[ UIC 10.4 ] Kitab Subulus Salam Syarh Bulughul Maram 143

2.17. BAB PAKAIAN 02

0486

486 – وَعَنْ أَنَسٍ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ -: «أَنَّ النَّبِيَّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – رَخَّصَ لِعَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ عَوْفٍ، وَالزُّبَيْرِ فِي قَمِيصِ الْحَرِيرِ فِي سَفَرٍ مِنْ حِكَّةٍ كَانَتْ بِهِمَا» مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

486. Dan dari Anas Radhiyallahu Anhu sesungguhnya Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam meringankan bagi Abdurrahman bin Auf dan Az-Zubair untuk memakai baju dari sutera dalam perjalanan karena penyakit hikkah (penyakit kulit) yang menimpa mereka berdua.” (Muttafaq Alaih)

[Shahih: Al Bukhari 2919 dan Muslim 2076]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

“Sesungguhnya Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam meringankan bagi Abdurrahman bin Auf dan Az-Zubair untuk memakai baju dari sutera dalam perjalanan dari hikkah (hikkah adalah semacam penyakit kudis disebutkan hikkah karena illah -sebab- bukan taqyid -pembatas-, yakni karena penyakit hikkah) yang terjadi pada mereka berdua.”

Dalam riwayat yang lain, “Mereka berdua melapor kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam tentang kutu, kemudian beliau meringankan bagi mereka berdua memakai baju dari sutera dalam peperangan mereka.” Pengarang berkata dalam Al-Fath kedua riwayat ini bisa dikompromikan bahwa hikkah terjadi karena adanya kutu, maka terkadang penyakit dinisbatkan kepada penyebabnya, dan terkadang juga dinisbatkannya sebab di antara sebab.

Tafsir Hadits

Para ulama berbeda pendapat tentang bolehnya sutera untuk penderita hikkah atau sejenisnya. Ath-Thabari berkata, “Keringanan ini menunjukkan memakai sutera karena penyakit kulit, yaitu orang yang bertujuan memakainya, karena menghindari sesuatu yang memberatkan dalam rasa sakit yang ditimbulkan oleh penyakit kulit tersebut, berarti untuk mencegah-senjata dan sejenisnya maka juga dibolehkan. Orang yang membolehkan tidak mengkhususkannya dengan perjalanan, berkata sebagian Asy-Syafiiyah, “Dikhususkan untuk perjalanan.”

Al-Qurthubi berkata, “Hadits ini menjadi hujjah bagi orang yang melarang, kecuali jika mengklaim bahwa ini adalah kekhususan bagi Az-Zubair dan Abdurrahman, dan klaim ini tidak benar.” Malik dan Abu Hanifah berkata, “Tidak boleh secara mutlak.” Asy-Syafii berkata, “Boleh dalam keadaan dharurat, dan telah terjadi dalam ucapan pensyarah mengikuti pendapat An-Nawawi, “Sesungguhnya hikmah dalam memakai sutera karena penyakit kulit. Karena kain ini adem untuk dipakai dan lembut. Maka yang benar, tentang hikmah diperbolehkannya menggunakan sutera adalah, adanya keistimewaan yang mampu mencegah -sakit- yang disebabkan oleh penyakit kulit yang disebabkan oleh kutu.

0487

487 – وَعَنْ عَلِيٍّ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – قَالَ: «كَسَانِي النَّبِيُّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – حُلَّةً سِيَرَاءَ فَخَرَجْتُ فِيهَا فَرَأَيْتُ الْغَضَبَ فِي وَجْهِهِ فَشَقَقْتهَا بَيْنَ نِسَائِي» . مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ، وَهَذَا لَفْظُ مُسْلِمٍ

487. Dan dari Ali Radhiyallahu Anhu ia berkata, Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam memberikan pakaian kepadaku dari bahan sutera campuran, kemudian aku keluar memakainya, maka aku melihat kemarahan di wajahnya, maka aku bagi-bagikan kain itu kepada perempuan-perempuan di rumahku.” (Muttafaqun Alaih dan lafazh ini bagi Muslim).

[shahih: Al Bukhari 2614 dan Muslim 2071]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Tafsir Hadits

Abu Ubaidah berkata, “Al-Hulah bisa untuk sarung bisa juga selendang (syal). Ibnul Atsir berkata, “Jika keduanya dari jenis yang sama.” Dikatakan, “Yaitu kain yang dicampur dengan sutera kasar.” Dikatakan, “Sutera murni dan ini yang lebih dekat.”

Kalimat, “Aku melihat kemarahan di wajahnya…” sesudahnya dalam riwayat Muslim ada penambahan bahwa beliau (Nabi) bersabda,

«إنِّي لَمْ أَبْعَثْهَا إلَيْك لِتَلْبَسَهَا إنَّمَا بَعَثْتُهَا إلَيْك لِتَشْقُقْهَا خُمُرًا بَيْنَ نِسَائِك، وَلِذَا شَقَقْتُهَا خُمُرًا بَيْنَ الْفَوَاطِمِ»

“Sungguh aku tidak mengirim pakaian itu kepadamu untuk dipakai. Aku hanya mengirimkan untuk dijadikan penutup kepala kaum wanita di rumahmu.

Maka ia membagikan kain itu kepada empat orang wanita yang namanya semuanya Fatimah. Ucapan aku membagikannya, yakni aku potong-potong dan kujadikan khumur (kerudung-kerudung). Lafazh khumur yaitu sesuatu yang dijadikan penutup kepala perempuan.

Yang dimaksud dengan Fawathim (fatimah-fatimah) adalah Fatimah binti Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam, Fathimah binti Asad Ummu Ali Alaihissalam, dan yang ketiga dikatakan Fatimah binti Hamzah, disebutkan pula yang keempat yaitu Fatimah isteri Aqil bin Abi Thalib. Hadits ini juga dijadikan dalil bolehnya mengakhirkan keterangan dari waktu pembicaraan. Karena beliau Shallallahu Alaihi wa Sallam mengirimkannya kepada Ali Alaihissallam, maka ia mengira bahwa maksud mengirimkan kain tersebut untuk ia manfaatkan, dan yang paling memungkinkan adalah memakainya sebagai baju, kemudian Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam menjelaskan bahwa sesungguhnya hal itu tidak boleh dipakai olehnya.

0488

488 – وَعَنْ أَبِي مُوسَى – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – قَالَ: «أُحِلَّ الذَّهَبُ وَالْحَرِيرُ لِإِنَاثِ أُمَّتِي، وَحُرِّمَ عَلَى ذُكُورِهَا» رَوَاهُ أَحْمَدُ وَالنَّسَائِيُّ وَالتِّرْمِذِيُّ وَصَحَّحَهُ)

488. Dan dari Abu Musa Radhiyallahu Anhu sesungguhnya Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Dihalalkan emas dan sutera bagi kaum perempuan dari umatku dan diharamkan bagi kaum lelakinya.” (HR. Ahmad, An-Nasa’i dan At-Tirmidzi dan ia menshahihkannya).

[Shahih: At Tirmidzi 1720]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

“Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Dihalalkan emas dan sutera (yakni memakainya) bagi kaum perempuan dari umatku dan diharamkan (yakni memakainya, dan mendudukinya sebagaimana yang telah dijelaskan) bagi kaum lelakinya.”

Tafsir Hadits

Namun At-Tirmidzi telah mengeluarkan hadits dari Hadits Said bin Abu Hindun dari Abu Musa. Abu Hatim mengatakan dalam masalah hadits ini adalah bahwa Said tidak bertemu dengan Abu Musa, demikian juga yang dikatakan oleh Ibnu Hibban dalam Shahihnya “Said bin Abi Hindun dari Abu Musa, bermasalah dan tidak shahih.” Adapun Ibnu Majah ia menshahihkannya.

Telah diriwayatkan dari delapan jalan selain jalan ini dari delapan shahabat dan semuanya tidak lepas dari pembicaraan. Akan tetapi riwayat ini saling mendukung dan menguatkan antara satu dengan yang lainnya. Dalam hadits ini ada dalil diharamkannya sutera dan emas untuk dipakai oleh laki-laki dan dibolehkannya untuk perempuan. Akan tetapi ada juga yang mengatakan sesungguhnya kehalalan emas bagi perempuan mansukh (telah dihapus).

0489

489 – وَعَنْ عِمْرَانَ بْنِ حُصَيْنٍ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – أَنَّ النَّبِيَّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – قَالَ: «إنَّ اللَّهَ يُحِبُّ إذَا أَنْعَمَ عَلَى عَبْدِهِ نِعْمَةً أَنْ يَرَى أَثَرَ نِعْمَتِهِ عَلَيْهِ» رَوَاهُ الْبَيْهَقِيُّ

489. Dari Imran bin Hushain Radhiyallahu Anhu sesungguhnya Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Sesungguhnya Allah menyukai jika Dia memberi nikmat kepada hamba, Dia melihat bekas-bekas nikmat itu padanya.” (HR. Al-Baihaqi).

[shahih: Shahih Al Jami’ 1712]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Tafsir Hadits

An-Nasa’i mengeluarkan riwayat dari hadits Abu Al-Ahwash, dan At-Tirmidzi, Al-Hakim mengeluarkan dari hadits Ibnu Amr, “Sesungguhnya Allah suka melihat bekas nikmat yang ada pada hamba-Nya.” Sedang riwayat bagi An-Nasa’i dari Abu Al-Ahwash dari bapaknya, di dalamnya disebutkan, “Jika Allah memberimu harta, maka Dia melihat bekas nikmat-Nya atasmu dan kemurahan-Nya.”

Dalam hadits ini ada dalil yang menunjukkan bahwa Allah Ta’ala menyukai dari hamba-Nya untuk menampakan nikmat-Nya dalam makanan dan pakaiannya. Sebagai bukti syukur kepada Allah dengan perbuatan.

 

والله أعلمُ بالـصـواب

Download Sumber

 

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *