[ UIC 10.4 ] Kitab Subulus Salam Syarh Bulughul Maram 146

03. KITAB JENAZAH 02

0497

497 – وَعَنْ مَعْقِلِ بْنِ يَسَارٍ أَنَّ النَّبِيَّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – قَالَ: «اقْرَءُوا عَلَى مَوْتَاكُمْ يس» رَوَاهُ أَبُو دَاوُد وَالنَّسَائِيُّ وَصَحَّحَهُ ابْنُ حِبَّانَ

497. Dari Ma’qil bin Yasar Radhiyallahu Anhu, “Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Bacakanlah kepada orang yang akan meninggal di antara kamu surat Yasin.” (HR. Abu Dawud dan An-Nasai serta dishahihkan oleh Ibnu Hibban)

[Dhaif: Abu Daud 3121]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Tafsir Hadits

Ibnu Hibban berkata, “Yang dimaksud dengan mautakum di sini adalah orang yang sedang sakaratul maut bukan orang yang telah menjadi mayat (sudah meninggal) dibacakan surat Yasin.”

Dan diriwayatkan juga oleh Ahmad dan Ibnu Majah dari Sulaiman At-Taimiy dari Abu Utsman dari bapaknya dari Ma’qil bin Yasar. An-Nasai dan Ibnu Majah tidak meriwayatkan dari bapaknya. Tetapi hadits tersebut dinilai cacat oleh Ibnu Qaththan karena termasuk hadits muththarrib dan mauquf, karena tidak diketahui identitas Abu Utsman dan bapaknya itu. Ad-Daraquthni meriwayatkan bahwa ia pernah berkata, “Hadits ini muththarrib sanadnya, tidak dikenal matannya dan tidak shahih.”

Ahmad mengatakan dalam Musnadnya, bahwa Shafwan pernah menceritakan kepada kami, ia mengatakan bahwa guru-gurunya pernah berkata, “Apabila surat Yasin dibacakan pada orang yang telah mati, maka akan diringankan siksaan dan deritanya.”

Pengarang kitab Al-Firdaus meriwayatkan dari Abu Darda dan Abu Dzar, keduanya berkata, “Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda,

«مَا مِنْ مَيِّتٍ يَمُوتُ فَيُقْرَأُ عِنْدَهُ يس إلَّا هَوَّنَ اللَّهُ عَلَيْهِ»

Tidaklah orang yang sakaratul maut itu dibacakan surat Yasin baginya melainkan Allah akan meringankan siksaannya.” [Maudhu: Adh-Dhaifah 5219. Ebook editor]

Hadits ini menguatkan ucapan Ibnu Hibban bahwa maksudnya ialah orang yang menjelang kematian. Dan kedua hadits ini lebih jelas dijadikan dalil dalam masalah ini dari yang lainnya.

Abu Syaikh dalam Fadha’il Al-Qur’an dan Abu Bakar Al-Marwazi dalam Janaiz meriwayatkan pendapat Abu Sya’tsa, shahabat Ibnu Abbas, bahwa ia menganggap sunnah membaca surat Ar-Ra’du, dan bacaan itu menurutnya dapat meringankan siksaan bagi orang yang sedang sakaratul maut. Dalam kitab itu juga dikutip dari As-Sya’bi, bahwa kaum Anshar suka sekali membaca surat Al-Baqarah pada orang yang hampir mati.

0498

498 – وَعَنْ أُمِّ سَلَمَةَ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا – «دَخَلَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – عَلَى أَبِي سَلَمَةَ وَقَدْ شُقَّ بَصَرُهُ فَأَغْمَضَهُ ثُمَّ قَالَ: إنَّ الرُّوحَ إذَا قُبِضَ اتَّبَعَهُ الْبَصَرُ فَضَجَّ نَاسٌ مِنْ أَهْلِهِ فَقَالَ: لَا تَدْعُوا عَلَى أَنْفُسِكُمْ إلَّا بِخَيْرٍ فَإِنَّ الْمَلَائِكَةَ تُؤَمِّنُ عَلَى مَا تَقُولُونَ ثُمَّ قَالَ: اللَّهُمَّ اغْفِرْ؛ لِأَبِي سَلَمَةَ وَارْفَعْ دَرَجَتَهُ فِي الْمَهْدِيِّينَ وَافْسَحْ لَهُ فِي قَبْرِهِ وَنَوِّرْ لَهُ فِيهِ وَاخْلُفْهُ فِي عَقِبِهِ» رَوَاهُ مُسْلِمٌ

498. Dari Ummu Salamah Radhiyallahu Anha, ia berkata, “Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam masuk ke tempat Abu Salamah sewaktu terbuka matanya (memandang kepergian ruhnya), lalu beliau menutupnya, kemudian beliau bersabda, “Sesungguhnya ruh itu bila telah dicabut maka pandangannya mengikutinya, lalu keluarganya berteriak menangisinya.” Dan beliau bersabda, “Janganlah kamu ucapkan atas diri kalian kecuali yang baik-baik, karena sesungguhnya malaikat mengaminkan apa yang kalian ucapkan.” Kemudian beliau berdoa, ‘Ya Allah ampunilah Abu Salamah dan tinggikan derajatnya ketingkat orang-orang yang mendapat petunjuk Allah, serta lapangkanlah ia dalam kuburnya, terangilah ia dalam kuburnya, dan berilah pengganti dalam keturunannya yang ditinggalkan.” (HR. Muslim)

[Shahih: Muslim (920)]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Tafsir Hadits

Dikatakan, bahwa mata mayit akan terbelalak jika kematian menghadirinya dan jadilah ia memandang pada sesuatu yang membuat kelopak matanya tidak akan berkedip.

Menutup mata yang dilakukan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam merupakan dalil yang menunjukkan disunnahkannya hal tersebut, dan ulama telah bersepakat tentang hal ini. Mereka berlandaskan kepada hadits yang menyatakan bahwa mata mengikuti ruh, yakni memandangnya kemana ia pergi.

Hadits ini juga merupakan dalil orang yang menyatakan, bahwa ruh adalah jisim yang halus yang beredar dalam tubuh yang akan hilang kehidupannya jika ruh pergi, bukan bentuk kasar sebagaimana yang dikatakan oleh sebagian orang.

Dalam hadits ini juga ada dalil bahwa sesungguhnya didoakan kepada orang yang sekarat dalam kematiannya, bagi keluarganya dan orang-orang sepeninggalnya dengan perkara-perkara akhirat dan dunia. Dalamnya juga terdapat dalil yang menunjukkan bahwa mayit diberi nikmat dan diadzab di dalam kuburnya.

0499

499 – وَعَنْ عَائِشَةَ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا -: «أَنَّ النَّبِيَّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – حِينَ تُوُفِّيَ – سُجِّيَ بِبُرْدِ حِبَرَةٍ» . مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

499 Dari Aisyah Radhiyallahu Anha, “Ketika Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam wafat, beliau ditutup dengan kain bercorak yang ada lambangnya.” (Muttafaq Alaih).

[Shahih: Al Bukhari 1241 dan Muslim 942]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Tafsir Hadits

Hibarah yaitu kain yang ada di dalamnya corak gambar-gambar, jenis ini merupakan pakaian yang disukai Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dan dipakai sebelum beliau mandi. Inilah yang nampak dalam hadits.

An-Nawawi berkata di dalam Syarah Muslim, “Sesungguhnya hal ini disepakati oleh para ulama.” Hikmahnya adalah menjaga mayat agar tidak tersingkap dan menutup auratnya yang tidak dibolehkan terlihat dari pandangan.” Mereka berkata, “Tasjiah (menutupi badannya) itu setelah mencopot pakaiannya, ketika ia meninggal agar badannya tidak berubah disebabkan hal tersebut.”

*******

– وَعَنْهَا: أَنَّ أَبَا بَكْرٍ قَبَّلَ النَّبِيَّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – بَعْدَ مَوْتِهِ. رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ

“Dan darinya Aisyah Radhiyallahu Anha, “Abu Bakar Ash-Shiddiq Radhiyallahu Anhu mencium Nabi Shallahu Alaihi wa Sallam setelah beliau wafat.” (HR. Al-Bukhari)

[Shahih: Al Bukhari 5709]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Hadits ini dijadikan dalil bolehnya mencium mayat setelah wafatnya, dan juga disunnahkan untuk menutupinya. Ini adalah perilaku para shahabat setelah wafatnya beliau dan tidak ada dalil dalam hal ini karena terbatasnya dalil pada empat perkara. Benar, perbuatan-perbuatan ini boleh berdasarkan dalil dasar bahwa boleh. At-Tirmidzi mengeluarkan riwayat dari hadits Aisyah,

«أَنَّ النَّبِيَّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – قَبَّلَ عُثْمَانَ بْنَ مَظْعُونٍ، وَهُوَ مَيِّتٌ، وَهُوَ يَبْكِي أَوْ قَالَ: وَعَيْنَاهُ تَهْرَقَانِ»

“Sesungguhnya Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam mencium Utsman bin Mazh’un ketika ia meninggal dan beliau menangis atau dikatakan kedua matanya mengalirkan air.” At-Tirmidzi berkata, “Hadits Aisyah ini adalah hadits hasan shahih.” [Shahih: At Tirmidzi 989]

0500

500 – وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – عَنْ النَّبِيِّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – قَالَ: «نَفْسُ الْمُؤْمِنِ مُعَلَّقَةٌ بِدَيْنِهِ حَتَّى يُقْضَى عَنْهُ» رَوَاهُ أَحْمَدُ وَالتِّرْمِذِيُّ وَحَسَّنَهُ

500. Dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam, beliau bersabda, “Ruh orang beriman itu tergantung dengan hutangnya; hingga dilunasi hutangnya itu.” (HR. Ahmad dan dihasankan oleh At-Tirmidzi).

[Shahih: At Tirmidzi 1078]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Tafsir Hadits

Tersebut dalam riwayat, bahwa permasalahan hutang ini sangat ditekankan, sehingga Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam tidak mau menyalati mayat yang mempunyai hutang sampai sebagian shahabat menanggungnya. Rasulullah mengabarkan juga, bahwa orang yang mati syahid itu diampuni dosa-dosanya, kecuali hutangnya.

Hadits ini menunjukkan bahwa mayat masih sibuk dengan hutang-hutangnya setelah kematiannya. Maka di sini ada anjuran untuk membebaskan diri dari hutang sebelum kematian datang, dan ini adalah hak yang paling penting. Jika hutang itu diambil dengan ridha pemiliknya, lalu bagaimana dengan sesuatu yang diambil tanpa izin pemiliknya atau dengan cara merampas?

0501

501 – وَعَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا – «أَنَّ النَّبِيَّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – قَالَ – فِي الَّذِي سَقَطَ عَنْ رَاحِلَتِهِ فَمَاتَ: اغْسِلُوهُ بِمَاءٍ وَسِدْرٍ، وَكَفِّنُوهُ فِي ثَوْبَيْهِ» مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

501. Dari Ibnu Abbas Radhiyallahu Anhuma, “Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda tentang orang yang jatuh dari kendaraannya kemudian meninggal, “Mandikanlah ia dengan air dan daun bidara dan kafanilah ia dalam dua pakaian.” (Muttafaq Alaih).

[Shahih: Al Bukhari 1265 dan Muslim 1206]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

“Dari Ibnu Abbas Radhiyallahu Anhuma, “Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda tentang orang yang jatuh dari kendaraannya (hal itu terjadi ketika ia sedang wukuf di Arafah di atas kendaraannya sebagaimana tersebut dalam hadits Al-Bukhari) kemudian ia meninggal, “Mandikanlah oleh kalian dengan air dan daun bidara dan kafani ia dalam dua pakaian.”

Kelengkapan teks hadits ini adalah,

وَلَا تُحَنِّطُوهُ وَلَا تُخَمِّرُوا رَأْسَهُ

“Janganlah kalian membalsemnya dan janganlah juga di tutup kepalanya.”

Dan setelah itu dalam lafazh Al-Bukhari disebutkan,

«فَإِنَّهُ يُبْعَثُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مُلَبِّيًا»

“Sesungguhnya ia akan dibangkitkan pada hari kiamat dalam keadaan bertalbiyah.”

Tafsir Hadits

Hadits ini dalil wajibnya memandikan mayat. An-Nawawi berkata bahwa memandikan mayat adalah fardhu kifayah. Pengarang berkata setelah menukil pendapat An-Nawawi di dalam Al-Fathu, “Ini adalah kekeliruan yang besar karena perbedaan pendapat dalam masalah ini sangatlah terkenal di kalangan Malikiyah sampai sesungguhnya Al-Qurthubi menguatkan pendapat di dalam Syarah Muslim bahwa memandikan mayat itu sunnah, namun yang jelas mayoritas ulama mewajibkannya.” Ibnul Arabi menolak pendapat orang yang mengatakan demikian. Ia berkata, “Telah jelas riwayat baik secara ucapan maupun amal tentang hal ini, dan orang yang suci dan disucikan (Rasulullah, pen) pun dimandikan. Lalu bagaimana dengan orang yang selain beliau? Akan dijelaskan jumlah hitungan mandi di hadits ummu Athiyah yang akan datang.

Ucapan “dengan air dan daun bidara”, secara zhahirnya adalah dicampurnya daun bidara dan air pada setiap kali air siraman mandi. Dikatakan pula, ini memberikan pengertian bahwa dimandikan mayat untuk dibersihkan tidak untuk disucikan, karena air yang telah dicampur tidak dapat menyucikan. Dikatakan pula, telah ada yang berpendapat kemungkinan daun bidara tidak mengubah sifat air, maka tidak dapat dikatakan air yang telah dicampur yang demikian itu dengan digosokkannya daun bidara kemudian disiram dengan air disetiap kalinya. Al-Qurthubi berkata, “Daun bidara dicampur dengan air kemudian diaduk-aduk sampai keluar aromanya, lalu digosok-gosokkan di tubuh mayit setelah itu disiram dengan air yang jernih.” Dan ini terhitung satu kali mandi. Dikatakan pula, daun bidara tidak dicampur dengan air agar tidak mengubah sifat air yang mutlak.

Berpegang dengan hadits ini sebagian Malikiyah berkata, “Memandikan mayat adalah untuk membersihkan, maka cukup dengan air yang dicampur seperti air bunga dan sebagainya.” Mereka berkata, “Akan tetapi hal ini dimakruhkan karena berlebih-lebihan.” Mayoritas ulama berpendapat bahwa memandikan mayat adalah bersifat ibadah, disyaratkan di dalamnya apa yang disyaratkan untuk mandi wajib dan mandi sunnah. Di dalam hadits ini ada larangan untuk mengawetkan mayat, dan ini tidak disebutkan oleh pengarang sebagaimana yang telah Anda ketahui. Alasannya adalah bahwa ia akan dibangkitkan pada hari kiamat dalam keadaan bertalbiyah. Ini menunjukkan bahwa alasan larangan adalah karena ia meninggal dalam keadaan ihram dan jika alasan ini telah hilang maka larangan pun hilang.

Ini juga menunjukkan bahwa memberikan ramuan pengawet pada mayat adalah perkara yang ditetapkan di kalangan mereka. Dalam hadits ini juga ada larangan memakaikan kerudung bagi mayat yakni menutup kepalanya dikarenakan ia sedang ihram. Barang siapa tidak dalam keadaan ihram, maka ia dapat diberikan ramuan pengawet dan ditutup kepalanya.

Pendapat yang mengatakan terputus hukum ihram dan kematian sebagaimana yang dikatakan oleh sebagian Hanafiyah dan Malikiyah itu berbeda dengan zhahir hadits. Telah disebutkan di dalam Asy-Syarh, perselisihan dan dalil-dalil mereka tidak mampu menegakkan dalam membantah zhahir hadits, maka tidaklah perlu dijelaskan di sini.

Ucapan, “Kafanilah ia di dalam dua pakaian.” Menunjukkan wajibnya mengkafani dan tidak disyariatkan di dalam kafan untuk berjumlah ganjil. Dikatakan pula, “Dapat saja pengurangan atas dua ini karena ia meninggal atas keduanya, dan ia memakainya dalam melaksanakan ibadah yang mulia. Mungkin juga tidak ditemukan selain kedua baju tersebut dan baju tersebut merupakan harta pokoknya. Karena ketika Rasulullah memerintahkan dengannya, beliau tidak merinci apakah orang tersebut memiliki hutang atau tidak.

Lafazh “dua baju” disebutkan secara umum dan mutlak, sedangkan di dalam riwayat Al-Bukhari disebutkan dengan lafazh fi tsaubaibi (dengan kedua pakaiannya). Sedangkan dalam riwayat An-Nasai disebutkan “Di dalam dua pakaiannya yang dipakai ihram dengan keduanya.”

Pennulis berkata bahwa dalam hadits ini menunjukkan disunnahkannya untuk mengkafani mayat dengan pakaian ihramnya. Dan juga menunjukkan bahwa ihramnya masih berlaku dan ia tidak dikafani dengan kain yang terjahit.

Di dalam ucapan “Ia akan dibangkitkan dengan bertalbiyah” ini menunjukkan bahwa orang yang melaksanakan suatu ketaatan, kemudian ia dipisah antara sempurnanya ibadah dengan kematian, maka diharapkan baginya dituliskan di akhirat termasuk kelompok orang yang telah melakukan amal tersebut.

 

والله أعلمُ بالـصـواب

Download Sumber

 

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *