[ UIC 10.4 ] Kitab Subulus Salam Syarh Bulughul Maram 147

03. KITAB JENAZAH 03

0502

502 – وَعَنْ عَائِشَةَ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا – قَالَتْ: لَمَّا أَرَادُوا غُسْلَ رَسُولِ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – قَالُوا: وَاَللَّهِ مَا نَدْرِي نُجَرِّدُ رَسُولَ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – كَمَا نُجَرِّدُ مَوْتَانَا أَمْ لَا؟ . الْحَدِيثَ. رَوَاهُ أَحْمَدُ، وَأَبُو دَاوُد

502. Dari Aisyah Radhiyallahu Anha, ia berkata, “Ketika mereka ingin memandikan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam mereka berkata, “Demi Allah, kami tidak mengerti apakah kami melepas semua pakaian Rasulullah seperti melepas pakaian mayat selainnya atau tidak?” (HR. Ahmad dan Abu Dawud).

[Hasan: Abu Daud 3141]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Tafsir Hadits

Hadits itu selengkapnya menurut Abu Dawud adalah sebagai berikut,

فَلَمَّا اخْتَلَفُوا أَلْقَى اللَّهُ عَلَيْهِمْ النَّوْمَ حَتَّى مَا مِنْهُمْ مِنْ أَحَدٍ إلَّا وَذَقَنُهُ فِي صَدْرِهِ ثُمَّ كَلَّمَهُمْ مُكَلِّمٌ مِنْ نَاحِيَةِ الْبَيْتِ لَا يَدْرُونَ مَنْ هُوَ اغْسِلُوا رَسُولَ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – وَعَلَيْهِ ثِيَابُهُ فَغَسَّلُوهُ وَعَلَيْهِ قَمِيصُهُ يَصُبُّونَ الْمَاءَ فَوْقَ الْقَمِيصِ وَيُدَلِّكُونَهُ بِالْقَمِيصِ دُونَ أَيْدِيهِمْ ” وَكَانَتْ عَائِشَةُ تَقُولُ ” لَوْ اسْتَقْبَلْت مِنْ أَمْرِي مَا اسْتَدْبَرْت مَا غَسَّلَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – إلَّا نِسَاؤُهُ

“Ketika mereka berselisih pendapat itu, lalu Allah menghendaki mereka tertidur (ketiduran) sehingga tidak seorang pun dari mereka melainkan terdengar getaran di dadanya, kemudian kepada mereka ada yang berbicara dari arah rumah itu tanpa mereka ketahui siapa itu.”Mandikanlah Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dengan pakaiannya.” Lalu mereka memandikan mayat beliau dalam keadaan memakai pakaian. Mereka menyiramkan air di atas pakaiannya dan mereka menggosoknya dengan pakaiannya bukan dengan tangan langsung. Aisyah berkata, “Seandainya aku menghadapi urusanku, maka aku tidak meninggalkan tugasku karena tidaklah dimandikan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam oleh perempuan, kecuali dengan istri-istrinya.”

Dalam riwayat Ibnu Hibban dijelaskan bahwa orang yang memangku Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam sewaktu dimandikan adalah Ali Radhiyallahu Anhu. Al-Hakim meriwayatkan bahwa sewaktu Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam dimandikan oleh Ali dan di tangannya ada kain kasar dan ia memasukkan tangannya di bawah beliau dan baju beliau berada di atasnya.

Diriwayatkan demikian juga oleh Asy-Syafii dari Malik dari Jafar bin Muhammad dari bapaknya.

Kisah ini menunjukkan bahwa mayat Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam tidak diperlakukan seperti mayat-mayat yang lain.

0503

503 – وَعَنْ أُمِّ عَطِيَّةَ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا – قَالَتْ: دَخَلَ عَلَيْنَا النَّبِيُّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – وَنَحْنُ نُغَسِّلُ ابْنَتَهُ. فَقَالَ: ” اغْسِلْنَهَا ثَلَاثًا أَوْ خَمْسًا أَوْ أَكْثَرَ مِنْ ذَلِكَ إنْ رَأَيْتُنَّ ذَلِكَ بِمَاءٍ وَسِدْرٍ وَاجْعَلْنَ فِي الْأَخِيرَةِ كَافُورًا أَوْ شَيْئًا مِنْ كَافُورٍ ” فَلَمَّا فَرَغْنَا آذَنَّاهُ، فَأَلْقَى إلَيْنَا حِقْوَهُ فَقَالَ: ” أَشْعِرْنَهَا إيَّاهُ ” مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ، وَفِي رِوَايَةٍ: «ابْدَأْنَ بِمَيَامِنِهَا، وَمَوَاضِعِ الْوُضُوءِ مِنْهَا» وَفِي لَفْظٍ لِلْبُخَارِيِّ: «فَضَفَّرْنَا شَعْرَهَا ثَلَاثَةَ قُرُونٍ فَأَلْقَيْنَاهَا خَلْفَهَا»

503. Dan Ummu Athiyyah, ia berkata, “Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam masuk kepada kami yang ketika itu sedang memandikan putrinya, beliau bersabda, “Mandikanlah ia dengan tiga kali mandi, lima kali atau lebih banyak dari itu. Jika kalian menganggap itu perlu dengan air dan daun bidara, jadikanlah siraman air mandi yang terakhir dengan kapur atau yang sejenis dengan kapur.” Dan ketika kami telah selesai kami dekatkan kepada Rasulullah, maka beliau memberikan kepada kami sarungnya, beliau bersabda, “Bungkuslah ia dengan itu.” (Muttafaq Alaih).

Di dalam riwayat yang lain, “Mulailah kalian dengan bagian kanannya dan tempat-tempat wudhu darinya.

Dan lafazh bagi Al-Bukhari, “Maka kami menganyam rambutnya dengan tiga kepangan dan kami julurkan di belakangnya.”

[Shahih: Al Bukhari 1253, 1263, Muslim 939]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

“Dari Ummu Athiyyah” (telah disebutkan namanya, dan di dalamnya ada perselisihan. Ia adalah seorang wanita Anshar) “Ia berkata, “Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam masuk kepada kami yang ketika itu sedang memandikan putrinya” (tidak disebutkan sesuatu pun di dalam riwayat Al-Bukhari nama putrinya tapi yang masyhur yaitu Zainab, istrinya Abul Ash. Meninggal pada tahun kedelapan Hijriyah. Tetapi terdapat beberapa riwayat lain yang mengatakan bahwa yang meninggal adalah Ummu Kultsum. Dalam Shahih Al-Bukhari, “Saya tidak mengetahui anaknya yang mana yang meninggal.”) “Beliau bersabda, “Mandikanlah ia dengan tiga kali mandi atau lima atau lebih banyak dari itu jika kalian menganggap itu perlu dengan air dan daun bidara dan jadikanlah siraman air mandi yang terakhir dengan kapur atau yang sejenis dengan kapur.” (Ini menunjukkan keraguan perawi mengenai dua lafazh, apakah air kapur barus atau air yang dicampur dengan sedikit kapur barus. Ia mengatakan, “Kemungkinan yang dimaksud adalah yang kedua yaitu bukan -air kapur barus murni.”) “Dan ketika kami telah selesai kami dekatkan kepada Rasulullah” (dalam lafazh Al-Bukhari, “Beliau Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda kepada mereka -para wanita-, “Jika kamu telah selesai memandikannya maka beritahu aku.” Dalam riwayat Al-Bukhari dengan lafazh falamma faraghna -setelah mereka selesai- bukan faraghnaa -kami selesai-.) maka beliau memberikan kepada kami sarungnya (Al-Bukhari melafazhkan faa’thana-hu hiqwahu -maka beliau memberikan kami sarungnya- yang dimaksud adalah kain atau sarungnya. Makna sarung untuk hikwah adalah sebagai majaz, karena makna aslinya adalah tempat sarung, ini termasuk menamakan keadaan dengan tempatnya) beliau bersabda, “Bungkuslah ia dengan itu.” (yaitu jadikanlah ia penutupnya, yaitu penutup setelah baju yang langsung menempel di badannya). Muttafaq Alaih dan di dalam riwayat yang lain (yaitu riwayat Asy-Syaikhani dari Ummu Athiyyah). Dan lafazh bagi Al-Bukhari, “Mulailah kalian dengan bagian kanannya dan tempat-tempat wudhu darinya.” (dari Ummu Athiyyah) “Maka kami menganyam rambutnya dengan tiga kepangan dan kami julurkan di belakangnya.”

Tafsir Hadits

Perintah beliau, “Mandikanlah ia tiga kali” itu menunjukkan wajibnya hitungan tersebut. Yang jelas zhahirnya telah disepakati sahnya mandi sekali saja. Oleh karena itu mereka mengatakan bahwa perintah memandikan tiga kali itu hanya dipahami hukum sunnah. Mengenai hukum asal memandikan mayat adalah sebagaimana yang telah diketahui kewajibannya dalam tempat yang lain. Ada yang mengatakan wajib memandikannya tiga kali. Sedangkan sabdanya, ‘aw khamsah’ (lima kali) itu hanya menunjukkan dibolehkannya untuk memilih, dan inilah makna yang jelas. Kemudian sabdanya, ‘aw aktsara’ (atau lebih dari itu) ditafsirkan dalam suatu riwayat dengan tujuh kali, sebagai ganti ‘aw aktsara (atau lebih banyak) dari yang demikian. Inilah yang dikatakan oleh Ahmad dan ia memakruhkan lebih dari tujuh. Ibnu Abdilbar berkata, “Aku tidak mengetahui ada seseorang yang mengatakan boleh memandikan mayat lebih dari tujuh kali.” Selain yang terdapat dalam riwayat Abu Dawud dengan lafazh, “…atau tujuh kali atau lebih dari itu.” Zhahirnya hadits tersebut membolehkan mandi lebih dari tujuh kali.

Telah dijelaskan sebelumnya tentang cara memandikannya sekali dengan daun bidara. Manfaatnya menurut para ulama adalah karena daun bidara dapat melemaskan jasad mayat tersebut. Adapun memandikannya dengan air kapur barus, maka menurut zhahir adalah dengan melarutkan kapur barus itu ke dalam air dengan tidak mengubah sifat airnya. Manfaatnya adalah agar dapat mengharumkan ruangan supaya tidak menganggu orang yang hadir, baik dari malaikat maupun selainnya, di samping dapat mengeringkannya, mendinginkannya dan yang paling utama sekali dapat mengeraskan atau mengesatkan jasad mayat, menghindarkannya dari binatang, mencegah dan membersihkan sesuatu yang berlebihan yang keluar dari tubuh, dan mencegah cepat rusak dan busuknya jasad. Kapur barus itu lebih kuat dari wewangian lain bagi mayat. Hal tersebut merupakan rahasia anjuran Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam menyiram atau memandikan mayat dengan air kapur barus pada kali yang terakhir. Jikalau air kapur barus didahulukan, maka akan dihilangkan oleh air. Dalam hadits tersebut menunjukkan untuk memulai memandikan mayat pada bagian kanan. Maksudnya ialah semua bagian kanan itu. Perintah mencuci anggota wudhu tidaklah bertentangan dengan perintah membersihkan bagian kanan itu. Karena kemungkinan memandikan bagian kanan merupakan anggota wudhu yang kanan bersamaan dengan siraman yang kanan itu. Ada juga yang berpendapat bahwa perintah memulai dengan yang kanan itu adalah selain dari anggota wudhu.

Manfaat perintah untuk mewudhukan mayat adalah untuk memperbarui tanda sebagai orang yang beriman dalam hal nampak putih mengkilat anggota badannya pada hari kiamat sebagai bekas wudhu, termasuk bekas berkumur dan dimasukkan air ke hidung.

Lafazh ‘dhaffarnaa sya’raha (kami pintal rambutnya) dapat dijadikan dalil yang menunjukkan bolehnya memintal rambut mayat. Ulama pengikut mazhab Hanafiyah berkata, “Rambut perempuan dilepaskan ke belakang dan biasa juga ke depan dengan terpisah.” Al-Qurthubi berkata, “Adanya perbedaan pendapat tentang hal ini seakan-akan disebabkan adanya anggapan bahwa perbuatan Ummu Athiyyah memintal rambut mayat bukan atas perintah Nabi Shallallahu alaihi wa Sallam” Akan tetapi Pengarang berkata, “Bahwa perbuatan iu telah diriwayatkan oleh Sa’id bin Manshur dengan lafazh sebagai berikut, “Ummu Athiyyah berkata, “Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda,

«اغْسِلْنَهَا وِتْرًا وَاجْعَلْنَ شَعْرَهَا ضَفَائِرَ»

‘Mandikan ia secara ganjil dan jadikan rambutnya beberapa pintalan.”

Dalam Shahih Ibnu Hibban Rasulullah Shallallahu alaihi wa Sallam bersabda kepada Ummu Athiyah,

«اغْسِلْنَهَا ثَلَاثًا أَوْ خَمْسًا أَوْ سَبْعًا وَاجْعَلْنَ لَهَا ثَلَاثَةَ قُرُونٍ»

“Mandikan ia tiga kali atau lima kali atau tujuh kali dan buatkan baginya tiga qurun.” [Syadz dengan lafazh perintah dalam perkataan ‘qurun’: Adh-Dhaifah 6496. Ebook editor]

Dan yang dimaksud dengan qurun di hadits ini adalah tiga anyaman.

Dalam sebagian lafazh Al-Bukhari, berbunyi Nashiyathiha wa Qarnaiha (ujung rambut di kedua pipinya dan dua anyaman rambutnya).” Dan dalam lafazh, “tiga anyaman” ini menjadi ucapan umum (tidak dirinci), semuanya menjadi hujjah untuk membantah pendapat Ulama pengikut mazhab Hanafiyah. Penganyaman rambutnya itu setelah pencucian rambutnya dan memandikannya. Keterangan semacam ini jelas dalam shahih Al-Bukhari.

Dalam hadits tersebut menunjukkan untuk melepaskan rambutnya ke belakang. Ibnu Daqiq Al-‘Id tidak mengetahui adanya lafazh-lafazh itu yaitu dari Al-Bukhari, kemudian ia menganggap itu merupakan pendapat sebagian ulama pengikut Asy-Syafii dan pendapatnya didasarkan atas hadits gharib.

 

والله أعلمُ بالـصـواب

Download Sumber

 

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *