[ UIC 10.4 ] Kitab Subulus Salam Syarh Bulughul Maram 145

03. KITAB JENAZAH 01

0493

493 – عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -: «أَكْثِرُوا ذِكْرَ هَاذِمِ اللَّذَّاتِ: الْمَوْتِ» رَوَاهُ التِّرْمِذِيُّ وَالنَّسَائِيُّ وَصَحَّحَهُ ابْنُ حِبَّانَ

493. Dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Perbanyaklah mengingat penghancur segala kelezatan yakni kematian.” (HR. At-Tirmidzi, An-Nasaa’i dan dishahihkan oleh Ibnu Hibban)

[Hasan Shahih: At Tirmidzi 2307]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Tafsir Hadits

Hadits ini juga diriwayatkan oleh Al-Hakim, Ibnu As-Sakan dan Ibnu Thahir. Ad-Daraquthni mengatakan bahwa hadits ini mursal. Dan dalam hadits yang sama dari Ibnu Umar dan Anas, tapi semuanya ada pembicaraan.

Pengarang menukil dari As-Suhaili, “Sesungguhnya riwayat dengan kata ‘haadzim’ maknanya memutus. Sedangkan riwayat yang tidak memakai titik ‘haadim’ maka maknanya adalah yang menghilangkan sesuatu, dan makna ini bukan yang dimaksud di sini. Pengarang berkata, “Dalam penafian riwayat ini perlu diperhatikan.”

Aku berkata, “Sesungguhnya jika makna dengan ‘dal’ yang tidak bertitik -haadim- adalah shahih, karena kematian menghilangkan kelezatan sebagaimana ia memutuskannya. Akan tetapi, yang dipegang adalah hadits riwayat ini.”

Hadits ini menunjukkan bahwa seyogyanya bagi manusia tidak melupakan mengingat nasehat yang terbesar yaitu kematian.

Di dalam riwayat bagi Ad-Dailami dari Abu Hurairah,

«أَكْثِرُوا ذِكْرَ الْمَوْتِ فَمَا مِنْ عَبْدٍ أَكْثَرَ ذِكْرَهُ إلَّا أَحْيَا اللَّهُ قَلْبَهُ، وَهَوَّنَ عَلَيْهِ الْمَوْتَ»

‘Perbanyaklah mengingat kematian, maka tidak ada seorang hamba yang mengingatnya kecuali Allah akan menghidupkan hatinya dan meringankan baginya kematian.” [Maudhu’: Adh-Dhaifah 2880. Ebook editor]

Di dalam lafazh bagi Ibnu Hibban dan Al-Baihaqi di dalam Syu’ab Al-Iman

«أَكْثِرُوا ذِكْرَ هَاذِمِ اللَّذَّاتِ فَإِنَّهُ مَا ذَكَرَهُ عَبْدٌ قَطُّ فِي ضِيقٍ إلَّا وَسَّعَهُ وَلَا فِي سَعَةٍ إلَّا ضَيَّقَهَا»

“Perbanyaklah mengingat pemutus kelezatan, sesungguhnya jika seorang hamba tidak mengingatnya sedikit pun dalam kesempitan, kecuali ia akan meluaskannya dan tidaklah dalam kelapangan, kecuali ia menyempitkannya.” [Dhaif: Dhaif Al Jami 1112]

Dalam hadits Anas dalam riwayat Ibnu Laalin dalam Makarimil Akhlaaq,

«أَكْثِرُوا ذِكْرَ الْمَوْتِ فَإِنَّ ذَلِكَ تَمْحِيصٌ لِلذُّنُوبِ وَتَزْهِيدٌ فِي الدُّنْيَا»

“Perbanyaklah mengingat kematian, karena yang demikian itu akan menghapus dosa-dosa dan menjadikan zuhud terhadap dunia.” [Dhaif Jiddan: Adh-Dhaifah 2879. Ebook editor]

Dan bagi Al-Bazzar,

«أَكْثِرُوا ذِكْرَ هَاذِمِ اللَّذَّاتِ فَإِنَّهُ مَا ذَكَرَهُ أَحَدٌ فِي ضِيقٍ مِنْ الْعَيْشِ إلَّا وَسَّعَهُ عَلَيْهِ وَلَا فِي سَعَةٍ إلَّا ضَيَّقَهَا»

“Perbanyaklah mengingat pemutus segala kenikmatan, sesungguhnya tidaklah seorang hamba mengingatnya dalam kesempitan hidup kecuali akan melapangkannya, dan tidak ia mengingatnya dalam keadaan lapang kecuali akan mempersempit kelezatan itu”.

Dan menurut riwayat Ibnu Abi Laila,

«أَكْثِرُوا مِنْ ذِكْرِ الْمَوْتِ فَإِنَّهُ يَمْحَقُ الذُّنُوبَ وَيُزْهِدُ فِي الدُّنْيَا فَإِنْ ذَكَرْتُمُوهُ عِنْدَ الْغِنَى هَدَمَهُ، وَإِنْ ذَكَرْتُمُوهُ عِنْدَ الْفَقْرِ أَرْضَاكُمْ بِعَيْشِكُمْ»

“Perbanyaklah dari mengingat kematian, karena kematian akan menghapus dosa-dosa dan menjadikan zuhud terhadap dunia, jika kalian mengingatnya ketika kaya, maka ia akan menghancurkannya, dan jika kalian mengingatnya ketika dalam kefakiran maka kalian akan lebih ridha dengan kehidupan kalian.” [Dhaif Jiddan: Dhaif Al Jami 1110]

0494

494 – وَعَنْ أَنَسٍ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -: «لَا يَتَمَنَّيَنَّ أَحَدُكُمْ الْمَوْتَ لِضُرٍّ نَزَلَ بِهِ، فَإِنْ كَانَ لَا بُدَّ مُتَمَنِّيًا فَلْيَقُلْ: اللَّهُمَّ أَحْيِنِي مَا كَانَتْ الْحَيَاةُ خَيْرًا لِي، وَتَوَفَّنِي مَا كَانَتْ الْوَفَاةُ خَيْرًا لِي» مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

494. Dan dari Anas Radhiyallahu Anhu ia berkata, Rasulullah Shallallahui Alaihi wa Sallam bersabda, “Janganlah salah seorang di antara kalian menginginkan kematian karena musibah yang menimpa dirinya dan jika ia harus menginginkan kematian maka ucapkanlah, ‘Ya Allah hidupkanlah aku jika kehidupan itu lebih baik bagiku, dan wafatkanlah aku jika kematian itu lebih baik bagiku.” (Muttafaq Alaih).

[Shahih: Al Bukhari 6351 dan Muslim 2680]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Tafsir Hadits

Hadits ini dalil yang melarang orang untuk mengharapkan kematian disebabkan bala’ dan fitnah yang menimpanya, atau karena ketakutan terhadap musuh, sakit atau kehilangan harta benda dan semacamnya yang meliputi problema kehidupan, karena hal itu menunjukkan tidak sabar terhadap qadha, serta tidak ridha atas keputusan Allah.

Dalam ucapan, “Musibah yang menimpanya…” memberikan petunjuk bahwa jika bukan karena hal tersebut seperti karena khawatir fitnah dalam agama, maka tidak mengapa ia menginginkan kematian. Hal ini ditunjukkan oleh hadits berikut,

«إذَا أَرَدْت بِعِبَادِك فِتْنَةً فَاقْبِضْنِي إلَيْك غَيْرَ مَفْتُونٍ»

“Jika Engkau menginginkan pada hamba-Mu fitnah, maka ambillah aku kehadirat-Mu tanpa terfitnah.” [Shahih: At Tirmidzi 3235]

Atau karena mengharapkan mati syahid sebagaimana yang terjadi pada Abdullah bin Rawahah dan lainnya dari shahabat terdahulu sebagaimana juga ucapan Maryam dalam ayat berikut,

{يَا لَيْتَنِي مِتُّ قَبْلَ هَذَا}

“Aduhai, alangkah baiknya aku mati sebelum ini.” (QS. Maryam: 23)

Sesungguhnya ia mengharapkan kematian ini karena takut dari kekufuran dari orang yang kafir dan permusuhan dari orang yang bermusuhan karenanya.

Ucapan, “Dan jika ia harus menginginkan kematian…” yakni jika sempit dadanya dan hilang kesabarannya, maka ia harus kembali kepada doa ini dan jika tidak, maka lebih baik baginya untuk tidak melakukan hal tersebut.

0495

495 – وَعَنْ بُرَيْدَةَ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – أَنَّ النَّبِيَّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – قَالَ: «الْمُؤْمِنُ يَمُوتُ بِعَرَقِ الْجَبِينِ» رَوَاهُ الثَّلَاثَةُ، وَصَحَّحَهُ ابْنُ حِبَّانَ

495. Dari Buraidah —Ibnu Hashib- dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam ia berkata, “Orang mukmin yang meninggal itu dengan keringat di dahinya.” (HR. Ats-Tsalatsah dan dishahihkan oleh Ibnu Hibban).

[Shahih: At Tirmidzi 982]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Tafsir Hadits

Hadits ini juga dikeluarkan oleh Ahmad, Ibnu Majah dan sekelompok ulama hadits. Dikeluarkan juga oleh Ath-Thabrani dari hadits Ibnu Mas’ud. Kata Arraqul jabin mempunyai dua pengertian;

1. Sebuah ungkapan tentang sesuatu yang menyusahkannya, sehingga dahinya berkeringat, yakni untuk menghapus sisa-sisa dosanya.

2. Sebuah kinayah (peribahasa) dari usaha seorang mukmin untuk mencari yang halal dan melatih dirinya untuk berpuasa dan shalat sampai ia bertemu dengan Allah.

Makna yang pertama; Sesungguhnya keadaan matinya, dan diambilnya ruh sangat berat baginya ini adalah sifat tentang cara meninggal, dan beratnya bagi seorang mukmin.

Makna yang kedua; Sesungguhnya kematian mendekatinya dalam keadaan ini, dalam keadaan yang sangat keras sampai berkeringat dahinya.” Dan ini adalah sifat dari keadaan orang yang dikagetkan akan kematian.

0496

496 – وَعَنْ أَبِي سَعِيدٍ، وَأَبِي هُرَيْرَةَ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا – قَالَا: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -: «لَقِّنُوا مَوْتَاكُمْ لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ» رَوَاهُ مُسْلِمٌ وَالْأَرْبَعَةُ

496. Dari Abu Said dan Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu keduanya berkata, “Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Talqinkanlah orang-orang yang akan meninggal dari kalian dengan kalimat La ilah illallah.” (HR. Muslim dan Al-Arba’ah)

[Shahih: Muslim 916]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

“Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Talqinkanlah orang-orang yang akan meninggal dari kalian (lafazh mautakum yakni orang-orang yang menghadapi kematian. Ini adalah bentuk majas) dengan kalimat ‘La ilah illallah’.” Ini adalah lafazh Muslim. Ibnu Hibban juga meriwayatkan dengan lafazh ini disertai tambahan,

«فَمَنْ كَانَ آخِرُ قَوْلِهِ لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ دَخَلَ الْجَنَّةَ يَوْمًا مِنْ الدَّهْرِ وَإِنْ أَصَابَهُ مَا أَصَابَهُ قَبْلَ ذَلِكَ»

“Barangsiapa yang akhir ucapannya, “La ilaha illallah” maka ia akan masuk surga. Suatu hari dari tahun-tahun walaupun ia melakukan sesuatu yang ia lakukan sebelum ini.” [Shahih: Shahih Al Jami’ 5150]

Telah keliru orang yang menisbatkan hadits ini kepada Asy-Syaikhani atau kepada Al-Bukhari. Ibnu Abi Dunya meriwayatkannya dari Huzaifah dengan lafazh,

«لَقِّنُوا مَوْتَاكُمْ لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ فَإِنَّهَا تَهْدِمُ مَا قَبْلَهَا مِنْ الْخَطَايَا»

“Talqinkanlah orang yang menjelang kematian dari kalian dengan ‘la ilaha illallah’, karena sesungguhnya kalimat ini menghancurkan dosa-dosa yang diperbuat sebelumnya.”

Dalam masalah ini semua haditsnya shahih.

Ucapan “Talqinkanlah” maksudnya, mengingatkan seseorang menjelang kematiannya dengan lafazh yang mulia ini agar ia dapat mengucapkannya dan sebagai akhir dari ucapannya, sehingga ia masuk surga seperti hal yang telah dijelaskan. Perintah untuk mentalqinkan dalam hadits ini umum bagi setiap muslim yang menghadiri orang yang menjelang kematian dan perintah ini adalah sunnah. Para ulama memakruhkan memperbanyak ucapan ini dan melakukannya terus menerus agar tidak menekan dan mempersempit keadaan orang yang mati dan memberatkan kesulitannya, maka hal ini akan menjadikan hatinya menolak sehingga ia berkata dengan sesuatu yang tidak layak. Jika ia mengucapkan sekali kemudian orang yang menjelang ajal tadi mengikutinya, maka ini akan menjadi akhir dari orang yang sekarat tersebut.

Yang dimaksud dengan ucapan la ilaha illallah yaitu disertai dengan ucapan Muhammadurrasulullah karena ucapan ini tidak akan diterima jika meninggalkan salah satu dari keduanya, sebagaimana yang telah diketahui.

Yang dimaksud dengan mautakum adalah orang-orang muslim yang menjelang kematiannya. Adapun jika ia non muslim, maka ditawarkan kepadanya untuk memeluk agama Islam, sebagaimana Rasulullah Shallallahu alaihi wa Sallam menawarkan kepada pamannya dalam keadaan sekarat dan juga kepada seorang zimmi yang menjadi pelayan beliau yang ia kunjungi ketika sakit, dan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam menawarkan Islam kepadanya sehingga orang tersebut masuk Islam.

Hadits ini seakan-akan mengkhususkan bagi orang yang meninggal dalam keadaan memeluk Islam. Karena merekalah yang menerima ucapan ini dan juga karena orang-orang Islam yang hadir di sisinya lebih mayoritas. Berbeda dengan orang-orang kafir, biasanya pada orang-orang yang menjelang kematiannya tidak dihadiri kecuali oleh orang-orang kafir juga.

Faedah

Seyogyanya mengingatkan orang yang sakit mengenai luasnya rahmat, kasih sayang dan kebaikan Allah, sehingga membuatnya berprasangka baik kepada-Nya. Hal ini sesuai dengan yang dikeluarkan oleh Muslim dari hadits Jabir, Aku mendengar Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda sebelum wafatnya,

«لَا يَمُوتَنَّ أَحَدُكُمْ إلَّا وَهُوَ يُحْسِنُ الظَّنَّ بِاَللَّهِ»

“Janganlah salah seorang di antara kalian meninggal kecuali ia berbaik sangka kepada Allah.” [Shahih: Muslim 2877]

Di dalam Ash-Shahihaini hadits marfu dari Abu Hurairah, Allah berfirman,

أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِي بِي

“Aku berada dalam persangkaan hamba-Ku kepada-Ku.” [Shahih: Al Bukhari 7405 dan Muslim 2675]

Ibnu Abi Dunya meriwayatkan dari Ibrahim, ia berkata, “Mereka menyukai untuk mentalqinkan seorang hamba kebaikan-kebaikan amalnya ketika menjelang kematiannya agar ia membaguskan prasangkanya kepada Rabbnya.”

Jika seorang hamba bertambah khawatir dengan pengharapannya ketika menjelang kematiannya, maka ia orang yang terpuji. At-Tirmidzi meriwayatkan dengan sanad yang baik dari hadits Anas,

«أَنَّهُ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – دَخَلَ عَلَى شَابٍّ وَهُوَ فِي الْمَوْتِ فَقِيلَ كَيْفَ تَجِدُك قَالَ: أَرْجُو اللَّهَ وَأَخَافُ ذُنُوبِي فَقَالَ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -: لَا يَجْتَمِعَانِ فِي قَلْبِ عَبْدٍ فِي مِثْلِ هَذَا الْمَوْطِنِ إلَّا أَعْطَاهُ اللَّهُ مَا يَرْجُوهُ، وَأَمَّنَهُ مِمَّا يَخَافُ.»

“Sesungguhnya Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam masuk ke seorang pemuda dalam keadaan menjelang kematian maka dikatakan kepadanya, “Bagaimana kamu menemukan dirimu?” ia berkata, “Aku sangat mengharapkan Allah dan aku khawatir terhadap dosa-dosaku.” Maka Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, ‘Tidaklah berkumpul dua perkara ini dalam hati seorang hamba dalam keadaan seperti ini kecuali Allah akan memberikan kepadanya apa yang ia harapkan dan memberikan keamanan kepadanya dari apa yang ia khawatirkan.’ [Hasan: At Tirmidzi 983]

Manfaat yang lain:

Seyogyanya orang yang dalam keadaan seperti ini dihadapkan ke arah kiblat berdasarkan riwayat yang dikeluarkan oleh Hakim yang dishahihkannya dari hadits Abi Qatadah,

«أَنَّ النَّبِيَّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – حِينَ قَدِمَ الْمَدِينَةَ سَأَلَ عَنْ الْبَرَاءِ بْنِ مَعْرُورٍ قَالُوا: تُوُفِّيَ، وَأَوْصَى بِثُلُثِ مَالِهِ لَك يَا رَسُولَ اللَّهِ، وَأَوْصَى أَنْ يُوَجَّهَ الْقِبْلَةَ إذَا اُحْتُضِرَ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -: أَصَابَ الْفِطْرَةَ، وَقَدْ رَدَدْتُ ثُلُثَهُ عَلَى وَلَدِهِ ثُمَّ ذَهَبَ فَصَلَّى عَلَيْهِ، وَقَالَ: اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَهُ وَأَدْخِلْهُ جَنَّتَك وَقَدْ فَعَلْت»

“Sesungguhnya Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam ketika tiba di Madinah beliau bertanya tentang Al-Barra bin Ma’rur.”Mereka berkata, “Dia meninggal dan ia berwasiat dengan sepertiga bagi engkau wahai Rasulullah dan ia berwasiat untuk menghadapkannya ke kiblat jika ia dalam keadaan menjelang kematian.” Rasululah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Ia telah sesuai dengan fitrah dan aku kembalikan sepertiga ini kepada anaknya.” Kemudian Rasulullah pergi dan menyalatkannya dan beliau berdoa, “Ya Allah ampunilah ia, masukkanlah ia ke surga-Mu dan aku telah berbuat.”[1]

Dan berkata Al-Hakim, “Aku tidak mengetahui hadits tentang keadaan orang dalam menjelang kematiaannya selain hadits ini.”

______________________

[Syaikh Al-Albani menyebutkan ada dua illat dalam hadits ini: lemahnya Nua’im bin Hammad dan sanad ini mursal dikarenakan Abdullah bin Abu Qatadah bukan seorang sahabat. Telah terjadi kekeliruan dalam sanad ini sehingga dimutashilkan kepada Bapaknya, Abu Qatadah. Lihat Al-Irwa’ 689. Ebook editor]

 

والله أعلمُ بالـصـواب

Download Sumber

 

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *