terdapat riwayat yang menguatkan hal ini. Ketahuilah sesungguhnya Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam memberikan kepada Abdullah bin Abdillah bin Ubay karena ia adalah seorang yang shaleh tidak pernah menolak orang yang meminta kepadanya. Namun, bapaknya yang diberi pakaian oleh Rasulullah dan dikafankan olehnya adalah seorang tokoh munafik. Ia meninggal dalam keadaan nifaq. Dalam hal ini, Allah menurunkan ayat,

{وَلا تُصَلِّ عَلَى أَحَدٍ مِنْهُمْ مَاتَ أَبَدًا}

“Dan janganlah sekali-kali kamu menyalati (jenazah) seseorang yang mati di antara mereka.” (QS. At-Taubah: 84)

Dikatakan pula bahwa Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam memberikan pakaian kepadanya dengan baju beliau disebabkan ia pernah memberikan baju kepada Abbas ketika ia menjadi tawanan di Perang Badar, maka Rasulullah ingin untuk membalas hal tersebut.

 

والله أعلمُ بالـصـواب

Download Sumber

 

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *