[ UIC 10.4 ] Kitab Subulus Salam Syarh Bulughul Maram 142

02.17. BAB PAKAIAN 01
ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Bab ini membahas tentang pakaian yang dihalalkan dan diharamkan.

0483

483 – عَنْ أَبِي عَامِرٍ الْأَشْعَرِيِّ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -: «لَيَكُونَنَّ مِنْ أُمَّتِي أَقْوَامٌ يَسْتَحِلُّونَ الْحِرَ وَالْحَرِيرَ» رَوَاهُ أَبُو دَاوُد، وَأَصْلُهُ فِي الْبُخَارِيِّ.

483. Dari Abu Amir Al-Asyari, ia berkata, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Akan benar-benar ada nanti dari umatku sekelompok kaum yang menghalalkan zina dan sutera.” (HR. Abu Dawud, asal hadits ini terdapat di Al-Bukhari)

[Shahih: Abu Daud 4039]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Biografi Perawi

Abu Amir Al-Asyari, nama lengkapnya diperselisihkan. Dikatakan namanya adalah Abdullah bin Hani’, Abdullah bin Wahb, dan dikatakan juga Ubaid bin Wahb. Ia hidup sampai dengan pemerintahan Abdul Malik bin Marwan, beliau tinggal di Syam. Ia bukan paman Abu Musa Al-As’ari yang terbunuh pada perang Hunain di zaman Rasulullah. Namanya adalah Ubaid bin Sulaim.

Tafsif Hadits

Hadits ini adalah dalil pengharaman memakai sutera. karena ucapan “Mereka menghalalkan” maknanya adalah menjadikan sesuatu yang haram menjadi halal. Akan datang hadits kedua yang di dalamnya secara tegas melarang hal tersebut. Hadits ini juga sebagai dalil bahwa menghalalkan yang haram tidak mengeluarkan pelakunya dari sebutan umat, demikian yang dikatakan.

Aku berkata, “Tidak diragukan kelemahan dari pendapat ini, karena orang yang menghalalkan yang haram berarti mengi’tikadkan kehalalannya, maka sesungguhnya ia telah berdusta atas Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam yang telah mengabarkan bahwa hal tersebut adalah haram.” Maka ucapan menghalalkan adalah penolakan bagi ucapan tersebut dan pendustaannya. Dan pendustaan terhadap Rasul ini adalah kafir, maka perlu ada pentakwilan hadits ini. Di antaranya bahwa yang dimaksud dengan umat adalah sebelum ia menghalalkan hal tersebut jadi jika ia telah menghalalkan maka ia telah keluar dari sebutan umat. Tidak juga benar bahwa yang disebut umat di sini adalah ummatul dakwah, karena sesungguhnya ia telah menghalalkan apa yang diharamkan tidak karena hal-hal yang disebutkan secara khusus.

Ibnul Atsir berkata di dalam An-Nihayah, “Yang termasyhur dalam hadits ini berdasarkan perbedaan jalur-jalur periwayatan adalah pendapat yang pertama, jadi yang dimaksud adalah sutera yang murni.” Ada perbedaan pendapat ulama pada lafazh ‘al-hir’, apakah dengan huruf ha’ atau ra’ yang berarti zina. Atau al-khizz dengan huruf kha’ dan zay yang berarti kain wol.

Berdasarkan inilah, dipahami riwayat yang dikeluarkan oleh Abu Dawud dari Sa’ad Ad-Dusytuki dari bapaknya Sa’ad, ia berkata,

«رَأَيْت بِبُخَارَى رَجُلًا عَلَى بَغْلَةٍ بَيْضَاءَ عَلَيْهِ عِمَامَةُ خَزٍّ سَوْدَاءُ قَالَ: كَسَانِيهَا رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -»

“Aku melihat di negeri Bukhara seorang laki-laki yang mengendarai keledai putih, ia memakai sorban dari hir yang berwarna hitam dan ia berkata, “Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam telah memakaikannya padaku.” HR. At-Tirmidzi dan An-Nasai, juga telah disebutkan oleh Al-Bukhari. [Dhaif: Abu Daud 4038]

Akan datang dari hadits Umar yang menjelaskan sesuatu yang halal dari sutera murni.

0484

484 – وَعَنْ حُذَيْفَةَ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – قَالَ: «نَهَى رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – أَنْ نَشْرَبَ فِي آنِيَةِ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَأَنْ نَأْكُلَ فِيهَا وَعَنْ لُبْسِ الْحَرِيرِ وَالدِّيبَاجِ وَأَنْ نَجْلِسَ عَلَيْهِ» رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ

484. Dan dari hudzaifah Radhiyallahu Anhu, ia berkata, “Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam melarang untuk minum dari wadah yang terbuat dari emas dan perak dan makan dari keduanya, juga memakai sutera dan dibaj (sutera halus) dan duduk di atasnya.” (HR. Al-Bukhari).

Al-Bukhari (5837)

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

“Dan dari Hudzaifah Radhiyallahu Anhu, ia berkata, “Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam melarang untuk minum dari wadah yang terbuat dari emas dan perak dan makan dari keduanya” (telah lalu hadits dari Huzaifah dengan lafazh, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Janganlah kalian meminum dari wadah yang terbuat dari emas dan perak.”) “Juga memakai sutera dan dibaj (sutera halus) serta duduk di atasnya.” Yakni melarang mengenakan sutera. Pengharaman sutra adalah pendapat mayoritas ulama, yakni haram bagi laki-laki dan tidak haram untuk perempuan. Al-Qadi Iyadh menceritakan dari kaum yang menghalalkannya dinisbatkan dalam kitab Al-Bahri bahwa yang menghalalkan sutera adalah Ibnu Aliyah. Ia berkata, “Telah terjadi kesepakatan (ijma) setelahnya atas pengharaman.”

Akan tetapi, pengarang mengatakan dalam Fath Al-Bari, “Telah ada riwayat yang menyebutkan pemakaian sutera dari sekelompok shahabat dan selainnya.” Abu Dawud berkata, “Telah memakai sutera dua puluh orang atau lebih dari shahabat.” Ibnu Abi Syaibah meriwayatkan dari sekelompok mereka dan ia berkata, “Ibnu Abi Syaibah telah mengeluarkan dari Ammar bin Abi Ammar, ia berkata, “Telah datang kepada Marwan bin Hakam sehelai kain sutra yang dipakai oleh shahabat-shahabat Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dan ia berkata, “Yang paling shahih dari penafsiran al-khizz ialah pakaian yang sudut-sudutnya dari sutera sedangkan bagian dalamnya dari selain sutra, dikatakan juga kain yang disulam bercampur antara sutra, wol atau lainnya.”

Dikatakan, kata al-khizz berasal dari nama seekor binatang, dinamakan al-hirzu sebagai sebutan baju yang terbuat dari kulit hiz, kemudian disebutkan juga untuk kain yang bercampur dengan sutera karena lembutnya. Jika engkau telah mengetahui ini, maka mungkin dipahami bahwa yang dipakai oleh shahabat sebagaimana yang tersebut dalam riwayat Abu Dawud adalah al-khizz walaupun zhahir ungkapan hadits menolak hal tersebut.

Adapun Al-qazzu Ar-Rafi’i berkata, “Ini menurut para imam termasuk dari sutera yang diharamkan atas laki-laki.” Adapun ucapan yang mengatakan halal bagi perempuan ini adalah pendapat jumhur ulama kecuali Ibnu Zubair. Sesungguhnya Muslim telah mengeluarkan darinya,

أَنَّهُ خَطَبَ فَقَالَ: لَا تُلْبِسُوا نِسَاءَكُمْ الْحَرِيرَ فَإِنِّي سَمِعْت عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ يَقُولُ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -: «لَا تَلْبَسُوا الْحَرِيرَ»

Sesungguhnya beliau pernah berkhutbah dan berkata dalam khutbahnya, “Janganlah kalian memberi pakaian perempuan dengan sutera, karena sesungguhnya aku mendengar Umar Ibnu Khaththab berkata, ‘Telah bersabda Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, “Janganlah kalian memakai sutera.” [shahih: Muslim 2067]

Ia memahami dengan keumuman hadits ini, kecuali telah terjadi ijma’ yang menghalalkan sutera bagi wanita.

Ada pun anak kecil dari laki-laki diharamkan juga menurut mayoritas ulama, karena keumuman sabda Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam,

حَرَامٌ عَلَى ذُكُورِ أُمَّتِي

“Diharamkan atas laki-laki dari umatku.” [shahih: Shahih Al Jami’ 2274]

Muhammad bin Hasan berkata, “Boleh bagi mereka untuk memakainya.” Para pengikut Asy-Syafi’i berkata, “Dibolehkan bagi mereka memakai perhiasan dan sutera pada hari raya, karena mereka belum terkena beban syar’i, dan bagi mereka di luar hari raya ada tiga pendapat yang paling shahih adalah bolehnya.” Adapun Ad-Dibaj adalah kain sutera yang tebal, athafnya kepada lafazh sebelumnya adalah athaf khas (perkara khusus) kepada Am (perkara umum). Sedang duduk di atas sutera hadits telah memberikan faidah pelarangan hal tersebut, kecuali pengarang berkata dalam Al-Fath “Sesungguhnya Al-Bukhari dan Muslim telah mengeluarkan riwayat dari hadits Hudzaifah dari jalan yang lain dan tidak ada tambahan ini yaitu ucapan, “Dan duduk di atasnya”.

Ia berkata, ini adalah hujjah yang sangat kuat bagi orang yang melarang duduk di atas sutera dan ini adalah pendapat mayoritas ulama, berbeda dengan pendapatnya Ibnu Al-Majisyun, orang-orang kufah dan sebagian Asy-Syafiiyah. Berkata sebagian dan Al-Hanafiyah -mengomentari dalil yang meniadakan pengharaman duduk di atas sutera- “ucapan melarang tidak tegas menunjukkan keharaman”, Sebagian yang lain mengatakan, “Ini dipahami bahwa yang dilarang adalah mengumpulkan sutera untuk dijadikan baju dan duduk di atasnya, bukan duduk saja.”

Aku berkata, “Tidak diragukan pendapat ini berlebihan dan keluar dari kontek dzahir tanpa ada keperluan. Sebagian pengikut Al-Hanafiyah berkata, “Berkisar antara boleh dan haram memakainya, karena sahnya khabar dalam masalah ini, dan duduk tidaklah memakai.” Mayoritas ulama berhujjah bahwa duduk di atas sutera juga dikategorikan memakai berdasarkan hadits Anas dalam Ash-Shahihain “Maka aku berdiri pada tikar yang telah menghitam karena lama dipakai”, Karena memakai bisa digunakan untuk sesuatu yang dipergunakan. Adapun duduknya wanita pada sutera asalnya boleh, karena telah dihalalkan bagi mereka memakainya. Dan di antara makna memakai adalah mendudukinya, orang yang mencegah mereka mendudukinya maka tidak ada hujjah bagi mereka. Ada perbedaan pendapat tentang illah (sebab) diharamkannya sutera dalam dua pendapat:

1) Karena sombong.

2) Karena memakainya adalah bentuk kemewahan, sedangkan perhiasan hanya layak bagi perempuan tidak cocok bagi sifat kesatria laki-laki.

0485

485 – وَعَنْ عُمَرَ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – قَالَ: «نَهَى رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – عَنْ لُبْسِ الْحَرِيرِ إلَّا مَوْضِعَ إصْبَعَيْنِ أَوْ ثَلَاثٍ أَوْ أَرْبَعٍ» . مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ، وَاللَّفْظُ لِمُسْلِمٍ.

485. Dan dari Umar Radhiyallahu Anhu ia berkata, “Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam telah melarang dari memakai sutera, kecuali sekedar dua jari atau tiga atau empat.” (Muttafaq Alaih lafazh ini bagi Muslim)

[Shahih: Al Bukhari 5829 dan Muslim 2069]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Tafsif Hadits

Ibnu Abi Syaibah mengeluarkan hadits dalam permasalahan ini dengan lafazh,

«إنَّ الْحَرِيرَ لَا يَصْلُحُ إلَّا هَكَذَا أَوْ هَكَذَا»

“Sesungguhnya sutera tidak pantas kecuali begini begitu.” [Musannaf IbniAbi Syaibah (5/151)]

Yakni dua jari atau tiga atau empat. Kalau ada yang mengatakan, yang dimaksud adalah bahwa di setiap besarnya ada dua jari, pendapat ini ditolak dengan riwayat dari An-Nasa’i,

«لَمْ يُرَخِّصْ فِي الدِّيبَاجِ إلَّا فِي مَوْضِعِ أَرْبَعِ أَصَابِعَ»

“Tidak diberikan keringanan dalam memakai ad-dibaj (sutera tebal) kecuali seukuran empat jari.” [Shahih: An Nasa’i 5328]

Keringanan seukuran empat jari ini adalah madzhab mayoritas ulama. Dari Malik ada riwayat yang melarangnya, apakah ia dirajut atau ditempelkan, diqiyaskan juga dengan duduk. Al-Hadawiyah memberikan keringanan seukuran tiga jari, akan tetapi hadits ini adalah nash yang menunjukkan empat jari.

 

والله أعلمُ بالـصـواب

Download Sumber

 

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *