[ UIC 10.4 ] Kitab Subulus Salam Syarh Bulughul Maram 144

02.17. BAB PAKAIAN 03

0490

490 – وَعَنْ عَلِيٍّ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ -: «أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – نَهَى عَنْ لُبْسِ الْقَسِّيِّ وَالْمُعَصْفَرِ» . رَوَاهُ مُسْلِمٌ

490. Dan dari Ali Radhiyallahu Anhu, “Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam melarang untuk memakai sutera kasar dan kain yang dicelup dengan warna kuning.” (HR. Muslim).

[Shahih: Muslim 2078]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Tafsir Hadits

Larangan yang pertama untuk keharaman jika suteranya lebih banyak, namun jika suteranya sedikit larangan itu untuk tanzih (kesucian). Adapun pelarangan yang kedua pada dasarnya adalah untuk keharaman, inilah pendapat Al-Hadawiyah. Pendapat Mayoritas shahabat dan tabiin adalah membolehkan memakai pakaian yang dicelup dengan pewarna yang warna kuning. Inilah yang dikatakan oleh para ahli fikih selain Ahmad.

Dikatakan, “Hukumya makruk littanzih (makruh untuk menjaga kesucian).” Mereka berkata, “Karena Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam pernab memakai kain berwarna merah.” Dalam Ash-Shahihain dari Ibnu Umar Radhiyallahu Anhuma, “Aku melihat Rasulullah mencelup dengan warna kuning.” Ibnu Al-Qayyim membantah bahwa itu kain merah saja, beliau berkata, “Sesungguhnya Al-Hullah Al-Hamra’ adalah dua burdah (kain baju jubah yang terbuka depannya) dari Yaman, yang keduannya di tenun dari benang merah bercampur hitam. Kain ini sangat dikenal dengan nama ini, berdasarkan benang-benang yang ada di dalamnya. Adapun merah murni maka sangat dilarang. Dalam Ash-Shahihain disebutkan, “Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam melarang dari kain-kain merah.’

0491

491 – وَعَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – قَالَ: «رَأَى عَلَيَّ النَّبِيُّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – ثَوْبَيْنِ مُعَصْفَرَيْنِ، فَقَالَ: أُمُّك أَمَرَتْك بِهَذَا» رَوَاهُ مُسْلِمٌ

491. Dan dari Abdullah bin Amru Radhiyallahu Anhuma ia berkata. ‘”Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam melihatku memakai dua baju yang keduanya dicelup dengan warna kuning, maka beliau bersabda, “Apakah Ibumu yang telah memerintahkan kamu dengan ini?” (HR. Muslim)

[Shahih: Muslim 2077]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Tafsir Hadits

Ini adalah dalil diharamkannya kain yang dicelup dengan warna kuning yang menguatkan pelarangan pada hadits pertama. Untuk menambahkan kekuatan dalil dengan melengkapi kesempurnaan hadits dalam riwayat Muslim,

قُلْت: أَغْسِلُهُمَا يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ: بَلْ احْرَقْهُمَا

“Aku berkata, “Apakah aku mencuci keduanya, wahai Rasulullah? Beliau menjawab, “lebih dari itu, bakarlah keduanya”.

Dalam riwayat yang lain,

«إنَّ هَذِهِ مِنْ ثِيَابِ الْكُفَّارِ فَلَا تَلْبَسْهُمَا»

“Sesungguhnya ini adalah pakaian orang-orang kafir, janganlah engkau memakai keduanya.” (HR. Abu Dawud dan An-Nasa’i) [Shahih: Abu Daud 4068]

Ucapan, “Apakah Ibumu yang telah memerintahkan kamu dengan ini.” Menunjukkan bahwa pakaian ini adalah pakaian wanita, perhiasan, dan prilaku mereka.

Dalam hadits ini juga ada dalil yang menunjukkan hukuman dengan melenyapkan harta. Hal ini bertentangan dengan hadits Ali Alaihissalam, “Beliau memerintahkannya untuk dibagi-bagikan di antara para wanita di rumahnya.” Sebagaimana riwayat yang telah lalu, dan di sini Ibnu Amr diperintahkan untuk membakarnya. Mungkinkah dua riwayat ini dikompromikan? Kecuali dalam riwayat Sunan Abu Dawud dari Abdullah bin Amr:

«أَنَّهُ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – رَأَى عَلَيْهِ رَيْطَةً مُضَرَّجَةً بِالْعُصْفُرِ فَقَالَ: مَا هَذِهِ الرَّيْطَةُ الَّتِي عَلَيْك؟ قَالَ: فَعَرَفْت مَا كَرِهَ فَأَتَيْت أَهْلِي، وَهُمْ يَسْجُرُونَ تَنُّورًا لَهُمْ فَقَذَفْتهَا فِيهَا ثُمَّ أَتَيْتُهُ مِنْ الْغَدِ فَقَالَ: يَا عَبْدَ اللَّهِ مَا فَعَلَتْ الرَّيْطَةُ فَأَخْبَرْته فَقَالَ: هَلَّا كَسَوْتهَا بَعْضَ أَهْلِك فَإِنَّهُ لَا بَأْسَ بِهَا لِلنِّسَاءِ»

Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam melihatku memakai rithah (kain penutup punggung) yang ditenun dengan warna kuning, maka beliau bersabda, “Apa ini rithah yang kamu pakai? Abdullah berkata, “Maka aku mengetahui ketidaksenangan beliau, maka aku pulang menemui keluargaku dan mereka sedang membuat api yang menerangi mereka, maka aku lemparkan kain itu ke dalamnya, kemudian pada hari berikutnya aku menemui beliau dan beliau bertanya, “Wahai Abdullah, apa yang kamu lakukan dengan rithah? Maka aku mengkhabarkannya, Beliau bersabda, “Sebaiknya tidak demikian, engkau berikan saja kepada keluargamu sesungguhnya itu tidak mengapa bagi perempuan.” [Hasan: Abu Daud 4066]

Hadits ini menunjukkan, bahwa Abdullah bin Amr membakar kain itu bukan atas perintah Rasulullah. Jika riwayat ini shahih, maka hilanglah pertentangan antara hadits ini dan hadits Ali Alaihissalam. Yang ada hanyalah pertentangan antara dua riwayat Ibnu Amr sendiri. Telah dikatakan, “Sesungguhnya beliau Shallallahu Alaihi wa Sallam pertama kali memerintahkan untuk membakarnya sebagai kesunnahan. Maka ketika ia membakar kainnya, Rasulullah berkata, “Sebaiknya tidak demikian, engkau berikan saja kepada keluargamu.” Hal ini menunjukkan bahwa membagikan kepada keluarganya sudah cukup tidak perlu membakarnya, sekiranya ia melakukannya. Berkata Al-Qadhi Iyadh, dalam Syarah Muslim, “Perintah beliau untuk membakar hanya merupakan tekanan dalam ancaman.”

0492

492 – وَعَنْ أَسْمَاءَ بِنْتِ أَبِي بَكْرٍ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا -: «أَنَّهَا أَخْرَجَتْ جُبَّةَ رَسُولِ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -، مَكْفُوفَةَ الْجَيْبِ وَالْكُمَّيْنِ وَالْفَرْجَيْنِ بِالدِّيبَاجِ» . رَوَاهُ أَبُو دَاوُد، وَأَصْلُهُ فِي مُسْلِمٍ وَزَادَ: «كَانَتْ عِنْدَ عَائِشَةَ حَتَّى قُبِضَتْ، فَقَبَضْتهَا، وَكَانَ النَّبِيُّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – يَلْبَسُهَا، فَنَحْنُ نَغْسِلُهَا لِلْمَرْضَى يُسْتَشْفَى بِهَا» وَزَادَ الْبُخَارِيُّ فِي الْأَدَبِ الْمُفْرَدِ: «وَكَانَ يَلْبَسُهَا لِلْوَفْدِ وَالْجُمُعَةِ»

492. Dan dari Asma’ binti Abu Bakar Radhiyallahu Anhuma sesungguhnya ia mengeluarkan jubbah Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam yang mana kantong, ujung lengan dan ujung bagian bawahnya dijahit dengan sutera diibaj. (HR. Abu Dawud) Asal hadits ini ada di Muslim dan ia menambahkan, jubbah ini ada di Aisyah sampai ia meninggal, Aku mengambilkannya dan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam memakainya dan kami yang mencucikannya untuk mengobati orang sakit dengannya.” Al-Bukhari menambahkan dalam AlAdab Al-Mufrad Beliau biasa memakainya untuk menyambut utusan dan shalat Jumat.

[Shahih: Abu Daud 4054; Muslim 2069; Al Bukhari dalam Adabul Mufrad 348, Al-Albani berkata Hasan]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

“Dan dari Asma’ binti Abu Bakar Radhiyallahu Anhuma sesungguhnya ia mengeluarkan jubbah Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam yang mana kantong, ujung lengan dan ujung bagian bawahnya dijahit dengan sutera diibaj (Al-Makfuf yaitu kantong baju beliau dibuat dari sutera, yang juga ujung lengan dan ujung bawahnya dibuat dari sutera. sutera diibaj yaitu kain sutera yang tebal sebagaimana telah dijelaskan). Asal hadits ini ada di Muslim dan ia menambahkan (dari riwayat Asma’) adalah (yakni jubbah) ada di Aisyah sampai ia meninggal (lafazh Qubidhat adalah bentuk penghalusan dari kata meninggal) mengambilkannya dan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam memakainya dan kami yang mencucikannya untuk mengobati orang sakit dengannya.”

Tafsir Hadits

Hadits ini di dalam riwayat Muslim ada sebabnya, yaitu bahwa Asma’ mengirimkan utusan kepada Ibnu Umar karena telah sampai kepadanya penghataman cap yang di baju, maka Ibnu Umar menjawab bahwa ia mendengar umar berkata, “Aku mendengar Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Tidakah orang yang memakai sutera itu kecuali orang yang tidak berakhlak”, maka aku khawatir cap termasuk di dalamnya, maka Asma’ mengeluarkan Jubbah.

Al-Bukhari menambahkan dalam Al-Adab Al Mufrad, yakni dalam riwayat Asma’.

“Beliau biasa memakainya untuk menyambut utusan dan shalat Jum’at”, berkata dalam Syarah Muslim karangan An-Nawawi menjelaskan ucapan makfufah yakni menjadikan baju berujung lafazh kuffah dengan dhamah huruf Qaaf yaitu sesuatu yang ditutupi pinggir-pingir baju dan ditambahkan padanya, dan biasanya untuk ujung-ujung baju, ujung bawah dan lengan, selesai. Dan ini dimungkinkan sekitar lebih kurang empat jari jika tidak ada rongga-rongganya, ini sebagai pengumpulan dalil-dalil.

Dalam hadits ini juga ada dalil bolehnya yang demikian itu dari sutera, bolehnya memakai jubbah yang ada tempelan di ujungnya tanpa ada kemakruhan. Juga dalam hadits ini ada dalil bolehnya berobat dengan peninggalan-peninggalan Shallallahu Alaihi wa Sallam dan dengan sesuatu yang pernah dipegang oleh jasad beliau yang mulia. Demikian yang dikatakan kecuali tidak diragukan ini adalah perbuatan dari shabiyah yang tidak ada dalilnya, dan dalam ucapannya, “Beliau biasa memakainya untuk menyambut utusan dan shalat jum’at”, dalil disunnahkan berhiasan untuk menyambut duta dan semisalnya,

Adapun menjahit baju dengan benang dari sutera dan memakainya, dan menjadikan tali tasbih dari sutera, benang bak tinta, dan kantong untuk mushaf, dan kulit pembungkus kitab-kitab, maka tidak seyogyanya mengatakan tidak boleh karena tidak adanya pelarangan yang menyeluruh.

Dalam berpakaian ada adabnya, di antaranya; dalam bersurban hendaknya memendekkan ujungnya, jangan terlalu memanjangkannya, melepaskannya di antara dua pundak, dan boleh meninggalkannya. Dan dalam baju, hendaknya memendekan lengannya, karena ada hadits dari Abu Dawud dari Asma’,

«كَانَ كُمُّ النَّبِيِّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – إلَى الرُّسْغِ»

“Lengan baju Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam sampai dipergelangan.” [Dhaif: Abu Daud 4028]

Ibnu Abdus Salam, “Berlebihan dalam memperlebar ukuran pada ujung lengan baju dan pakaian adalah bid’ah dan berlebih-lebihan. Dan dalam masalah sarung sama seperti halnya baju, agar memakainya tidak melebihi separoh betis (antara lutut dan mata kaki) dan diharamkan melebihi dua mata kaki.

 

والله أعلمُ بالـصـواب

Download Sumber

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *